Minggu, 28 Februari 2021

URGENSI TAJDIDUNNIYAT



OLeH: Ustadz Fahima Indrawati

       ๐Ÿ’ŽM a T e R i๐Ÿ’Ž

Alhamdulillah wa syukurillah alaa ni'matillah wa laa haula wa laa quwwata illaa billah.

Asyhadu 'an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh.

'amma ba'du,

Alhamdulillah...
Maturnuwun... 
Syukran atas kesempatan yg diberikan sehingga bisa silaturahim dengan akhwat shalihah sekalian di majelis ilmu yang in sya Allah penuh berkah ini.

Kita awali dengan bacaan basmallah bersama ya

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

Pada malam hari ini kita belajar kembali tentang satu hal yang urgent (penting), yakni tentang pentingnya memperbarui NIAT.

๐ŸŒธURGENSI TAJDIDUNNIYAT

DAHSYATNYA SEBUAH NIAT
(TajdiidunNiyat)

■ "fa idza azzamta fa tawakkal 'alallah..." QS.3:159

■ Hadits Arbain 1
"Innamal a'maalu binniyyaat..."

■ "Inna a'malal Islam yahtaaju daiman bidayati saliimah."

■ "Sebuah permulaan yang benar mesti menentukan terlebih dahulu sasaran  dan karakter pribadi muslim yang dibutuhkan dalam perjuangan Islam." (Hasan Al Banna)

■ Niat menjadi titik awal atau munthalaq dalam menempuh sebuah amal.

■ Munthalaq yang benar akan berpengaruh terhadap terjaminnya keselamatan beramal hingga akhir.

■ Bekal menempuh thalabul 'ilm;
✓ Keyakinan yang kokoh.
✓ Perencanaan yang matang.
✓ Road map yang jelas.
✓ Out put yang bernas.

■ "If you fall to plan, you plan to fall."

■ Urgensi Niat
★ Abdullah bin Mubarak
"Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh juga karena niat."

★ Shalihin Abu Izzudin dalam buku Zero to Hero, dahsyatnya niat karena:
1. Menyempurnakan amal.
2. Mengubah amal.
3. Menguatkan amal.
4. Menjadikan halal haramnya amal.
5. Ruh kehidupan.
6. Membedakan.
7. Mengesahkan.
8. Membesarkan.
9. Melipatgandakan.

Bisa saya tambahkan poin-poinnya, berdasar kitab Al Wafi, syarah kitab Arbain An Nawawiyah.

Menurut Abu Dawud, bahwa hadits tentang niat, "innamal a'malu binniyat..." Merupakan separuh dari ajaran Islam. Artinya, begitu pentingnya niat, ia mencakup separuh dari urusan Dien.

Mengapa saparuh Dien? Karena agama mencakup 2 hal. Aspek lahiriyah (amal) dan aspek bathiniyah (niat).

Menurut Imam Ahmad dan Imam Safi'i, hadits tentang niat, mencakup sepertiga ilmu. Karena perbuatan manusia terkait 3 hal: HATI, LISAN, ANGGOTA BADAN.

Sedangkan niat adalah bab yang mencakup urusan hati, bathin.

๐Ÿ”นSyarat Niat
 
Para ulama sepakat, bahwa perbuatan seorang mukmin tidak akan sah dan bernilai pahala tanpa diiringi niat.

Apalagi ibadah mahdhoh, maka niat adalah rukun ibadah, artinya ibadah tidak akan tegak jika tanpa niat.

Terjadi perbedaan, Madzab Hanafi menyebutkan bahwa niat adalah penyempurna. Sedang Madzab Imam Syafii dan ulama lainnya sepakat niat adalah syarat sahnya ibadah.

๐Ÿ”นWaktu dan Tempat Niat

Waktu niat adalah di awal ibadah. Seperti Takbiratul Ihram saat Shalat, Ihram saat Haji. Kecuali puasa, yang bisa dilakukan sebelumnya karena terkait waktu subuh yang terkadang menentukan cukup sulit, di tempat-tempat tertentu.

Tempat niat di hati. Adapun Imam Safii niat dilafadz kan di bibir. Ikhtilaf ulama, namun tidak mengurangi urgensi niat.

Niat juga harus definitif, maksudnya jelas untuk dan akan apa. Misal shalat, harus jelas niat shalat apa, disebutkan.

Al Baidhowi berpendapat:

"Amal ibadah tidak akan sah kecuali diiringi dengan niat. Karena niat tanpa amal akan diberi pahala. Sementara amal tanpa niat adalah kesia-siaan. Perumpamaan niat bagi amal, adalah bagai ruh dalam jasad. Jasad tidak akan berfungsi jika tanpa ruh. Dan ruh tidak akan tampak jika terpisah dari jasad."

Dan harus dipastikan, niat harus benar dan lurus karena Alloh ๏ทป.

Hadits tentang niat, ada diskripsi tentang sahabat yang berniat hijrah karena wanita yang ditaksir. Maka niat akan sampai pada apa yang diniatkan.

Hadits Tentang Niat

ุนَู†ْ ุฃَู…ِูŠุฑِ ุงู„ู…ُุคู…ِู†ูŠู†َ ุฃَุจูŠ ุญَูْุตٍ ุนُู…َุฑَ ุจْู†ِ ุงู„ุฎَุทَّุงุจِ ุฑَุถูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ: ุณَู…ِุนْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุฃَุนْู…َุงู„ُ ุจِุงู„ู†ِّูŠَّุงุชِ، ูˆَุฅِู†َّู…َุง ู„ِูƒُู„ِّ ุงู…ْุฑِุฆٍ ู…َุง ู†َูˆَู‰، ูَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅِู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆู„ู‡ ูَู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆู„ู‡، ูˆَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ู„ِุฏُู†ْูŠَุง ูŠُุตِูŠْุจُู‡َุง، ุฃَูˆ ุงู…ْุฑุฃَุฉ ูŠَู†ْูƒِุญُู‡َุง، ูَู‡ِุฌْุฑَุชُู‡ُ ุฅِู„ู‰ ู…َุง ู‡َุงุฌَุฑَ ุฅِู„َูŠْู‡

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallaahu ‘anhu ta’ala, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Alloh ๏ทป dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh ๏ทป dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh kedua imam hadits, yakni imam Bukhari dan imam Muslim di dalam kedua kitab shahihnya yang mana keduanya merupakan kitab paling shahih yang pernah disusun).

Sekian... 
Allahu a'lam 
Asta'fu minkum.

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
        ๐Ÿ’ŽTaNYa JaWaB๐Ÿ’Ž

0️⃣1️⃣ Riyanti ~ Sleman
Ustadzah, sebenarnya "toleransi" kita memperbarui niat itu apa benar sampai batas maksimal nyawa tercerabut dari ruh, sementara amal itu sudah selesai kita lakukan?

Syukron untuk pencerahannya.

๐ŸŒธJawab:
Terkadang atau sering kita dapati, bahwa niat kita tidak murni karena Alloh ๏ทป, bisa faktor riya' dan lain-lain. Di sinilah Urgensi Tajdidunniyat itu mesti terus diperbarui.

Memperbarui niat, toleransinya ya selama nyawa masih di kandung badan, artinya bahwa selama kita masih hidup, maka terus memperbarui niat adalah bagian dari cara kita mendidik diri untuk menjadi jiwa yang belajar ikhlas.

Ada sebuah hadits, yang kurang lebih berisi tentang niat kebaikan. "Andai engkau tahu besok kiamat datang, sedang di tanganmu masih ada sebiji kurma, maka tanamlah."

Ini menunjukkan bahwa niat harus terus diperbarui karena orientasi amal kebaikan.

Allahu a'lam

๐Ÿ’ŽKonteks itu berlaku untuk perbuatan yang sudah terjadi ya ustadzah?
Karena pemahaman umum kita kan, niat itu ya di awal sebelum perbuatan di eksekusi.

๐ŸŒธ Analoginya, sebuah amal sudah kita lakukan, ternyata setelah itu kita menyadari bahwa niat kita kurang benar, kurang murni, kurang Lillah, maka memperbarui niat itulah yang terus kita lakukan. Dengan memperbanyak Istighfar dan bertekad menjadi kan amal lebih baik.

Secara hukum syar'i memang niat di awal. Dan ini dari aspek fiqhiyah nya. Sehingga ibadah dihukumi sah jika di awali niat. 

Namun dalam konteks Tajdidunniyat adalah di saat kita melakukan muhasabah diri, Tazkiyatunnafs bahwa ternyata niat ibadah kita masih jauh dari sempurna, maka Tajdidunniat mesti kita lakukan untuk perbaikan amal-amal kita.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Yulis ~ Batam
Ustadzah, bagaimana dengan kita beralih pekerjaan, diniatkan untuk membuat bangga kedua orang tua? Tapi sebenarnya pekerjaan yang baru ini insya Allah lebih baik (berkah) dari pekerjaan sebelumnya.

Terima kasih.

๐ŸŒธJawab:
Di sini ada unsur niat yang berkaitan dengan Birrul Walidain. Selama niat kita karena dalam rangka bakti kita pada orang tua, menghormati dan ihsan kepada orang tua, maka niat pindah pekerjaan karena keinginan orang tua insya Allah membawa keberkahan. Selama saran dan pekerjaan tersebut benar dan halal. Namun jika dirasa ada diskusi yang terbaik, orang tua pengertian dan menyerahkan ke anak, maka mohon restu dan doa ridha orang tua adalah pintu keberkahan juga.

Banyak kita dapati, orang-orang yang sukses berangkat dari ridha orang tua dan bakti anak kepada mereka.

Wallahu a'lam

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ
 ๐Ÿ’ŽCLoSSiNG STaTeMeNT๐Ÿ’Ž

Demikian uraian kajian malam ini.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, untuk Tadzkirah kita semua, tentang Urgensi memperbarui niat kita terus-menerus dengan lillah, fillah, billah.

Semoga grup thalabul ilmi ini terus menebar kemanfaatan ilmu dan membawa keberkahan bagi anggotanya.

Mohon maaf atas lemah dhaif saya akan dangkalnya ilmu, semoga Alloh ๏ทป mengampuninya. 

Demikian, saya mohon pamit.
Syukran jazakumullah khairan jaza. 
Wasta'fu minkum...

Wassalaamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar