Minggu, 28 Februari 2021

MEMBANGUN KELUARGA SAMAWA

 


OLeH: Ustadzah Azizah

        🌀M a T e R i🌀

🌸MEMBANGUN KELUARGA SAMAWA


بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته

Rumah Tangga Muslim adalah sebuah miniatur masyarakat Islami dan daulah islamiyah, yakni rumah tangga yang dibangun di atas azaz aqidah yang bersih (tauhid), ibadah yang shohih, akhlaq yang lurus dan fikroh islamiyah yang kokoh. 

Rumah tangga muslim adalah merupakan sebuah perwujudan dari makna firman Alloh ﷻ berikut :
 
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh ﷻ telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit." (QS. Ibrohim: 24)

"Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan se izin Tuhannya. Alloh ﷻ membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrohim: 25)

Penguatan komitmen pernikahan dimulai dari penguatan syahadah 
dengan ibadah kpd pemilik hati yakni Allah Ta'ala.

Sebab pernikahan bukan sekedar pelampiasan cinta dan syahwat. 
Tapi, Implementasi dari syahadah yakni IBADAH.

Pernikahan yang tidak ada aktivitas ibadah di dalamnya, lebih tepat 
disebut perkawinan. 
 
Ilmu laksana cahaya. Orang yang tidak memiliki ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak mengetahui jalan manakah yang seharusnya ditempuh, juga tidak mengerti langkah apa yang diambil tatkala menghadapi masalah. Karena itulah kebutuhan kita terhadap ilmu melebihi kebutuhan kita akan makan dan minum.

Kebaikan hidup dunia dan akhirat hanya dapat diraih, salah satunya dengan ilmu agama. Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallam menjelaskan,

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Alloh ﷻ kehendaki untuknya kebaikan; niscaya Alloh ﷻ akan jadikan ia paham agamanya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan)

Demikian pula halnya kesuksesan dalam rumah tangga, tidak akan bisa diraih tanpa ilmu. Karena itu, jangan pernah berangan-angan bisa menjadi istri yang sukses, apabila kita tidak mau belajar.

Masih banyak yang harus dipelajari, berapapun usia pernikahan kita. Kita perlu mempelajari bagaimana tuntunan agama berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Apa saja kewajiban yang harus dilaksanakan dan apa saja yang harus dihindarkan. Kita harus belajar bagaimana cara bermuamalah yang benar dengan suami, anak dan semua orang yang hidup bersama kita.

🔷MEMELIHARA BANGUNAN RUMAH TANGGA SAKINAH

◼️I. MUQODIMAH

Alloh Ta'ala berfirman 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia (Alloh ﷻ) menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21).

Rasulullah ﷺ bersabda :
’’Tidak ada iman bagi orang yang tidak bisa memegang amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa dipegang janjinya.“ (HR. Ahmad).

◼️II. BERTUTUR KATA YANG BAIK

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ،....[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda "Siapa yang beriman kepada Alloh ﷻ dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam..." (HR. Bukhori & Muslim)

Imam Syafi’i ketika menerangkan makna hadits di atas berucap, “Ketika hendak berkata-kata, berpikirlah terlebih dahulu. Jika ucapan itu tidak mengandung kemudharatan, maka berkatalah. Tapi bila mengandung kemudharatan atau keraguan, maka tahanlah diri."

Aisyah sebutkan: “Orang yang paling baik adalah Yang paling lemah lembut, diantara mereka terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Dalam riwayat lain, juga dari Aisyah disebutkan: “Yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku”. (HR. Ibnu Hibban).

◼️III. SELALU MENGHADIRKAN  KEBAIKAN

Membahagiakan Pasangan.  
"Sebaik-baik bagi kalian adalah yang terbaik untuk keluarganya. Tidak ada yang memuliakan wanita kecuali dia mulia. Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang sholihah." (Al-Hadits).

Sabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi ﷺ menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jari-jema-rinya.” 
(Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a.).

◼️IV. ADA WAKTU BERCENGKRAMA & BERSENDAU GURAU

Suatu saat Aisyah berkata, “Suatu hari Saudah mengunjungi kami, dan Rasulullah ﷺ duduk di antara diriku dan Saudah. Sedangkan satu kaki beliau berada di pangkuanku dan satunya berada di pangkuan Saudah.
Maka kubawakan untuknya makanan (yang terbuat dari bahan tepung dan air susu) lalu kukatakan, “(Demi Allah), makanlah atau aku akan mengotori wajahmu.” Dia lalu menolak dengan berkata, “Aku tak akan mencicipinya.” Lalu, kuambil makanan dari mangkuk yang besar dan kulumurkan ke wajahnya. Nabi Shallallahu alayhi Wasallam tertawa. Lalu beliau mengangkat kaki belaiu dari pangkuan Saudah, agar ia bisa membalasku. Beliau berkata kepada Saudah, “Kotorilah mukanya!” Lalu dia mengambil makanan dari mangkuk besar dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah ﷺ tertawa.” (HR. An-Nasa’i)

◼️V. SALING BANTU TUGAS DI RUMAH

نَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember." (HR. Ibnu Hibban)

◼️VI. MENGEDEPANKAN MUSYAWARAH

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Maka disebabkan rahmat dari Alloh ﷻ-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Alloh ﷻ. Sesungguhnya Alloh ﷻ menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS. Ali Imron: 159).

Bila hal di atas selalu dihafirkan dalam kehidupan berkeluarga, berarti dia telah memelihara bangunan rumah tangga itu dan telah mengkokohkan fondasi rumah tangganya. InsyaAlloh...

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        🌀TaNYa JaWaB🌀

0⃣1⃣ iiN ~ Boyolali
Bunda, sekarangkan banyak tuntutan istri seperti diharuskan tampil cantik, takutnya suami bosan dirumah, tetapi karena keterbatasan seperti contohnya, bila istri tidak bekerja dan hanya mendapatkan bulanan dari suami dan itu cukup saja.

Bagaimana istri bersikap? Padahal juga istri ingin perawatan dan cantik. 

🌀Jawab:
Bismillah...

Yang perlu kita pahami bahwa tampil cantik itu bukan berarti harus glamor dah wah. Dan tidak salah kalau harus pergi ke salon. Asal memang itu ada disesuaikan dengan dananya. Jangan sampai kita tampil cantik tetapi sekeluarga jadi tidak makan, gizi berkurang. Nah itu kan jadi tidak bagus juga jika sampai masuk Rumah Sakit dan jadi mengeluarkan uang uang lebih mahal hanya karena istri glamor, cantik, outfitnya luar biasa tapi anak-anak kurang Gizi. Vitamin keluarga tidak tercukupi dan lain sebagainnya. Ini yang perlu dipertimbangkan. Bicara baik-baik dengan suami bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini. 

Kalau tuntutan suami harus istri tampil wah dan glamor kaya artis misalnya. Berarti dana harus disediakan karena dana yang diberikan hanya cukup untuk ini. 

Bicarakan bahwa dana sekian itu saya gunakan untuk ini-ini sehingga sisa dana yang tersisa hanya sekian. Jadi jangan sampai tuntutan tidak sesuai dengan keadaan. Jadi yang paling penting sekarang itu adalah jika merunut dari dokter Aisah membahas apa yang paling menyenangkan bagi laki-laki untuk perempuan terdekatnya ternyata satu hal yang paling utama adalah dimengerti dan paham kondisi. Dan kenyataannya body dan lainnya adalah yang kesekian. Jadi tolong ini menjadi satu kajian utama dalam diri kita apa menjadikan suami fress ada di rumah ketika di ajak ngobrol nyambung jangan sampai suami ngajak ngobrol ini tidak nyambung. Sehingga komunikasi jadi mentok. Satu keinginan bisa tampil cantik harus bisa dimodifikasi bagaimana caranya dengan tidak harus perawatan ke salon atau membeli make up yang mahal. 

Cukup dengan perawatan yang minimalis tetapi itu sudah cukup untuk segar, badan tidak berbau. Dia bisa tampil bersih. Kan cantik itu tidak seperti wajah bangun tidur tapi dengan wajah segar atau fress. Jadi bagaimana kita bisa menampilkan itu. Sehingga suasan terbangun apalagi kondisi anak-anak belajar dirumah itu tidak mudah apalagi kalau anaknya masih kecil juga mana sempat perawatan. Kalau anaknya daring juga ibunya harus ikut menemani. Nah ini yang perlu dibicarakan baik-baik dengan suami standar dia itu seperti apa. 

Wallahu a'lam

0⃣2⃣ Safitri ~ Banten 
Bun ketika kita memutuskan ingin menikah dan ingin pernikahannya itu sakinah mawadah warohmah apa yang ada di materi bunda tersebut tapi tidak mudah yah bun menjalani tahap-tahapnya, banyak yang harus dipikirkan dan pasti ada saja orang yang ngomong nikah itu blallalala... Jadi seperti diri ini takut dan kepikiran oiyah bisa tidak ya dan lain-lain bagaimana sih bun supaya kita tuh benar-benar mantap dan yakin bahwa kita sudah siap buat berumah tangga?

🌀Jawab:
Bismillahirrahmanirrahiim.
Dalam satu kata-kata hikmah dikatakan bahwa menikah adalah ibadah yang paling lama. Kenapa? kalau sholat itu 10-15 manit. Kalau haji bisa 40 hari. Puasa Ramadhan 30 hari. Tapi pernikahan tidak terikat waktu karena begitu diakad kalau bisa sampai seumur hidup artinya salah satu meninggal atau memang terjadi perceraian karena satu hal artinya cerai hidup bukan cerai mati. 

Tidak perlu takut untuk melakukan sebuah sunnah yang memang dimuakadkan oleh rasul. Diwajibkan untuk menikah bagi perempuan dan laki-laki yang memang mampu untuk melakukannya. Dan menikah perlu ilmu, tidak tiba-tiba pengin jadi istri, tidak bisa seperti itu. Belajar dari awal.

Banyak dari gadis-gadis kita perempuan remaja mereka hanya berfikir menemukan lelaki tajir, ganteng kemudian punya gaji yang besar, tongkrongannya bagus, sementara dia lupa bahwa pernikahan akan berlangsung sangat lama bertemu 24 jam dalam hidup, dari dia mulai bangun tidur sampai bangun lagi. Bertemu dengan orang yang sama dengan karakter yang bisa jadi berbeda karena dia lahir dari keluarga yang berbeda dengan kita. Makanya itu perlu ilmu. Banyak perempuan itu yang hanya siap untuk menikah tetapi tidak siap untuk mengisi ilmu dirinya. 

Salah satu contohnya masih banyak perempuan kalau Ramadhan ditanyain itu kalau darah seperti begitu saya sudah boleh puasa apa tidak? Itu termasuk darah apa? Fiqih darah saja tidak khatam, tidak tahu ini termasuk masih haid atau tidak. Dia juga tidak tahu apa itu bedanya darah nifas kemudian darah haid kemudin istihadoh itu dia bingung. Terus dia tidak tahu pernikahan itu terjadi bahkan bunda pernah dapat konsultasi ada wanita karena dia merasa dirinya single atau janda menikahkan dirinya sendiri tanpa wali dari kakaknya atau bapaknya kemudian dia nikah saja dengan laki-laki itukan bathil. Seorang wanita tetap harus menghadirkan wali ketika dia menikah. Ini banyak yang tidak dipahami tentang fiqih Munakahat. 

Kalau tadi fiqih Taharah bagaimana wudhu yang benar, apa yang membatalkan puasa. Coba di bulan ramadhan saja masih banyak pertanyaan kalau misal nangis batal tidak bun puasanya? Tidak marah-marah batal tidak puasanya. Bolak balik itu setiap ramadhan selalu muncul pertanyaan itu. Banyak yang tidak mau belajar tentang bagaimana agama ini mengatur. Sangat-sangat jarang ditemukan seorang gadis itu mempersiapkan dirinya menjemput pernikahan itu dengan ilmu, baik itu tentang ilmu kerumah tanggaan, salah satunya mungkin bisa memasak yang enak kemudian dia bisa menata rumah, bagaimana ilmu parenting mendidik anak. 

Tidak mudah mendidik anak itu karena anak itu makhluk hidup dan itu pertanggung jawabannya adalah dunia akhirat dan ini perlu dipelajari. Banyak anak perempuan yang sudah siap menikah dia belum pernah belajar tentang bagaimana proses kehamilan apa yang terjadi di pekan pertama ketika terjadi pembuahan. Apa sih yang terjadi di tri semester pertama. Apa sih yang sudah terbentuk didalam janin itu. Apa sih aqiqah, boleh tidak aqiqah? Berapa hari yang di sunah kan? Banyak yang tidak paham. Dan itu semuanya perlu proses untuk belajar. Banyak caranya untuk belajar. Bisa lewat internet, bisa bertanya, bisa bergabung dalam grup seperti ini. Sehingga ilmu itu terus bertambah karena seorang ibu adalah madrasah utama buat seorang anak untuk belajar. Jadi tidak perlu takut untuk menikah. Yang penting kita siap untuk terus belajar. Begitu banyak grup kajian baik itu belajar tentang hadis, syiroh. Jangan-jangan anaknya ketika lahir hanya diceritain tentang putri salju, cinderella kemudian Roro Jongrang. Cerita yang tidak menanamkan sesuatu haq. Jadi anak itu kalau laki-laki tanamkan tentang kepimimpinan, dan itu perlu modal seorang ibu yang dia cerdas dan smart untuk bisa mengajarkan sesuatu yang luar biasa kepada anak-anaknya. Sudahkan kita belajar tentang itu. Karena ingat anak adalah investasi akhirat. Keluarga itu selamat ketika suami bisa memimpin istri dan anak-anaknya ada di jalan Alloh ﷻ maka dia bisa menuju kepada surga dan sebaliknya dia akan terseret ke neraka karena gagal memimpin keluarganya jadi keluarga samawa. 

Intinya dari pertanyaan itu teruslah belajar. sudah tahu apa sih tentang pernikahan. Konfik-konflik apa sih yang biasanya muncul. Lihat saja bisa belajar lewat tontonan youtube dokter Aisah. Jadi yang ditonton adalah suatu yang manfaat. Ustadz-ustadz misal UAH, UAS itukan banyak mengajarkan tentang kerumah tanggaan. Tentang bagaimana membina pribadi dan bagaimana sebagainnya. 

Wallahu a'lam

0⃣3⃣ Rochma ~ Bantul
Bunda, bagaimana caranya berbakti kepada suami jika suaminya sudah meninggal?

🌀Jawab:
Bismillahirrahmanirrahiim.

Secara hukum ketika seseorang sudah meninggal (suami atau istri) maka sebenernya itu sudah terjadi perceraian. Itu kenapa masa idahnya berbeda bercerai hidup dan bercerai mati berbeda. Kalau bercerai mati masa idahnya 4 bulan 10 hari, sementara kalau cerai hidup masa idahnya 3 bulan 10 hari. Dan ini berlaku hukum-hukum. Begitu suami meninggal maka hukum idah itu berlaku, salah satunya Ketika masa iddah tidak boleh menerima lamaran, kemudian menjaga izah diri. Kemudian tidak berpenampilan seperti biasanya, dalam artian tidak tampil menor dan sebagainnya. Menjaga hubungan lawan jenis atau menjaga jarak yang berlaku ketika seseorang malalui masa idah hal ini untuk menghindari fitnah. Jadi jangan sampai berpergian begitu suami meninggal kemudian boncengan dengan laki-laki yang tidak dikenal yang bukan adeknya, bukan kakaknya, itu tidak diperbolehkan. 

Kemudian bagaimana cara mengabdi kepada suami yang sudah meninggal? 
Pertanyaannya punya anak tidak? Kalau misal tidak punya anak berarti sudah terputus karena tidak ada lagi yang harus diselesaikan, yang diselesaikan hanya hartanya, jadi warisan dari suaminya dibagi nah itu yang kemudian dimanfaatkan maka kemudian harta dari suami itu diwakafkan untuk pahala yang akan mengalir kepada suami yang sudah meninggal. 

Kalau misal punya anak maka kewajiban membesarkan anak sebagaimana harapan ketika suami masih hidup, jadi membesarkan anak-anak untuk tetap berada di jalan dakwah, kemudian mereka jadi anak-anak yang taat dan bertakwa, punya kepribadian yang baik. Dia karena anak laki-laki, bunda harus melatih mereka karena sebelum bapaknya meninggal mereka sudah terbiasa ke masjid maka itu harus dijaga. Karena laki-laki sunnah muakad memang harus ke masjid 5 waktunya dan itu harus bunda kawal sampai detik ini. Jadi kita berusaha untuk meneruskan apa sih contoh-contoh yang sudah dilakukan oleh ayah mereka ketika ayah mereka masih hidup dan kemudian mengajarkan kepada anak-anak untuk mendoakan, melakukan amalan-amalan sholih karena ketika anak-anak tersebut dididik menjadi anak sholih maka kebaikan itu mengalir kepada bapaknya karena ada hubungan darah. 

Ketika anak itu berbuat baik kepada orang lain dan kebaikannya itu disedekahkan kepada bapaknya maka itu menjadi sampai. Ketika anak membaca Qur'an kemudian bilang Ya Allah seandainnya ini berpahala aku akan serahkan kepada ayahku, insyaAllah sampai. Kemudian jelas ketika baca doa untuk orang tua "Rabbighfir lī wa li wālidayya warham humā kamā rabbayānī shaghīrā" maka ayahnya akan mendapat ampunan. Dan ketika anak istighfar jelas ya ada dalilnya ketika ada seorang orang tua diangkat derajatnya kemudian dia bertanya, "Wahai Robb, kenapa aku berada di derajat ini kemudian Alloh ﷻ menjawab itu karena istighfar-istighfar dari anak-anakmu, jadi itu cara mengabdi kepada suami yang sudah meninggal adalah membesarkan anak-anak dijalan Alloh ﷻ. Jangan sampai sebaliknya, anaknya sulit diatur kemudian dia menjadi trouble maker, sumber masalah di dalam masyarakat itu berat pertanggung jawabannya kelak karena akan ditanyakan bagaimana kamu ketika sebelum meninggal mendidik anak-anakmu, dan itu bukan berarti ketika sudah meninggal masih tetap ditanya ya... Kan kalau sudah meninggal putus sudah tidak bisa mendidik anaknya maka yang akan ditanya adalah ibunya ketika anak itu tidak menjadi benar. 

Wallahu a'lam

0⃣4⃣ Dwi ~ Bondowoso
Assalamualaikum bunda,

Kita ingin keluarga kita samawa, namun ditengah perjalanan pasangan kita kembali padanya dan andai kita menikah lagi, apakah kita nanti akan dipertemukan pada keduanya atau bagaimana ya Bun?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahiim..

Beberapa yang pernah bunda ikut kajian dan ada yang bertanya seperti itu jawaban ustadz adalah seseorang itu bahkan ketika dia menikah tidak hanya satu kali setelahnya artinya mungkin suami kedua meninggal, suami ketiga meninggal juga, kemudian dia menikah lagi dan menurut yang disampaikan ustadz itu siapa yang terbaik di antara para suami itu yang akan membersamai. Jadi yang paling baik terhadap diri kita maka itu yang akan membersamai kita jadi tidak mesti harus yang pertama. Bagaimana suami itu berperilaku yang baik kepada istrinya maka dia kelak akan membersamai istrinya itu. 

Jadi kalau menurut bunda kita tidak usah risau berpikir kita akan bersama siapa. Yakin tidak kita bisa masuk surga? Berapa sih modal kita?, Nah itu yang harus dikejar dulu, jangan kemudian kita berpikir yang sangat-sangat jauh. Berpikir bahwa kelak akan bertemu lagi. Kita juga tidak tau kita akan masuk surganya barengan atau tidak, karena amalan kita masing-masing, bisa jadi suami rajin sekali sholat malam, puasa sunnah, rajin sedekah, rajin ke masjid dan banyak hal yang bisa dilakukan. Sementara istrinya begitu-gitu saja. Kan bisa jadi suami dulu yang ke surga. Kemudian istrinya sesuai amalan-amalan dia, apalagi kalau istrinya nauzubillah bukan menjadi orang baik, jadi dia berkhianat dan lain sebagainnya, bisa jadikan dia tertinggal dulu di neraka. 

Itu kenapa di dalam komitmen pernikahan seorang suami harus benar-benar menjaga keluarga itu dari api neraka. Sehingga jalannya masing-masing menuju ke dalam surga yang sama. jadi tidak hanya sedunia bersama tetapi seakhirat bersama. Dan ketaatan itu fluktuatif, kenapa pernikahan itu ibadan paling panjang karena ada pasang surutnya. Ada masa-masa dimana setan begitu keras mengajak kita untuk berhinat dan lain sebagainnya. Jadi kita tidak usah berfikir dulu untuk melihat siapa yang kelak akan membersamai. Mungkin kalau ini kasusnya terjadi pada bapak kita, bapak kita meninggal kemudian ibu kita menikah cobalah membaca dalam Facebook bunda.

Kemarin bunda share tentang seorang ibu muda yang beliau share tulisan tentang ayahnya yang menikah lagi setelah ibunga berpulang. Dan itu subhanallah sangat menyentuh dan bunda menangis dalam artian anak-anaknya juga ingin bapaknya bahagia. Jadi kita tidak berfikir egois tentang hal ini. 

Wallahu a'lam

0⃣5⃣ Yulia ~ Bekasi 
Assalamualaikum ustadzah, 

Bagaimana membentuk keluarga yang samawa namun mertua selalu ikut campur, sedangkan suami wajib berbakti kepada orang tuanya?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahiim..

Ingat, bahwa kita sudah menikah maka tidak ada lagi istilah mertua dan orang tua, karena dua-duanya adalah orang tua.

Suami juga punya kewajiban untuk membahagiakan orang tua kita sebagai orang tua dari istri ya (kita), jadi kita wajib membahagiakan Bapak Ibunya dari Suami sebagai mertua kita. Nah, bagaimana kalau seorang mertua begitu sangat ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya sementara anak laki-laki adalah milik ibunya. Disini perlu kearifan.

Saya pernah baca tulisan dari Facebook, jadi dia benar-benar mengamalkan bagaimana cara dia mengabdi dikeluarga besar suami sehingga dia menjadi sangat dicintai oleh keluarga besar suami. Ini perlu kearifan yang luar biasa karena apa.

Menikah didalam Islam bukan "kamu dan dia", antara "saya dan suami" bukan. Tetapi antara kekuarga saya dan keluarga suami, itu adalah menikah. Dalam artian kita harus samawa (Sakinah Mawwadah Warahmah). Dan itu adalah tugas kita. 

Bagaimana kalau misalnya, seorang mertua yang terlalu ikut campur tangan urusan "ini", maka perlu dibicarakan dengan suami, mana-mana yang memang wajib kita yang memutuskan berdua. Dengan tetap mempertimbangkan masukan sari Ibu atau Bapak mertua, contoh menyekolahkan anak, mertua ingin "halah, tidak usah sekolah-sekolah SD IT, mahal, SPP nya saja berapa, belum bukunya, belum antar jemputnya, belum snack, karena sekolah seharian, belum makan siang, sekolah saja di SD Negeri biasa, yang murah meriah, kamu juga lulusan SD saja bisa sarjana" bisa jadi ada yang beranggapan seperti itu.

Bisa jadi masalahnya buka sekolah anak, kita sampaikan. Begitu juga dengan ibu "saya" bertanya, "kenapa kok harus sekolah mahal", ibu saya hanya bertanya tidak ikut campur. Kenapa kok harus di daftarkan. Karena ibu saya tahu, berapa gaji seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sementara anak kami 3, kalau disekolahkan di sekolah Islam, katakanlah 1,5 juta 1 bulan, atau 1 juta lah 1 bulan, berarti kan 3 juta untuk 3 anak, itu di zaman waktu itu. Itu sudah luar biasa berat, tetapi kita bisa menjelaskan dengan cara yang baik bahwa menanamkan akhlak yang baik kemudian pembiasaan-pembiasaan yang baik itu anak-anak itu tetap harus diletakkan dalam lingkungan yang baik, sehingga mereka terbawa untuk selalu berbuat baik, dan insya Allah kalau untuk rezeki, Alloh ﷻ akan atur itu. 

Yang penting suami tetap bertanggung jawab untuk membiayai mereka dan ibu saya mengerti dan mengijinkan untuk tidak menyekolahkan di sekolah biasa, karena kami butuh anak-anak yang dia sudah terbiasa, terpola dengan lingkungan Islami. Tetapi ketika saya berbicara dengan Suami, tidak otomatis 3 anak saya itu bareng masuk SD nya, karena usia juga berbeda maka kita pilih TK yang tidak, semacam TK yang mahal, yang masih terjangkau yang ada dilingkungan kita sehingga kita tidak perlu transport yang banyak, tidak perlu biaya besar untuk SPP nya. Dan itu adalah keputusan-keputusan logis yang harus kita terima, sebenarnya banyak hal-hal yang bisa kompromikan asalkan kita tidak memasukkan "semua" apa yang menjadi harapan dari mertua itu, kemudian kita emosi duluan, kita mental down kan "mulaikan, selalu kan, ikut campur" jika sudah seperti itu, sebaik apapun saran itu bisa jadi kita mental. Karena apa, karena itu tugas setan, tugas setan adalah menceraikan anak-anak manusia yang terikat pernikahan, itu adalah medali tertinggi dari tugas seorang setan. 

Jadi jangan sampai kita kemudian membuat bahagia, dalam dalil dikatakan bahwa "Jika kau ingin membuat setan itu menangis maka kau berbuat baik" jadi ketika kita selalu melakukan kebaikan, setan itu putus asa, karena apa, mana ada setan yang berbaik-baik "sekarang kamu ke masjid" tidak ada kan seperti itu, kalau perlu "selesaikan dulu, nanti saja sholatnya" begitu kan setan itu, "nanti sajalah masih ada waktu sejam lagi" nanti mepet kurang 10 menit baru sholat, itu tugas setan memang.

Jadi, kita harus benar-benar berusaha untuk memahami, karena coba kita balik, kalau suatu saat, kita punya anak, contohnya saya, nanti anak kita menikah, kita jadi mertua, bagaimana kalau posisi saya selalu dimusuhi sama menantu, tidak enak sekali, saya bicara dibantah, saya bicara dibantah, bagaimanapun dia menikah dengan anak saya, yang membesarkan anak saya itu dari nol itu saya, dia ada dirahim saya, sebagai seorang ibu, masa iya ketika dia bertemu dengan istrinya kemudian dia ingin memiliki hak penuh atas anak saya.

Masih ingat cerita di zaman rasul, seorang ibu tidak ridha kepada anaknya ketika anaknya sudah menikah, dan anak itu sakaratul maut dengan lidah yang menjulur-julur, dia tidak bisa mengucapkan syahadat ketika di akhir hidup, padahal dia sholat disampingnya Rasulullah ﷺ setiap hari, lima waktu dia sholat di samping kanan Rasulullah ﷺ. Tetapi ada satu perbuatan dia, dia tidak membantah ibunya tidak, hanya perbuatan dia yang membuat ibunya itu tidak nyaman dan tidak ridha. 

Sehingga, saat dia mau meninggal maka lidahnya menjulur-julur keluar begitu panjang, sampai sahabat melapor kepada Rasulullah ﷺ, yaa Rasulullah ﷺ dia tidak bisa mengucapkan syahadat, kemudian apa yang terjadi, coba tanyakan kepada ibunya, ternyata benar, kata ibunya aku sakit hati kepada anakku wahai Rasulullah ﷺ, kenapa kata Rasulullah ﷺ? Iya, ketika dia belum menikah, dia begitu baik sama aku, ketika mendapatkan uang mendapatkan rejeki, dia tawarkan kepadaku dulu, tetapi ketika dia menikah, dia lebih mementingkan kepentingan istrinya dari pada aku ibunya, aku tidak ridha, begitu kata ibunya. Dan aku merasa dia anak durhaka, kemudian Rasulullah ﷺ mengatakan, wahai ibu tolong maafkan dia, dia tidak bisa mengucapkan syahadat, kata ibu "tidak, aku sakit hati kata Rasulullah ﷺ" kalau begitu kata Rasulullah ﷺ, kalau ibu tidak mau memaafkan, daripada dia dibakar di neraka, maka bakar saja dahulu di dunia, kumpulkan kayu bakar, begitu perintah rasul. Kemudian semua sahabat mengumpulkan kayu bakar itu, ketika anaknya itu akan dilemparkan ke api yang menyala, ibu itu tidak tega, seperti apapun seorang ibu, tidak akan pernah tega kepada anaknya, sehingga ibu itu mengatakan, aku ampuni dia ya Rasulullah ﷺ kemudian secara otomatis lidah itu bisa tertarik kedalam, sehingga anak itu bisa mengucapkan syahadat. Betapa dahsyatnya melukai hati seorang ibu, jadi ingat itu, bayangkan kalau anak kita laki-laki, atau nanti anak perempuan kita akan berhadapan dengan mertua sama yang seperti apa yang kita hadapi. Maka dari itu kita harus banyak berdoa, banyak bersabar sehingga yang kita harapkan itu generasi-generasi berikutnya yang jauh lebih baik dari saat ini. 

Ingat, hati manusia itu bisa ditembus dengan kebaikan, hati manusia tidak, coba kalau mbak ya, menghadapi orang yang keras kepala (petentengan), susah diatur, mbak kesal juga kan, sama kan.

Artinya apa, kalau hati manusia itu berlaku baik, kita pasti akan baik sama dia, dia suka salam, dia suka senyum, masa iya kita "apa senyum-senyum" kan tidak juga begitu kan, kita pasti juga akan tersenyum kepada dia, sama halnya juga hati manusia itu ditembus dengan hati kebaikan, hati akan sampai kepada hati. Artinya apa, mulailah untuk selalu mengalah, kemudian belajar memahami "oh ini lho yang di ingin."

Ingat, ketika Uwais, ada seorang laki-laki di zaman Syekh. . . , Kemudian dia itu berkata wahai syekh aku sudah Thawaf mengelilingi Ka'bah, memikul ibuku untuk haji, apakah itu sudah cukup untuk membalas kebaikan ibukku yang sudah melahirkan aku, itu kata anak laki-laki itu, syekh itu menjawab, "bahkan untuk satu tarikan nafas, dari ibumu hendak mengeluarkanmu ke dunia, itu belum bisa membalas apa yang sudah kamu lakukan kepada ibumu. 

Kebayang tidak, satu tarikan nafas lho, mengejan itu tidak bisa satu kali tarikan nafas, mengejan itu berkali-kali baru bisa keluar itu bayi, kan begitu. 

Kebayang tidak, betapa besarnya, jasa seorang ibu terhadap suaminya kita, itu kenapa kita harus banyak-banyak belajar dari beliau, bertanya, berguru, tidak ada hati manusia yang tidak bisa disentuh dengan kebaikan. Lakukan dulu kebaikan, maka dia akan luluh.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
🌀CLoSSiNG STaTeMeNT🌀

Setiap pernikahan pasti akan melalui airmatanya sendiri. Setiap pernikahan akan menemukan muara bahagianya sendiri yang bisa jadi tidak sama dengan yang lain.

Setiap pernikahan harus dimaknai sebagai proses diri untuk menabung amalan ukhrowi, Karena setiap apa yang kita lakukan didalamnya ada pertanggung jawaban yang tidak main-main dihadapan Ilahi Rabbi.

So, menikah itu artinya kita tidak boleh lelah untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik. Sehingga yang terlahir adalah generasi-generasi terbaik. InsyaAllah.

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar