Minggu, 22 November 2020

LARANGAN MENCELA DOSA DAN MAKSIAT ORANG LAIN


OLeH  : Ummu Nadia Alifulia

   💘M a T e R i💘

🌷LARANGAN MENCELA DOSA MAKSIAT ORANG LAIN

Ada berita viral "maksiat atau zina", ramai berkomentar dan mencela pelakunya di publik atau sosmed. 

Bisa jadi pelaku sangat menyesal & bertaubat, lalu Alloh ﷻ mengampuni. Tersisalah komentar-komentar yang akan dituntut di hari kiamat. 

Terkadang ada saudara kita yang melakukan dosa atau maksiat, kemudian menjadi bahan perbincangan atau ghibah. Padahal bisa jadi pelaku dosa tersebut sudah bertaubat dari dosa tersebut. Mengenai hal ini, mari kita perhatikan nasihat dari beberapa ulama, yaitu orang yang menjelek-jelekkan saudaranya yang sudah bertaubat dari dosa, bisa jadi dia akan melakukan dosa tersebut.

Misalnya ada teman kita yang ketahuan selingkuh atau berzina, maka kitapun heboh membicarakannya bahkan mencela serta terlalu banyak berkomentar dengan menerka-nerka saja. Hal ini sebaiknya dihindari, sikap muslim adalah diam, menasihati dengan cara empat mata, dan berharap kebaikan pada saudaranya terlebih ia sudah menyesal dan mengaku salah.

◼️Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan, bisa jadi ia terjerumus dalam dosa yang sama karena ada faktor kagum terhadap dirinya sendiri, sombong dan mensucikan diri. Seolah dia berkata kamu kok bisa terjerumus dalam maksiat atau dosa itu, lihatlah aku, sulit terjerumus dalam dosa itu. Tentu ini bentuk kesombongan yang nyata dan sangat merendahkan orang lain. Beliau berkata,

ﻳُﺠَﺎﺯَﻯ ﺑِﺴَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓِﻴﻖِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﻜِﺐَ ﻣَﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻪِ ﻭَﺫَﺍﻙَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺤِﺒَﻪُ ﺇِﻋْﺠَﺎﺑُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻟِﺴَﻼﻣَﺘِﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋَﻴَّﺮَ ﺑِﻪِ ﺃَﺧَﺎﻩُ

“Dibalas dengan memberikannya jalan hingga ia akan melakukan maksiat yang ia cela yang dilakukan oleh saudaranya. Hal tersebut karena ia sombong atau kagum dengan dirinya sendiri karena ia merasa selamat dari dosa tersebut.”

◼️Demikian juga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa menjelek-jelekkan saudaranya yang telah melakukan dosa, maka bisa jadi ia akan melakukan dosa tersebut.

ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻋُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﻬِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺤْﺘَﻤِﻞُ ﺃَﻥْ ﻳُﺮِﻳْﺪَ ﺑِﻪِ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺻَﺎﺋِﺮَﺓٌ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻻَ ﺑُﺪَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﻤَﻠَﻬَﺎ

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.”

Beliau melanjutkan penjelasan bahwa dosa mencela saudaranya yang telah melakukan dosa itu lebih besar dari dosa itu yang dilakukan oleh saudaranya.

Beliau berkata,

ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ

“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan saudaramu dan maksiat yang lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.”

Para ulama sudah mengingatkan mengenai hal ini, terlebih mereka adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut kepada Alloh ﷻ. 

◼️Seorang ulama Ibrahim An-Nakha’i berkata,

” إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أتكلّم فيه إلا مخافة أن أُبتلى بمثله”

“Aku melihat sesuatu yang aku tidak suka, tidak ada yang menahanku untuk berkomentar dan membicarakannya kecuali karena aku khawatir aku yang akan ditimpakan masalahnya dikemudian hari.”

◼️Hasan Al Basri berkata,

كانوا يقولون من رمي أخاه بذنب قد تاب إلى الله منه لم يمت حتى يبتليه الله به

“Para sahabat dan tabi’in memiliki konsep, barang siapa yang mencela saudaranya, karena dosa-dosanya, sedangkan saudaranya itu sudah bertaubat kepada Alloh ﷻ, maka si pencela tidak akan meninggal dunia kecuali dia akan mengalami dosa saudaranya tersebut.”

Semoga kita bisa menjaga lisan kita karena lisan sangat berbahaya jika tidak terkontrol.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.”

Jika kita bisa menjaga lisan, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga kepada kita.

Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦْ ﻟِﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada diantara dua rahangnya dan apa yang ada diantara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.”

Wallahu a'lam

🔷🔷🔷🌟🌟🌟🔷🔷🔷

         💘TaNYa JaWaB💘

0️⃣1️⃣ Atin ~ Pekalongan

Assalamualaikum Ustadzah,

Bagaimana jika kita menjelekkan tapi ngomong sendiri? 

Misal lihat acara tv gosip sendirian, terus menghujat salah seorang yang ada dalam tayangan.

Apakah ini juga dilarang?

🔷Jawab:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarahkatuh shalihah

Dilarang shalihah, karena itu sama saja ghibah sudah berdosa menghujat dari belakang, ditambah lagi dosanya karena ngomongin dari belakang juga. 

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Adhry ~ Makassar

Assalamu'alaikum Ustadzah,  

Bagaimana jika kita sudah menasihati teman dengan empat mata saja, tapi dianya tidak berubah? 

Jadi perlu dikasari sedikit dengan mencelanya depan umum baru bisa berhenti dengan sifat atau perbuatan buruknya? Apa itu juga dilarang dan dosa?

🔷Jawab:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarahkatuh shalihah

Jika sudah bicara baik-baik secara empat mata, tapi ia tidak berubah sama sekali, ya sudah shalihah jangan dipaksakan, berdakwah itu tidak boleh memaksa. Berarti ia menolak hidayah-Nya, kita sebagai teman yang baik tentulah mengingatkannya dengan cara yang baik. 

Tentu berdosa shalihah, mencela saudara muslim di depan umum apalagi terkait dengan aibnya, maka tentulah berdosa. 

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Safitri ~ Banten 

Assalamualaikum Ummu,

Banyak yang bilang hukum karma itu is real. Misal jika salah satu anggota keluarga ada yang berbuat dosa besar naudzubillah zina, satu keluarga ikut menanggung dosanya kah? 

Dan apa iya nanti juga anggota keluarga lainya kena? Misal adik perempuannya kena naudzubilah karena ulah perbuatan si kakaknya itu, jika kasus seperti ini bagaimana, Umm?

🔷Jawab:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarahkatuh shalihah

Tidak ada karma dalam Islam shalihah, tolong diperbaiki lagi ya kosakatanya, dalam Islam itu adanya "adzab".  Adzab bisa saja Alloh ﷻ kasih ketika di dunia, maupun di alam lain. Wallahu a'lam, dosa itu ditanggung masing-masing, kecuali orang tua masih bertanggung jawab terhadap anaknya karena memang amanah dari Alloh ﷻ. 

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ Sarah ~ Jayapura Papua

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bagaimana caranya jika kita berniat baik tetapi ternyata teman malah berpikir salah paham. Niat kita membantu, tapi anggapan dia lain.  

Terus ada salah paham diantara kita, tetapi dia sudah membicarakan atau menyebarkan fitnahan dan menyebarkannya kemana-mana. 

Jujur sedih juga sih. 

Disini hanya miss komunikasi saja, saya sudah jelaskan tapi dia tetap ngotot. Saya ingin duduk bersama menjelaskan, cuma kok susah dikasih saran. 

Mohon solusinya, Ustadzah... 

Afwan ini saya mewakili teman bertanya pada Ustadzah.

Mohon pencerahan. Syukron. 

🔷Jawab:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarahkatuh shalihah

Jika diselesaikan berdua tidak ada titik terangnya, maka carilah orang ketiga yang netral. Netral disini tanpa berat sebelah ke pihak kanan maupun kiri ya. Diselesaikan dengan baik, carilah orang ketiga yang dapat atau benar-benar bisa dipercaya. 

Wallahu a'lam

0️⃣5️⃣ Mala Hasan ~ Lampung

Ummu, kalau seorang teman statusnya single moms, didatangi laki-laki bukan muhrim di rumahnya dan berlama-lama di dalam rumah tersebut.

Tapi jika kita menegurnya, si teman ini marah dan tidak suka.

Apakah berarti kita mengghibah dirinya? 

Jazaakillahu khoir, Ummu. 

🔷Jawab:

Kalau menegur mah bukan ghibah shalihah, ghibah itu ketika shalihah ngomongin dia dari belakang dan ngomonginnya ke sana sini sama tetangga. 

Wallahu a'lam

🔷🔷🔷🌟🌟🌟🔷🔷🔷

 💘CLoSSiNG STaTeMeNT💘

Baiklah shalihah semuanya, jazakillahu khair katsir sudah diberikan kesempatan untuk berbagi dan sharing ilmu yang insyaaAllah bermanfaat dan bernilai kebaikan untuk kita semua jangan putus untuk selalu menuntut ilmu yaa, karena ilmu itu luas dan ada dimana saja. 

Asseff jiddan jika dalam penyampaian banyak kurangnya dan kurang berkenan di dalam hati shalihah semuanya. 

Semoga bisa bertemu kembali, Aamiin allahumma aamiin

Kita tutup dengan mengucapkan,

Alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar