Minggu, 28 Februari 2021

GEJALA AWAL COVID-19 VS LONG COVID

 


OLeH: dr. Lilis Kurniah R.

      💎M a T e R i💎

🌷GEJALA AWAL COVID-19 VS LONG COVID


🔹PENDAHULUAN

Istilah baru Long Covid-19, apakah itu?

Long Covid-19 atau biasa disebut juga sebagai Post Acute Covid-19.
Suatu gejala yang masih dialami oleh seseorang yang telah sembuh dari Covid-19 namun masih memiliki gejala-gejala Covid-19.

Sebagian pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh dilaporkan bisa mengalami gejala berkepanjangan. Fenomena gejala jangka panjang ini disebut juga sebagai "Long Covid". Semua kelompok pasien bisa memiliki kemungkinan mengalami Long Covid. 

9 dari 10 yang dirawat karena terinfeksi Covid-19 dapat mengalami fenomena Long Covid ini. Ini bisa terjadi akibat proses ketika sakit menimbulkan kelainan yang menetap secara anatomik, akhirnya mempengaruhi secara fungsional. 

★ Fakta Long Covid: 

✓ 80% penyintas mengalami keluhan Long Covid.

✓ Ada 98 varian keluhan kesehatan pada penderita Long Covid. 

✓ Gejala Long Covid bisa dalam berbulan-bulan setelah sembuh dari Covid. 

✓ 44% penderita Long Covid mengeluhkan penurunan kualitas hidup. 

🔹PERBEDAAN GEJALA AWAL DAN LONG COVID

Gejala Covid Awal adalah gejala akut. 
Seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, yang sifatnya muncul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Kemudian disertai riwayat kontak atau hasil PCR-nya positif. 

Gejala Long Covid kebanyakan bersifat kronis mulai dari rasa lelah berlebihan, gangguan nafas (sesak napas), jantung berdebar, nyeri sendi, nyeri dada, hingga depresi. 

WHO telah menyatakan bahwa gejala Covid-19 biasanya akan hilang dalam waktu 14 hari, jadi jika salah satu gejala Anda bertahan lebih lama dari ini, kemungkinan Anda mengalami Long-Covid, kata pakar kesehatan Inggris, Dr. Ben Littlewood-Hillsdon.

🔹MENDIAGNOSA LONG COVID

Mendeteksi pasien yang mengalami Long Covid bisa dilakukan dengan empat tahapan: (1) Wawancara, (2) Pemeriksaan fisik, (3) Riwayat penyakit sebelumnya, (4) Hingga pemeriksaan penunjang. 

Dalam tahapan wawancara untuk mendeteksi pasien Long Covid-19 ini, pasien dapat mengeluh terkait gejala-gejala yang dialaminya setelah dirawat dan diterapi di rumah sakit sebagai pasien terinfeksi Covid-19. 

Kemudian, pemeriksaan fisik ini dilakukan sebagai lanjutan dari tahapan wawancara atas keluhan yang dialami oleh pasien. Pada tahapan pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi paru serta laboratorium. 

Dari pemeriksaan laboratorium pun kita harus memeriksa parameter-parameter laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, penanda proses peradangan dan infeksi, penanda enzim jantung dan lain-lain. 

🔹GEJALA LONG COVID

✓ Gejala yang Ringan
Beberapa gejala yang timbul saat mengalami gangguan yang ringan adalah kelelahan, sesak napas, nyeri otot, nyeri sendi, kehilangan ingatan dan konsentrasi, hingga depresi. Gangguan ini dapat menyebabkan beberapa orang kesulitan untuk menjalani aktivitas hariannya. 

Maka dari itu, jika kamu mengalami sesak napas dalam waktu yang lama, batuk yang sulit sembuh, hingga nyeri sendi dan otot, ada baiknya untuk memeriksakan diri agar dapat menghindari masalah yang lebih besar.

✓ Gejala yang Lebih Parah.

Hal lainnya yang harus kamu tahu adalah sekitar 10–15 persen kasus dari gejala Long Covid-19 ini dapat berkembang menjadi penyakit berat dimana 5 persen menyebabkan sakit kritis.

Beberapa gangguan parah yang dapat terjadi, antara lain:

▪️Jantung: Gangguan ini juga dapat berdampak buruk pada jantung yang meliputi kerusakan pada otot jantung dan gagal jantung.

▪️Paru-paru: Kamu juga dapat mengalami kerusakan jaringan paru-paru dan gagal paru restriktif disebabkan oleh virus corona yang terjadi dalam jangka panjang.

▪Otak Dan Sistem Saraf: Masalah lainnya yang dapat terjadi pada otak dan sistem saraf adalah kehilangan indra penciuman (anosmia), masalah yang berhubungan dengan tromboemboli, seperti emboli paru, serangan jantung, dan stroke, hingga gangguan kognitif.

🔹PENANGANAN

Jika gejalanya parah, perawatan suportif dapat diberikan oleh dokter di rumah sakit. 

Jenis perawatan ini mungkin melibatkan:

1) Suplai cairan untuk mengurangi risiko dehidrasi.

2) Obat untuk mengurangi demam, sesak, nyeri dan pegal-pegal.

3) Oksigen tambahan dalam kasus yang lebih parah.

4) Ventilator ketika mengalami kesulitan bernapas.

Wallahu a'lam

🌷🌷🌷🔹🔹🔹🌷🌷🌷
        💎TaNYa JaWaB💎

0️⃣1️⃣ Fildzah ~ Tangerang
Assalamualaikum dokter,
Sembuh dari gejala Long Covid-19 itu berapa lama?

🍓Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Belum diketahui secara pasti, Mbak. 
Ada yang berbulan-bulan masih merasakan gejala ini, tapi karena kasus ini baru, sehingga belum bisa diketahui sampai kapan bertahan gejala Long Covid-19 ini. 

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Dwi ~ Bondowoso
Assalamualaikum dok, 

Saya positif bulan Desember kemarin dan setelah 10 hari dirawat di rumah sakit dan ditambah 14 hari isolasi mandiri itu masih lemes badan dan mudah capek, batuk sampai saat ini masih ada meski tidak intens.

Karena sebelum kena Covid saya juga sudah batuk beberapa bulan, dok. Saya hanya konsumsi vitamin saja sampai saat ini, dan sekarang sudah lebih baik.

Pertanyaan saya, 
Apa saya harus konsumsi obat atau saya cukup dengan vitamin di pasca sembuh ini, dok? 
Alhamdulillah saya tidak mengalami mati rasa di indra penciuman dan kecap, namun teman-teman yang bersamaan positif saat itu, sampai saat ini katanya belum 100% pulih indranya, dok.

Apa yang harus dilakukan?
Mohon infonya. 

🍓Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Untuk mbak cukup vitamin saja, makan bergizi, istirahat cukup, olah raga ringan saja. Untuk teman-teman yang baru sembuh obatnya sesuaikan dengan gejalanya saja. 

💎Untuk teman-teman saya sembuhnya bersamaan, dok.
Kita bersembilan waktu itu bersamaan positif dan satu meninggal. Cuma memang sampai saat ini indranya yang belum pulih, yang lain sudah baik, dok. 

🍓Kalau sama gejalanya ringan tidak perlu obat khusus. 

Wallahu a'lam

🌷🌷🌷🔹🔹🔹🌷🌷🌷
 💎CLoSSiNG STaTeMeNT💎

★ Ingat Pesan Ibu, 5 M

✓ Memakai masker. 
✓ Mencuci tangan. 
✓ Menjaga jarak. 
✓ Menghindari kerumunan. 
✓ Membatasi mobilisasi. 

Semoga kita semua terhindar dari penyakit yang membahayakan. 
Mohon maaf atas kekurangan dan khilaf. 

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

HATI BERSINAR



OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I.

  💎M a T e R i💎

🌸HATI BERSINAR

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh ﷻ mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku Rabb-mu, Mereka menjawab: Benar (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)." (QS. Al-Araaf: 172)

Ketika ruh masuk ke dalam jasad, maka beragam tuntutan jasad pun memberikan perubahan yang berpengaruh langsung kepada hati. Bila cahaya menyinari hati begitu kuat, maka seseorang dapat menahan beragam desakan tubuh yang diharamkan.

Rasulullah ﷺ adalah teladan kita. Beliau ﷺ merupakan cermin seorang yang mampu menahan pengaruh kehidupan dunia, sehingga hatinya selalu bercahaya. Hal itu tecermin dari akhlak beliau, baik terhadap Alloh ﷻ maupun terhadap mahluk-Nya.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        💎TaNYa JaWaB💎

0️⃣1️⃣ Phity ~ Jogja
Ustadz, kalau hati yang tidak bersinar apa berarti tidak bisa menerima nasihat?

🌸Jawab:
Sulit menerima nasihat karena hati ya tersikap noda hitam.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Yulia ~ Bekasi 
Assalamualaikum ustadz, 

Bagaimana kiat memperoleh hati yang bersinar seperti Rasulullah ﷺ?

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Senantiasa beramal shalih dan mengikuti kehidupan Rasul dan sahabatnya.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
 💎CLoSSiNG STaTeMeNT💎

Hati selalu bersinar adanya amal shalih yang menyinarinya.

Wallahu a'lam

TUTUP AURAT MU, JANGAN KAU UMBAR TANPA RASA MALU

 


OLeH: Ibu Hj. Irnawati Syamsuir Koto

     💘M a T e R i💘
           
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh sholehah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan karunia dan hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam beserta keluarga, shahabat, dan umatnya yang senantiasa istiqamah di jalan Sunnah.

Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala.

Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.

Saudariku…
Tentu kita sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab.

MUNGKIN ADA PERTANYAAN MENGAPA HARUS BERJILBAB?

Mungkin kita harus kembali mengingat tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita.

Jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan diri, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. 

Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. 

KENAPA DEMIKIAN? 

Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. 

Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? 

Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian?

Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (QS. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh ﷻ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzaab: 59)

Saudariku tercinta, 
Alloh ﷻ tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. 

Alloh ﷻ telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Alloh ﷻ Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. 

Alloh ﷻ menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. 

Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.”
(Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)

Selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Alloh ﷻ jadikan baik untukmu. 

Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?

APA SAJA ALASAN SEORANG MUSLIMAH UNTUK TIDAK BERHIJAB? 

“Aku Belum Berjilbab, Karena…”

◾1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”

Saudariku… 

Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? 

Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Alloh ﷻ yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. 

Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?

Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. 

Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. 

Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?

◾2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Alloh ﷻ.”

Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?

Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. 

Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. 

Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.

◾3. “Aku kan masih muda…”

Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? 

Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,

“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mu’minuun: 114)

“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup." (QS. Al-Ahqaaf: 35)

Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? 

Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? 

Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat ataupun orang yang lanjut usia? 

Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. 

Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. 

Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? 

Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…

◾4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”

Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,

Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. 

Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.

Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. 

Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. 

"Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)

Selanjutnya hal yang sangat banyak menjadi kekhawatiran orang tua dan para muslimah

◾ 5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”

Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? 

Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. 

Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? 

Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. 

Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!

Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. 

Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. 

Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?

◾6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”

Saudariku… 
Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Alloh ﷻ. 

Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. 

Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. 

Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.

Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rezeki? 

Bukankah Alloh ﷻ -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rezeki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? 

Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rezekinya bergantung kepada kemurahan Alloh ﷻ?

Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? 

Pikirkanlah saudariku… 

Pikirkanlah hal ini baik-baik!

◾7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”

Saudariku… 
Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. 

Sungguh, dia tidak sebanding. 

Apakah engkau belum mendengar firman Alloh ﷻ yang berbunyi,

“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’” (QS. At-Taubah: 81)

Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).”
[Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami‘ (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? 

Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…

◾8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga tidak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”

Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. 

Jika tidak, maka Alloh ﷻ tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.

Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Alloh ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Alloh ﷻ mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? 

Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?

Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Alloh ﷻ itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. "Adapun cemburunya Alloh ﷻ disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.”
[Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]

◾9. “Sepertinya Alloh ﷻ belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”

Saudariku… 
Hidayah Alloh ﷻ tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.

Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. 

Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Alloh ﷻ. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Alloh ﷻ kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.

Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. 

Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya,  “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

#Fiqihwanitablog

Demikian malam ini, mari kita baca dan renungkan, terlebih bagi yang masih belum mantap berhijab.

Wallahu a'lam

🔷🔷🔷🌟🌟🌟🔷🔷🔷
         💘TaNYa JaWaB💘

0️⃣1️⃣ Riyanti ~ Yogja
1. Menurut dzah, tentang berita artis yang dituduh pelakor padahal berhijab. Sementara banyak perempuan yang tidak berhijab justru budi pekertinya bagus?

2. Fenomena perempuan berjilbab lebih akan aman dari gangguan. Tapi faktanya, perempuan berhijab juga digangguin dzah?

3. Apa pendapat dzah, tentang SKB tiga mentri tentang "pelarangan hijab."

Boleh dong, dzah beri petunjuk pencerahan pada kami.
Syukron

🔷Jawab:
1. Senyumin saja kalau begini, memang sering kita dengar hal itu, kita harus hati-hati dengan ungkapan-ungkapan seperti itu. Itu adalah propaganda yang dilakukan oleh orang-orang liberal dan musuh-musuh Islam. 
Mereka sengaja ingin meliberalkan orang-orang muslim. 

Jika kita mau membanding, maka bandinglah dengan yang sejajar, yang berhijab bandingkan dengan yang berhijab. Yang tidak bandingkan dengan yang tidak, itu baru adil. 

Jilbab adalah sebentuk  ketaatan muslimah kepada Alloh ﷻ, dan dia telah lakukan itu. Dan kita tidak berhak menghakimi  orang lain. Meski dia nyata-nyata telah berzina, jika tidak ada saksi yang cukup, siapapun tidak berhak menghakiminya. Apalagi persoalan seperti ini. Jangan terpancing untuk berghibah massal. Saat melihat aib seorang muslim, maka lihat aib kita sebelum membicarakannya. Aib-aib kita masih Alloh ﷻ tutup. Kesalahannya biar dia yang mempertanggungjawabkan dihadapan Alloh ﷻ. Tutup aib saudaramu. 

2. Siapa yang akan luput dari kejahatan manusia-manusia bejat? Tidak akan ada, tapi setidaknya dengan menjaga diri, kita telah berusaha untuk menghindari. Dan ketaatan kita kepada Alloh ﷻ diatas dari segalanya, berhijab adalah kewajiban, fenomena itu adalah keingkaran manusia-manusia bejad terhadap Alloh ﷻ. 

3. SKB 3 mentri? Sebenarnya ada positif negatifnya. Positif bagi daerah-daerah yang menjadi anak emas yang biasanya bebas bertindak melarang anak-anak sekolah berjilbab. Dan negatif bagi daerah-daerah yang ingin menerapkan syariat Islam, karena dengan SKB 3 mentri ini, jangankan untuk menyuruh, mewajibkan berjilbab, menghimbau saja tidak boleh. 

Di Sumbar, Ulama, tokoh masyarakat, ormas menolak SKB 3 Mentri ini, karena kami ingin mendidik anak-anak kami secara dini untuk menutup aurat, sebagaimana itu telah menjadi budaya para kaum wanita Ranah Minang. 

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Neni ~ Yogja
Saya sekarang lagi serumah sama mertua, karena lagi ngerawat beliau sakit, ehhh otomatis bapak mertua disini juga sama adik ipar laki-laki.
Nah saya di rumah dalam rumah jarang pakai hijab,
Sama adik ipar saya harus menutup aurat juga?
Karena saya pernah baca di al Qur'an artinya, tapi saya tidak paham-paham. 

Mohon penjelasannya ustadazh.

🔷Jawab:
Berhubung ipar bukan mahram, maka kita haram menampakkan aurat terhadapnya. Rasulullah ﷺ bersabda:  "Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” 
(HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Jadi berhati-hatilah. Jangan sampai kita dengan entengnya membuka aurat didepan ipar, khususnya rambut, hal ini menjadi kebiasaan bagi sebagian kita, menganggap bahwa itu hal yang lumrah. 

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Riyanti ~ Yogja
1. Misal nih, kalau ada perempuan bermasalah dengan BB, bagaimana batas makai wangi-wangiannya?

2. Batasan tabarruj itu apa dzah? Apakah kita memang tidak boleh dandan saat keluar rumah?

🔷Jawab:
1. Boleh wanita keluar menggunakan parfum sekedar untuk menghilangkan bau, selama tidak sampai menimbulkan wangi, bau wangi yang bisa menimbulkan syahwat laki-laki.

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sekelompok orang datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk berbai’at. Namun di antara mereka ada seorang lelaki yang di tangannya ada bercak warna minyak wangi. Maka Nabi pun tidak segera membai’atnya dan mengakhirkannya. Beliau bersabda: Parfum lelaki itu yang tercium wanginya namun tidak nampak warnanya. Sedangkan parfum wanita itu yang nampak warnanya namun tidak tercium wanginya.”
(HR. Al Bazzar no. 6486, dishahihkan Syaikh Muqbil dalam Ash Shahih Al Musnad no. 102).

2. Berdandan yang dimaksud seperti apa? Bermakeup? Pakai baju warna warni mencolok?  Seorang muslimah itu harus berpenampilan bersih, rapi, mentang-mentang tidak boleh tabarujj, lantas berpenampilan lecek, kayak nggak terurus, bau? Itu tidak boleh juga, pakai pakaian yang bersih, rapi dan tidak bau badan. Pakai deodoran soft kalau memang Bau Badan. Untuk baju, sebagian ulama berpendapat, bolehnya wanita memakai pakaian yang warnanya mencolok selama itu menjadi 'urf (adat) satu daerah. Jadi si wanita tidak akan menjadi bahan perhatian lawan jenis. 

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ Neni ~ Yogja
Untuk suara perempuan termasuk aurat tidak ya? Karena saya suka dimintai tolong teriak-teriak di depan orang (walau semampu saya).
Mungkin karena anak muda tidak ada ya yang tua saja dipanggil.
Misal qiroah, saya pernah ditegur teman, ehhh kalau laki yang dengar terus memuji suara kita katanya kita dosa, benarkah?
Lha tamu undangan kan cowok cewek,
Padahal niat saya lillah ustdzah.

🔷Jawab:
Ulama berbeda pendapat tentang hukum suara wanita. Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa suara wanita adalah aurat. Namun, menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama, suara wanita bukanlah aurat. Sehingga siapapun boleh saja mendengar suara seorang wanita atau mendengarnya berbicara, karena tidaklah termasuk hal yang terlarang dalam Islam. Ini adalah pendapat yang paling kuat.

Tapi jangan teriak-teriak  juga kali yaa mba.

Wallahu a'lam

0️⃣5️⃣ Devi A. ~ Pontianak
Assalamu'alaikum, 

Saya bekerja sebagai penjahit konveksi, tapi semenjak pandemi saya jadi menganggur kurang lebih 6 bulan. Ingin mencari pekerjaan susah sekali apalagi saya hanya tamatan SMA, dan kalaupun ada syaratnya jilbabnya harus yang leher kecekek. Dan akhirnya saya putuskan untuk tidak mencari pelerjaan dan saya lebih memilih membantu ibu saya menyadap karet. Karena saya tidak mau hanya karena pekerjaan saya jadi mengorbankan kewajiban saya untuk menutup aurat. 

Pertanyaannya apakah yang saya lakukkan sudah benar.

Maaf kepanjangan Terimakasih.

🔷Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Alhamdulillah, saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar, karena keputusan mba Devi sudah benar sekali. Pilihan tepat. 

Wallahu a'lam

0️⃣6️⃣ Phity ~ Yogja
Assalamu'alaykum bun,

Bagaimana jika ada yang berpendapat pendapat "yang penting hatiku sudah dijilbabin, daripada pakai jilbab tapi perilaku tidak Islami" akhirnya dia tidak memakai jilbab?

🔷Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Hati-hati dengan propaganda para pembenci Islam. Pendapat seperti ini sengaja mereka sebarkan dan terus-menerus mereka angkatkan, agar kita juga sependapat dengan hal itu. 

Sekali lagi Berjilbab bukan pilihan, tapi kewajiban. Lakukan kewajiban tersebut, baik atau tidaknya akhlak, itu berpulang pada diri pribadi, pendidikan, dan lingkungan. 

Hati-hati juga dengan ucapan jilbabin hati. Hati itu jangan sampai tertutup, dia harus terbuka, agar kebenaran bisa masuk. Jika dia ditutup bagaimana hidayah akan datang? Ibarat sebuah rumah, jika jendelanya ditutup bagaimana cahaya bisa masuk? Sementara kita didalam butuh cahaya.

Sadarlah bahwa jilbab itu kewajiban bukan pilihan. Jangan membuat hukum dan aturan sendiri. Siapakah kita berani membuat aturan sendiri dengan melawan aturan  Alloh ﷻ? 

Wallahu a'lam

0️⃣7️⃣ Yulia ~ Bekasi
Bagaimana kalau memakai jilbab hanya tuntutan pekerjaan karena, keseharian biasanya tidak menggunakan jilbab?

🔷Jawab:
Berarti dia belum sadar bahwa jilbab adalah kewajiban. Semoga Alloh ﷻ memberi hidayah. 

Wallahu a'lam

0️⃣8️⃣ Dewi ~ Bekasi
Maaf, saya pernah melihat seorang wanita usia 50 tahun, beliau pengusaha travel haji umrah. Sering umrah tentunya. Tapi subhanallah pakaian kesehariannya adalah celana pendek sebatas pangkal paha dan sangat bangga dengan foto-foto modernnya dengan minuman keras. Bagaimana ya pekerjaan dan keseharian bertolak belakang?

🔷Jawab:
Haji dan umrah berkali-kali, belum menjamin Alloh ﷻ beri hidayah. Oleh karena itu, jadi pelajaran bagi kita agar terus berdoa, meminta hidayah kepada-Nya. Memohon jangan Alloh ﷻ cabut hidayah-hidayah yang telah Alloh ﷻ berikan. 

Dan satu hal yang perlu kita ingat, kita akan mendapatkan apa yang kita usahakan. Meski urusannya adalah haji dan umrah, tapi yang dikejar adalah urusan dunia, maka hanya dunialah yang dia dapatkan. Jika yang dikejar adalah akhirat, insyaa Allah dunia akhirat akan dapat. Jika membeli tali, kita tidak akan dapat kambing, tapi jika membeli kambing, maka kita otomatis akan mendapat talinya sekalian. 

Jadikan kejadian yang dilihat sebagai renungan.

Wallahu a'lam

0️⃣9️⃣ Yulia ~ Bekasi
Saat kita sebagai wanita sudah akad nikah masuk ke dalam keluarga suami, apakah bisa bebas kita melepas hijab ketika di dalam lingkungan keluarga suami? Apakah ayah mertua sudah termasuk mahram?

🔷Jawab:
Ipar bukan mahram, tapi kalau ayah mertua adalah mahram. 

Berhubung ipar bukan mahram, maka kita haram menampakkan aurat terhadapnya. Rasulullah ﷺ bersabda:  "Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut." (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Jadi berhati-hatilah. Jangan sampai kita dengan entengnya membuka aurat didepan ipar, khususnya rambut, hal ini menjadi kebiasaan bagi sebagian kita, menganggap bahwa itu hal yang lumrah. 

Wallahu a'lam

1️⃣0️⃣ Rosa ~ Payakumbuh Sumbar
Assalamualaikum wr.wb bun, 

Bagaimana cara memberikan nasihat kepada adik ipar memakai jilbabnya bisa istiqomah, soalnya kalau didepan keluarga sendiri (non mahram) tidak pernah pakai, diluar rumah (tetangga) juga tidak pakai, memakai hanya status kerja karena disuruh suami, mohon dibantu tips yang tepat untuk tidak membuat tersinggung yang bersangkutan. 
Thanks bun.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh 

🔷Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Nasihati dengan baik, jelaskan siap-siap saja yang mahram, siapa yang tidak, bagaimana adabnya kalo didepan yang bukan maharam, tentu dengan bahasa yang baik, bukan bahasa perintah. Atau menggurui, karena anak-anak sekarang paling anti digurui

Wallahu a'lam

🔷🔷🔷🌟🌟🌟🔷🔷🔷
 💘CLoSSiNG STaTeMenT💘

Saudari-saudariku...

Tutuplah auratmu dengan benar, sebelum Alloh ﷻ tutup tubuhmu dengan selembar kain kafan. 
Tinggalkan dirimu yang dulu, perbarui dirimu hari ini. Tapi jangan melupakan masa lalu mu, karena masa lalumu bisa menjadi penguatmu berubah menjadi lebih baik.

Cantik di hadapan Alloh ﷻ itu lebih penting, daripada cantik dihadapan manusia. 

Sudahlah, apalagi? 

Berbenah lah dengan kata Bismillah dan InsyAllah Alloh ﷻ akan mempermudah.
May Us Always Istiqomah. 
Jangan lelah untuk terus berjalan di jalan-Nya. 
Keep Fighting...

Mohon maaf lahir dan batin. 

Wallahu a'lam

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

PENGARUH ISTIQOMAH SHALAT DHUHA TERHADAP KECERDASAN SPRITUAL




OLeH: Ustadz M. Lukmanul Hakim 

       🌀M a T e R i🌀

🌀 PENGARUH ISTIQOMAH SHOLAT DHUHA TERHADAP KECERDASAN SPRITUAL

Penulis : M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I.
(Pendiri dan Pembina Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM).

🔹DEFINISI KECERDASAN

Kecerdasan adalah kemampuan seseorang dalam menganalisa, memproses, menyimpulkan dan menentukan tindakan yang benar terhadap solusi sebuah persoalan. Sehingga mampu untuk merendahkan dirinya dan mengajak dan menunjukan hal yang benar. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

  "عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ (رواه الترمذي)“

"Dari Syaddad Ibn Aus, dari Rasulullah ﷺ bersabda : orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah mati.”  
(HR. At-Tirmidzi)

💎DALAM AL QUR’AN KECERDASAN DISEBUT DALAM BEBERAPA KATA ANTARA LAIN:

1) Al–‘Aql, yang berarti an-Nuha (kepandaian, kecerdasan).

2) Al-Lubb atau al-Labib, yang bearti al-‘aql atau al-‘aqil, dan al-labib sama dengan al-‘aql. 

3) Al-bashar, yang berarti indra penglihatan, juga berarti ilmu. Di dalam Kamus Lisan al Arab, Ibn Manzhur mengemukakan bahwa ada pendapat yang mengatakan ; al-bashirah memiliki ma’na sama dengan al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah (argumntasi). Al-Jurjani mendefinisikan al-Bashirah, adalah suatu kekuatan hati yang diberi cahaya kesucian. 

🔹FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECERDASAN

Kecerdasan dipengaruhi oleh beberapa faktor: 

1) Usia, kecerdasan akan menurun dengan bertambahnya usia.

2) Pengalaman, semakin banyak pengalaman seseorang terhadap satu hal, maka akan semakin ahli dan semakin cerdas. 

3) Pelatihan, Kecerdasan dapat terbentuk dari seringnya seseorang dilatih dalam satu hal. Semakin banyak berlatih maka akan semakin tajam kecerdasannya. 

4) Lingkungan, lingkungan sangat berperan dalam membentuk kecerdasan seseorang sesuai dengan hal yang di hadapi di lingkungannya. 

5) Genetika, faktor keturunan juga berpengaruh terhadap kecerdasan seseorang.

🔹MACAM-MACAM KECERDASAN :

Secara umum kecerdasan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1) Kecerdasan Linguistik, kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengolah kata-kata.

2) Kecerdasan Logika, yaitu kecerdasan sesorang dalam memprediksi sebuah persoalan berdasarkan logika berfikir. 

3) Kecerdasan Spiritual, kemampuan seseorang yang mampu memotivasi diri sendiri dan orang lain untuk mengerjakan jalan kebaikan yang diyakini. 

4) Kecerdasan Visioner, kecerdasan seseorang dalam menganalisa benda-benda sekitarnya baik 2 atau 3 dimensi. 

5) Kecerdasan Raga, kecerdasan seseorang yang nampu dan terampil mengolah tubuhnya. 

6) Kecerdasan Harmoni, kecerdasan seseorang dalam mengolah dan mengharmonikan vokal dan alat yang ada di sekitarnya. 

7) Kecerdasan Interpersonal, kemampuan seseorang dalam bergaul yang menyenangkan dengan orang di sekitarnya. 

8) Kecerdasan Intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengekplorasi dirinya sendiri. 

9) Kecerdasan Naturalis, kemampuan seseorang dalam mengamati fenomena alam. 

🔹KECERDASAN SPIRITUAL

Ciri-ciri tumbuhnya kecerdasan spiritual  yang positif: 

◼️1. Mampu merendahkan diri dan perbanyak amal ibadah.

Sabda Rasulullah ﷺ :

  عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ (رواه الترمذي)“

Dari Syaddad Ibn Aus, dari Rasulullah ﷺ Bersabda : "Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah mati." (HR. At-Tirmidzi).

◼️2. Mampu mengendalikan diri sendiri dan membawa orang lain ke arah kebaikan. 

◼️3. Timbul keistiqomahan dalam beribadah, baik wajib maupun sunnah. 

◼️4. Memiliki kebiasaan baik yang ingin ditularkan kepada orang lain.  
Sabda Rasulullah ﷺ : 

  عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. (أخرجه البخارى)

Diriwayatkan dari Abi Musa ra. di berkata, “Rasulullah ﷺ pernah bersabda, ‘Orang mukmin yang satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan. (HR. Bukhari). 

◼️5. Memiliki kepedulian terhadap orang lain.  
Sabda Rasulullah ﷺ : 

  عََنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلاَلِيْ اَلْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّيْ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ (رواه مسلم)

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Pada hari kiamat Alloh ﷻ akan berfirman, ‘Dimanakah orang yang saling terkasih sayang karena kebesaran-Ku, kini aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat tiada naungan, kecuali naungan-Ku.

◼️6. Punya keseimbangan yang baik habluminallah dan habluminannasnya.

Setelah melaksanakan habluminallah, maka kita diperintahkan untuk habluminannas, seperti firman Alloh ﷻ berikut :

  فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10). 

◼️7. Mampu Mensyukuri Nikmat. 

      وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ        

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu  mengeluarkan maklumat, ‘Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim: 7). 

🔹PENGARUH SHOLAT DHUHA TERHADAP KECERDASAN SPIRITUAL

Pengaruh Shalat Dhuha Terhadap Kecerdasan Spiritual antara lain: 

1) Shalat Dhuha membuat suasana hati tentram. 

2) Shalat Dhuha membangun kedisiplinan dalam pekerjaan. 

3) Shalat Dhuha membangkitkan semangat bersedekah yang merupakan pangkal kekayaan yang Alloh ﷻ janjikan. 

4) Shalat Dhuha membangkitkan semangat bekerja karena Alloh ﷻ. 

5) Shalat Dhuha membawa keyakinan bahwa rezeki akan dicukupkan sepanjang hari. 

6) Shalat Dhuha membawa keyakinan akan termasuk golongan orang-orang yang bertaubat. 

Ditulis di Pamijahan Kabupaten Bogor. 
Link : https://risalahluqman.wordpress.com/2020/11/10/pengaruh-istiqomah-shalat-dhuha-terhadap-kecerdasan-spritual/

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        🌀TaNYa JaWaB🌀

0⃣1⃣ Phity ~ Jogja
Assalamu'alaykum Ustadz.

Kalau kita sholat Dhuha, hanya 2 rakaat saja apakah sudah cukup?  Atau sebaiknya diperbanyak rekaatnya agar dapat berpengaruh pada kecerdasan spiritualnya?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Rasulullah ﷺ mewasiatkan 3 hal, salah satunya 2 Rakaat Shalat Dhuha, Hadits Bukhari (1880) dan berikut haditsnya Muslim (721) meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia menyatakan "Kekasihku (Rasulullah ﷺ) mewasiatkan tiga perkara; puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dua rakaat, dan sholat witir sebelum aku tidur."

Dalam hadits lain beliau melaksanakan 4 rakaat dan ditambah sesuai keinginannya.  

★Kesimpulan: Bahwa 2 rakaat itu minimal, sebaiknya 4 rakaat keatas.

Wallahu a'lam

0⃣2⃣ Anjar ~ Sidoarjo
Ustadz, waktu terbaik untuk sholat Dhuha itu kira-kira jam berapa?

🌀Jawab:
Rasulullah ﷺ bersabda, 
“(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748). 
Artinya, ketika kondisi panas di akhir waktu.

Jika di konversi waktu Indonesia sekitar pukul 09.00-10.00 WIB

🌷09.00-10.00 WIB adalah waktu terbaik ya Ustadz?  Artinya kalau dilaksanakan antara jam 7-8  boleh, tapi itu bukan waktu terbaik begitu kah?

🌀Selama masih dalam rentang waktu shalat Dhuha semua merupakan waktu yang baik, terbaik pada saat unta mulai kepanasan. Tapi beda dengan shalat wajib waktu terbaiknya yaitu di awal waktu.

Wallahu a'lam

0⃣3⃣ Hezty ~ Surabaya
Apakah jin bisa mempengauhi kecerdasan?

🌀Jawab:
Siapapun yang berinteraksi dengan kita akan mempengaruhi daya nalar kita, otak melalui audio (telinga) dan visual (mata) serta sebuah keyakinan akan sesuatu, semua akan mempengaruhi kecerdasan, bisa menambah keimanan atau justru menjadi pengikut syaiton. Tergantung kecerdasan spritual sebelumnya baik atau tidak.

🌷Maksud saya jika itu jin nasab apakah bisa berpengaruh pada konsentrasi belajar? 

🌀Untuk memperdaya manusia agar aqidahnya belok, ada jin yang selalu mendampingi seseorang, sehingga dia hafal tingkah laku sampai cara berpakaian, jin ini disebut jin qorin. 

Dalam agama Hindu diyakini sebagai roh leluhur yang hadir kembali. Islam di Jawa terutama terpengaruh adat kebiasaan nenek moyang zaman dulu, sehingga timbul kepercayaan bahwa yang meninggal bisa hadir lagi berupa roh leluhur. 

Jika kita meyakini itu merupakan sirik, apalagi timbul rasa takut, atau melakukan sesajen, atau upacara mandikan benda pusaka. Jelas jin nasab akan mempengaruhi jika meyakini apalagi sampai berinteraksi dengan apapun, minta tolong, kasih sesajen dan lain-lain. 

Tetapi jika hanya meyakini keberadaannya itu tidak menjadi sirik, kecerdasan spiritual pun bertambah.

🌷Jika dari kerisnya orang tua, bagaimana cara membuangnya? 

🌀Itu tinggal dibuang saja atau dikubur di tempat yang jauh, dengan beristighfar mohon ampun pada Alloh ﷻ. Selanjutnya pengaruh jin itu insyaAllah hilang. Karena secara tidak langsung telah memberi maqom (tempat) di keris itu selana keris itu dipelihara. 

Kita tahu percaya pada kekuatan benda (dinamisme) itu merupakan syirik yang nyata.

Wallahu a'lam

0⃣4⃣ Yanti ~ Rembang
Lebih utama mana sholat witir sebelum tidur atau sesudah tidur? 

Wassalam.

🌀Jawab:
Riwayat Muslim disebutkan: 
“Barang siapa mengerjakan shalat pada malam hari maka hendaklah dia menjadikan shalat terakhirnya sebagai witir (sebelum Subuh) karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah memerintahkan hal tersebut.”

Hadits sanad shahih ini mengatakan bahwa sebaiknya shalat witir sebagai penutup qiyaumul lail.

Wallahu a'lam

0⃣5⃣ Yulia ~ Bekasi 
Genetik merupakan faktor yang mempengaruhi kecerdasan seseorang apakah dengan shalat Dhuha bisa mengubah kecerdasan seseorang?

🌀Jawab:
Faktor genetika sangat mempengaruhi kecerdasan seseorang, biasanya berpengaruh pada bidang atau keterampilan tertentu, ada yang otak kiri lebih dominan atau otak kanan yang dominan atau seimbang kedua-duanya. 
Ini mempengaruhi keseharian dan bidang pekerjaan yang ditekuni. 

Apakah dengan shalat Dhuha bisa mengubah kecerdasan seseorang?
Ya, terutama kecerdasan spiritualnya. Dengan rajin shalat Dhuha akan mempengaruhi otak jadi lebih tenang dalam pengambilan keputusan, lebih mudah untuk sedekah, mudah untuk syukur nikmat, dan menyadari bahwa Alloh ﷻ lah tempat kita mengharap, bukan sesama makhluk.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
🌀CLoSSiNG STaTeMeNT🌀

Mudah-mudahan kajian malam ini dapat bermanfaat dan tulisan-tulisan ana di blog risalahluqman.wordpress.com juga dapat bermanfaat. 

Jika ada pertanyaan lain boleh bertanya langsung di blog. InsyaAllah dijawab. 

Jazakallah khoiron katsir. 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB

 


OLeH: Ustadz Syahirul Alim

  💎M a T e R i💎

🌸KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB

Dalam 12 bulan, tentu saja terdapat beberapa bulan yang dihormati dan diistimewakan. Hal ini terkait dengan berbagai adat dan tradisi masyarakat yang berbeda-beda, soal bulan mana saja yang dianggap memiliki keutamaan. Dalam tradisi bangsa Arab, terdapat beberapa bulan yang di istimewakan dan dihormati, sehingga didalamnya terdapat berbagai hal yang dilarang dan sekaligus terdapat hal-hal yang menjadi kebiasaan yang disukai dalam tradisi mereka saat itu. Dalam Al-Quran, disebut empat bulan yang dihormati (asyhurul hurum), diantaranya adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Pada bulan-bulan ini dilakukan penghormatan sekaligus larangan untuk melakukan hal-hal buruk yang merugikan masing-masing pihak. Dalam tradisi jahiliyyah, bulan-bulan yang disebutkan ini “dihormati”, karena sepanjang bulan itu mereka berkumpul, mengorbankan hewan ternak mereka untuk dibagikan dan dimakan bersama, sekaligus larangan untuk berperang dan menyakiti pihak lainnya.

Al-Quran merekam secara jelas, apa yang dilakukan bangsa Arab ketika masuk bulan-bulan “haram”, bulan yang ditetapkan sejak Alloh ﷻ menciptakan langit dan bumi. 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ 

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh ﷻ adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh ﷻ di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam beberapa bulan yang sangat dihormati tersebut, tentu saja ada kalimat yang perlu digaris bawahi, yaitu “fa laa tadzlimuu fiihinna anfusakum” (janganlah kalian menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu).

Menurut Ibnu Katsir, ayat itu mengandung pengertian agar di setiap bulan haram, dilarang untuk bermaksiat kepada Alloh ﷻ, menghalalkan apa yang diharamkan Alloh ﷻ—termasuk berperang—dan dapat menahan diri terhadap segala urusan yang sekiranya akan dibenci dan mendatangkan siksaan. Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat diatas memaknainya sebagai bulan-bulan yang dikhususkan dan diagungkan, sehingga melakukan dosa kecil menjadi berakibat besar di bulan-bulan itu dan melakukan amal kebajikan akan diganjar dengan pahala yang lebih besar dibanding bulan-bulan yang lainnya. 

Para ahli tafsir al-Quran, sepakat bahwa yang dimaksud dengan empat bulan yang dihormati itu adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini didasarkan atas sebuah riwayat yang berasal dari Shidqah bin Yasar dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ ketika melaksanakan Haji Wada di Mina, pada pertengahan hari Tasyriq menyatakan: 

يا أيها الناس, إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض, وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرًا, منها أربعة حرم, أوّلهن رجبُ مُضَر بين جمادى وشعبان، وذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya zaman itu terus berputar sebagaimana ketetapan hari-hari sejak diciptakannya langit dan bumi oleh Alloh ﷻ. Dan diantara hitungan bulan-bulan menurut Alloh ﷻ, itu ada 12 bulan, diantaranya ada empat bulan yang dihormati dan diagungkan, yaitu Rajab—yang menjadi kebiasaan kabilah Mudlar, kabilah sebelum Quraisy—yang berada diantara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban, lalu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.”

Lalu, ketika bulan-bulan yang dihormati ini jelas berimplikasi pada setiap amal kebajikan yang dilipatgandakan pahalanya, maka kemudian melakukan puasa di bulan tersebut, juga sama merupakan bagian dari penghormatan kepadanya. Lalu, kenapa ada pengkhususan di bulan Rajab? Bahwa berpuasa di awal bulan ini, seakan-akan menjadi “kewajiban” yang terus menerus diviralkan dalam media sosial, padahal bulan-bulan haram tentu saja tidak hanya Rajab. Hal ini tentu saja menjadi wilayah perbedaan pendapat (ihktilaf) para ulama antara mereka yang beranggapan, bahwa puasa di bulan Rajab memiliki keutamaan dan ada juga yang menganggapnya tidak.

Para ulama yang berpendapat bahwa puasa Rajab ini disunnahkan, tentu saja berpijak pada pendapat dimana perlu berpuasa dalam satu tahun di bulan-bulan tertentu—diluar puasa wajib bulan Ramadhan—yang didukung oleh banyak sekali dalil yang bersumber dari banyak hadis soal berpuasa ini. Secara umum, para ulama sepakat disunnahkan berpuasa pada bulan-bulan yang dihormati tersebut, dan secara khusus ada diantara mereka yang mengistimewakan bulan Rajab sebagai bulan yang disunnahkan berpuasa bagi umat muslim. Hal ini didasarkan atas sebuah riwayat Ahmad dan Abu Daud yang berasal dari Abi Mujibah Al-Bahili, dimana Rasulullah ﷺ menyatakan:

صم من الحُـرُم واترك

“Berpuasalah pada bulan-bulan haram atau tinggalkan.” (hadis ini diulang ucapannya oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana dalam redaksi Abu Daud)

Adapula hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah terlihat berpuasa di bulan-bulan tertentu, kecuali hanya di bulan Sya’ban. Sebagaimana terekam dalam sebuah riwayat yang berasal dari Usamah bin Zaid, ketika dirinya penasaran lalu menanyakan kepada Rasulullah ﷺ: “Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa di bulan-bulan tertentu, kecuali di bulan Sya’ban?”. Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “itulah bulan (sya’ban) dimana seringkali melupakan manusia karena berada diantara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah disetorkan seluruh amal setiap orang ke hadapan Alloh ﷻ, dan saya sangat senang, disaat amalku dibawa kehadapan-Nya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR An-Nasa’i dan Ahmad)

🌸🌷🌸
Imam Asy-Syaukani dalam karyanya “Nailul Authar” menjelaskan secara detil hadis yang dimaksud diatas. Menurutnya, makna “dzahir” dari hadis yang berasal dari Usamah adalah yang dimaksud oleh kalimat, “Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan yang seringkali dilupakan orang diantara Rajab dan Ramadhan” merupakan makna atas disunnahkannya puasa di bulan Rajab. Keagungan bulan Sya’ban adalah karena Rasulullah ﷺ melakukan puasa didalamnya dan keagungan bulan Rajab adalah ketika orang-orang Arab mentradisikan penyembilahn didalamnya, sehingga keduanya memiliki keagungan dan keistimewaan yang sama yang seringkali dilupakan manusia. Kalimat “an-Naas” yang dimaksud dalam hadis diatas adalah “para sahabat”, sehingga Alloh ﷻ bermaksud menghapus syariat atau kebiasaan jahiliyyah masa lalu, digantikannya dengan kebiasaan berpuasa yang kemudian juga dijalankan para sahabat Nabi, sehingga sifatnya hanya “mubah” atau kebolehan berpuasa baik di bulan-bukan haram secara umum, atau Rajab secara khusus.

Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa secara umum, beberapa hadis yang menyebutkan soal keistimewaan berpuasa di bulan Rajab tidaklah dipandang sebagai ibadah khusus yang mengandung ketetapan sunnah nabi ﷺ secara mutlak. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah pendapat yang berasal dari Ibnu as-Subki dari Muhammad bin Manshur as-Sam’ani soal hadis-hadis kekhususan puasa Rajab yang berasal dari riwayat Thabrani, Baihaqi, Abu Na’im, dan Ibnu ‘Asakir, dimana dirinya menyebutkan bahwa umumnya hadis-hadis tersebut membicarakan tentang keutamaan bulan Rajab versi kaum jahiliyyah, sehingga tidak ada maksud bahwa berpuasa pada bulan itu disunnahkan, karena para ulama sama sekali tidak serius membahasnya. 

Pendapat ini dikuatkan oleh sebuah riwayat hadis yang berasal dari Zaid bin Aslam ketika dirinya menanyakan kepada Nabi ﷺ soal keutamaan puasa di bulan Rajab. Nabi ﷺ hanya menjawab, “Dimana kamu disaat bulan Sya’ban?” Hadis ini menurut Ibnu Umar adalah merujuk pada soal makruhnya berpuasa di bulan Rajab, walaupun jika kita mengkhususkan berpuasa pada bulan-bulan haram—tidak dikhususkan untuk Rajab saja—adalah hal yang dibolehkan dan tidak dilarang. Memang, ada hadis riwayat Ibnu Majah yang menyebutkan, bahwa Nabi ﷺ melarang berpuasa pada bulan rajab, namun hadis itu statusnya dhaif, karena ada perawi bernama Zaid bin Abdul Hamid dan Daud bin Atha’ yang dipandang tidak tsiqat (kurang dipercaya).

Al-‘Iz bin Abdussalam menuqil dari Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitabnya “Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra”, bahwa diantara mazhab yang melarang berpuasa di bulan Rajab adalah Mazhab Hanbali. Hal ini selaras dengan pendapat Ibnu Qudamah dalam kitabnya “Al-Mughni” yang menyebut makruh berpuasa di bulan Rajab jika dikhususkan (puasa ifrad). Beberapa ulama lain juga sama memakruhkannya, seperti Al-Mawardi dalam kitabnya, “Al-Inshaf” dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahkan berpendapat “haram” mengkhususkan Rajab untuk berpuasa dalam dua hal, karena hadis yang berasal dari riwayat Ahman bin Hanbal atas kemakruhannya dan pemahaman pendapat para ulama yang tidak memakruhkan berpuasa diluar bulan Rajab. Namun demikian, beragam perbedaan pendapat ini tentu saja bukan menjadi hal yang harus dipertentangkan atau diperselisihkan, atau bahkan mencela satu pendapat dengan pendapat lainnya.

Dengan demikian, hampir mayoritas ulama madzhab tidak ada pendapat yang mengkhususkan Rajab sebagai bulan disunnahkannya berpuasa, walaupun hal ini pula tidak ada larangan secara tegas atas keharamannya. Dengan demikian, saya kira, boleh saja berpuasa dalam bulan Rajab, asal bukan bermaksud mengkhususkan bulan itu, tetapi melihat pada keistimewaan bulan-bulan haram sebagaimana yang ditetapkan Alloh ﷻ. Yang tidak diperbolehkan tentu saja melakukan shalat khusus pada bulan Rajab, karena ini jelas megada-ada dalam hal agama. 

Wallahu a’lam bisshawab.

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        💎TaNYa JaWaB💎

0️⃣1️⃣ Dwi ~ Bondowoso
Assalamu'alaikum, 

Ustadz, apa benar kita kalau mengerjakan puasa 3 hari diawal bulan Rajab itu, pahalanya berlipat ganda dan seperti puasa 100 tahun serta bisa masuk surga dari pintu manapun? 

Mohon penjelasannya Ustadz. 
Karena ada yang bilang itu benar dan ada yang bilang juga itu hadis palsu.

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Ya sebenarnya banyak sekali bertebaran hadis dhoif dan bahkan hadis maudlu' namun lagi-lagi terdapat banyak sekali perbedaan para ulama dalam menilai hadis-hadis tersebut. Salah satunya hadis mengenai rajab ini dan dipastikan berbagai hadis yang menyediakan pahala yang berlebihan itu kemungkinan maudhu' (palsu) hadisnya. Seperti tadi misalnya berpuasa 3 hari di bulan rajab seperti puasa 100 tahun, itu sangat berlebihan, seolah mengalahkan pahala malam lailatul qadar yang seribu bulan. 
Wallahu a'lam

Namun kita pun harus memahami bahwa hadis-hadis seperti itu kemungkin untuk tujuan kepada mereka yang awam, sebagai motivasi untuk melakukan puasa atau belajar berpuasa dengan iming-iming pahala yang besar. Kita bagi yang memahami, hendaknya tidak melihat hadis ini sebagai penyimpangan namun dipastikan itu adalah dalam rangka memotivasi agar kita mau berpuasa.

Segala hadis yang memiliki makna pahala yang terlampau berlebihan jelas umumnya hadis itu palsu, walaupun dalam beberapa hal ada juga hadis-hadis yang statusnya dhaif, seperti "Rajab adalah bulan Alloh ﷻ, sya'ban adalah bulanku dan ramadhan adalah bulan umat-Ku" itu adalah hadis dhaif tetapi sebagian kecil ulama menyatakan hasan, karena rajab adalah asyhurul hurum yang ditetapkan Alloh ﷻ dalam Al-Qurán.

Wallahu a'lam bisshawab

0️⃣2️⃣ Na ~ Semarang
Assalamualaikum, 

Ustadz, semisal puasa Daud dengan niat bayar puasa yang ditinggal bertahun-tahun apakah boleh?

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Puasa Daud itu sebenarnya bukan puasa sunnah, tetapi puasa karena berniat akan sesuatu. Puasa ini tidak dijadikan kebiasaan Rasulullah ﷺ, apalagi ditambah dengan niat lain membayar puasa yang terlewat.

Saya kira harus dipahami terlewat puasa itu karena apa? Jika karena sakit, maka puasa bisa dibayarkan di hari-hari berikutnya atau diganti sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Namun, jika tidak berpuasa karena belum tahu hukumnya dan setelah kita tahu kita berpuasa ya tidak ada kewajiban menggantinya, kecuali gantilah dengan sedekah dan perbuatan baik. Namun jika mau, qadlalah puasa sesuai dengan kemampuan kita dan niatkan sebagai puasa qadla karena Alloh ﷻ dan tidak perlu digandeng dengan niat-niat yang lain. Sebab niat ibadah itu maqruunah (mengikuti) ibadahnya tidak mungkin misalnya sholat wajib digabung dengan sholat sunnah, begitupun puasa.
Wallahu a'lam.

💎Karena pernah masuk ke jurang hitam ustadz. Jadi ninggalin puasa sejak SMP sampai usia 25 tahun. Itu bagaimana, Ustadz?

🌸InsyaAllah dulu sahabat Umar bin Khatab juga pernah seperti itu, tetapi setelah memperoleh hidayah beliau istiqamah dalam Islam.Tidak ada orang yang tidak berdosa, tetapi tutuplah dengan perbuatan baik.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
 💎CLoSSiNG STaTeMeNT💎

Semoga dapat memberi manfaat ya.

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

PERSIAPAN BULAN RAMADHAN

 


OLeH: Ustadz Endri N. Abdullah S.

      🌀M a T e R i🌀

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh...

Alhamdulillah wasyukurillah wa laa hauwlaa wa laa quwwata illa billah, asyhadu anlaaillaha illaallah wa hdahulaa syarikala, wa asyhadu anna Muhammdan 'abduhuu wa rasuluhuu la nabiyya ba'dahu, Allahumma sholli 'alaa nabiyyina Muhammadin wa 'alaa ali hi wa ashabihii wa man tabi'ahum bi ikhsanin illa yaumil qiyamah.

Rekan-rekan yang dirahmati Alloh ﷻ. 
Alhamdulillah kita dipertemukan pada malam hari ini dalam pertemuan yang dimuliakan Alloh ﷻ, semoga pertemuan kita pada malam hari ini mendapatkan Rahmat, Maghfirah, dan Barokah dari Alloh ﷻ.

Sholawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita nabiyullah Rasulullah ﷺ, kepada para keluarga beliau, para sahabat, dan para pengikut beliau illa yaumil qiyamah.

🌀PERSIAPAN BULAN RAMADHAN

Rekan-rekan yang dirahmati Alloh ﷻ, hari ini hari Rabu bertepatan tanggal 12 Rajab tahun 1442 Hijriyah, bertepatan sekarang tanggal 24 Februari tahun 2021.

Ada apa dengan bulan Rajab? 

Rasulullah ﷺ telah bersabda:

«إِنَّ الزمانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ والأَرْضَ: السنةُ اثنا عَشَرَ شَهْرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ: ثلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وذُو الحَجَّةِ، والمحرمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمَادَى وشَعْبَانَ....

"Sesungguhnya zaman ini telah berjalan atau berputar sebagaimana perjalanan awalnya ketika Alloh ﷻ menciptakan langit dan bumi Setahun itu ada dua belas bulan dan di antaranya ada empat bulan yang suci. Tiga berturut-turut, yaitu Zulqa'dah, Zulhijjah dan Muharram Sedangkan keempatnya adalah bulan Rajab Muḍar antara Jumada dan Sya'ban ......." (HR. Bukhari Muslim 02 : 11)

Dari sini kita ketahui bahwa bulan haram atau bulan yang dihormati itu ada 4;

✓ Dzulqa'dah
✓ Dzulhijjah
✓ Muharam
✓ Rajab

Dia disebut bulan haram karena dibulan itu Alloh ﷻ memerintahkan kita beberapa hal.

◾1. Didalamnya diharamkan kita untuk berperang dibulan haram. Yaitu, dibulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Jadi Alloh ﷻ menyebutkan, dalam surat Al Baqarah: 217

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ
 
"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad ﷺ) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar."

Nah dia disebut dengan bulan haram maka diharamkan untuk berperang didalamnya. 

◾2. Karena Alloh ﷻ berfirman dalam surat At-Taubah: 36

فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

"….Maka jangan kamu berbuat dholim atau menganiaya diri kamu sendiri didalam bulan-bulan haram yaitu  Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab..."

Maka didalam persoalan ini Abdullah bin Abbas telah menjelaskan bahwa "kita itu dilarang untuk berbuat dzolim pada seluruh bulan yang ada.”

Kemudian dikhususkan pada bulan-bulan haram yaitu,  Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab. Yang Alloh ﷻ telah menggantikannya sebagai bulan bulan haram. Yang telah dilebihkan kedudukannya dari pada bulan yang lain.

Perbuatan dosa yang dilakukannya maka lebih besar hukumannya disisi Alloh ﷻ.

Demikian juga amal sholih yang dilakukan dibulan Haram, maka juga akan mendapatkan pahala yang lebih besar.

Maka sekarang adalah bulan Rajab termasuk bulan haram, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal sholih dan hati-hati, dengan perbuatan-perbuatan dosa.

Kemudian dibulan haram itu,

◾3. (Seperti tadi dilipatkan pahala dan hukuman) 

Imam Attaubari dalam tafsirnya menukilkan perkataan sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu perilah kemuliaan yang Alloh ﷻ berikan untuk bulan-bula haram ini, beliau mengatakan:
"Alloh ﷻ memberikan keistimewaan untuk 4 bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab diantara bulan-bulan yang ada, dan diagungkan kemuliaannya dibulan itu dan menjadikan dosa yang terbuat serta amal ibadah yang dilaksanakan menjadi lebih besar ganjaran dosa dan pahalanya."

◾4. Bulan haram itu adalah bulan yang dimuliakan karena sudah menjadi kehendak Alloh ﷻ yang kita tidak bisa mengganggu gugat.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir surat At Taubah:36. Beliau menyebutkan bahwa memang;

✓ Alloh ﷻ mempunyai kehendak-kehendak sendiri.  

✓Alloh ﷻ itu mempunyai kehendak mensucikan makhluknya di antara makhluk-makhluk ciptaannya.

✓ Alloh ﷻ berkehendak mensucikan para Rasul dari kalangan malaikat. 

✓ Alloh ﷻ mempunyai kehendak mensucikan para Rasul diantara manusia yang lain. 

✓ Alloh ﷻ mensucikan dzikir dari perkataan makhluknya. 

✓Alloh ﷻ berkehendak mensucikan masjid dari tanah-tanah lain. 

✓Alloh ﷻ juga berkehendak mensucikan bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab, diantara bulan-bulan lainnya. 

✓Alloh ﷻ juga berkehendak mensucikan hari Jum'at diantara hari-hari yang lain, juga mensucikan malam Lailatul Qadar diantara malam-malam yang lainnya.

Imam Ibnu Katsiir yang mengutip perkataan Imam Qatadah.

Jadi Imam Qatadah kemudian menutup perkatannya dengan "Faa 'adhimu ma Adzomallah" maka muliakan lah apa yang telah dimuliakan oleh Alloh ﷻ.

Kenapa? 
"Fainnamaa tu'adzimul umuru bimaa adzhimallahu 'inda ahlil fahmi wa ahlil aqli" karena sesungguhnya memuliakan apa-apa yang sudah dimuliakan oleh Alloh ﷻ adalah perbuatan yang dilakukan oleh ahli ilmu dan orang-orang berakal.

Jadi kenapa, 4 bulan itu dimuliakan karena memang disitu diharamkan berperang didalamnya, dilarang melakukan kedzoliman dibulan- bulan itu juga dilipatkan pahala dan hukumannya serta bulan itu adalah bulan yang disucikan oleh Alloh ﷻ.

Amaliah apa yang khusus dilakukan dibulan Rajab? Tidak ada amalan khusus yang dilakukan dibulan Rajab. Tetapi kita diperintahkan untuk memperbanyak amal shalih, baik puasa sunnah, sholat sunnah, tilawah, dzikir dan tentu saja berbuat baik kesesama manusia.

Ada satu Hadist yang menunjukkan di bulan itu kadang-kadang Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa, kadang-kadang juga tidak berpuasa.

Diriwayatkan dari Imam Muslim bahwa Ustman bin Hakim Al Anshori dia mengatakan "Aku bertanya kepada Sa'id bin Jubair tentang puasa dibulan Rajab, dan ketika itu kami memang dibulan Rajab, maka Sa'id bin Jubair mengatakan, aku mendengar dari Ibnu Abbas, dia mengatakan, "Di bulan Rajab itu Rasulullah ﷺ berpuasa sunnah hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka dibulan Rajab, tetapi sebaliknya beliau juga pernah berbuka dibulan Rajab (tidak berpuasa dibulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab."

Nah Artinya boleh memperbanyak puasa dibulan Rajab.

Hadirin, rekan-rekan yang dirahmati Alloh ﷻ, nanti tanggal 15 Maret 2021 M akan bertepatan dengan tanggal 01 Sya'ban tahun 1442 H. Dan bulan Sya'ban adalah bulan yang paling dekat sebelum Ramadhan.

Maka dibulan ini ada amaliah-amaliah yang seharusnya kita lakukan dalam rangka menghadapi dibulan Ramadhan. Dalam bulan ini Rasulullah ﷺ banyak berpuasa.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu'anhu, dia bertanya "Yaa Rasulullah ﷺ mengapa aku tidak pernah melihat anda berpuasa sunnah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya'ban, maka Rasulullah ﷺ menjawab "ذلك شهر يغفل الناس عنه

Dia adalah bulan Sya'ban, maksudnya adalah bulan yang manusia sering lalai didalamnya. Karena bulan Sya'ban terletak diantara 2 bulan mulia yaitu Rajab (bulan haram) dan bulan mulia yaitu bulan Ramadhan.

Bulan Sya'ban diapit oleh bulan Rajab dan bulan Ramadhan, 2 bulan yang mulia, sehingga orang sering lalai didalamnya.

Tetapi juga bulan Sya'ban itu ada fadhillahnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين

"Bulan Sya'ban itu adalah bulan dimana amal-amal kita itu dibawa naik kepada Allah Rabbul 'alamiin."

Maka kata Rasulullah ﷺ
 "فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

"Maka aku senang apabila amal-amalku ketika diangkat kepada Alloh ﷻ, aku tengah menjalankan puasa Sunnah." (HR. Imam At Tirmidzi)

Maka dibulan Sya'ban ini tidak ada amaliah yang khusus kecuali amaliah-amaliah kebaikan sebagaimana biasa, yaitu memperbanyak puasa, entah itu puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, memperbanyak sholat-sholat sunnah, apakah itu sholat Tahajud, Dhuha, dan sholat sunnah yang lainnya. Termasuk tilawah Qur'an, dzikir, dan juga berbuat baik ke sesama manusia.

Ada keutamaan Nisfu Sya'ban, satu hadist yang diriwayatkan Ibnu Khidban (Shaheh).

Dari Mu'adz bin Jabbar Radhiyallhu'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Alloh ﷻ melihat makhluknya pada malam Nisfu Sya'ban lalu memberikan ampunan keseluruh mahkluk-Nya kecuali kepada mereka yang menyekutukan Alloh ﷻ atau orang yang bermusuh, yaitu malam Nisfu Sya'ban."

Imam Syafi'i dalam kitab Al huum kemudian mengatakan telah sampai kepada kami bahwasannya selalu dikatakan bahwa permohonan akan selalu dikabulkan dalam 5 malam yaitu malam Jum'at, malam hari raya Idul Adha, malam hari raya Idul Fitri, awal malam di bulan Rajab dan malam Nisfu Sya'ban.

🌀🌷🌀
Dibulan Sya'ban inilah kita melakukan persiapan-persiapan untuk menyambut bulan Ramadhan.

🔹1. Al 'idadht Ar Ruuhi, yaitu persiapan Ruhiyah. Persiapan Ruhiyah dilakukan dengan cara menghayati fadhilah (keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan) juga betapa besar pahala beramal dibulan Ramadhan, serta betapa limpahan maghfirah (ampunan) dari Alloh ﷻ dibulan Ramadhan.

Dengan langkah ini maka semoga bisa saja memunculkan rasa rindu yang dalam untuk segera bertemu dengan bukan Ramadhan karena kita akan mendapatkan pahala yang besar didalamnya dan ampunan yang besar dari Alloh ﷻ.

Persiapan Ruhiyah juga dilakukan dengan berlatih meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, seperti memperbanyak tilawah Qur'an, puasa sunnah, dzikir, do'a dan lain-lain. 

Rasulullah ﷺ mencontohkan dengan umatnya dengan cara berpuasa dibulan Sya'ban sebagaimana diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu'anha, yang dia mengatakan "Saya tidak melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa 1 bulan penuh kecuali dibulan Ramadhan dan saya tidak melihat dalam 1 bulan yang lebih banyak puasa sunnahnya kecuali pada bulan Sya'ban." (HR. Muslim)

Persiapan Ruhiyah juga dilakukan dengan meninggalkan dosa, maksiat dan perbuatan sia-sia. Karena semua perbuatan itu (dosa, maksiat, dan perbuatan sia-sia) akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan Hidayah dan menutup hati kita dari kebaikan. Selain itu semua bentuk dosa, maksiat, dan perbuatan sia-sia itu akan menjadikan kita merasa berat untuk menjalankan amal shalih.

🔹2. Al 'idath Al Fikri, yaitu persiapan Fikriyah, atau persiapan pikiran dilakukan dengan mendalami ilmu. Khusunya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan.

Banyak yang berpuasa terapi tidak menghasilkan selain lapar dan dahaga, disebabkan tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup.

Seorang yang beramal tanpa ilmu hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Rasulullah ﷺ jauh-jauh hari sudah memperingatkan umatnya jangan sampai puasa mereka sia-sia. 

Rasulullah ﷺ bersabda, 

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan diri dari puasa nya tersebut kecuali hanya rasa lapar dan dahaga." (HR. Athrabani)

Maka mari kita kemudian mengkaji Fiqih puasa, apakah kemudian kita membuka lagi kitab-kitab tentang berpuasa, atau mengikuti majelis-majelis ilmu yang diselenggarakan di masjid-masjid atau majelis ilmu yang lain atau webinar karena kondisi masih pandemi covid-19.

🔹3. Persiapan Al 'idath Al jasadi. Seorang muslim tidak akan mampu beribadah secara maksimal jika fisiknya sakit, oleh karena itu sudah selayaknya jika kita menjaga kesehatan fisik, rumah, masjid serta lingkungan.

Kesehatan fisik tentu saja diwujudkan dengan menjaga pola makan, keteraturan dalam hidup, olah raga, dan menjaga kebersihan.

Selain itu jika sakit, segera dideteksi penyakitnya dan mengkonsumsi obat yang sesuai untuk kesembuhan, menjaga kebersihan dan kesucian rumah, tempat ibadah dan lingkungan juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mewujudkan fisik yang sehat.

Jika kita dibulan Sya'ban ini telah melatih semua itu maka insyaa Alloh ﷻ fisik kita sudah siap menghadapi puasa dibulan Ramadhan.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ.....

"Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik, lebih dicintai Alloh ﷻ daripada mukmin yang lemah....." (HR. Muslim)

🔹4. Al 'idath Al Maali atau persiapan harta. Sarana penunjang lain yang harus disiapkan dibulan Ramadhan adalah materi yang halal untuk menabung dibulan Ramadhan. Orang saleh terdahulu biasa menabung 11 bulan untuk bekal menjalankan ibadah total Ramadhan sehingga Ramadhan dia bisa beribadah khusyuk.

Selain itu seorang muslim bisa jadi tidak harus berlebihan mencari harta dibulan Ramadhan. Persiapan finansial ini akan mendukung ibadah dibulan Ramadhan seperti sodaqoh, memberi buka pada yang berpuasa, membayar Zakat Fitrah, I'tikaf dan lain-lainnya. Maka, dengan persiapan materi yang cukup akan membuat kita khusyuk menjalankan semua itu. 

🔹5. Al 'Idath Al anshitah Romadhoniyah yaitu persiapan kegiatan Ramadhan. Tentu saja didalam Ramadhan itu kita ingin memanfaatkan dengan mengisi berbagai kegiatan selain kegiatan rutin yang selama ini sudah dijalankan kegiatan rutin itu bisa bekerja mencari nafkah, sholat 5 waktu, Sholat Dhuha.

Kegiatan yang bisa dilakukan sebagai sarana untuk menambah pahala dan menjadi kegiatan yang identik dibulan Ramadhan yang bisa kita lakukan antara lain adalah Sahur, berbuka, sholat tarawih, witir, Tadarus, I'tikaf. Bisa juga kita dibulan Ramadhan meningkatkan kapasitas diri kita dalam agama seperti mengkhatamkan Qur'an beberapa kali, Tahsin, Tahfidz atau yang lainnya, mengikuti kajian-kajian. 

Nah untuk itu, baiknya di planning (dibagi waktu), lokasi kegiatan, sarana, prasarana dan lainnya.

Bukti bulan Sya'ban inilah kita sudah mempersiapkan semua itu sehingga, ketika kita masuk bulan Ramadhan kita tidak perlu berlarian dalam berkemas dan sibuk menyusun kegiatan.

Supaya tidak berbenturan karena sudah saya siapkan dibulan Sya'ban, sehingga dibulan Sya'ban ini adalah bulan persiapan menghadapi Ramadhan.

Rekan-rekan yang dirahmati Alloh ﷻ, Abu Bakr Al-Balkhi mengatakan,

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.”

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ

Yang artinya "Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam."

وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ

Yang artinya "Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman."

وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

Yang artinya "Dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil."

Mari kita sudah memasuki bulan Rajab, sebentar lagi Sya'ban kemudian memasuki bulan Ramadhan.

Mari kita persiapkan diri kita untuk menghadapi bulan suci Ramadhan, semoga dibulan Ramadhan ini fadhillah-fadhillahnya bisa kita petik, dan kita menjadi hamba Alloh ﷻ yang bertakwa. Aamiin

Kurang lebihnya saya minta maaf.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        🌀TaNYa JaWaB🌀

0⃣1⃣ Phity ~ Yogja
Assalamu'alaykum ustadz...

Kalau tidak salah, salah satu sholat sunnah yang banyak pahalanya adalah sholat syuruf fajar ya, menjelang terbitnya matahari. Mohon dikoreksi kalau salah.

Bagaimanakah tata caranya? Bolehkan dilaksanakan di rumah? 

Jazzakallah

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Bimillahirrahmanirrahiim,

Salah satu sholat sunnah yang bayak pahalanya adalah sholat Syuruq Fajar (sholat sunnah isyraq) menjelang terbitnya matahari. Bagaimanakah tata caranya, bolehkah dilaksanakan dirumah?

Saya bacakan dari hadist shahih,

Dari Abu Umamah Radhiyallahu'anhu Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang mengerjakan sholat Subuh dengan berjama'ah di masjid lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksakan sholat sunnah Dhuha (maksudnya ini diawal waktu Dhuha) yaitu Syuruq, maka dia seperti mendapat pahala orang yang berHaji atau berUmrah secara sempurna."

Didalam hadist yang lain diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi (hadist hasan)

Dari Annas bin Malik Radhiyallahu'anh, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang melaksanakan sholat Shubuh secara berjama'ah lalu ia duduk sambil berdzikir kepada Alloh ﷻ hingga matahari terbit (waktu syuruq) kemudian dia melaksanakn sholat 2 rakaat pahalanya seperti dia melaksanakan Haji dan Umrah."

Dari sini keutamaan sholat sunnah Syuruq adalah mendapatkan pahala orang yang berhaji, berumrah secara sempurna. Dan Rasulullah ﷺ menyebut 3 kali.

Tata cara sholat Sunnah Syuruq adalah sholat Subuh berjama'ah di masjid, kemudian tidak meninggalkan masjid, berdiam di masjid atau berdzikir di masjid, sampai masuk waktu matahari terbit (yang disebut Syuruq). Kemudian dia sholat 2 rakaat.

Sehingga sholat subuh berjama'ah di masjid, berdiam di masjid, kemudian ketika matahari mulai terbit, maka dia sholat Sunnah 2 rakaat Isyraq atau Syuruq.

Sehingga kalau ditanyakan, bolehkah dilaksanakan dirumah? Berarti tidak boleh, karena syaratnya tidak terpenuhi. 

Wallahu a'lam

0⃣2⃣ Safitri ~ banten 
Assalamualaikum ustadz,

Ketika kita menjalankan ibadah puasa tapi kita lalai dalam menjalankan solatnya apa puasanya menjadi sia-sia kita tidak dapet apa-apa ibadah kita tidak sempurna?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahiim...

Memang Rasulullah ﷺ menyebut "Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga." (Imam Al Hakim -soheh)

Nah Imam Ghozali kemudian membagi puasa itu menjadi 3:

1) Puasa yang menahan diri sari segala sesuatu yang membatalkan puasa yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Maka itu disebut dengan puasanya orang awam, yang penting dia tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami-istri dari Subuh sampai Maghrib.

Nah itu puasanya orang awam. Ketika puasa itu kita malah meninggalkan sholat 5 waktu, maka puasa kita itu hakikatnya adalah menggugurkan kewajiban, jadi kita tidak dihitung berdosa karena tidak menjalankan puasa Ramadhan. Hanya itu saja, menggugurkan kewajiban, sehingga segala keutamaan, pahalanya berguguran.

Artinya, dia hanya tidak dicatat berbuat dosa karena tidak berpuasa.

2) Puasanya orang yang khusus, yaitu puasa yang meninggalkan makan-minum, dan berhubungan suami istri dari Subuh sampai Maghrib, dan juga menjaga Indranya. Panca Indranya dijaga dari hal-hal yang dilarang oleh Alloh ﷻ.

Disini sudah mulai menjalankan apa-apa, tentu saja menjaga segala sesuatu yang wajib dan kemudian menambah dengan segala sesuatu yang bersifat sunnah.

3) Puasanya orang khususnya khusus, puasanya orang yang lebih khusus lagi, adalah menjaga diri dari makan-minum, dan berhubungan suami istri dari Subuh sampai Maghrib dan juga menjaga Indranya dari segala sesuatu yang dilarang Alloh ﷻ dan ditambah menjaga hati. 

Maka mari kita jalankan puasa kita semoga kita tidak sekedar menggugurkan kewajiban dalam menjalankan puasa Ramadhan tetapi dapat menjalankan keutamaan-keutamaannya.

Wallahu a'lam

0⃣3⃣ Phity ~ Yogja
Ustadz, kalau bulan ramadhan kan katanya setan pada dibelenggu ya. Tapi kenapa tetap saja ada orang-orang yang malas beribadah padahal tahu pahalanya banyak, bahkan terang-terangan tidak shoum padahal muslim, muda dan sehat, ada juga orang-orang yang berbuat jahat, mencuri, korupsi, judi dan lain-lain. Itu kenapa ya ustadz?

🌀Jawab:
1. Bahwa yang menggoda manusia itu, berasal dari nafsu manusia itu sendiri. Nafsu itu akan mendorong manusia untuk berbuat jahat, cenderung kepada tanah.

2. Yang menggoda manusia itu Setan, Setan itu menggoda manusia, sesungguhnya Setan itu musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh.

Jadi ada 2 yang mendorong manusia berbuat jahat yaitu nafsunya sendiri dan godaan Setan. Godaan keduanya itu ada ketika diluar bulan Ramadhan. 

✓ Ketika masuk dibulan Ramadhan itu dibelenggu, artinya godaan Setan ditiadakan. Kalau orang itu ternyata masih malam beribadah, bahkan tidak berpuasa, kemudian berbuat jahat, mencuri, korupsi, judi dan lain-lain. Berarti orang itu sudah kalah dengan nafsunya sendiri.

Dia tidak digoda Setan, itu sudah tersesat, karena di bulan Ramadhan ternyata dia melakukan itu semuanya.

✓ Kedua, dia kalau berpuasa, setidak-tidaknya berusaha menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Ketika puasanya itu kualitasnya itu kualitas untuk melatih melawan hawa nafsu. Makanya, kenapa masih terjadi? Karena dia tidak kuat lagi menghadapi dirinya sendiri, menghadapi nafsunya sendiri, dia tidak bisa beralasan bahwa saya digoda oleh Setan.

Ternyata itu adalah nafsunya sendiri.

Nafsu itu tadi seharusnya bisa ditundukkan dengan puasa yang benar. Maka kalau dia masih malas beribadah dan berbuat jahat maka perlu di evaluasi puasanya.

Demikian.
Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
🌀CLoSSiNG STaTeMeNT🌀

Bismillahirrahmanirrahiim...

Memasuki bulan Rajab, kemudian setelah itu bulan Sya'ban, setelah itu masuklah bulan Ramadhan. Maka perlu kita ingat perkataan dari Abu Bkr Al waroq Al balkhi megatakan:

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.”

Maka mari kita mulai mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan.  

Sekarang bulan Rajab, dengan persiapan ini semoga Ramadhan kita akan membawa kita menjadi hamba Alloh ﷻ yang bertakwa, Ramadhan kita akan menyebabkan dosa-dosa kita yang lalu dihapus oleh Alloh ﷻ dan kita keluar dari dosa-dosa kita seperti saat kita keluar dari rahim Ibu kita.

Wallahu a'lam