Selasa, 30 April 2019

TAZKIYATUN NAFS Part-7 (Masuki Ramadhan Dengan Ilmu & Iman)



OLeH: Ustadz Endang Mulyana

           💎M a T e R i💎

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

Alhamdulillah bunda fillah yang berbahagia semuanya , kita kembali dipertemukan dalam ruang kajian-kajian kita
In syaa Allah petang ini kita akan membahas dan bersiskusi mengenai Ramadhan dan persiapan-persiapan memasukinya..
Bismillahirrahmanirrahiim

Ramadhan bulan memanen telah diambang pintu...

Bunda fillah semuanya yang berbahagia. Marilah kita bersiap-siap memanen kebaikan-kebaikannya. Siapa yang siap, dialah yang pulang membawa keberuntungan,  sedang siapa yang lalai dari persiapan maka ia akan menyesal dengan penyesalan tidak berkesudahan. Bunda fillah semuanya lihatlah bagaimana ketidaksiapan itu yang berbuah amat sangat pahit akibatnya...

Imam Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah memaparkan dua perkara yang wajib kita waspadai. Salah satunya adalah

[اَلتَّهَاوُنُ بِالْأَمْرِ إِذَا حَضَرَ وَقْتُهُ],

yaitu kewajiban telah datang tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya.

Ketidaksiapan tersebut salah satu bentuk meremehkan perintah. Akibatnyapun sangat besar, yaitu kelemahan untuk menjalankan kewajiban tersebut dan terhalang dari ridha-Nya.

Kedua dampak tersebut merupakan hukuman atas ketidaksiapan dalam menjalankan kewajiban yang telah nampak di depan mata.

 Bunda fillah semuanya yang berbahagia...

Imam Abu Bakr Az Zur’i menyitir firman Allah ta’ala berikut,

فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَى طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ (٨٣)

“Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (QS. At Taubah: 83).

Renungilah ayat di atas baik-baik! Ketahuilah, Allah ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka, karena tidak ada persiapan dan niat mereka yang tidak lurus lagi.

Namun, bila seorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yang datang menghadap-Nya.

Berhati-hatilah dari mengalami nasib menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah ta’ala yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman berupa tertutupnya hati dari hidayah.

Allah ta’ala berfirman,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (١١٠)

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al An’am: 110).

🌸🌷🌸
Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan
Bila kita menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan dan ingin diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (٤٦)

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At Taubah: 46).

Harus ada persiapan! Dengan demikian, tersingkaplah ketidakjujuran orang-orang yang tidak mempersiapkan bekal untuk berangkat menyambut Ramadhan. Oleh sebab itu, dalam ayat di atas mereka dihukum dengan berbagai bentuk kelemahan dan kehinaan disebabkan keengganan mereka untuk melakukan persiapan.

💎Inilah persiapan yang harus kita siapkan bunda fillah semuanya...

🔹1. Mensucikan Diri atau Tazkiyyatunnafs

Sebelum ramadhan tiba hendaknya kita menyucikan hati, pikiran, perbuatan dan jika perlu lingkungan kita karena bulan ramadhan sangat istimewa dan kita menyambut datangnya bulan tersebut seperti kita menyambut tamu penting.

🔹2. Bertaubat

Pertaubatan adalah salah satu hal yang mesti kita lakukan sebagai umat islam sebelum datangnya bulan puasa. Di hari-hari sebelumnya kita sebagai manusia tentunya tidak luput dari kesalahan dan dosa. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bertaubat dan meminta mapun pada Allah SWT. Dengan pertaubatan hati kita akan lebih siap menyambut ramadhan dan menjadi lebih tenang, namun, bertaubat bukan hanya pada lisan saja melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Jika sebelumnya kita malas untuk shalat, sering melakukan perbuatan maksiyat hendaknya mulai saat ini kita tinggalkan hal-hal tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AN Nur ayat 31 yang bunyinya

 وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Rasullullah SAW sendiri yang sudah dijamin ma’sum atau terjaga dari dosa tetap melakukan taubat apalagi kita yang hanya umatnya yang sering berbuat dosa sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Muslim :

“Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

🔹3. Memantapkan Niat

Tidak akan sempurna ibadah seseorang tanpa niat yang ikhlas dan tulus. Sebelum datangnya bulan ramadhan niatkan hati kita untuk menjalankan segala amal ibadah khususnya dibulan ramadhan hanya untuk mencari ridho semata dan tanpa niatan yang lain misalnya niat ingin pamer, sok alim dan sebagainya. Buanglah jauh-jauh pikiran semacam itu dan yakinkah hati kita bahwa ramadhan adalah bulan dimana kita bisa memperbaiki segala amal ibadah kita.

🔹4. Memperbanyak Berdoa

Berdoa adalah salah satu kewajiban kita terhadap Allah SWT dan menjelang ramadhan kita hendaknya senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT. Doa adalah sarana komunikasi kita kepada Allah SWT dan pada bulan ramadhan doa kita akan senantiasa dikabulkan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Berdoalah kepada Allah, agar kita kembali di pertemukan dengan tamu agung Ramadhan.

Perhatikan, berapa banyaknya saudara-saudara kita yang wafat menjelang datangnya Ramadhan...

Ada diantara mereka yang tinggal sebulan menjelang Ramadahan, Allah mewafatkannya.

Ada diantara mereka yang tinggal seminggu menjelang Ramadhan, Allah mewafatkannya.

Bahkan ada diantaranya yang tinggal sehari berjumpa Ramadhan, Allah pun mewafatkannya.

Maa syaa Allah...
Mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar memberi kita kesempatan kembali memasuki bulan Ramadhan tahun ini...

🔹5. Membiasakan Dan Memperbanyak Ibadah Sunnah

Sebelum memasuki bulan ramadhan tidak ada salahnya kita mempersiapkan diri dan melatih diri untuk melaksanakan ibadah sunnah seperti shalat sunnah misalnya shalat dhuha dan ibadah sunnah lainnya. Ibadah sunnah ini bisa dilakukan dan lebih baik daripada hanya menghabiskan waktu untuk menonton TV atau melakukan hal lain yang tidak penting.

Ramadhan adalah medan perjuangannya, bukan lagi camp latihan.

Ramadhan tidak peduli kita siap atau tidak siap, ia akan berlalu dalam kehidupan kita.

Maka marilah kita manfaatkan setiap detik-detiknya, menit-menitnya, jam-jamnya, hari-harinya, dengan ibadah, dengan kebaikan.

Berlatihlah...  Biasakanlah...
Agar saat masuk awal ramadhan kita sudah move on dengan ramadhan.

🔹6. Secara Khusus Berpuasa Di Bulan Syaban

Sebelum berpuasa dibulan ramadhan kita sebaiknya melatih kebiasaan berpuasa dengan menjalankan puasa sunnah di bulan syaban sebagaimana hadist Rasullullah SAW yang bunyinya

لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari ‘Aisyah radhiallahu ’anha: “Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)

“Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Nasa’i).

🔹7. Memperbanyak Membaca Al Qur’an

Ramadhan adalah Syahru Al Quran.
Bulan diturunkannya Al Quran.

Membaca Al Qur’an tidak hanya memiliki banyak manfaat (baca manfaat baca Alquran setiap hari) tetapi juga bisa membuat hati dan pikiran kita tenang sehingga kita bisa menyambut datangnya bulan ramadhan hati dan pikiran yang lebih baik. Selain itu diriwayatkan bahwa bulan-bulan sebelum ramadhan yakni bulan rajab dan bulan sya’ban adalah bulan menanam dan menyiram sementara bulan ramadhan adalah bulan memanen. Sehingga kita disarankan untuk memperbanyak amalan dikedua bulan tersebut.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanamanPerumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan.”

🔹8. Memperbanyak iLmu Agama

Menjelang bulan ramadhan luangkan waktu kita sejenak untuk menimba ilmu agama. Hal ini akan membantu kita untuk lebih memahami ibadah dan keutamaan bulan ramadhan dengan baik. Belajar agama bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja dan bisa bersumber dari buku tentang islam maupun mendatangi kajian-kajian islam yang sering diadakan dalam masjid. Hal ini sebagaimana perintah Allah pada Surat Al Anbiya ayat 21 yang bunyinya

مَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 21)

🔹9. Menyelesaikan Qadha Puasa Sebelumnya

Sebelum memasuki bulan ramadhan kita hendaknya menyelesaikan semua hutang puasa dari ramadhan sebelumnya. Puasa yang ditinggalkan pada bulan ramadhan wajib diganti terkecuali bagi orang yang sudah lanjut usia boleh membayarkan fidyah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut :
Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata: “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” 
(Fathul Bari, 4/19)

🔹10. Merasa Gembira

Bergembiralah dengan semua perkara yang Allah perintahkan kepada kita,  karena hakikatnya semua ibadah yang kita kerjakan adalah untuk kebaikan kita, untuk kehidupan kita.
Membuat hidup kita lebih hidup...

Sebagai umat islam selayaknya kita menyambut ramadhan dengan perasaan gembira dan bahagia karena bulan ramadhan memiliki banyak keutamaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 58 yang bunyinya,

“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

🔹11. Perbanyak Berzikir

Keutamaan zikir kepada Allah SWT perlu diketahui agar kita dapat senantiasa berzikir kepada Allah dan memohon ampun serta rahmat darinya. Menjelang bulan ramadhan perbanyaklah zikir kepada Allah SWt agar hati dan pikiran kita terjaga dari segala kotoran.


🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        💎TaNYa JaWaB💎

0⃣1⃣ Lisa ~ Malang
Tentang sholat tarawih di masjid bagi akhwat pripun njeh? Akhwat sebaiknya shalat di rumah, bagaimana dengan shalat tarawih? Karena banyakan ibu-ibu sama anak-anak yang sholat tarawih di masjid dan mushola?
Afwan atas pertanyaan Saya yang fakir ilmu ini ustadz.


🌷Jawab:
Bismillah...

Bunda silakan sholat tarawih di masjid,  ikut berjamaah dengan kaum muslimin dalam barisan shaf wanita.
In syaa Allah kebaikannya lebih banyak.
Namun tetap memperhatikan adab-adabnya.

Wallahu a'lam

0⃣2⃣ Tri ~ Cikarang
Saya lagi menyusui, bagaimana cara menjalankan puasa untuk ibu menyusui, makanan apa yang sebaiknya dihidangkan saat saur, supaya ASI tetep terjaga?

🌷Jawab:
Bismillah... 

Bagi yang hamil atau menyusui, boleh menjalankan ibadah puasa boleh juga mengambil rukhshoh untuk berbuka.
Bunda yang paling faham situasinya, mana yang akan di pilih, karena menyusui juga merupakan prioritas bagi seorang ibu yang punya anak di usia masih menyusui.

Katakanlah bunda tetap berpuasa, sebaiknya porsi santap sahurnya di maksimalkan.
Makanan apa yang di konsumsi secara khusus silakan bunda tanya kepada ahli gizi.

Ini pengalaman saja, sayuran hijau, khususnya daun katuk amat baik dikonsumsi bagi ibu menyusui.

Wallahu a'lam

0⃣3⃣ Safitri ~ Banten
Assalamualaikum ustadz,

Bagaimana dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat atau dosa walaupun di bukan ramdhan tetap saja begitu mereka tidak menjalankannya dan mereka dengan santainya tidak puasa dan berbuat dosa dibulan suci. Itu bagaimana ustadz dengan hati mereka, bagaimana dengan keimanan mereka apa mereka masih punya iman dan kenapa Allah masih kasih kesempatan buat orang tersebut?
Terimakasih ustadz.

🌷Jawab:
Wa'alaikumsalam,

Bismillah...
Bunda, ini merupakan bahasan yang cukup panjang mengenai hal melakukan maksiat di bulan Ramadhan.

Disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Ahmad, 2881, Bukhari 6491 dan Muslim 130)

Dalam masalah pahala, memang tidak bisa kita hitung secara matematis. Namun dalam hadis di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memastikan bahwa maksiat yang dilakukan hamba sekali, tidak digandakan dosanya. Tapi ditulis sekali. Sebagai pembenar bahwa Allah tidak mendzalimi hamba-Nya.

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

"Allah sama sekali tidak berkehendak untuk mendzalimi seluruh alam." (QS. Ali Imran: 108)

Manusia yang tinggal di dunia, termasuk bagian dari alam itu.

Maksiat Di bulan Ramadhan, Dosanya Lebih Besar?
Ada kuantitas, ada kualitas.

Si A dan si B melakukan satu maksiat yang sama. Masing-masing mendapatkan satu dosa.

Apakah kita bisa memastikan bahwa nilai dosa keduanya sama?

Tentu saja tidak. Ada banyak faktor yang menyebabkan nilai dosanya berbeda. Sehingga bisa jadi yang satu mendapatkan dosa sebesar mobil, sementara satunya mendapat dosa seukuran kerikil. Semua kembali kepada latar belakang masing-masing ketika berbuat dosa.

Kita meyakini amal sholeh di bulan ramadhan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan ramadhan, dosanya juga lebih besar dibandingkan di luar ramadhan. Bisa jadi, tetep dapat satu dosa, tapi nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar ramadhan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menuliskan,

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

"Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia."

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

"Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut." (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Diantaranya, firman Allah,

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. al-Hajj: 25)

Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan dzalim di tanah Haram Mekah, Allah beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kedzaliman itu.

Alasannya, karena orang ini melakukan kedzaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia. Yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 535).

Demikian pula, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan kota Madinah. Beliau mengatakan,

الْمَدِينَةُ حَرَمٌ ، مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى كَذَا ، مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا ، أَوْ آوَى مُحْدِثًا ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْل

“Madinah adalah tanah haram, dengan batas antara bukit Ir sampai bukit itu. Siapa yang berbuat kriminal di sana atau melindungi pelaku kriminal, maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya.” (HR. Ahmad 1049 dan Bukhari 1870)

Beliau memberikan ancaman sangat keras, karena maksiat ini dilakukan di tanah haram, yang dimuliakan oleh syariat.

Kita kembali kepada dosa di bulan ramadhan. Mengapa dosanya lebih besar?

Ya tentu saja...

Wallahu a'lam

0⃣4⃣ Safitri ~ Banten
Dibulan ramadhan bulan yang sangat istimewa  bulan suci yah banyak amalan-amalan, kalau kita rajin baca al Qur'an dibulan suci  ramadhan niatnya biar dapat pahala banyak nah itu bagaimana ustadz? Tapi ketika bulan ramadhan selesai tidak baca Qur'an lagi, itu bagaimana, apa allah menerima niat itu dan apa itu sama aja mendapat pahala?
Maaf yah ustadz belibet pertanyaanya.

🌷Jawab:
Bismillah...

Apa yang kita lakukan berupa amalan-amalan sholih di bulan Ramadhan tentu saja Allah sudah mencatat dan  menyiapkan ganjarannya.

Adapun setelah Ramdhan berlalu kemudian amalan-amalan tersebut tidak kita lanjutkan, seperti membaca Al-Quran umpamanya, maka itu tidak menghapuskan pahala baca Al-Quran kita di bulan Ramadhan yang lalu.

Yang lebih baik tentunya semua amal-amal kebaikan yang kita kerjakan di bulan Ramadhan kita teruskan di bulan selain Ramadhan.

Menjadi kebiasaan kita sampai kita wafat.

Wallahu a'lam

0⃣5⃣ Rika ~ Magelang
Selain amarah kita harus bisa menahan syahwat yang lainnya termasuk belanja-belanja, bagaimana cara menata hati yang  seharusnya ya, karena sudah terbiasa tiap lebaran harus menyiapkan baju baru dan lain-lain.
Jazakallah.

🌷Jawab;
 Bismillah...

Menyiapkan makanan yang khusus dibulan Ramadhan bukanlah hal buruk.
Menyiapkan pakaian baru untuk lebaran juga bukan hal tercela.

Namun fokus kita yang utama adalah memanfaaatkan momentum Ramadhan sebaik-baiknya, mengisinya dengan kebaikan-kebaikan.

Sahur dan berbuka dengan hidangan yang enak tidak masalah, jika itu juga memotivasi semangat beribadah.

Berlebaran dengan pakaian baru, in syaa Allah merupakan wujud Syukur atas nikmat-nikmat Allah.

Walllahu a'lam

0⃣6⃣ Wetni ~ Bukittinggi
Ustadz, Bagaimana dengan yang dinas shift di RS. Kalau dia dinas siang, pulangnya malam. Di masjid orang sudah mau selesai shalat tarwih. Kalau dinas malam, dia berangkat dinas orang baru selesai berbuka.
Dalam sebulan itu sering dinas siang dan malam. Melaksanakan tugas merawat pasien. Sering tidak shalat tarwih berjamaah.
Bagaimana itu ustadz? Apakah dia termasuk orang yang rugi?
Jazakallah ustadz.

🌷Jawab:
Bismillah...

Keadaan Ini in syaa Allah bukanlah termasuk sesuatu yang rugi.
Beliau bisa menjalankan ibadah wajib ditempat beliau bekerja.

Adapun amalan sunnah,  jika memiliki waktu luang  mengerjakannya maka mengisinya dengan amal ibadah adalah utama.

Namun jika kesempatan mengerjakan yang sunnah tidak dapat di kerjakan karena mengerjakan suatu kewajiban dalam pekerjaan, maka menunaikan pekerjaan yang wajib lebih utama dari mengerjakan yang sunnah.

Adapun sholat wajib maka tidak ada keringanan untuk di tinggalkan, tetap harus di kerjakan bagaimanapun kondisinya.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
 💎CLoSSiNG STaTeMeNT💎

Ahlan washlan wa marhaban wahai Ramadhan...
Selamat datang Ramadhan...

Semoga Allah Azzawajalla menyampaikan kita semua pada bulan Ramadhan.

Semoga kajian ini membawa manfaat untuk kita semua.

Mohon maaf atas kekurangannya.

Baarakallahu aquulu qouli hadzaa fastaghfiruhu innahu huwal ghofuururrohiim

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuhu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar