Kamis, 30 Juni 2022

IDOLA TERBAIK


OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌀 IDOLA TERBAIK

Saat ini kita sedang dalam keadaan tersayat-sayat idola kita bersama. Idola kita sangat mulia, sebab kehidupan dan akhlaknya sangat mulia, yakni Nabi Muhammad ﷺ. 

Kalangan wanita pun sangat mulia telah dimuat dalam surah Maryam. Akan tetapi saat ini ada pihak yang mencoba menyakitinya dengan perkara yang haram, kita tidak boleh diam. 

Wallahu a’lam bishawab

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Menjaga dan memuliakan idola yang terbaik pada iman dan takwa kita bersama, sebab kehidupan selalu berada dalam naungan ridho Ilahi. 

Wallahu a’lam bishawab

AJAKLAH AKU KE SURGA

 


OLeH: Ibu Hj. Irnawati Syamsuir Koto

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌸 AJAKLAH AKU KE SURGA

Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allahhu Rabbi. Segala dzat yang Maha Ghafur, dzat yang Maha Syukur yang telah memberikan beribu-ribu nikmat yang tidak terukur. Nikmat iman, nikmat Islam, sampai nikmat sehat wal afiat sehingga kita bisa berkumpul di tempat yang insyaallah diberkahi Alloh ﷻ.

Seandainya lautan yang ada di muka bumi ini, Alloh ﷻ jadikan sebagai tinta. Lalu, pepohonan-pepohonan Alloh ﷻ jadikan pena, dan dedaunan Alloh ﷻ jadikan kertas. Niscaya ia tidak akan cukup untuk menuliskan nikmat-nikmat yang Alloh ﷻ berikan kepada kita.

Sholawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi akhirul zaman, seorang Nabi yang lahirnya saja membuat goncang alam semesta, membuat heboh para malaikat Alloh ﷻ, yang kalau bukan karenanya tidak akan Alloh ﷻ ciptakan alam semesta ini. Siapakah dia, tidak lain dan tidak bukan yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

Semoga keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya yang mengikuti sunnah-sunnahnya semoga mendapatkan syafaatnya.

Sahabat-sahabatku....

Berkumpul bersama keluarga adalah salah satu dari kenikmatan dunia. Siapa yang tidak bahagia dan gembira ketika berkumpul bersama keluarga. Momen bahagia yang tidak bisa digambarkan dan tidak bisa tergantikan dengan kawan ataupun sahabat.

Kita lihat contoh fenomena di Indonesia, ketika momen lebaran Idul Fitri, kaum muslimin berusaha agar berkumpul bersama keluarga dengan segala upaya. Misalnya menebus harga tiket yang mahal, perjalanan yang jauh, macet dan melelahkan serta halangan dan rintangan lainnya ketika safar untuk pulang kampung. Semuanya ini dilakukan untuk bisa berkumpul bersama keluarga dan berbahagia bersama.

Perlu diketahui bahwa semua kenikmataan dan kebahagiaan yang diinginkan oleh manusia di dunia, akan ada di surga kelak.

Alloh ﷻ berfirman,

ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴُﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺪَّﻋُﻮﻥ

“Di dalam surga kamu memperoleh apa (segala kenikmatan) yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa (segala kenikmatan) yang kamu minta.” (QS. Fushshilat: 31)

Kesamaan tersebut hanya ada pada nama, akan tetapi kenikmatannya tentu berbeda, jauh lebih nikmat di surga.

Tentunya kenikmatan berupa berkumpul dan masuk surga bersama keluarga, juga telah disediakan oleh Alloh ﷻ.

Alloh ﷻ berfirman,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini bahwa Alloh ﷻ akan mengumpulkan seseorang bersama keluarganya, orang tua, istri dan anak-cucunya di surga. Ini adalah dalil satu keluarga bisa masuk surga bersama. Beliau berkata,

يجمع بينهم وبين أحبابهم فيها من الآباء والأهلين والأبناء ، ممن هو صالح لدخول الجنة من المؤمنين; لتقر أعينهم بهم ، حتى إنه ترفع درجة الأدنى إلى درجة الأعلى ، من غير تنقيص لذلك الأعلى عن درجته

“Alloh ﷻ mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Alloh ﷻ mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi tanpa mengurangi derajat keluarga yang tinggi (agar berkumpul di dalam surga yang sama derajatnya).”

Fasilitas yang Alloh ﷻ sediakan agar keluarga bisa masuk surga bersama yaitu mereka akan saling tarik-menarik agar bisa masuk surga dan berada di dalam surga yang tingkatnya sama. Hal ini Alloh ﷻ anugrahkan agar mereka bisa berkumpul bersama. Bisa jadi sang anak berada di surga tertinggi, sedangkan orang tua berada di surga terendah, maka sang anak mengangkat derajat orang tuanya ke surga yang lebih atas, demikian juga sebaliknya.

Anak bisa mengangkat derajat orang tua mereka, hal ini telah diketahui oleh kaum muslimin dengan banyak dalil.

Misalnya anak sebagai amal jariyah yang terus mendoakan orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan doa anak yang shalih.”

Demikian juga derajat orang tua naik karena istighfar anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’

Orang tua pun bisa menarik anaknya ke tingkatan surga yang lebih tinggi.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan,

{ألحقنا بهم ذرياتهم} المذكورين في الجنة فيكونون في درجتهم وإن لم يعملوا تكرمة للآباء باجتماع الأولاد إليهم

“Maksud dari ‘Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka’ yaitu, anak-cucu mereka kelak di surga, sehingga jadilah anak-cucu mereka sama derajatnya dengan mereka walaupun anak-cucu mereka tidak beramal seperti mereka, sebagai penghormatan terhadap bapak-bapak mereka agar bisa berkumpul dengan anak-cucu mereka (di surga kelak).”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan,

ذريتهم الذين اتبعوهم بإيمان أي: الذين لحقوهم بالإيمان الصادر من آبائهم، فصارت الذرية تبعا لهم بالإيمان، ومن باب أولى إذا تبعتهم ذريتهم بإيمانهم الصادر منهم أنفسهم، فهؤلاء المذكورون، يلحقهم الله بمنازل آبائهم في الجنة وإن لم يبلغوها، جزاء لآبائهم، وزيادة في ثوابهم، ومع ذلك، لا ينقص الله الآباء من أعمالهم شيئا

“Keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua atau kakek-buyut mereka. Lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Alloh ﷻ akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua atau kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya (kedudukan anak lebih rendah dari orang tua), sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. Akan tetapi Alloh ﷻ tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”

Semoga kita semua bisa masuk surga bersama keluarga yang kita cintai.

✓ Oleh: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan,

ذريتهم الذين اتبعوهم بإيمان أي: الذين لحقوهم بالإيمان الصادر من آبائهم، فصارت الذرية تبعا لهم بالإيمان، ومن باب أولى إذا تبعتهم ذريتهم بإيمانهم الصادر منهم أنفسهم، فهؤلاء المذكورون، يلحقهم الله بمنازل آبائهم في الجنة وإن لم يبلغوها، جزاء لآبائهم، وزيادة في ثوابهم، ومع ذلك، لا ينقص الله الآباء من أعمالهم شيئا

“Keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua atau kakek-buyut mereka. Lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Alloh ﷻ akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua atau kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya (kedudukan anak lebih rendah dari orang tua), sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. Akan tetapi Alloh ﷻ tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”

Semoga kita semua bisa masuk surga bersama keluarga yang kita cintai.

✓ Oleh: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Demikian malam ini, semoga bermanfaat. 

Wallahu a’lam bishawab

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Evi ~ Jakarta 
Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Jika anak yang soleh mempunyai orangtua yang jauh dari Alloh ﷻ apakah bisa mereka bertemu kembali? Demikian sebaliknya jika orang tua soleh mempunyai anak yang jauh dari Alloh ﷻ apa bisa bertemu kembali?

🌸Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh 

Wallahu a'lam 

Untuk masuk ke surga Alloh ﷻ, harus memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, tidak mudah mendapatkan surga. Namun bukan tidak mungkin sebuah keluarga akan berkumpul kembali, jika masing-masing melakukan kewajibannya terhadap Alloh ﷻ dan keluarganya. Bagaimana jika ada salah satu diantaranya yang ingkar kepada Alloh ﷻ? Apa akan dipertemukan lagi? Kalau Alloh ﷻ menghendaki tidak ada yang tidak mungkin, tapi tentunya setelah yang berdosa menebus dosa-dosanya dengan masuk ke neraka, atau Alloh ﷻ berkehendak lain. Tapi dari semua itu hanya Alloh ﷻ yang punya kuasa dan kehendak. 

Wallahu a’lam bishawab

0️⃣2️⃣ Aisyah ~ Cikampek 
Assalamualikum warahmatullahi wabarakatu 

Jika ayahnya sudah wafat lalu anak perempuannya sudah baligh dan berjodoh dengan orang Portugal, yang nonis dan dia pun ikut agama suaminya.

Apakah allayirhamha ayahnya akan menanggung akibatnya dzah?

🌸Jawab: 
Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh

Selama semasa hidup ayahnya melaksanakan tanggungjawabnya, mencukupi ilmu agama anaknya, mendidiknya  dalam Islam semampu dia lakukan, baik dengan ilmunya secara langsung, maupun mencarikan guru untuk anaknya, maka ayahnya tidak lagi dimintai tanggungjawab diakhirat, kalaupun nanti ditanya, maka ayahnya bisa menjawab bahwa dia telah mendidik anaknya sebagaimana mestinya. 

Wallahu a’lam bishawab

0️⃣3️⃣ Aisya ~ Cikampek 
Apakah ada istighfar khusus untuk orang tua dzah?

Misalnya: Niat dalam hati ya Alloh ﷻ, hamba ingin beristighfar untuk almarhum ayah.

Lalu astaghfirullah aladzim wa'atubuilaih?

🌸Jawab:
Beristighfar untuk orangtua yang sudah meninggal memang bisa kita lakukan. Namun, bukan dengan membaca istighfar seperti yang kita baca pada umumnya.

Dalam suatu hadis disebutkan, “Sungguh, Alloh ﷻ benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” Maka ia pun bertanya, “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Alloh ﷻ menjawab, “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu.” (HR. Ahmad, no. 10232)

Istighfar tersebut dimaksudkan sebagai permohonan ampunan kepada Allah ta’ala dari seorang anak buat orangtuanya dalam bentuk doa.

Doa istighfar untuk orang tua dalam Arab, latin, dan artinya sebagai berikut.

رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira.

“Ya Alloh ﷻ, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihi aku sewaktu masih kecil.”

Wallahu a’lam bishawab

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Sahabat-sahabatku...

Alloh ﷻ berfirman: “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23).

Dalam kitabnya Tafsir al-Quran al-Adhim, Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat ini, bahwa Alloh ﷻ akan mengumpulkan orang-orang mukmin dengan orang yang mereka cintai dari bapak, istri, dan anak-anak, yang memang pantas masuk surga sebagai pelipur lara baginya, bahkan dia akan mengangkat derajat keluarganya yang dalam level rendah itu menjadi level tinggi, tanpa mengurangi derajat sang mukmin yang tinggi tersebut, sebagai anugerah dari Alloh ﷻ.  

Sejumlah ulama salaf menegaskan bahwa di antara kebahagiaan umat Islam kelak di surga adalah bertemu kembali dengan keluarga yang dia cintai di dunia. Hal ini setelah mereka mendapatkan rahmat Alloh ﷻ dan syafaat Rasulullah ﷺ.  

Semoga kita dikumpulkan oleh Alloh ﷻ bersama keluarga yang kita cintai semasa di dunia ini. 

Mohon maaf lahir dan batin 

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

ISTIQOMAH DI AKHIR ZAMAN


OLeH: Ustadz H. Tri Satya Hadi

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

💎 ISTIQAMAH DI AKHIR ZAMAN

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ummayah asy-Syabani, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Abu Tsa’labah al-Khusyani dan bertanya kepadanya: Bagaimanakah mengamalkan ayat ini? Ia lalu balik bertanya: Ayat yang mana? Aku berkata: Firman Alloh ﷻ, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Alloh ﷻ kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah al-Maidah: 105). Ia menjawab: Demi Allah, sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada orang yang benar-benar mengerti. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka Nabi menjawab: “Bahkan hendaklah kalian saling menyuruh berbuat makruf dan saling mencegah kemungkaran, sehingga jika engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan kekaguman setiap orang kepada pendapatnya. Hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam, karena di belakang kalian masih ada hari-hari yang panjang. Orang yang sabar di dalam hari-hari itu tidak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi).

Hari-hari yang panjang itu adalah zaman penuh fitnah (kekacauan) dan orang yang sabar di dalam hari-hari itu adalah orang yang memiliki karomah (keutamaan) yang besar yaitu Istiqamah.

Dari berbagai nash Qur'an dan hadits fitnah akhir zaman itu yang sesuai di era sekarang adalah mewabahnya tha’un (penyakit menular), berlimpahnya harta, hingga tidak ada yang mengeluarkan dan menerima sedekah, muncul nabi-nabi palsu, hilangnya amanat pada suatu kaum, diangkatnya ilmu dan fenomena kebodohan, banyaknya kelompok-kelompok- pendukung kezhaliman, makin maraknya perzinahan, dan LGBT, praktek riba, dan masih banyak lagi.

Masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap muslim. Keteguhan pendirian di jalan Alloh ﷻ dan Rasul-Nya dalam menghadapi fitnah itulah Istiqamah. Dan ketika kita mampu beribadah dengan Istiqamah itulah laksana hijrah untuk Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda, “Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Tiada balasan yang paling indah bagi orang yang berhijrah adalah Surga Firdaus, yaitu surga yang paling tinggi dan mulia. Seperti yang dijelaskan dari Anas bin Malik Radiallahuanhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Firdaus adalah surga yang paling tinggi, yang paling bagus, dan yang paling utama.” (HR. Turmudzi dan Al-Albani).

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Alloh ﷻ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Alloh ﷻ kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32)

Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka itu adalah, “Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.” (HR. Thabrani, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)

Bagaimana kita bisa Istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan di akhir zaman ini?

🔸1. Rajin Ibadah Janganlah Sesaat

Ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu atau musiman. Perilaku seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Pasalnya, Alloh ﷻ senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita
setiap waktu. Maka, tidak pantas rasanya bila kita hanya mengenal-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya pada waktu tertentu saja.

Atas dasar inilah, para ulama mengatakan, 
"Seburuk-buruk manusia adalah yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang yang salih adalah orang yang rajin beribadah dan shalat malam sepanjang tahun."
Ini menegaskan kepada kita bahwa melakukan ketaatan kepada Alloh ﷻ tidak terbatas oleh waktu. Bahkan, selama nyawa kita masih dikandung badan, kita wajib taat kepada Alloh ﷻ.

🔸2. Beramal Secara Kontinyu (Rutin) Walau Sedikit

Di antara kelebihan suatu amalan atas amalan lainnya adalah amalan yang rutin dilakukan. Ya amalan yang rutin walau sedikit akan mengungguli amalan yang tidak rutin walaupun banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai olah Alloh ﷻ. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ yang artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Alloh ﷻ adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit." (HR. Muslim)

Sebagian orang ada yang sengaja menyedikitkan amalannya dengan menjadikan hadis ini sebagai dasar. Ini kesalahan yang fatal, Karena dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ sama sekali tidak melarang kita untuk memperbanyak amalan. Beliau hanya mengingatkan kepada kita bahwa amalan yang rutin dilakukan, meskipun sedikit, itu lebih baik daripada amalan yang jumlahnya banyak tetapi tidak dilakukan secara rutin.

Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika seseorang mampu melakukan amalan yang jumlahnya banyak dan dilakukan secara rutin, maka itu lebih baik daripada amalan yang sedikit dan dilakukan secara rutin. Hadis ini membuktikan betapa pentingnya melakukan amalan secara rutin atau istiqamah. 

Saking pentingnya, maka Nabi pernah berpesan kepada Abdullah bin 'Amr bin al-Âsh, "Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan, dulu ia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi." (HR. Bukhari).

Hasan al-Bashri, seorang ulama yang diberi julukan singa podium pernah mengatakan, "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan, maka ia pun akan menjauhimu. Namun, setan melihatmu beramal, kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, bahkan engkau melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu."

Orang yang melakukan amalan dengan Istiqamah akan mendapatkan banyak keutamaan, di antaranya:

✓ 1. Dimasukkan ke dalam surga Firdaus

Dalam hal ini, Alloh ﷻ menjelaskan dalam Al-Qur'an (QS. Fushshilat: 30) yang artinya seperti di atas tadi.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa siapa saja yang memiliki sifat istiqamah, maka Alloh ﷻ akan memberinya kabar gembira saat ia sedang mengalami sakaratul maut, di mana seseorang mengalami rasa sakit yang luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, Alloh ﷻ mengirimkan para malaikat kepadanya untuk menghiburnya seraya mengatakan, "Janganlah kamu takut terhadap apa yang akan kamu alami setelah kematianmu, karena keridhaan dan rahmat Alloh ﷻ akan terlimpah untukmu. Janganlah pula kamu bersedih terhadap apa yang telah engkau tinggalkan di dunia dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Alloh ﷻ kepadamu."

✓ 2. Mendapat pahala meskipun tidak melakukannya karena uzur

lbnu Rajab al-Hambali mengatakan, 
"Sesungguhnya seorang hamba hanya diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan bukan karena uzur syar'i, seperti sakit atau safar, maka ia tidak akan mendapatkan balasan pahala bila ia meninggalkan amalan tersebut. Namun bila seseorang meninggalkan amalan yang rutin ia lakukan karena alasan sakit, bepergian (safar), atau uzur syar'i lainnya, maka ia akan tetap memperoleh pahala dari Alloh ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka ia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika muqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat." (HR. Bukhari)

✓ 3.Tidak akan terkena virus futur (jenuh dalam beramal)

Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya, jika seseorang beramal sedikit namun kontinyu (terus-menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya bangunan surga dibangun oleh para malaikat disebabkan amalan dzikir yang terus menerus dilakukan. Apabila seorang hamba merasa bosan untuk berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya. Lantas malaikat berkata, "Apa yang terjadi kepadamu, wahai Fulan?" Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami futur (kemalasan) dalam beramal."

Berbahagialah orang-orang yang dapat menjaga keimanan dan keistiqamahan dalam beramal. Pasalnya, iman dan istiqamah akan membuahkan keselamatan dari segala macam keburukan dan meraih segala hal yang dicintai. 

Orang yang istiqamah juga akan dianugerahi kekokohan dan kemenangan, serta kesuksesan dalam memerangi hawa nafsu.
Beruntunglah mereka yang mampu beristiqamah dalam melakukan ketaatan kepada Alloh ﷻ, khususnya di zaman yang penuh fitnah sekarang, ketika cobaan, ujian, dan godaan selalu mewarnai kehidupan kita.

Maka Istiqamahlah

Wallahu a’lam bishawab

✓ Sumber buku: Syarah hadits Arbain-an Nawawiyah, disusun oleh M Suhadi, Lc.

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ iNdika ~ Semarang
1. Soal LGBT, ada salah satu kedai kopi yang pemiliknya membuat pengakuan bahwa dia mendukung LGBT. 

Apakah bila kita beli kopi disitu, kita juga ikut mendukung secara tidak langsung?

2. Bagaimana cara kita menjaga keluarga kita, supaya tetap istiqamah menjalankan ibadah yang benar, di antara gempuran pengaruh yang kurang baik?

🔷 Jawab:
1. Benar, salah satu bentuk dukungan tidak langsung walaupun kita tidak setuju atas pemikirannya. Masih banyak kedai kopi yang lebih aman dan berkah.

2. Singkatnya agar kita bisa rajin ibadah yang tidak sesaat dengan kontinyu. Itu perlu didukung lingkungan yang kondusif, pergaulan yang baik dengan berkumpul (berteman dekat) dengan orang-orang shalih, belajar terus tentang agama dengan ustadz(ah) yang faqih, selalu recharge iman, serta doa di ⅓malam.

Wallahu a’lam bishawab

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal bathil." (Ibnu Qoyyim Al zauziyah)

Wallahu a’lam bishawab

ASMA BINTI ABU BAKAR

 


OLeH: Ustadzah Chichi Mulyaningsih

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌸 ASMA BINTI ABU BAKAR

Sangat banyak wanita luar biasa yang bisa menjadi teladan kita semua. Masing masing dari mereka memiliki keistimewaan dan kelebihan yang berbeda-beda. Di antara wanita istemawa kita kali ini adalah Asma' binti Abu Bakar.

Dia adalah putri Abu Bakar dari istrinya, Qutailah binti Abdul Uzza Al Amiriyyah yang telah diceraikan semasa jahiliah, karena tidak mau mengikuti keyakinan suaminya. Asma' lebih tua 10 tahun dari adiknya, 'Aisyah Ra., Salah satu Ummahatul mukminin.

Asma adalah seorang muslimah yang sangat pemberani. Keberaniannya nampak jelas ketika Abu Bakar dan Rasulullah ﷺ berangkat hijrah ke Madinah, mereka berdua bersembunyi di gua tsur selama tiga hari. Kaum Quraisy yang kehilangan jejak mereka berdua mendatangi rumah Abu Bakar. Begitu pintu dibuka oleh Asma' binti Abu Bakar, Abu Jahal berkata: "Dimana Muhammad dan ayahmu?" Tanya Abu Jahal.

"Mengapa kau bertanya kepadaku? Sejak kapan seorang laki-laki Arab memberitahu kepada anaknya ke mana ia pergi. Bukankah Abu Bakar biasa berdagang ke banyak tempat tanpa memberitahuku?" Mendengar jawaban tersebut Abu Jahal marah dan naik pitam. Sekali lagi ia bertanya kepada Asma' : "Di mana Muhammad dan ayahmu?

"Bukankah sudah kujawab bahwa Abu Bakar bisa pergi ke mana saja. Apalagi Muhammad, yang bukan ayahku." Jawaban Asma' tersebut membuat Abu Jahal tidak tahan lagi.

"Plak!" pukulan keras mendarat di kepala Asma' hingga anting-anting yang dikenakan terlepas dan darah mengalir dari kepalanya. Asma' mengadu kesakitan, entah bagaimana rasanya seorang wanita hamil diperlakukan seperti itu. Itulah pengorbanan. Ia berhasil menjaga sebuah rahasia besar, menjaga keselamatan Rasulullah ﷺ dan keberlangsungan dakwah. 

Saat Rasulullah ﷺ memutuskan hijrah ke Madinah, disaat itulah terasa berat tekanan dari kaum Quraisy yang begitu, arogan dan kasar.

Hijrah bukan berarti meninggalkan begitu saja  meninggalkan jejak kebaikan, tapi hijrah ini bertujuan menyelamatkan Islam dan para pengikut Rasulullah ﷺ.

Jadi asma termasuk asabiqunal awalun dalam dakwah yang sudah paham kondisi kafir yang begitu keji dan memerangi dakwah Rasulullah ﷺ.

Asma' sangat semangat berjuang menyiarkan dakwah Rasulullah ﷺ, asma rela berkorban dengan apapun yang dia punya.

Lalu siapkah kita seperti asma yang begitu berani melindungi Abi dan Rasulullah ﷺ.

Beranikah kita berkata benar walau pahit sekalipun karena itulah dakwah.

Yang namanya dakwah menyeru kepada kebaikan, kadang sepi pemirsah, kadang tidak liat grup ini, tapi kita liat Asma begitu Istiqomah belajar.

Gagal mengorek keterangan, Abu Jahal pun pergi dengan kemarahan, yang tidak kunjung reda. Sejarah mencatatnya sebagai orang yang hina. Sebab sebengis-bengisnya orang Arab, belum pernah ada yang memukul kepala seorang wanita merdeka. Namun kali itu Abu Jahal menghinakan dirinya sendiri.

Tidak lama kemudian, kakeknya Abu Quhafah, ayah dari Abu Bakar, mendatangi Asma, cucunya. Ia mendengar bahwa Abu Bakar telah meninggalkan kota Mekkah. Ia khawatir kalau cucu-cucunya terlantar setelah ditinggal pergi oleh ayahnya. Ia menanyakan kepada Asma' tentang harta yang ditinggalkan untuk biaya kehidupan mereka. Asma' sangat memahami ke khawatiran yang dirasakan oleh kakeknya ini. Sebab pada saat hijrah, dikabarkan bahwa Abu Bakar telah membawa seluruh hartanya yang berjumlah 5000 hingga 6000 dinar.

Tidak hanya sebatas itu yang dilakukan oleh Asma' pun tak menuntut apa-apa. Ia menerima Zubair yang tidak memiliki apapun, kecuali hanya seekor kuda. Dengan penuh keikhlasan, Asma' memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Ia menumbuk biji kurma untuk makan kuda, memberinya minum, dan membuat adonan roti.

Asma' binti Abu Bakar juga seorang muslimah yang sangat dermawan. Para sahabat mengakuinya. Abdullah bin Zubair berkata : "Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma'." Kedermawanan mereka berbeda. Aisyah suka mengumpulkan sesuatu, setelah banyak lalu dibagikannya. Sedangkan  Asma' tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Karena kedermawanannya, saat iya jatuh sakit, ia langsung membebaskan semua hamba sahayanya.

Kakeknya yang buta, datang kepada Asma' untuk memastikan apakah benar bahwa Abu Bakar telah membawa seluruh hartanya. Kemudian dengan kecerdasan yang dimiliki Asma', ia mengambil batu batu dan meletakkannya dilubang angin, tempat ayahnya pernah meletakkan uang sebelumnya. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju.

Setelah itu, Asma' memegang tangan kakeknya agar ia meraba batu batu tersebut dan menyangkalnya sebagai uang yang ditinggalkannya ayahnya. Sang kakek pun merasa lega. Kemuliaan akhlak Asma' itu telah memenangkan rasa gundah dihati sang kakek. Padahal, sebenernya Abu Bakar tidak meninggalkan sekeping dinarpun bagi keluarganya. Namun, Asma' mengikhlaskannya. Ia tidak menuntut harta dari sang ayah.

Disinilah kita punya catatan lagi, seorang Asma adalah seorang muslimah yang tidak silau melihat dunia. Hidupnya begitu dermawan, tidak pernah menuntut harta sang ayah walau dia berhak, tapi dia sadar ayahnya seorang yang mulia, seorang mujahid yang paling utama dan terdepan membantu dakwah Rasulullah ﷺ.

Kalau kita bagaimana ya, sebagai akhwat susah ya kalau hidupnya tidak mengutamakan dunia.

Boleh tidak kita mengejar dunia, tapi kita coba pikir deh apakah setiap sendi kehidupan kita hanya dunia dan dunia yang kita urus.

Ngaji males karena hawa refreshing liburan LEBIH menjanjikan.

Tilawah nanti dan nanti karena banyak sekali ya urusan dunia kita.

Begitu gelutnya dengan dunia dimana tempat kita berpijak sampai kita lupa kalau dunia kita akan berakhir dan kita akan di kubur.

Selain terkenal dermawan, Asma' juga seorang muslimah yang sangat berani. Pengabdian dan pengorbanan Asma' membela agama Alloh ﷻ begitu besar. Tidak heran jika ia digelari "Dzaatun Nithaqaini" (wanita yang memiliki 2 selendang). Alkisah, setelah bersembunyi selama 3 hari di Gua Tsur, Nabi ﷺ dan Abu Bakar memutuskan untuk berangkat ke Madinah. Asma mempersiapkan perbekalan, makanan dan minuman untuk perjalanan beliau dan ayahnya. Ia membawanya ke Gua Tsur yang jaraknya sangat jauh dari kota Mekkah, dengan jalan yang gelap dan naik turun. Padahal saat itu ia sedang hamil tua. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana luar biasanya pengorbanan Asma' untuk sebuah perjuangan Islam? Bagi yang sudah pernah ke tanah suci, pastilah tahu dan bisa membayangkan. Saat itu ia lupa membawa tali untuk mengikatkan perbekalan tersebut ke tunggangan. Karena itu, ia membelah ikat pinggang menjadi dua. Satu potong digunakan untuk mengikat perbekalan ke tunggangan, satunya lagi dipakainya sebagai ikat pinggang. Melihat apa yang dilakukannya ini, Nabi ﷺ menggelarinya "Dzaatun Nithaaqain" (yang memiliki 2 ikat pinggang).

Semua peristiwa itu terjadi ketika Asma' dalam keadaan hamil , bahkan suaminya, Zubair bin Awwam telah terlebih dahulu hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya, sebagaimana diperintahkan Rasulullah ﷺ. Sungguh pengorbanan yang tidak terkira dari wanita pemberani ini. Semua itu dilakukannya dengan ringan dan ikhlas karena kecintaannya kepada Alloh ﷻ dan Rasul-Nya.

Beberapa hari berlalu, setelah, setelah suasana kota kembali tenang kembali karena hijrahnya Nabi ﷺ dan Abu Bakar, Asma' dan saudara saudaranya menyusul hijrah ke Madinah beserta beberapa orang Muslim yang masih tertinggal. Bayangkan, seorang wanita dalam keadaan hamil tua melakukan perjalanan lebih dari 500 km? Kita tahu bagaimana beratnya perjalanan dimasa lalu. Sangat jauh berbeda dengan perjalanan di zaman sekarang yang penuh kenyamanan. Hingga setelah beberapa hari tinggal di Madinah, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah.

Kaum muslimin, baik dari kalangan Anshar maupun Muhajirin menyambut kelahiran Abdullah bin Zubair, bayi pertama yang terlahir di kota Madinah, melewati kampung-kampung orang Yahudi.

Tidak hanya itu, salah satu bukti keberanian Asma' yang lain adalah keikutsertaannya di Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair bin Awwam. Sehingga Umar bin Khattab RA yang saat itu menjabat sebagai Khalifah, sangat menghormati Asma' dan memberinya tunjangan sebanyak 1000 dirham.

Asma' adalah seorang muslimah yang berpendirian dan berpegang pada akidah yang kuat. Pada suatu ketika, datang Qutailah binti Abdul Uzza, ibu kandungnya yang telah diceraikan oleh Abu Bakar karena tidak mau masuk Islam. Ia membawa hadiah-hadiah berupa kismis, Samin dan anting anting dengan harapan Asma' bisa kembali kepadanya. Namun Asma' menolak hadiah tersebut dan tidak mengizinkannya masuk rumah kecuali setelah menanyakan kebolehan hal itu kepada Rasulullah ﷺ.

Selain seorang yang dermawan dan pemberani, Asma' juga seorang Muslimah yang aktif dalam belajar tentang agama. Sebagai buktinya ia meriwayatkan lebih dari 50 hadits dari Nabi ﷺ. Bahkan, ia juga dikenal sebagai wanita penyair pemberani, mempunyai logika, dan tetap melakukan syiar Islam meski ia sudah lanjut usia. MaaSyaaAllah...

Suatu saat putranya, Abdullah, datang menemuinya. Saat itu ia sudah berusia 100 tahundan sudah tidak bisa lagi melihat. Abdullah berkata kepada ibunya, "Wahai ibu, bagaimana pendapatmu mengenai orang yang telah meninggalkan aku, begitu juga keluargaku. "Asma' berkata: "Jangan biarkan anak anak kecil Bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Alloh ﷻ, sungguh aku berharap kamu mengakhiri  kehidupan ini dengan baik. "Kemudian Abdullah berkata: "Wahai ibu, aku takut jika padukan Syam membunuhku, mereka akan memotong-motong tubuh dan menyalibku."

"Alloh ﷻ yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di seluruh penjurunya dan makanlah sebagian rezeki dari-Nya dan kepada-Nya lah tempat kembali." (QS. Al Mulk:15)


Asma' menjawab dengan perkataan yang kukuh seperti gunung, kuat seperti jiwanya, besar seperti imannya, dan perkataan itulah yang menentukan akhir perjuangan putranya. "Hai anakku sesungguhnya kambing yang sudah disembelih tidaklah merasa sakit bila ia dikuliti." MaaSyaaAllah, ini sangat di luar nalar kita sebagai seorang ibu. Biasanya, seorang ibu tidak akan rela kehilangan anak dengan sebab apapun. MaaSyaaAllah...

Setelah mendengar motivasi ibundanya tersebut, Abdullah pun keluar dan bertempur hingga ia terbunuh. Datang berita kematian kepada ibunya, maka iapun mengeluarkan air matanya yang tertahan. Abdullah gugur sebagai dengan mempertahankan nilai yang tinggi dari ibu teladan. Diriwayatkan, bahwa Al-Hajjah berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh. "Bagaimanakah engkau liat perbuatanku terhadap putramu, wahai Asma'?" Asma' menjawab : "Engkau telah merusak dunianya, akan tetapi dia telah merusak akhiratmu.

Asma' wafat di Makkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya pun masih sempurna, tidak pikun dan lupa. Semoga Alloh ﷻ merahmatinya dan kita mengambil bnyak hikmah dan pelajaran dari berbagai peristiwa dalam perjalanan hidupnya yang tidak bisa kita ceritakan semuanya.

Alhamdulillah khalas, 

Semoga kita bisa meniru sifat baiknya Asma' sang dermawan yang berinfak tanpa berhitung.

Ingatkan apa arti AllahusShomad Artinya Alloh ﷻ tempat bergantung, Asma dalam sedekat tidak pernah memikirkan apakah saya punya untuk hari esok, dia sedekahkan semua hartanya untuk dakwah Rasulullah ﷺ. Setelahnya Asma hanya bergantung kepada Alloh ﷻ.

Apakah Asma setelah sedekah tidak dapat rejeki lagi dari Alloh ﷻ, tidak kan Asma' hidup sampai usia 100 tahun.

Artinya Alloh ﷻ Maha hidup pada kondisi apapun hamba-Nya.

Semoga keberanian Asma' berjuang bisa kita jadikan inspirasi dimana kita ukhtifillah wajib berdakwah. Wajib memberikan peringatan pada kaumnya.

Jangan malu, jangan segan kita berdakwah, ingatlah hanya Alloh ﷻ dan perjuangan menuju surga Alloh ﷻ yang membuat kita harus berjuang.

Wallahu a’lam bishawab

THARIQUL IMAN

 


OLeH: Ummu Azkia Fachrina

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

💎 THARIQUL IMAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبى بعدى

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ

رَبِّىْ زِدْنِيْ عِلْمًـا ناَفِعًاوَرْزُقْنِـيْ فَهْمًـا

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْاِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلاً
رَبِّىْ زِدْنِيْ عِلْمًـا ناَفِعًاوَرْزُقْنِ

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

أَمَّا بَعْدُ

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ

Akhwati rahimmakumullah

Alhamdulillah hari ini kita dipertemukan oleh Alloh ﷻ di dalam sebuah pertemuan yang insyaAllah pertemuan ini diridhoi oleh Alloh ﷻ. Majelis yang diridhoi Alloh ﷻ, sekalipun duduknya kita belum bertatap muka tetapi dalam kondisi online ya, tapi mudah-mudahan apa yang kita lakukan saat ini mendapatkan ridho Allah Ta'ala, InsyaAllah. 

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ

Hari ini adalah pertemuan pertama terkait dengan apa yang akan Saya sampaikan dalam serial pembahasan Nizhamul Islam (peraturan hidup di dalam Islam) yang InsyaAllah untuk seri yang pertama ini akan kita bahas terkait dengan Thariqul Iman (Jalan Menuju Iman). 

Kenapa kemudian ini kita bahas, karena kita adalah hamba Alloh ﷻ yang diciptakan oleh Alloh ﷻ dengan sebaik-baiknya penciptaan. Alloh ﷻ memberikan bekal akal kepada kita. Kemudian Alloh ﷻ memberikan kemuliaan kepada kita sebagai bagian dari sebaik-baiknya penciptaan manusia ya. Bahwasannya Alloh ﷻ telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan kondisi terbaik di antara manusia yang lainnya karena kita adalah muslim. 

Baik, akhwati rahimakumullah...

Kenapa kemudian juga ini dibahas, karena sekalipun kemudian Alloh ﷻ membekali kita dengan akal, kemudian dengan sebaik-baiknya penciptaan, dengan bekal yang sudah Alloh ﷻ berikan dimana Alloh ﷻ telah turunkan risalah yang dibawa oleh Nabi kita, nabiyullah Muhammad ﷺ, rasul yang kita cintai, Rasul yang kita ikuti ajarannya, belum tentu kemudian kita itu mengikuti apa yang diperintahkan oleh-Nya. Belum tentu kita kemudian meng-Illah-kan Alloh ﷻ dengan sebenar-benarnya peng-Illah-an. 

Di sinilah kemudian butuh apanya penguatan iman dan yang namanya iman itu perlu kita ketahui jalannya menuju mana. Jalannya itu arahnya, arah kemana, kemudian seperti apa ketika kita menanamkan keimanan itu di dalam diri kita, maka kita membutuhkan jalan ya, jalan menuju keimanan. 

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ

Bahwasannya yang harus kita pahami bersama ya bangkitnya manusia itu tergantung kepada pemikirannya, pemikiran terkait apa, pemikiran terkait hidupnya, terkait kehidupan, terkait alam semesta, kemudian juga terkait dengan manusia dan juga hubungan di antara ketiganya, terkait dengan hayah ya, kemudian juga kaum ya, kemudian juga dengan insan, dengan ketiganya tadi. 

Dan itu kaitannya tentunya kita memahaminya ya, sebelum ataupun sesudahnya, supaya apa kita memikirkan itu, supaya kita mampu membangkitkan diri kita, kemudian melakukan perubahan yang sangat mendasar dan menyeluruh terkait dengan kehidupan kita sebagai manusia yang telah Alloh ﷻ ciptakan dengan kelebihan dibandingkan mahluk yang lainnya, kita diberikan akal oleh Alloh ﷻ ya, dan kalau kemudian kita memiliki pemikiran sebelumnya yang belum terarahkan dengan risalah Alloh ﷻ yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ maka kita mampu menggantikan pemikiran yang salah dan keliru dengan pemikiran yang mendasar yang itu memang datangnya dari Alloh ﷻ. 

Kenapa demikian? Karena pemikiran lah yang nantinya akan memperkuat, membentuk persepsi terhadap segala sesuatu dan yang lainnya lagi bahwasannya manusia itu selalu mengatur tingkah lakunya di dalam kehidupannya ya sesuai dengan persepsi dia terkait dengan kehidupan. Misal, seseorang ya, seseorang tuh memiliki persepsi terhadap orang yang dicintainya maka ketika dia memiliki persepsi tertentu dengan orang yang dicintainya, maka dia akan berusaha, untuk apa? Untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang dilihat dari orang yang dicintainya. 

Bagaimana dia akan melakukan apapun, gitu kan, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh yang dicintainya. Nah, begitupun dengan yang dibenci maka akan kebalikannya. Bagaimana kemudian ketika persepsi kebencian yang dimiliki terhadap seseorang itu akan terlampiaskan di dalam perilaku hidupnya. 

Jadi, ketika dia mengatur tingkah laku di dalam kehidupannya ya sesuai dengan persepsi yang dia miliki atau kalau di dalam bahasa Arab itu mafahim-nya, sesuai dengan mafahim-nya terhadap sesuatu. 

Nah, jadi ketika kemudian dia memiliki mafhum tertentu maka tingkah laku yang akan dia lakukan itu sangat berkaitan erat dengan pemahaman atau mafahim yang dimilikinya. 

Jadi, kalau kemudian kita hendak mengubah tingkah laku manusia dari yang rendah menjadi perilaku yang tinggi kemuliaannya maka tidak ada jalan lain kecuali dengan mengubah mafhumnya terlebih dahulu, mengubah persepsinya terlebih dahulu, sebagaimana Alloh ﷻ berfirman dalam surat Ar Ra'd ayat 11:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ 

"Sesungguhnya Alloh ﷻ tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka."

Nah, sehingga di sini, satu-satunya jalan untuk mengubah mafahim seseorang itu adalah mewujudkan suatu pemikiran tentang kehidupan dunia sehingga kemudian terwujudlah mafahim yang benar tentang kehidupan tersebut. 

Nah, tapi tidak kemudian jadinya otomatis, berarti kan di sini yang harus kita fahami pemikiran seperti ini tidak bisa, dia itu kemudian melekat erat di dalam kehidupan kita, ya, kemudian memberikan hasil yang berarti, kecuali kalau kemudian bentukan itu di dalam dirinya terkait bagaimana kemudian dia memahami alam semesta, bagaimana dia memahami manusia, ya termasuk dia sendiri kan, kemudian memahami tentang hidup dan apapun yang ada sebelum kehidupan dan sesudahnya, kemudian juga dia memahami keterkaitan antara kehidupan dunia, dengan sebelum dan sesudahnya. 

Nah, semua ini bisa dicapai kalau kemudian manusia itu diberikan pemikiran yang menyeluruh, pemikiran yang sempurna terkait dengan apa yang ada di balik ketiga unsur utama tadi, tentang manusia, alam semesta dan hidup. 

Nah, kalau kemudian pemikiran menyeluruh dan sempurna terkait tiga itu, diberikan secara sempurna dan itu menjadikan landasan berpikir yang pada akhirnya melahirkan semua pemikiran cabang yang ada di dunia kemudian diberikanlah pemahaman pemikiran yang menyeluruh tadi terkait ketiga unsur tadi, dengan sempurna maka ini akan menjadi solusi yang sangat mendasar pada diri manusia. 

Nah, kalau solusi yang mendasar itu telah terurai maka terurai semua masalah. Kenapa? Karena seluruh permasalahan manusia pada dasarnya merupakan cabang dari problematika utamanya. 

Nah, tapi yang perlu dipahami kembali bahwasannya pemecahan itu tidak akan mengantarkan kita kepada kebangkitan yang benar kecuali kalau pemecahan itu benar. Nah, pemecahan yang benar itu yang mana, yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akalnya kemudian juga memberikan ketenangan hati, begitu kan ya. 
Kalau sudah sesuai dengan fitrah manusia, kita puas, kemudian tenang hatinya maka nah itu yang kemudian akan menghantarkan kepada kebangkitan yang benar. 

Nah, bagaimana sih pemecahan yang benar itu, dapat ditempuh dengan cara apa sih. Nah, pemecahan yang benar itu hanya bisa didapatkan, ditempuh dengan pemikiran yang cemerlang atau yang mustanir terkait dengan alam semesta, terkait dengan manusia, terkait dengan hidup. 

Nah, karena itu bagi mereka atau siapapun yang menghendaki kebangkitan kemudian menginginkan kehidupannya itu ada pada jalan yang mulia, mau tidak mau maka yang pertama kali harus dipecahkan adalah problematika yang pokok, yang utama dengan cara yang benar, dengan berpikir yang cemerlang. Nah, pemikiran yang cemerlang yang kemudian mampu memecahkan permasalahan pokok itulah, yang menghasilkan akidah dan sehingga akhirnya akidah itulah menjadi landasan berpikir yang nantinya akan melahirkan setiap pemikiran-pemikiran cabang terkait dengan perilaku manusia di dunia dan peraturan-peraturan yang ada di dalamnya. Pertanyaannya, apa itu, apa itu yang mampu, yang mampu memecahkan atau kemudian bisa memberikan pemecahan yang sempurna tersebut, inilah yang kita kenal dengan Islam. Kita mendengar Islam. 

Islam itu menuntaskan problematika pokok, problematika utama yang ditemukan oleh manusia dan sesuai dengan fitrah. Nah, jadi kalau kita menggunakan seluruh pemecahan permasalahan utama manusia berikut cabang-cabangnya maka InsyaAllah, itu akan dipecahkan sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal manusia dan pada akhirnya memberikan ketenangan jiwa. 

Nah, dan kemudian apakah yang namanya Islam itu bisa sembarangan, ketika manusia itu memahaminya dah memeluknya, nah, tentunya ketika Islam itu dijadikan sebagai penuntas problematika pokok kemudian dilakukan oleh manusia tentunya Islam itu harus dipeluk dulu. Dipeluknya bagaimana, dengan sepenuhnya, mengakui sebenar-benarnya sebagai pola untuk memecahkan segala permasalahan dan pengakuan yang ada ini yaitu berasal dari akal manusia, dimana manusia itu diberikan oleh Alloh ﷻ akal untuk berpikir dan pada akhirnya menjadikan Islam itu sebagai dasar yang utama atau kemudian kita jadikan akidah. 

Dengan akidah itulah bahwasannya di balik alam semesta, di balik manusia, di balik kehidupan ini ada yang menciptakan, ada Al Khalik yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan itu. Nah, kemudian juga menciptakan segala sesuatunya dan dialah itu, Alloh ﷻ. 

Alloh ﷻ-lah yang menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada dan Dia wajibul wujud atau wajib adanya, kenapa, kalau tidak ada, nah, berarti, kalau enggak wajibul wujud, wajib adanya, maka Dia tidak mampu menjadi Khalik, kenapa, karena Dia bukanlah makhluk. Dan sifat pencipta itu menunjukkan bahwasannya Dia itu bukan makhluk. 

Nah, dan secara mutlak, ya, wajib pula adanya, ya. Jadi, ketika eksistensi Alloh ﷻ itu ada dan dia tidak bersandar kepada apapun, tidak bergantung kepada apapun, maka itulah Dia Al Khalik. 

Apa yang menjadi bukti bahwasannya segala sesuatu itu mengharuskan adanya pencipta yang menciptakan, nah ini bisa diterangkan, sebagai berikut "bahwa segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh akal, nah ini yang bisa dijangkau oleh akal ya, itu ada 3 unsur, yang pertama manusia, yang kedua alam semesta dan hidup."

Manusia, alam semesta dan hidup itu, tiga-tiganya terbatas, tiga-tiganya lemah, tiga-tiganya serba kurang, tiga-tiganya saling membutuhkan satu sama lain. Gimana nih penggambarannya, misalnya nih manusia, manusia itu terbatas sifatnya ya, kenapa, kita lihat, pada saat manusia tumbuh dan berkembang, dia punya batas tertentu yang enggak bisa dilampaui lagi. 

Nah, manusia nih ketika dia tumbuh, tidak terus meninggi kan, ketika bayi kan kecil terus besar, besar, besar, meninggi, meninggi, meninggi, tapi apakah akan terus meninggi terus, bisa dibayangkan kalau meninggi terus, setinggi apa manusia dan berarti kan ada keterbatasan ketika dia tumbuh. Ketika kemudian, dia itu menua, kan tidak selamanya terus yang tua itu tut tut tut, tapi kan akhirnya dia meninggal, semua ada keterbatasan. 

Bagaimana, kemudian ada batasan yang dia tidak mampu melampauinya dan ini menunjukkan bahwasannya manusia itu terbatas. 

Gigi, gitu ya, gigi itu kalau ketika kecil kan, kecil-kecil ya, nah ketika kita tumbuh  berkembang gitu ya, menjadi dewasa, gigi itu kemudian besar tapi kan tidak besar terus dan tidak memanjang terus. Bahwasannya ada keterbatasan tertentu, ada limitnya, ada limited measurement, ada ukuran tertentu yang kemudian terbatas, yang itu manusia tidak bisa menghindarinya ya, berarti di situ kan ada sesuatu yang kemudian mengaturnya. 

Berarti yang namanya kehidupan itu berakhir, berakhir pada satu individu saja. Jadi hidup pun menjadi terbatas. Jadi yang namanya hidup tidak selamanya hidup. 

Nah, sama halnya dengan alam semesta. Alam semesta itu kan himpunan dari benda angkasa, yang ada, kemudian ada setiap benda yang ada di dalamnya dan itupun memiliki keterbatasan. 

Nah, dan kalau kita perhatikan keterbatasan itu menunjukkan bahwasannya berarti alam semesta pun memiliki keterbatasan. Sehingga di sini kita bisa memahami bahwasannya manusia, hidup dan alam semesta, ketiga-tiganya terbatas. 

Nah, kalau kemudian kita sudah melihat bahwasannya segala sesuatu itu bersifat terbatas maka semua itu tidak azali, bahwasannya tidak azali dan kita pahami bahwasannya yang namanya bersifat azali itu tidak berawal dan tidak berakhir. Kalau yang azali itu kan berarti enggak punya keterbatasan dong, sementara kita manusia punya keterbatasan, hidup juga punya keterbatasan, alam semesta juga punya keterbatasan. 

Alam semesta ketika terjadi bencana, dia enggak mampu menolak, ketika gunung meletus ya, apa dia bisa menolak, jangan meletus, itu kan enggak juga, berarti kan di sini ada keterbatasan ya dan apa namanya, ada akhirnya, gitu kan, maka dia tidak azali. Dengan segala keterbatasan yang ada, berarti yang punya keterbatasan ini berarti dia diciptakan oleh sesuatu yang lain, gitu kan, bukan oleh dirinya sendiri, bukan yang punya keterbatasan, tetapi dia tidak punya keterbatasan dan sifatnya itu ya tidak ada batasnya dan itulah yang kita kenal dengan Al Khalik. 

Dia-lah yang kemudian menciptakan manusia, hidup dan alam semesta, nah, tapi  di sini kita harus pahami juga, ketika kita menentukan keberadaan pencipta ini kita bisa mendapati adanya tiga kemungkinan ya, kita pahami dulu ini. 

Jadi, ada 3 kemungkinan, yang pertama, dia itu bisa jadi diciptakan oleh yang lain, ya kan, bisa jadi nih, ini baru bisa jadi, bisa jadi nih, kemungkinan-kemungkinan kan. Pertama, dia diciptakan oleh yang lain, nah itu yang pertama. 

Yang kedua, dia diciptakan oleh dirinya sendiri. Nah, kemudian yang ketiga, dia bersifat azali dan wajibul wujud. Coba sekarang kita lihat, kemungkinan yang pertama, kalau dia diciptakan oleh yang lain, mungkin enggak, dia kan pencipta, mungkin enggak kalau misalnya seorang pencipta gitu ya diciptakan oleh yang lain, namanya juga pencipta, kalau pencipta berarti yang menciptakan ya, berarti kan bathil gitu ya, bathil ya dan itu enggak bisa diterima akal, kenapa, berarti kalau dia diciptakan berarti dia punya keterbatasan dong, namanya juga diciptakan, kalau misalnya dia diciptakan bisa dong dia dimusnahkan oleh yang menciptakannya. Nah, itu yang pertama. 

Berarti kemungkinan pertama, bathil, dia enggak bisa diterima, enggak bisa diterima kalau seandainya bahwasannya pencipta itu, itu diciptakan oleh yang lain. Kalau Alloh ﷻ itu tidak diciptakan oleh yang lain, berarti itu bathil. 

Kemungkinan yang kedua ya terkait dengan pernyataan bahwasannya dia itu menciptakan dirinya sendiri, oke, kita lihat, kalau dia menciptakan dirinya sendiri berarti dia punya dua standar ya, dia sebagai mahluk atau dia sebagai khalik pada saat yang bersamaan. Nah, kalau begitu kita lihat secara, apakah kemudian ini bisa diterima, mana bisa mahluk itu sebagai Al Khalik, dia menciptakan dirinya sendiri. 

Jadi, kalau kemudian kita perhatikan bagaimana bisa seorang yang mempunyai akal, dia bisa membuktikan pasti di balik benda-benda yang dihadapannya itu pasti ada yang menciptakan dan itu menunjukkan memang adanya keterbatasan. Jadi, kalau kemudian membuktikan adanya Alloh ﷻ itu adalah Al Khalik yang Maha Pengatur. Cukup saja sebetulnya dengan mengarahkan manusia dan memperhatikan manusia itu terhadap benda yang ada di alam semesta, bagaimana fenomena hidupnya, bagaimana dirinya sendiri sebagai manusia, nah, misalnya dengan mengamati salah satu planet lah misalnya yang ada di alam semesta ya. Kemudian kita melihat fenomena kehidupannya seperti apa, kemudian kita memahami diri kita bagaimana. Kita bisa melihat bagaimana manusia sendiri, kitalah ya, misalnya yang tadi ya, salah satu contohnya bagaimana gigi tidak memanjang terus, bagaimana tingginya manusia tidak terus meninggi terus, tangan yang tumbuh itu kenapa tidak memanjang terus, ya kan berarti ada suatu keterbatasan dan pasti keterbatasan itu diciptakan oleh sesuatu yang lebih daripada manusia dan Dia-lah yang menciptakan keterbatasan itu. 

Lalu, kemudian kita yang telah dibimbing oleh Islam dan Islam itu mampu memecahkan permasalahan kehidupan, tentunya kita memiliki panduan untuk memahami itu ya, salah satunya ada di dalam Al Qur'an, dimana Al Qur'an itu, di situ ada ajakan untuk mengalihkan perhatian manusia terhadap benda yang ada, kemudian mengajak manusia untuk mengamati dan fokus terhadap benda yang ada itu atau segala sesuatu yang ada di sekelilingnya itu untuk apa, untuk menghubungkan segala sesuatu yang dilihat di indera ya, yang dirasakan olehnya itu membuktikan adanya Alloh ﷻ, nah, kenapa, karena dengan mengamati benda-benda itu bagaimana satu sama lain saling membutuhkan, kalau kita melihat bagaimana, apa namanya, rantai ya, rantai kehidupan, atau jaring-jaring kehidupan atau jaring-jaring makanan aja, kita memperhatikan bagaimana saling ketergantungan, saling  membutuhkan, makhluk hidup dengan, satu dengan yang lainnya, bagaimana manusia membutuhkan tumbuhan, bagaimana manusia membutuhkan hewan, bagaimana hewan pun membutuhkan yang lainnya, dan seterusnya. 

Nah itu bisa kemudian ketika mengamati itu bisa kita diberikan suatu pemahaman yang meyakinkan bahwasannya ada yang menciptakan, ada yang mengatur, ya. Berarti ada sesuatu yang lebih dari diri dia yang dimana tidak ada ketergantungan satu sama lain, enggak perlu ada ketergantungan satu sama lain sementara dia sendiri sebagai manusia punya ketergantungan terhadap yang lain ya. 

Dan di sinilah kemudian Al Qur'an menjelaskan ratusan ayat berkenaan dengan ini. Nah, antara lain di sini adalah surat Ali Imran ya, surat ke-3 ayat 190:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh ﷻ) bagi orang yang berakal."

MasyaAllah ya.. MasyaAllah. 

Kemudian ayat yang lainnya surat Ar Rum: 22

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ 

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakannya langit dan bumi serta berlain-lainannya bahasa dan warna kulitmu."

MasyaAllah...

Kita lihat ya warna kulit kita, orang Asia kebanyakan itu kan sawo matang ya, dataran Eropa, putih, di Timur Tengah seperti apa kulitnya dan seterusnya. Berlain-lainan, siapa yang bisa mewarnai kulit, MasyaAllah ya. 

Ayat yang lainnya lagi dalam surat Al Ghasiyah

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ

MasyaAllah... 

"Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?"

"Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?"

"Dan gunung-gunung, bagaimana dia ditegakkan?"

"Dan bumi bagaimana dihamparkan?"

Bagaimana caranya, siapa yang bisa melakukan itu, ya MasyaAllah, Al Qur'an mengajak kita untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan yang menciptakannya, MasyaAllah. 

Kemudian di surat yang lainnya, dalam surat At Thariq ayat 5-7:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ

يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ

"Hendaklah manusia memperhatikan diri apa dia diciptakan."

"Dari apa dia diciptakan."

"Dia diciptakan dari air yang memancar."

"Yang keluar di antara tulang sulbi laki-laki dan perempuan."

MasyaAllah, Alloh ﷻ menerangkan itu. 
Kemudian ayat yang lainnya, MasyaAllah.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Alloh ﷻ turunkan Alloh ﷻ dari langit berupa air, lalu dengan air itu Ia dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran air dan awan dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya, semua itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh ﷻ) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al Baqarah: 164) 

MasyaAllah...
Banyak lagi sebetulnya ayat-ayat yang serupa dengan itu, ya, mengajak manusia memperhatikan benda-benda, memperhatikan alam dengan seksama, memperhatikan sekelilingnya, memperhatikan apa yang berhubungan dengan dirinya dan ajakan itu menjadi petunjuk, akan adanya Pencipta yang maha Pengatur. Sehingga kemudian imannya kepada Alloh ﷻ menjadi iman yang mantap, iman yang berakar, pada akal dan bukti yang nyata. 

Benar ya, memang yang namanya iman kepada Pencipta, yang Maha Pengatur itu adalah hal yang fitrah, yang fitri, hanya saja iman yang fitri ini bisa muncul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka. 

Nah, kalau cara ini kemudian dibiarkan tanpa dikaitkan dengan akal, riskan, ya, karena enggak bisa dipertahankan lama, ya. Karena apa, yang namanya perasaan itu sering nambah-nambahin, kadang-kadang, dan akhirnya tidak sesuai dengan hakikatnya. Bahkan pada akhirnya mengkhayal-khayalkan, gitu ya, mengkhayal-khayalkan sampai pada akhirnya diimani. Akhirnya tanpa sadar hal itu akan mengarahkan kepada kekufuran dan kesesatan ya, misalnya, adanya penyembahan berhala, khurafat-khurafat, kebathinan, ajaran kebathinan, itu karena kesalahan perasaan, gitu kan ya, hanya menggunakan apa namanya, hati nurani belaka. Dan Islam tidak akan membiarkan itu ya, sebagai jalan untuk menuju iman, supaya apa, supaya tidak ada menambah-menambahkan segala sesuatu yang akhirnya bersifat khayali, naah, akhirnya mengada-adakan, nah, jadi pada akhirnya harusnya, apa namanya, tidak ada mensyarikatkan Alloh ﷻ, akhirnya apa, terjadilah  kekufuran, kesyirikan, khurafat, berimajinasi, sampai pada akhirnya keluar dari iman yang lurus. 

Nah, sehingga di sini, Islam menegaskan ya, supaya selalu menggunakan akal selain adanya perasaan. Nah, jadi, di sini pun, Alloh ﷻ ya telah mengingatkan jangan semata-mata bertakhbib saja tetapi ketika Alloh ﷻ memberikan akal kepada manusia wajiblah bagi dia itu melakukan proses berpikir, meneliti ya, kemudian memperhatikan, kemudian merujuk kepada sesuatu yang mengarahkan kepada iman dia kepada Alloh ﷻ. 

Kemudian, bagaimana Islam telah mengajarkan untuk selalu memperhatikan alam semesta dengan seksama ya, mencari sunnatullah, supaya apa, supaya memperoleh petunjuk ya, dan akhirnya beriman kepada Alloh ﷻ dan itu telah disebutkan ratusan kali di dalam Al Qur'an dalam ayat-ayat yang berbeda, supaya apa, supaya manusia itu bisa beriman ya, beriman sesuai dengan pemberian akal yang diberikan oleh Alloh ﷻ. 

Bagaimana kemudian Alloh ﷻ pun mengingatkan jangan mengikuti apa yang sudah ditempuh oleh nenek moyangnya tapi kembali dalami apakah ini sesuai dengan seruan Islam atau tidak. 

Jadi, kalau kemudian tidak sesuai dengan Islam ya jangan diikuti, nah, jadi di sini harus dipahami ya, bahwasannya Alloh ﷻ mewajibkan, manusia itu menggunakan akalnya supaya mencapai keimanan yang kuat ya, tapi tidak kemudian di luar jangkauan dia, karena yang namanya indera dan akal pun punya keterbatasan. 

Nah, ketika kemudian kekuatan itu mempunyai keterbatasan apakah kemudian akan meningkat gitu ya dengan keterbatasan tertentu atau kemudian menurun kemampuannya karena kita tahu sendiri ya bahwasannya al iman yazid walan kuz, maka kita akan berupaya, bagaimana kita senantiasa gitu kan ya, memahami apa yang telah Alloh ﷻ ciptakan tadi, dalam rangka mencapai hakikat keimanan yang sebenarnya dengan upaya yang luar biasa sesuai dengan ajaran Alloh ﷻ. 

Jadi, kita selalu berusaha, untuk menguatkan keimanan kita dengan melalui proses berpikir, bagaimana kita berpikir, dikuatkan dengan perasaan, kemudian mengarahkan kepada hakikat yang benar ya, kemudian pada akhirnya dengan jalan itu kita bisa menguatkan keyakinan kita dengan menyerahkan diri kepada Alloh ﷻ, dengan apa-apa yang sudah dikabarkan oleh Alloh ﷻ melalui Rasul ﷺ, yang sudah diajarkan kepada Rasul ﷺ, tidak kemudian, ya, keluar, keluar dari apa yang sudah diajarkan dari Alloh ﷻ kepada Rasul-Nya ya. 

Bagaimana Alloh ﷻ telah menurunkan dien Islam yang mulia sebagai jalan untuk mencapai keimanan, sehingga di sini secara fitrah, manusia senantiasa mensucikan Penciptanya yaitu Alloh ﷻ. Nah, inilah yang kemudian dinamakan dengan ibadah. 

Makanya ada ibadah. Nah, ibadah itulah yang kemudian akan menjadi penghubung, tali penghubung antara manusia dengan Alloh ﷻ. Nah, kalau hubungan ini dibiarkan begitu saja enggak ada aturan, maka ibadahnya kacau, pada akhirnya ibadahnya pun akan ditambah malahan nanti malah menyembah kepada sesuatu selain Pencipta. Nah, sehingga memang di sini harus ada aturan juga yang mengatur hubungan tadi. 

Nah, hanya di sini aturan itu tidak boleh datang dari manusia. Maka aturan itu, ibadah pun ada dari Alloh ﷻ. Nah, sehingga di sini memang kita membutuhkan adanya Rasul. Rasul yang  menyampaikan agama Alloh ﷻ. Rasul yang kemudian akan mengajarkan semuanya, makanya di sini Alloh ﷻ menurunkan Rasul yang dimuliakan Nya, Rasul Muhammad ﷺ. 

Bagaimana dituntun manusia supaya berjalan dengan aturan, jangan sampai kemudian hanya menjurus kepada pemuasan yang salah dan menyimpang, yang akhirnya manusia sengsara. 

Makanya di sini Alloh ﷻ memberikan Rasul, menurunkan Rasul itu supaya enggak sengsara. Jalan yang ditempuh pun adalah jalan yang dilalui oleh para Rasul, diikuti oleh para sahabatnya, diikuti oleh para tabi'innya dan diikuti oleh kita sekarang. Nah, kalau kemudian kita bertanya lagi, ya, bagaimana atau dari siapa Al Qur'an itu, ya kitakan tahu, bahwasannya Al Qur'an itu datang dari Alloh ﷻ nah, tapi suka ada pertanyaan juga. Ada beberapa kemungkinan, apa kemungkinannya, bisa jadi, itu karangan orang Arab kan bahasanya Arab, atau kemungkinan kedua itu karangan Nabi Muhammad, atau yang ketiga itu berasal dari Alloh ﷻ. 

Nah, jadi kalau kemudian kita kembali membahas oh itu dari orang Arab, berarti orang Arab yang menulis, enggak mungkin dong kalau misalnya Alloh ﷻ menantang orang Arab kalau itu diciptakan oleh orang Arab. Dalam surat Hud: 13, kan di situ Alloh ﷻ menantang, menantang orang Arab ya supaya membuat karya yang serupa, dalam surat Hud: 13 kan dikatakan begini:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 ۗقُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهٖ 

"Katakanlah, (Kalau demikian), maka  datangkan sepuluh surah yang dapat menyamainya."

Tuh, jadi kalau kemudian itu diciptakan oleh orang Arab, kenapa Alloh ﷻ menantang, ya, jadi tertolak.

Kalau kemudian misalnya ada yang kedua nih, oh itu dari apa namanya, dari Muhammad, dari Muhammad ﷺ, itu kan enggak bisa diterima, kenapa, bagaimanapun jenisnya beliau, dia tetaplah seorang manusia, yang menjadi salah satu masyarakat dan bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa maka, secara akal pun Nabi Muhammad yang merupakan salah satu dari bangsa Arab enggak mampu menghasilkan karya yang serupa. 

Terlebih lagi dengan banyak hadist shahih yang berasal dari nabi Muhammad ﷺ yang sebagian malah diriwayatkan dengan cara tawathur yang kebenarannya tidak bisa diragukan lagi bahkan kemudian menjelaskan, apa namanya, bahwasannya Al Qur'an itu enggak ada kemiripan dengan hadist. Nah, jadi beda. 

Nah, bagaimana kemudian Rasulullah ﷺ pun tidak mengeluarkan Al Qur'an tetapi Rasul mengajarkan Qur'an, ya. Nah, kemudian, apa namanya, ada memang tuduhan, ada tuduhan ya, tuduhan dari seorang pemuda Nasrani yang namanya Jaber, tapi kemudian tuduhan ini ditolak ya oleh Alloh ﷻ, tuduhannya bahwasannya Qur'an itu disadur Muhammad, maka Alloh ﷻ menjawab dalam surat An Nahl: 103, nah, di sini Alloh ﷻ mengatakan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ

"Dan sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata, “Bahwasannya Al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (kepada Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (Muhammad itu belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajami, sedangkan (Al-Qur'an) itu adalah bahasa Arab yang jelas.""

Nah, ini membuktikan bahwasannya bukan karangan nabiyullah Muhammad, sehingga di sini bahwasannya berarti Qur'an itu diciptakan oleh selain dari kedua itu tetapi diciptakan oleh Alloh ﷻ. Nah, yang bisa mencapai itu hanyalah pemikiran yang cemerlang. Sehingga di sini kita harus benar-benar memiliki pemikiran yang cemerlang agar kemudian kita bisa mencapai jalan keimanan yang lurus, jalan keimanan yang sesuai dengan yang ditentukan oleh Alloh ﷻ. MasyaAllah, dan ini tidak bisa berleha-leha ya, tidak bisa berdiam diri, semua itu harus dilakukan dengan proses, semua itu harus dilakukan dengan upaya, salah satunya adalah dengan mengkaji ilmu, MasyaAllah. 

Wallahu a’lam bishawab

Uusikum binafsiy bitaqwallah

Mohon maaf lahir bathin

Ini adalah seri pertama ya terkait dengan Thoriqul Iman (Jalan Menuju Iman). 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum...

Umm, apakah benar Thoriqul Iman atau jalan menuju keimanan harus di lalui melalui dua jembatan, yaitu dalil aqli (akal) dan dalil naqli (nash). Kalau benar, mengapa harus melalui keduanya umm?

🔷 Jawab:
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim...

Ukhtiiy Han shalihah...
Dalil Naqli adalah Nash dari Alloh ﷻ yang tak pernah dan tak boleh diabaikan dalam membenarkan sesuatu dalam mengaitkan sesuatu.
Dan kita diberikan akal untuk mengaitkan antara apa yang harus kita pahami. Jadi keduanya adalah hal penting untuk menjalani kehidupan.
Meraih takwa sebagai derajat tertinggi sebagai makhluk yang berakal.
Demikian ukhtiiy Han shalihah.

Wallaahu a'laam bisshawaab...

🌷Bagaimana, Umm dengan yang lagi ramai masalah Hollyw*** dimana dari team promosinya yang mungkin dengan kepintarannya itu malah kebablasan mencampur adukan akidah umat Islam dan bagaimana bisa mempromosikan dagangannya tersebut. Yang akhirnya memicu kemarahan ummat dan lagi-lagi Islam selalu yang menjadi korban, Umm. 

🔷 Bismillahirrahmanirrahim...

Saya coba jawab ya shalihah...
Kasus Hollywings sungguh membuat kita sangat teriris. Karena nama seseorang yang dimuliakan Alloh ﷻ dicatut untuk mengiming-imingi keharaman agar diterima.
Alasan apapun terkait pencatutan nama nabi kita dalam bisnis yang terkait dengan miras, sungguh tak bisa diterima.
Penistaan itu menjadi ada, tak bisa dikatakan tiada, karena nama itu sangat tendensi dengan Islam. Kita pun tak suka jika yang kita cintai dilecehkan, dinista.

Ahlus Sunnah mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengagungkannya sebagaimana para Sahabat Radhiyallahu anhum mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari kecintaan mereka kepada diri dan anak-anak mereka, sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ.

“Kami mengiringi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Alloh ﷻ, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’”

MaasyaaAllaah...

Terkait efek jera. Ini terjadi jika benar-benar ada sanksi yang benar dan tegas terkait miras itu sendiri. Selama sanksi itu samar dan tak hentikan peredaran dan produksi mirasnya itu sendiri, maka efek jera menjadi tiada. Dalam Islam sangat jelas hukum terkait khamar.
Nabi Muhammad ﷺ  melarang perilaku ini dengan sabdanya yang artinya: "Alloh ﷻ melaknat peminum khamer dan penjualnya." (HR. Hakim)

Real...maka sanksinya pun jelas dan tegas.

Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam kitab Minhajul Muslim, hukuman peminum khamar adalah dengan dicambuk 80 kali pada bagian punggungnya. Hadist ini sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad bagi para pelanggar larangan minum khamar.

Berbicara terkait 3000 pekerjanya, maka ini adalah hal yang harus diperhatikan pula.
Pemilik bisnis harusnya bertanggungjawab agar pegawainya tidak berkubang dosa, maka tempat ini bisa beroperasi namun tidak bisnis khamar lagi.
Sanksi tetap berlaku bagi para pelaku bisnis namun kesadaran untuk membangun kembali bisnis dan tetaplah harus terjaga dengan sistem.
Dan sistem Islam akan menjaga agar semua tidak terulang lagi. Sungguh realisasi sistem Islam sudah sangat urgen agar Hollywings dan sejenisnya tak subur makmur lagi dan melenggang dengan nista yang lainnya.
Demikian.

Wallaahu a'laam bisshawaab..

🌷Njih umm, sangat miris sekali nama baginda Nabi kita hanya dinilai dan disamakan dengan minuman yang haram.

Semoga pencabutan ijin usahanya bisa memberikan efek jera dan bisa menular ke yang lain demi tegaknya Islam. Aamiin

🔷 Perlu upaya kita untuk selalu menyerukan kebenaran.

🌷Njih umm, harus berani menyeru kebenaran bukan hanya diam saja saat agama dah ditindas apalagi dilecehkan.

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Tetaplah Tha'at pada Alloh ﷻ. Pahami jalan ini dengan baik dan benar. Raihlah ridho Alloh ﷻ, janganlah berma'shiyat kepada-Nya.
Hidup ini hanya sekali, selanjutnya kembali pada kehidupan akhirat yang abadi. Jalani Iman ini dengan benar, insyaaAllaah berkah hidup bahagia dalam takwa. Uusiikum wa nafsiiy bitaqwallaah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

JAUH DAN DEKAT MENGGAPAI RIDHO ILAHI

 


OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌸 JAUH DAN DEKAT MENGGAPAI RIDHO ILAHI

Seorang muslim wajib baginya mengimani perkara-perkara yang telah diberikan kepadanya berupa rukun iman. Seorang muslim yang baik bukan hanya mempercayai saja namun jug mengamalkan dari setiap bagian rukun iman yakni: Iman Kepada Alloh ﷻ, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-kitab Alloh ﷻ, Iman Kepada Rasul, Iman Kepada Hari Akhir dan Iman Kepada Qodho dan Qodar. Sebagai penganut agama yang kaffah haruslah terpenuhi keseluruhan itu sesuai tuntunan dan arahan dari al-Qur’an dan Hadits.

Pada realitanya, sebagian manusia lupa dan lalai akan kewajibannya mempercayai hal yang sudah pasti tersebut. Manusia yang tersesat bisa saja melupakan Tuhannya dengan meniadakan Alloh ﷻ di setiap nafas hidupnya. Manusia bisa saja melupakan iman kepada malaikat dan hari akhir karena hati yang tersesat dengan tidak mempercayai suatu hal yang ghaib. Manusia bisa saja melupakan iman kepada kitab-kitab Alloh ﷻ, dan Rasul Alloh ﷻ. Namun manusia tidak bisa menghindari dari Qodho dan Qodar Alloh ﷻ. Oleh karena itu, seorang muslim akan dimintai pertanggungjawaban dari setiap perbuatan yang dikerjakannya.

Wallahu a’lam bishawab

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Cucu Cudliah ~ Tasikmalaya
Syukron Ustadz juga moderator.

Dalam pernyataan di atas ada "Pada realitanya sebagian manusia lupa dan lalai akan kewajibannya hal yang sudah pasti tersebut." 

1. Apa faktor-faktor penyebab secara interen maupun ekstern?

2. Bagaimana supaya Istiqomah dalam keimanan?

🌸 Jawab:
Sama-sama... Alhamdulillah.

1. Faktor internal penyebab lalai dari kewajiban terletak dari kosong dari ilmu dan amal, sedangkan faktor dari luar sangat mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif dan kosong dalam keimanan dikarenakan berkumpul dengan yang lemah iman.

2. Istiqamah dalam iman terdapat kepada kegigihan untuk mendalami ilmu keislaman dan aktif dalam beribadah serta beramal shalih, terjaga keimanannya.

 Wallahu a’lam bishawab

0️⃣2️⃣ Widia ~ Bekasi
Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Bagaimana tadz menggapai ridho Alloh ﷻ sebagai menantu. Apakah anak lelaki yang lebih menghargai istrinya daripada bapaknya sendiri dapat meraih ridho Alloh ﷻ?

🌸Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh
 
Caranya dengan menghargai istrinya dan orang tua maupun mertua menjalani dengan silaturahmi disertai saling memberikan keceriaan bersama.

Wallahu a’lam bishawab

0️⃣3️⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh 

Ustadz, banyak dari masyarakat yang tidak percaya dan melupakan iman kepada malaikat dan hari akhir sesuatu yang memnag tidak tampak nyata. Tetapi kenapa banyak masyarakat malah datang ke dukun, ikut larung sesembahan sesuatu yang ghaib yang jelas-jelas syirik. 

Bagaimana dengan hal tersebut ustadz?

🌸Jawab
Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh 

Dengan adanya kemusyrikan tentu percaya kepada perkara ghaib jalannya yang rusak, karena tipu daya setan telah masuk ke dalam jiwa yang kosong. Maka disinilah yang harus dibenahi dalam proses menuju iman yang lurus, agar selamat dari tipu daya setan dan tidak mudah rusak imannya.

🔹Bagaimana tadz jika itu sudah turun-temurun dan jika yang muda menjelaskan dan mengingatkan malah dibilang sok pintar, tahu apa masih kecil.

🌸Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh

Ya dengan di ajak berpikir dan dakwah telah di muat di antarannya dalam surah Al-'Asr ayat 1-3.

Wallahu a’lam bishawab
 
0️⃣4️⃣ Aisya ~ Cikampek 
Assalamualikum warahmatullahi wabarakatu 

Termasuk status, dan like kita di sosmed untuk apa.
Juga komen kita  ya tadz akan di pertanggung jawabkan.

🌸Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh 

Yang utama pada isinya dan pengamalannya baik di sosmed maupun dunia nyata, kecuali sudah kembali kepada kodrat ilahi telah selesai tugasnya di alam dunia.

Wallahu a’lam bishawab

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Yang jauh mendekat...
Yang dekat tambah dekat...

Agar hidup kita senantiasa berada dalam naungan ridho ilahi.

Wallahu a’lam bishawab

JERITAN PENYESALAN


OLeH: Ibu Hj. Irnawati Syamsuir Koto

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

💎 JERITAN PENYESALAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh.

Sahabat-sahabat yang dirahmati oleh Alloh ﷻ, puji syukur kita panjatkan yang telah memberikan hidayah dan kesempatan sehingga pada kali ini kita semua dapat berkumpul disini. Alhamdulillah.

Sholawat teriring salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, dengan bersama-sama kita lafalkan “Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa alaa alihi sayyidina Muhammad.”

 Teman-temanku...

Saat ini kita belum merasakan mati.

Tapi kedatangannya adalah pasti.

Meskipun tidak seorangpun tahu, kapan maut menghampiri.

Saat ini, belum ada yang kita sesali.

Namun, boleh jadi ia datang esok hari.

Saat penyesalan tidak berguna lagi.

Penyesalan, datangnya selalu belakangan. Masih beruntung jika masih ada kesempatan untuk perbaiki diri. 

Bagaimana jika penyesalan setelah kita mati, disaat mustahil kesempatan terulang kembali...!?

Andai saja mereka yang telah mati bisa bicara.

Andai kita mendengar rintihan mereka.

Mungkin semua orang akan beriman.

Beruntunglah yang beriman pada ALLOH ﷻ dan Rasul-Nya yang telah memberikan kabar penyesalan mereka orang-orang KAFIR dan Lalai.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh (obat) bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus : 57)

Al-Qur'an adalah petunjuk, obat untuk melembutkan hati bagi yang membaca dan merenungkan makna atau hikmah didalamnya. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran yang sudah Allah Ta'ala berikan kepada kita dalam kitab suci-Nya, Al-Qur'anul karim.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al Mu'minuun : 99-100)

"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Alloh ﷻ sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Alloh ﷻ Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Munaafiquun : 10-11)

"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "YaTuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?" (QS. Ibrahim : 44)

"Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur'an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?" (QS. Al A'raaf : 53)

"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya dihadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (QS. As Sajdah : 12)

"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka." (QS. Al An'aam : 27-28)

"Dan siapa yang disesatkan Alloh ﷻ maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?" (QS. Asy Syuura :44)

"Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Alloh ﷻ saja disembah. Dan kamu percaya apabila Alloh ﷻ dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Alloh ﷻ Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al Mu'min: 11-12)

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun." (QS. Faathir : 37)

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulanitu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia." (QS. Al Furqaan : 27-29)

Saudari-saudariku -semoga kita bukan termasuk yang disebutkan diatas dan semoga Allah Ta'ala menyelamatkan kita-, pada ayat-ayat diatas Allah 'Azza Wa Jalla menceritakan tentang keadaan orang-orang kafir dan orang-orang yang lalai terhadap perintah Alloh ﷻ saat kematian mendatangi mereka. Juga mengabarkan tentang ucapan dan permohonan mereka agar dipulangkan kembali kedunia supaya bisa memperbaiki kerusakan yang selama ini mereka tempuh dalam kehidupan dunia.

Saudari-saudariku seiman, ingatlah kehidupan ini hanyalah sementara, sebentar saja, maka bersabarlah. 

Allah Ta’ala berfirman : “Alloh ﷻ bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Alloh ﷻ berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al Mu'minuun : 112-115).

Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, maka raihlah kemenangan, belum terlambat dengan (sebenar-benarnya) taubat dan beramal shaleh, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah 'Azza Wa Jalla.

"Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. "Maka Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS. Al Kahfi: 110).

Sebelum Terlambat, BerImanlah dan BerAmal Shalih.!!!

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Alloh ﷻ, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Alloh ﷻ, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Namun mereka tidak lagi diijinkan untuk itu. Kematian serta-merta memupuskan segala angan-angan tersebut. Allah ta’ala berfirman mengenai mereka,

>حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)

“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tidak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka.

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Alloh ﷻ ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

 Sahabat-sahabatku....

Sekarang kita masih mengenyam nikmatnya hidup, kita masih bisa menambah pahala dan menghapus dosa. Ingatlah bahwa suatu saat Anda akan tutup usia, dan semuanya menjadi angan-angan. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan angan-angan itu mulai sekarang!

Ibrahim bin Yazid al-Abdi mengatakan, “Suatu ketika Riyah al Qaisy mendatangiku seraya berkata, ‘Hai Abu Ishaq –julukan Ibrahim-, ayo ikut bersamaku menemui penghuni akhirat dan marilah kita mengikat janji setia di samping mereka.” Lalu aku pun pergi bersamanya ke sebuah pemakaman. Kami duduk di samping salah satu kuburan di sama, kemudian Riyah berkata,

“Hai Abu Ishaq, kira-kira apakah yang diangankan oleh mayit ini jika ia diminta berangan-angan?”

“Demi Alloh ﷻ, ia pasti ingin dikembalikan ke dunia agar bisa taat kepada Alloh ﷻ dan memperbaiki amalnya,” jawabku.

“Nah, kita sekarang berada di dunia. Karenanya, marilah kita taat kepada Alloh ﷻ dan memperbaiki amal kita,” sahut Riyah.

Maka Riyah bangkit meninggalkan kuburan tersebut dan mulai bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ternyata tak lama berselang, ia dipanggil menghadap Alloh ﷻ, semoga Alloh ﷻ merahmatinya.

Saudaraku, jika Anda menziarahi pemakaman, carilah kuburan kosong dan duduklah di sampingnya. Perhatikan liang kubur yang sempit itu, dan bayangkan kalau Anda berada di sana ketika papan-papan kayu menutup tubuh Anda, lalu bongkahan tanah menimbun, kemudian sanak keluarga dan handai taulan pergi satu persatu. Anda terbaring sendirian dalam keheningan dan kegelapannya, tidak ada teman di sana, dan tak ada yang Anda lihat selain amal Anda. Kiranya apa yang Anda damba-dambakan di saat menegangkan tersebut?

Bukankan Anda ingin kembali ke dunia supaya beramal shalih? Supaya shalat walau satu raka'at? Atau bertasbih dan berdzikir meski sekali?

Nah, sekaranglah waktunya…!!

Wallahu a’lam bishawab

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Aisya ~ Cikampek 
Assalamualikum warahmatullahi wabarakatu 

Ustadzah, dunia itu sementara akhirat selamanya, selain kita mengejar akhirat nda, bolehkah kita memikirkan bekal dunia juga mungkin, qadarullah jika Alloh ﷻ kasih usia kita sebentar setidaknya saya ada warisan untuk anak-anak dan lain-lain.
Selain ilmu agama bekal dia di akhirat juga nda,.
Mohon pencerahanya 

🔷Jawab:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Memikirkan bekal dunia, tentu saja boleh, bagaimana kita bisa membantu perjuangan dakwah kalau kita tidak punya materi? Bagaimana kita bisa sedekah, infaq dan lain-lain kalau tidak ada materi? Soal warisan, tidak perlu terlalu dipikirkan, karena belum tentu warisan membawa kebaikan, bisa malah menjadi penyebab kehancuran, jadi pikirkanlah apa yang bisa dibawa, didik anak-anak  menjadi pejuang, bukan menjadi anak yang terbiasa dengan uang. ajarkan anak mandiri, bukan anak yang tidak tahu diri. Siapkan anak yang dipenuhi Iman. 

Wallahu a’lam bishawab

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Sahabat-sahabatku....

Kehidupan yang diberikan Alloh ﷻ kepada manusia selama masih berada di dunia ini ternyata merupakan anugerah terbesar yang jarang disyukuri. Karena itu, harus memanfaatkan selagi masih hidup dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta beramal baik sebagai bekal menuju keabadian agar tidak timbul penyesalan.

Mohon maaf lahir batin.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh