Senin, 31 Januari 2022

SULITNYA MENJAGA IZZAH DAN IFFAH DI ZAMAN PENUH FITNAH

 


OLeH: Ibu Hj. Irnawati Syamsuir Koto

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌸SULITNYA MENJAGA IZZAH DAN IFFAH DI JAMAN PENUH FITNAH

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan karunia dan hidayah kepada hamba-hamba-Nya. 

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam beserta keluarga, shahabat, dan umatnya yang senantiasa istiqamah di jalan Sunnah.

Sahabat sholehah... 

‘IZZAH merupakan kemuliaan, kehormatan dan kekuatan. Mereka yang memiliki ‘izzah  itu bersumber dari Allah Rabbul ‘Alamiin. Karena pada dasarnya, hanya Alloh ﷻ lah yang sebenar-benarnya pemilik ‘izzah, menamai dirinya ‘Al-Aziz’ (Maha Mulia, Maha Perkasa). ‘Izzah diberikan kepada makhluk-Nya sesuai pendekatannya kepada Rabbnya. Semakin dekat dengan Alloh ﷻ, maka manusia semakin memiliki ‘izzah. Makhluk yang paling dekat dengan Alloh ﷻ adalah para Rasul kemudian orang-orang mukmin.

’Izzah itu milik Alloh ﷻ, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun 63:8)

Sedangkan ‘iffah adalah menahan. ‘Iffah secara istilah artinya menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Alloh ﷻ haramkan. Dengan demikian, seorang yang ‘afif adalah yang menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Alloh ﷻ walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut.

IZZAH DAN ‘IFFAH adalah akhlak tinggi dan mulia yang dicintai oleh Alloh ﷻ. Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Alloh ﷻ yang shalih, senantiasa memuji keagungan Alloh ﷻ, takut pada siksa serta murka Alloh ﷻ dan selalu mencari keridhoan pahala-Nya.

IZZAH adalah kehormatan sebagai seorang muslimah, sedangkan iffah adalah bagaimana seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka. Malu adalah sebagian dari iman dan malu adalah akhlak Islam. Penting bagi muslim dan muslimah untuk memiliki rasa malu karena dengan malu itulah lebih terjaga izzah dan iffah nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

Seorang perempuan muslimah paham akan pentingnya menjaga diri, paham akan pentingnya memiliki rasa malu yang tinggi, dengan menutup aurat secara syari sesuai dengan syariat maka itu tidak hanya bentuk taat kepada Alloh ﷻ, namun juga sebuah usaha untuk menjaga diri dengan sebaik-baiknya.

Alangkah lebih baiknya untuk menerapkan bahwa hidup adalah tentang penilaian Alloh ﷻ, bukan tentang penilaian makhluk-Nya, bukan untuk berlomba-lomba mencari perhatian kepada makhluk-Nya, akan tetapi hidup adalah untuk Alloh ﷻ, berusaha untuk menaati segala yang Alloh ﷻ perintahkan, karena di dalam perintah tersebut ada kebaikan untuk diri sendiri.

Sholehah... 

Berhati-hatilah dengan fitnah akhir zaman, salah satunya adalah fitnah syahwat. Sebab fitnah syahwat adalah fitnah yang berkaitan dengan hawa nafsu, harta dan perempuan.

Karena itu, bagi seorang muslimah, menjaga diri dan kehormatan itu sangatlah penting. Namun, yang kita lihat fenomenanya saat ini, banyak di antara mereka, yang tidak lagi menjaga iffah sebagai perempuan muslimah.

Banyak dalil yang memerintahkan perempuan untuk menjaga iffah nya ini. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ

"Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Alloh ﷻ menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya." (QS. An-Nur: 33)

Termasuk makna iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.

"Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia)." (QS. Al-Baqarah: 273)

Seorang muslimah dituntut untuk memiliki iffah. Sebab, akhlak yang satu ini merupakan akhlak yang tinggi, mulia, dan dicintai oleh Allah Ta’ala. Bahkan, akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Alloh ﷻ yang saleh, yang senantiasa menghadirkan keagungan-Nya dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia juga menjadi sifat bagi orang-orang yang selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.

Salah satu sifat iffah ini adalah memiliki rasa malu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya." (HR. Al-Hakim, Ath-Thabrani).

Sifat malu yang ada di dalam diri perempuan ini dapat menambah keimanan seorang muslimah dan juga membuat perempuan menjadi terhormat dan dimuliakan. Tetapi, yang kita lihat sekarang banyak sekali perempuan bahkan muslimah saat ini berlomba-lomba menampilkan dirinya di khalayak umum, yang seakan-akan sudah luntur sifat malu yang ada di dalam diri mereka.

Ditambah pula, kemajuan teknologi saat ini menjadikan tidak sedikit orang yang ingin tampil di khalayak umum. Mereka berlomba-lomba mempercantik diri, dan dengan bangga memperlihatkan aurat mereka, menari sana-sini yang kemudian diunggah ke media sosial, berharap banyak pujian-pujian yang dilontarkan bagi siapa saja yang melihat unggahan tersebut.

Sangat miris sekali ketika rasa malu sebagai seorang perempuan sudah tidak lagi dipertahankan. Dengan begitu, perlu kita ingatkan kembali bagaimana seharusnya perempuan muslimah bersikap sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta'ala agar iffah  seorang wanita senantiasa terjaga di dalam diri. 

Menjaga iffah memang bukanlah perkara yang mudah. Bahkan mungkin sangat berat dilakukan, apalagi ketika banyak dari kita yang berlomba-lomba ingin dilihat semua orang. Namun, kita justru bertolak belakang terhadap itu semua demi menjaga iffah dan agar tetap berada di jalan yang Alloh ﷻ ridhai.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk pintar dalam bergaul, dengan memilih teman yang baik akhlaknya dan yang senantiasa mengajak dan mengingatkan kita kepada kebaikan.

Jalan terbaik bagi muslimah untuk mempertahankan izzah dan iffah nya adalah dengan tetap berjalan sesuai tuntunan Al Qur'an dan hadist, meski berat seperti menggenggam bara api.

Muslimah harus bisa  menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Alloh ﷻ haramkan. Dan bagaimana seorang muslimah dapat menjaga kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka.

Sudah saatnya, kaum muslimah saat ini menyadari bahwa dirinya bukan konsumsi publik. 

Jadilah, seorang muslimah yang mempunyai rasa malu yang tinggi, dan cukupkan diri dengan ilmu.

Wallahu a'lam

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Atin ~ Pekalongan
Assalamualaikum Ustadzah.

Makna iffah adalah menahan diri dari meminta minta kepada manusia. Yang dimaksud meminta dalam ini apa sajakah? Berupa harta, tenaga, doa, atau apa saja? 

Sebatas apa kita boleh meminta kepada seseorang?

🌸Jawab,:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh mami.  

Meminta-minta disini maksudnya adalah mengemis eyang, karena mengemis memang tidak dibenarkan dalam Islam.  

Wallahu a'lam

🔹Ooo, jadi kalau selain bentuk materi tidak apa-apa ya. Sebab pernah dengar, kita tidak boleh meminta didoakan. Bagaimana menurut Dzah Irna, benarkah?

🌸Memang ada pendapat yang mengatakan hal seperti itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak baik.  Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki pendapat yang cukup bagus. 

Beliau rahimahullah mengatakan :

"Apabila engkau meminta pada saudaramu untuk mendoakan dirimu yaitu engkau ingin saudaramu juga mendapatkan kebaikan dengan berbuat baik padamu atau engkau ingin agar dia juga mendapatkan manfaat karena telah mendoakan mu dalam keadaan dirimu tidak mengetahuinya -doa seperti ini akan diaminkan oleh malaikat dan malaikat pun berkata : engkau pun akan mendapatkan yang semisalnya-, maka seperti ini tidak mengapa (diperbolehkan)."

"Namun, apabila yang engkau inginkan adalah semata-mata kemanfaatan pada dirimu saja, maka inilah yang tercela."

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Aisya ~ Cikampek
Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh.
 
Pertanyaan sederhana ya ustadzah.
Apa keutamaan menjaga marwah diri.
Apa juga harus menjaga marwah orang lain?

Khusus akhwat saja atau juga ada anjuran Ikhwan...?

Bagaimana dengan akhwat yang sudah tertutup. Tapi tetap eksis di dunia maya?
Dengan memasang fotonya sebagai profil dan upload foto dengan caption dakwah?

Bagaimana cara kita mengingatkan hal ini pada orang dilingkungan tanpa terasa menggurui.

Fenomena aplikasi joget-joget. Banyak muslimah yang berhijab pun ikutan. Bagaimana hal ini bisa kita hadapi.

Berarti izzah dan 'iffah hanya khusus untuk muslimah saja kah dzah?

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Menjaga izzah dan iffah ini milik umat Islam, karena semua yang dilakukan akan berpengaruh kepada agama, kenapa titik berat kita pada muslimah? Karena muslimah lebih berat perjuangannya.  

Baiknya agama tergantung pada baiknya wanita.  

Eksis di dumai, selagi bisa dihindari, maka hindarilah, ingatkan ahsan, dengan bijak.  

Aplikasi ini termasuk fitnah akhir zaman, dimana rasa malu benar-benar sudah terkuras habis dengan adanya hal tersebut. 

Jika kita melihat itu bukan sebuah kebaikan maka jangan diikuti,  jangan di contoh.  

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Aisya ~ Cikampek
Dzah, bagaimana dengan banyaknya hubungan bertopeng "syar'i" tidak pacaran namun berkomitmen.

Untuk yang berselancar di dunia maya...

Bagaimana hukum kalau Ikhwan me likes dann komen foto-foto akhwat. Begitu juga sebaliknya.

Apakah juga masuk dalam tidak menjaga iffah masing-masing ya?

🌸Jawab:
Bismillahirrahmanirrahim...

Ikatan laki-laki muslim dan wanita muslimah yang bukan mahram, hanya ada dua:

~ Ikatan halal: ikatan ukhuwah Islamiyah, ikatan pernikahan.

~ Ikatan haram: pacaran (baik terang-terangan atau terselubung), kumpul kebo, HTS (hubungan tanpa status).

Allah Ta'ala berfirman:

{ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا }

"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32)

Ayat ini ada 2 yang diharamkan:

1) Zina
2) Pendekatan kepada zina nya, apapun bentuknya baik gerak, kedipan, ucapan, tulisan, tontonan dan lain-lain. 

Maka perhatikan saja rambu-rambunya seperti itu. 

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ Rina ~ Surabaya
Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh dzah.

Sejak lama saya sudah tidak memajang foto saya di profile sosmed, tapi masih sering berfoto dengan keluarga dan teman-teman dan suami dan kadang itu saya masukan sosmed (status WA).
Apakah saya sebenarnya sama saja masih belum bisa menjaga iffah sebagai muslimah?

Terimakasih

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Setan rela membuka banyak pintu "kebaikan" di mata manusia, agar ujung-ujungnya manusia masuk ke pada satu pintu keburukan dan malapetaka yang diinginkannya. Oleh karena itu semua perilaku yang membuka peluang setan melakukan tipu daya mesti kita tutup. 

Allah Ta'ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 

"dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 43)

Maka, jalan terbaik dan teraman adalah tidak sama sekali, kecuali ada alasan mendesak dan darurat. 

Wallahu A'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Sahabat-sahabat ku... 

Izzah bukan pencitraan, karena izzah adalah perintah agama untuk menunjukan betapa mulianya Islam sebagai sebuah ajaran bagi kehidupan manusia. Izzah merupakan refleksi sebuah harga diri yang mulia dan agung. 

Izzah dan iffah ini harus ada dan tumbuh dalam hati setiap mukmin dan menjadi penghias setiap relung jiwa. 

Izzah dan iffah merupakan kemuliaan, kehormatan dan kekuatan. 

Sumber terciptanya rasa tersebut  bersumber pada Allah Rabbul ‘Alamiin.

Karenanya jagalah rasa tersebut dengan mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ dan menjadi insan-insan bertakwa.  

Billahitaufik walhidayah. 

Mohon maaf lahir dan batin 

Wassalamu'alaikum  warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar