Sabtu, 30 Januari 2021

LEMAHNYA JIWA




OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I.

   🌀M a T e R i🌀

Bertemu kembali dalam keindahan jiwa agar kuat jiwanya. 
Dan seperti apa jiwa yang lemah itu?

🌷LEMAHNYA JIWA

Manusia merupakan makhluk ciptaan Alloh ﷻ paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan lainnnya. Sudah sepantasnya manusia bersyukur atas karunia yang diberikan Alloh ﷻ tersebut. Manusia diberikan suatu kekuatan yang mendorong dan mengalahkan makhluk lainnya. Yakni kekuatan akal pikiran dan ruh yang tidak dapat dilihat secara langsung.

Begitu besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Alloh ﷻ kepada manusia. Namun banyak di antara mereka yang tidak mensyukuri pemberian Alloh ﷻ tersebut. Sehingga membuat mereka menjadi orang yang sombong karena merasa lebih segalanya dari mahluk lain.

Padahal sebenarnya, manusia itu adalah makhluk yang paling lemah dan pelupa.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَلْحَةَ الْتَمِسْ غُلَامًا مِنْ غِلْمَانِكُمْ يَخْدُمُنِي فَخَرَجَ بِي أَبُو طَلْحَةَ يُرْدِفُنِي وَرَاءَهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ (رواه البخارى)

“Dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Talhah: Carilah seorang anak kecil dari milikmu untuk melayaniku (selama kepergianku ke Khaibar). Abu Talhah keluar bersamaku dengan memboncengku. Saat itu aku adalah seorang anak kecil yang hampir baligh. Aku melayani Rasulullah ﷺ saat beliau singgah dan aku selalu mendengar Nabi banyak berdoa: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat  (jiwa) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang, dan dikuasai manusia." (HR. al-Bukhari).

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        🌀TaNYa JaWaB🌀

0⃣1⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum,

Tadz, bagaimana dengan jiwa-jiwa manusia sekarang yang sepertinya sudah banyak mati dan tidak peduli atau empati lagi dengan keadaan dan kondisi yang ada di sekitarnya?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Akalnya tidak berfungsi secara baik. Hanya nafsu yang bergelora, tidak dapat membedakan antara haq dan batil. Maka fungsikan akal dengan sebaiknya lewat memahami kalam suci ilahi bersama sumber ajaran Islam dan di aplikasikannya. 

🌸Banyak yang pintar tapi pintarnya mengalahkan akal dan nafsunya ya tadz, tapi pada keblinger hanya memenuhi hawa nafsu duniawi yang sesaat!

🌀Jadilah hamba yang cerdas. Menjadi hamba yang mulia akan dapat mengendalikan nafsu dan akalnya akan dapat berfungsi dengan baik. 

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
🌀CLoSSiNG STaTeMeNT🌀

Jiwa akan kuat bila selalu diisi dengan ibadah dan amal shalih. 

Wallahu a'lam

MEMULIAKAN AL QUR'AN






OLeH: Ustadz Abdillah N.R.

     🌀M a T e R i🌀

Alhamdulillah, kita panjatkan syukur kepada Alloh ﷻ yang telah memberikan kesehatan, luang, iman dan semangat dalam menuntut ilmu. 

Kemudian saya ucapkan terimakasih kepada Admin dan moderator yang sudah mengundang saya dan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi sedikit ilmu dengan kawan-kawan sekalian.

بسم الله الرحمن الرحيم 
الحمد لله رب العالمين 
الرحمن الرحيم
ملك يوم الدين له ملك السموات ولأرضين، يحيي و يميت، وهو حي لا يموت له إختلاف الليل والنهار  وهو يتولي الصالحين، وأشهد ان لا إله إلا الله، وحده لا شريك له شهادة بها نحيا و بها نموت و عليها نبعث يوم الدين، و أشهد أن محمداً عبده و رسوله الناصح الأمين، و قائد الغر المحجلين، بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة حتى أتاه اليقين
فصلوات ربي وسلامه عليه و على آلهالطيبين الطهرين و على أصحابه و التابعين و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. 
أما بعد

💎PENGERTIAN AL-QUR'AN SECARA ETIMOLOGI DAN TERMINOLOGI

Al-Qur’ān adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Alloh ﷻ yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. 

Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah ﷺ adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5
Bahasa: Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang." Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. 
ISTILAH : Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: “Kalam Alloh ﷻ yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah.”

Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: “Al-Qur'an adalah firman Alloh ﷻ yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas."

🔸Beriman Pada Al-Qur’an

Al Quran bagi setiap muslim merupakan bagian dari enam rukun Iman yang wajib di imani. Artinya seseorang patut disebut sebagai muslim jika menerima ke-enam rukun Iman tersebut menjadi bagian yang di imani pada dirinya. Jika menolak salah satunya atau terdapat ketidaksempurnaan dalam mengimani seluruhnya atau sebagiannya maka tidak pantas disebut sebagai mukmin. 

Berkaitan dengan keimanan terhadap Al Quran, boleh jadi seseorang telah memberikan pengakuan dalam keimanan terhadapnya, tetapi pengakuan saja tidak cukup karena menuntut pembuktian kejujurannya. Maka Al Quran itu sendiri menjelaskan ukuran-ukuran standar kesempurnaan iman terhadapnya yang harus dilaksanakan oleh orang-orang yang mengaku beriman agar memang benar-benar membuktikan keimanannya. Hal ini dijelaskan pada QS. Al Baqarah: 121 sebagai berikut:

"Orang-orang yang Kami datangkan al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan, merekalah yang beriman kepadanya dan barang siapa mengingkarinya maka mereka termasuk orang-orang merugi." (QS. Al Baqarah: 121).

Menurut ayat tersebut, bahwa mereka yang membaca kitab Alloh ﷻ, Al Quran dengan ‘haqqa tilawah’ yang menurut sebagian mufassir adalah maknanya membaca dengan sebenar-benar bacaan sebagaimana ketika ia diturunkannya (orisinalitas tertinggi) maka hal tersebut merupakan bukti keimanan kepada kitab tersebut. Jika tidak melakukannya maka termasuk mereka yang mengingkarinya dan menjadi orang-orang yang merugi dan binasa di akhirat nanti. Maka pemaknaan ayat tersebut mengindikasikan pentingnya setiap muslim untuk ‘tilawah Al Qur'an.

Adapun kata yang mengisyaratkan ‘membacanya’ pada ayat di atas yaitu ‘yatluunahu’ yang merupakan kata dasar dari ‘tilawah’ dalam bentuk jamak yang mengisyarakatkan perbuatan sedang, terus menerus atau berkesinambungan (rutin). Dengan demikian, tilawah Al Qur'an harus dilakukan secara terus menerus, rutin dan berkesinambungan sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah ﷺ agar setiap muslim mampu mengkhatamkan bacaan Al Qur'an pada setiap bulannya.

🔸Makna Tilawah Al Qur'an

Merujuk pada penggunaan kata dasarnya, tilawah pada awalnya bermakna ‘mengikuti’ sebagaimana dalam QS. Asy-syams, Alloh ﷻ berfirman:
   
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringi (mengikuti)nya." (QS. Assyams: 1-2)

Sinonim kata pada bahasa arab untuk makna tilawah adalah ‘tabi’a-yatba’u yang artinya sama yaitu mengikuti. Mengapa maknanya menjadi membaca? Makna tilawah menjadi membaca memiliki filosofi tersendiri. Jika kembali kepada arti asal katanya maka maksudnya adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti setiap huruf-demi huruf dengan segala tuntutan kesempurnaannya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, ini berarti membaca itu haruslah dengan benar sesuai dengan orisinalitas bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, dipraktikkan sahabatnya dan dipelihara oleh para pengikut sunnahnya yang setia.

2. Mengikuti apa yang dibaca baik perintah dan larangan serta instruksi-instruksi keimanan dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari sehingga nilai-nilai petunjuk Al Qur'an menjadi aplikatif dalam kehidupan.

3. Pengamalan tidak akan dapat tercapai kalau instruksi Al Qur'an  tidak dipahami oleh karena itu bacaan petunjuk itu agar dapat aplikatif dalam kehidupan maka menuntut pemahaman.

Dengan demikian, makna tilawah contohnya (Tahsin), dipahami (Tafhim) dan diaplikasikan dalam kehidupan (Tathbiq). Tentunya aktivitas ini harus dilaksanakan secara rutin, berkala dan berkesinambungan.

🔹KEISTIMEWAAN AL-QUR’AN

1. Tidak sah shalat seseorang kecuali dengan membaca sebagian ayat Al-Qur’an (yaitu surat Al-Fatihah) berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah." (HR. Bukhari-Muslim)

◼️2. Al-Qur’an terpelihara dari tahrif (perubahan) dan tabdil (penggantian) sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)

Adapun kitab-kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil telah banyak dirubah oleh pemeluknya.

◼️3. Al-Qur’an terjaga dari pertentangan atau kontrakdiksi (apa yang ada di dalamnya) sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Alloh ﷻ, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa’: 82)

◼️4. Al-Qur’an mudah untuk dihafal berdasarkan firman Alloh ﷻ:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran." (QS. Al-Qamar: 32)

◼️5. Al-Qur’an merupakan mu’jizat dan tidak seorangpun mampu untuk mendatangkan yang semisalnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menantang orang Arab (kafir Quraisy) untuk mendatangkan semisalnya, maka mereka menyerah (tidak mampu). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ

"Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya... " (QS. Yunus: 38)

◼️6. Al-Qur’an mendatangkan ketenangan dan rahmat bagi siapa saja yang membacanya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam suatu majelis kecuali turun pada mereka ketenangan dan diliputi oleh rahmat dan dikerumuni oleh malaikat dan Alloh ﷻ akan menyebutkan mereka dihadapan para malaikatnya." (HR. Muslim)

◼️7. Al-Qur’an hanya untuk orang yang hidup bukan orang yang mati berdasarkan firman Alloh ﷻ:

لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا

"Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya)." (QS. Yaasiin: 70)

Dan firman Alloh ﷻ:

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)

Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat dari ayat ini bahwa pahala bacaan Al-Qur’an tidak akan sampai kepada orang-orang yang mati. Karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit. Adapun bacaan seorang anak untuk kedua orang tuanya, maka pahalanya bisa sampai kepadanya, karena seorang anak merupakan hasil usaha orang tua.

◼️8. Al-Qur’an sebagai penawar (obat) hati dari penyakit syirik, nifak dan yang lainnya. Di dalam Al-Qur’an ada sebagian ayat-ayat dan surat-surat (yang berfungsi) untuk mengobati badan seperti surat al-Fatihah, an-Naas dan al-Falaq serta yang lainnya tersebut di dalam sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus :57)

Begitu pula dalam firman-Nya:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (ِQS. Al-Israa’: 82)

◼️9. Al-Qur’an akan memintakan syafa’at (kepada Alloh ﷻ) bagi orang yang membacanya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ 

"Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memohonkan syafa’at bagi orang yang membacanya (di dunia)." [HR. Muslim].

◼️10. Al-Qur’an sebagai hakim atas kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَأَنزَلْنَآإِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu." (QS. Al-Maidah: 48)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata sesudah menyebutkan beberapa pendapat tentang tafsir (مُهَيْمِنًا ): “Pendapat-pendapat ini mempunyai arti yang berdekatan (sama), karena istilah (مُهَيْمِنًا ) mencakup semuanya, yaitu sebagai penjaga, sebagai saksi, dan hakim terhadap kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mencakup dan sempurna, yang diturunkan sebagai penutup kitab-kitab sebelumnya, yang mencakup seluruh kebaikan (pada kitab-kitab) sebelumnya. Dan ditambah dengan kesempurnaan-kesempurnaan yang tidak (ada dalam kitab) yang lainnya. Oleh karena inilah Alloh ﷻ menjadikannya sebagai saksi kebenaran serta hakim untuk semua kitab sebelumnya, dan Alloh ﷻ menjamin untuk menjaganya." [Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal. 65]

◼️11. Berita Al-Qur’an pasti benar dan hukumnya adil. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

"Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya." (QS. Al-An ‘aam: 115).

Qatadah rahimahullah berkata: “Setiap yang dikatakan Al-Qur’an adalah benar dan setiap apa yang dihukumi Al-Qur’an adalah adil, (yaitu) benar dalam pengkhabaran dan adil dalam perintahnya, maka setiap apa yang dikabarkan Al-Qur’an adalah benar yang tidak ada kebohongan dan keraguan di dalamnya, dan setiap yang diperintahkan Al-Qur’an adalah adil yang tidak ada keadilan sesudahnya, dan setiap apa yang dilarang Al-Qur’an adalah bathil, karena Al-Qur’an tidak melarang (suatu perbuatan) kecuali di dalamnya terdapat kerusakan." Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

"Dia menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk." (QS. Al-A’raaf: 157) [Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal. 167]

◼️12. Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah-kisah yang nyata, dan tidak (bersifat) khayalan, maka kisah-kisah Nabi Musa bersama Fir’aun adalah merupakan kisah nyata. Firman Alloh ﷻ:

نَتْلُوا عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ

"Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar." (QS. Al-Qashash: 3)

Begitu pula kisah As-Haabul Kahfi merupakan kisah nyata. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya." (QS. Al-Kahfi: 13)

Dan semua apa yang dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur’an adalah haq (benar). Alloh ﷻ berfirman:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ

"Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar." (QS. Ali-Imran: 62)

◼️13. Al-Qur’an mengumpulkan antara kebutuhan dunia dan akhirat. Alloh ﷻ berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ ولاَتَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآأَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh ﷻ kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagian mu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Alloh ﷻ telah berbuat baik kepadamu." (QS. Al-Qashash: 77)

◼️14. Al-Qur’an memenuhi semua kebutuhan (hidup) manusia baik berupa aqidah, ibadah, hukum, mu’amalah, akhlaq, politik, ekonomi dan. permasalahan-permasalahan kehidupan lainnya, yang dibutuhkan oleh masyarakat. Alloh ﷻ berfirman:

مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ

"Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab." (QS. Al-An’aam: 38)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An-Nahl: 89)

Al-Qurthubi berkata dalam menafsirkan firman Alloh ﷻ

 (مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ ) 

Tiada lah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab (Al-An’aam: 38): “Yakni di dalam al-Lauh al-Mahfud. Karena sesungguhnya Alloh ﷻ sudah menetapkan apa yang akan terjadi, atau yang dimaksud yakni di dalam Al-Qur’an yaitu Kami tidak meninggalkan sesuatu pun dari perkara-perkara agama kecuali Kami menunjukkannya di dalam Al-Qur’an, baik penjelasan yang sudah gamblang atau global yang penjelasannya bisa didapatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , atau dengan ijma’ ataupun qias berdasarkan nash Al-Qur’an.” [Juz 6 hal. 420].

Kemudian Al-Quthubi juga berkata: “Maka benarlah berita Alloh ﷻ, bahwa Dia tidak meninggalkan perkara sedikitpun dalam Al-Qur’an baik secara rinci ataupun berupa kaidah."

Ath-Thabari berkata dalam menafsirkan ayat

 (وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ) 

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS. An-Nahl: 89): “Al-Qur’an ini telah turun kepadamu wahai Muhammad sebagai penjelasan apa yang dibutuhkan manusia, seperti mengetahui halal dan haram dan pahala dan siksa. Dan sebagai petunjuk dari kesesatan dan rahmat bagi yang membenarkannya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, berupa hukum Alloh ﷻ, perintah-Nya dan larangan-Nya, menghalalkan yang halal mengharamkan yang haram. …Dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri …… beliau berkata: “dan sebagai gambar gembira bagi siapa saja yang ta’at kepada Alloh ﷻ dan tunduk kepada-Nya dengan bertauhid dan patuh dengan keta’atan, maka Alloh ﷻ akan berikan kabar gembira kepadanya berupa besarnya pahala di akhirat dan keutamaan yang besar." [Juz 14 hal. 161].

◼️15. Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia dan jin. 

Adapun (pengaruh yang kuat terhadap) manusia maka banyak kaum musyrikin pada permulaan Islam yang terpengaruh dengan Al-Qur’an dan merekapun masuk Islam. Sedangkan di zaman sekarang, saya pernah bertemu dengan pemuda Nasrani yang telah masuk Islam dan dia menyebutkan kepadaku bahwa dia terpengaruh dengan Al-Qur’an ketika ia mendengarkan dari kaset. Adapun (pengaruh yang kuat terhadap) jin, maka sekelompok jin telah berkata:

قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا {1} يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَئَامَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا

"Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Rabb kami." (QS. Al-Jin : 1-2)

Adapun orang-orang musyrik, banyak diantara mereka yang terpengaruh dengan Al-Qur’an ketika mendengarnya. Sehingga Walid bin Mughirah berkata: “Demi Allah, ini bukanlah syair dan bukan sihir serta bukan pula igauan orang gila, dan sesungguhnya ia adalah Kalamullah yang memiliki kemanisan dan keindahan. Dan sesungguhnya ia (Al-Qur’an) sangat tinggi (agung) dan tidak yang melebihinya." [Lihat Ibnu Katsir juz 4 hal 443].

◼️16. Orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan adalah orang yang paling baik. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

◼️17. Orang yang mahir dengan Al-Qur’an bersama malaikat yang mulia.

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ 

"Orang yang mahir dengan Al-Qur’an bersama malaikat yang mulia, sedang orang yang membaca Al-Qur’an dengan tertatih-tatih dan ia bersemangat (bersungguh-sungguh maka baginya dua pahala." (HR. Bukhari-Muslim) 

Arti As-Safarah = para malaikat.

◼️18. Alloh ﷻ menjadikan Al-Qur’an sebagai pemberi petunjuk dan pemberi kabar gembira. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (QS. Al-Isra: 9)

◼️19. Al-Qur’an menenangkan hati dan memantapkan keyakinan. Orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah tanda (mukjizat) yang paling besar yang menenangkan hati mereka dengan keyakinan yang mantap. Alloh ﷻ berfirman:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Alloh ﷻ. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh ﷻ hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Rad: 28)

Maka apabila seorang mukmin ditimpa kesedihan, gundah gulana, atau penyakit, maka hendaklah ia mendengarkan Al-Qur’an dari seorang Qari’ yang bagus suaranya, seperti al-Mansyawi dan yang lainnya. Karena Rasulullah Shalalllahu 'alaihi wa sallam bersabda:

حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حَسَنًا

"Baguskan (bacaan) Al-Qur’an dengan suaramu maka sesungguhnya suara yang bagus akan menambah keindahan suara Al-Qur’an." (Hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’ karya Al-Albani rahimahullah)

◼️20. Kebanyakan surat-surat dalam Al-Qur’an mengajak kepada tauhid, terutama tauhid uluhiyah dalam beribadah, berdo’a, minta pertolongan. 

Maka pertama kali dalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Fatihah, engkau dapati firman Alloh ﷻ:
 
(إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) 

“Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu dan kami tidak minta pertolongan kecuali kepada-Mu.” Dan di akhir dari al-Qur’an yaitu surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, engkau jumpai tauhid nampak sekali 
dalam firman-Nya: 

(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ).

"Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlash: 1), dan:

(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) 

"Katakanlah "Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai subuh." (QS. Al-Falaq: 1) dan:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

"Katakanlah, "Aku berlindung kepada Rabb manusia." (QS. An-Naas:1)

Dan masih banyak ayat tauhid di dalam surat-surat Al-Qur’an yang lain. Di dalam surat Jin engkau baca firman Allah Azza wa Jalla :

قُلْ إِنَّمَآ أَدْعُوا رَبِّي وَلآ أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya." (QS. Al-Jin: 20)

Juga di dalam surat yang sama Alloh ﷻ berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Alloh ﷻ. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Alloh ﷻ." (QS. Al-Jin: 18)

◼️21. Al-Qur’an merupakan sumber syari’at Islam yang pertama yang Alloh ﷻ turunkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kufur, syirik dan kebodohan menuju cahaya keimanan, tauhid dan ilmu. Alloh ﷻ berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

"Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 14)

◼️22. Al-Qur’an memberitakan perkara-perkara ghaib yang akan terjadi, tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

"Golongan itu (yakni kafirin Quraisy) pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang." (QS. Al-Qamar: 45)

Dan sungguh orang-orang musyrik telah kalah dalam perang Badar, mereka lari dari medan peperangan. Al-Qur’an (juga) banyak memberitakan tentang perkara-perkara yang ghaib, kemudian terjadi setelah itu.

Barang siapa hendak memuliakan Al Qur'an, maka muliakan lah ia dengan cara berinteraksi dengannya.

🔹ENAM CARA BAGAIMANA KITA BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR'AN

1) At-Tadabbur (Mentadabburi al-Quran). Sebagaimana firman Alloh ﷻ:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Al-Quran bukanlah buku bacaan yang hanya dibaca tanpa adanya pentadabburan atau perenungan dari orang yang membacanya. Namun inilah yang terjadi dimasyarakat kita sekarang, mereka hanya membaca Al-Quran dengan mulutnya saja tanpa direnungkan dalam hatinya apa makna dan hikmah dalam ayat atau surat yang mereka baca. Oleh karena itu kebanyakan masyarakat sekarang masih tidak mampu dalam mengendalikan dirinya khususnya dalam akhlak mereka, karena Al-Quran bagi mereka hanyalah seperti angin lewat yang tidak ada dampak, bekas atau fungsi apapun yang dapat merubah dan memajukan diri orang yang membaca kalam Alloh ﷻ itu.
Rumah yang terkunci, lemari yang terkunci, jendela yang terkunci atau segala sesuatu yang terkunci, apakah kita bisa masuk atau memasukkan sesuatu kedalamnya dalam keadaaan terkunci seperti itu?, Tentu jawabannya tidak. Begitupun dengan hati yang terkunci yang meskipun dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Quran atau hadis-hadis Nabi, tapi karena hatinya telah terkunci, maka ayat-ayat dan hadis Nabi yang disampaikan kepadanya tidak akan berpengaruh terhadap perubahan kehidupannya. Sama halnya dengan mereka yang membaca Al-Quran hanya menggunakan lisannya saja tanpa menggunakan hatinya untuk mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya.

2) At-tadzakkur (mengingat atau mempelajarinya), sebagaimana firman Alloh ﷻ:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِر  ﴿١٧﴾

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Al-Quran adalah kitab yang jelas kebenarannya dan mudah dimengerti (masuk akal) dalam kisah-kisah atau pelajaran-pelajaran yang terdapat didalamnya. Maka semua pelajaran atau kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran merupakan pengajaran Alloh ﷻ kepada umat manusia agar dapat terlepas dari kesesatan-kesesatan atau ketidak mengertian hidup di dunia yang fana ini menuju hidayah dan cahaya Alloh ﷻ.
Dalam membaca Al-Quran tidak boleh kosong dari pelajaran, akan tetapi dalam membaca Al-Quran tentu kita harus dibarengi dengan mempelajarinya. 
Para sahabat pada zaman Nabi ﷺ tidak pernah membaca Al-Quran kecuali mereka membaca untuk mempelajarinya, bahkan dalam sirah nya Nabi ﷺ mengajarkan Al-Quran kepada para sahabatnya tidak banyak-banyak tapi hanya sepuluh ayat-sepuluh ayat hingga para sahabat mempelajari dan memahami makna yang terkandung dalam ayat itu, barulah Nabi mengajarkan sepuluh ayat berikutnya dan harus kita ketahui bahwa dalam pengajarannya tersebut Rasulullah ﷺ tidak mewajibkan untuk menghafalnya, akan tetapi beliau hanya fokus dalam mengajarkan makna dan hikmah yang ada dalam ayat tersebut.

3) Al-isti’adzah qobla al-qira’ah (membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Quran), sebagaimana firman Alloh ﷻ:

 فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾

“Apabila kamu membaca Al Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Alloh ﷻ dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Merupakan dari ciri karakter setan adalah mereka senantiasa berusaha dalam memalingkan dan menghalang-halangi kita dari amalan-amalan shaleh yang akan mendekatkan kita kepada Alloh ﷻ sebagimana yang telah diakui oleh setan itu sendiri yang diabadikan oleh Alloh ﷻ:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾

“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS. Al-A’raf: 16)

Dari ayat di atas maka jelaslah bawa setan telah mengatakan sendiri bahwa ia akan selalu menghalang-halangi manusia dari perbuatan baik termasuk didalamnya adalah ketika seseorang  mempelajari Al-Quran. Oleh karena itu Alloh ﷻ memerintahkan kepada kita agar mengucapkan ta’awwudz sebelum membaca dan mempelajari Al-Quran sebagai tameng bagi diri kita dari gangguan setan yang terkutuk.

4) Al-istimaa wa al-inshath (mendengarkan dan berdiam ketika dibacakan Al-Quran), sebagaimana firman Alloh ﷻ:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٢٠٤﴾

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-‘Araf: 204)

Dalam mendapatkan hidayah atau petunjuk seseorang tidak hanya karena ia sering membaca Al-Quran saja, akan tetapi mungkin dan banyak terjadi seseorang yang mendapatkan hidayah justru karena ia mendengarkan ayat-ayat Alloh ﷻ dari mulut orang lain, Sebagai contoh adalah Umar bin Khattab yang mana ia adalah seorang yang keras dan sangat membenci Rasulullah ﷺ, namun ketika ia mendengarkan Al-Quran dari adiknya sendiri ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Rasulullah ﷺ bahkan akhirnya ia menyatakan keIslamannya kepada Rasulullah ﷺ.

Maka itulah salah satu hikmah yang sangat berharga ketika kita mendengar Al-Quran lantas kita mendengarkannya dengan khidmat dan penuh perhatian. Jangan sampai kita berlaku sebaliknya, ketika ada seseorang yang membaca Al-Quran kita malah mengganggu orang tersebut dengan menyetel lagu-lagu yang bervolume sangat keras ataupun dengan gangguan-gangguan lain. Maka sungguh perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dihadapan Alloh ﷻ atau dihadapan manusia.

5) I’timadu at-tartil (memprioritaskan  pembacaannya dengan tartil), sebagaimana firman Alloh ﷻ:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ﴿٤﴾

“Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-muzammil: 4)

Membaca dengan tartil, artinya dalam membaca Al-Quran tidak seharusnya kita tergesa-gesa sehingga dapat merusak bacaan kita dari kaidah-kaidah tajwid makhorijul huruf dan panjang pendeknya yang mana kita ketahui bahwa Al-Quran adalah berbahasa arab yang apabila dalam membacanya ada satu huruf saja yang tidak terbaca atau makhorijul hurufnya salah, maka kemungkinan besar maknanya akan berbeda dengan yang diharapkan oleh sang pemilik Al-Quran tersebut yaitu Alloh ﷻ.

Membaca Al-Quran dengan tartil juga dapat menolong kita dalam memahami Al-Quran secara jeli dan teliti sehingga tiap kalimat yang kita baca akan meresap dan membekas dalam hati dan jiwa kita. Dengan pembacaan yang tartil, kita juga dapat terhindar dari ketertinggalan makna kalimat dari ayat yang kita baca yang dapat menjadikan kita kurang paham terhadap ayat tersebut, namun hal tersebut tidak akan terjadi jika dalam membacanya kita memikirkan kata-perkata atau kalimat per kalimat secara tartil.
Dan sabda Rasulullah ﷺ
:
حَدَّثنا سلمة بن شَبِيب ، حَدَّثنا عَبد الرزاق ، حَدَّثنا عَبد الله بن المحرر ، عَن قَتادة ، عَن أَنَسٍ ، قال : قال رَسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم : لكل شيء حلية وحلية القرآن الصوت الحسن

“Telah menceritakan kepada kami Salmah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Abdu a-Razzaq, telah menceritakan kepada kami abdullah bin al-Muharrar dari Qotadah, dari Anas, ia berkata (bahwa) Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘setiap sesuatu itu memiliki warna dan warnanya Al-Quran adalah (pembacaannya dengan) suara yang bagus.”

6) Ar-ruju ila ahli adz-dzikri (kembali kepada ahli ilmu), sebagaimana firman Alloh ﷻ:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٤٣﴾

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-nahl: 43)

Yang dimaksud dengan ahli ilmu di sini adalah mereka yang memahami ilmu-ilmu tentang Al-Quran dengan segala seluk beluknya, yang mana kita diperintahkan untuk mengembalikan atau bertanya kepada mereka tentang makna-makna atau dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Quran yang belum kita pahami. Jadi jangan sampai kita menafsirkan Al-Quran dengan ilmu kita yang terbatas, sehingga tidak memperhatikan prinsip-prinsip dalam menafsirkan sebuah ayat Al-Quran.

Dan firman Alloh ﷻ:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ﴿٧﴾

“Tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Alloh ﷻ. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya…” (QS. Ali Imran: 7)

Ayat ini juga merupakan penegasan bagi kita agar kita senantiasa bertanya kepada yang mendalami ilmu tentang Al-Quran  ketika kita mendapatkan ayat Al-Quran yang tidak kita pahami makna dan tujuan yang terkandung didalamnya sehingga kita tidak keliru dalam memahami ayat tersebut.
Para ulama berbeda berpendapat dalam memahami siapakah yang dimaksud dengan ar-Rasihuna fi al-ilmi dalam ayat tersebut, namun pendapat yang lebih dekat adalah mereka yang merupakan golongan para sahabat dan keluarga Rasulullah ﷺ (ahlul bait) yang mana mereka mengambil ayat-ayat tersebut murni langsung dari Nabi ﷺ. Namun dari sana kita bisa mengambil faidah, dikarenakan kita tidak menemukan mereka lagi dalam artian kita sudah berbeda zaman dengan masa Nabi, maka tentu kita harus bertanya kepada orang yang lebih mengetahui dibandingkan kita, yaitu kepada mereka yang selalu mendalami ilmu-ilmu Al-Quran.

Inilah 6 cara bagi kita memuliakan Al Qur'an. 
Ya'ni membacanya, tadabbur, tadzkkur, isti'adzah qoblal qiro'ah, al istimaa wal inshath, i'timadut tartil, ar ruju ila ahli dzikri, al amalu bihi (beramal dengannya), wa da'watu ilahi (dan berdakwah berdasarkan ia atau mengajarkannya). 

Wallohu a'lam. 

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        🌀TaNYa JaWaB🌀

0⃣1⃣ Anjar ~ Sidoarjo
Saya punya 2 Al Qur'an. Satu disimpan terus tanpa dibaca, jadi masih bagus seperti baru.
Satunya lagi sampai di lem, di isolatif, karena sering dibaca, banyak rusaknya.

Pertanyaan saya, apa cara ini benar dalam memuliakan Al Qur'an?

🌀Jawab:
Sebaiknya Al Qur'an yang tidak dipakai diwakafkan saja, Ukhti. Maka pahala melimpah akan anti dapatkan. 

Alhamdulillah ini merupakan salah satu diantara bentuk memuliakan Al Qur'an, yakni membacanya. 

Untuk lengkapnya cara memuliakan Al Qur'an, silahkan dibaca dan difahami kembali terkait 6 cara berinteraksi dengan Al Qur'an yang sudah saya post-kan. 

Baarokallohu fiik.

0⃣2⃣ Phity ~ Jogja
Assalamu'alaykum, Ustadz

1. Tadi dikatakan, kalau tidak sah shalat seseorang jika tidak dibacakan Al Fatihah.

Nah, bagaimana kalau pas sholatnya tidak khusyuk. Ragu-ragu sudah membaca Al Fatihah atau belum setelah iftitah, nah pada saat membaca surat pendek ragu-ragu sudah baca Al Fatihah atau belum ya.

Apakah sah, jika membaca Al Fatihah setelah surat pendek? Atau baiknya mengulangi lagi sholat tersebut?

2. Kalau kita sedang haid, apakah boleh belajar menulis Al Qur'an dan hafalan? Atau hanya boleh murojaah saja, Tadz?

Jazzakallah, Tadz.

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

1. Hendaknya bagi kita yang akan sholat untuk isti'adzah terlebih dahulu. Kemudian hadirkan hati dan pikirkan fokuskan pada sholat kita atau pada hari hisab nanti. 

Kemudian hendaknya pada saat sholat diiringi dengan tadabbur agar kita terhindar dari godaan setan. 

Dan terkait hal seperti di atas maka hendaknya dia mengulang sholatnya. Dan jauhkan segala sesuatu yang bisa menggangu kekhusyu'an sholat. 

Wallohu a'lam. 

2. Boleh. 
Ulama berbeda pendapat. Dan saya lebih memilih pendapat yang membolehkannya. In syaa Alloh lebih kuat juga dari segi pendalilannya. 

Wallohu a'lam.

0⃣3⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum

1. Ustadz, bagaimana menumbuhkan kecintaan atau mencintai Al Qur'an di saat usia sudah mendekati senja? 

2. Mengapa Ustadz ayat-ayat dalam Al Qur'an sering sama dan berulang?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

1. Untuk mencintai Al Qur'an tidak ditentukan oleh usia, muda ataupun tua. 

Siapapun bisa mencintainya. Untuk dapat mencintai Al Qur'an maka hendaknya kita sering berinteraksi dengan al Qur'an. Agar semakin dekat dan semakin mengenalnya, dan memohon kepada Alloh ﷻ agar diberikan kecintaan terhadap Al Qur'an. 

Silahkan ibu perbanyak waktu untuk membaca Al Qur'an, baca arti tiap ayat yang dibaca dan tadabbur meskipun sehari 1 ayat yang di tadabburi. Serta bertemanlah dengan orang-orang sholeh atau sholehah yang sering berinteraksi dengan Al Qur'an. 

In syaa Alloh, Alloh ﷻ mudahkan untuk mencintai Al Qur'an dan Islam. 

2. Itu menunjukkan betapa pentingnya ayat itu, dan mengingatkan kita yang sering lalai.

Wallohu a'lam.

0⃣4⃣ Tetty ~ Malang
Jika membaca Al-Qur'an melalui HP bagaimana, Ustadz....?

🌀Jawab:
Boleh, bu. 

Cuma biasanya kurang khusyu'. Sebab pada saat asyik baca Al Qur'an, tidak lama berdenting WA, SMS, telpon atau pemberitahuan lainnya. 

Jadi sebaiknya tetap menggunakan mushaf. 

Wallohu a'lam.

0⃣5⃣ Mila ~ Tegal
Materinya luar biasa ustadz. Banyak mengingatkan diri Mila pribadi. 

Perihal membaca Al-Quran degan tartil.
Kalau kita sedang belajar dengan guru, Mila diingatkan kaidah tajwidnya. Sedang kalau sedang tilawah sendiri sukanya terburu-buru penginnya cepat selesai. Adakah tips agar konsisten membaca dengan tartil?

🌀Jawab: 
Selalu ingat pesan guru ngajinya. Jangan terburu-buru dan ikuti kaidah tajwid. 

Sebab tajwid itu penting, Ukhti. Tetap sabar. Semoga Alloh ﷻ mudahkan.

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
 🌀CLoSSiNG STaTeMeNT🌀

Bismillah... 
Sebagai kata penutup, maka dekatkanlah diri kita dengan Al Qur'an, sebab ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa'at kepada orang-orang yang senantiasa dekat atau berinteraksi dengannya.

Jangan tinggalkan Al Qur'an, supaya Al Qur'an tidak meninggalkan kita pada hari kiamat kelak. 

Jadilah ahlul Qur'an agar Alloh ﷻ mencintai kita, dan surga merindukan kita. Ingatlah surga senantiasa menghiasi dirinya setiap hari guna menyambut orang-orang yang memuliakan dan berpegang teguh pada Al Qur'an. 

Ikhwati fillah rohimani wa rohimakulloh. Seberat apapun dan sesulit apapun tetaplah luangkan waktu untuk bermesraan dengan Al Qur'an. Maka dengannya Alloh ﷻ tumbuh kembangkan iman kita. 

Wallohu a'lam.

BANGKRUT KARENA LISAN

 


OLeH: Ibu Irnawati Syamsuir Koto

  💎M a T e R i💎

Segala puji hanya untuk Alloh ﷻ yang telah memberi cahaya iman Islam kedalam jiwa kita, yang akan membawa keselamatan diakhirat kelak. Sholawat dan salam tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Sahabat-sahabatku...

Lisan merupakan anugerah yang diberikan kepada umat manusia. Meski lisan membawa manfaat dan memudahkan dalam berkomunikasi, keberadaannya mesti sejalan dengan prinsip kehati-hatian. Lisan juga bisa menjadi sumber petaka. Banyak orang yang masuk neraka dikarenakan perkataannya. "Lisan adalah anggota tubuh yang paling elastis. Tidak bertulang. Diciptakan tanpa tulang sehingga mudah digerakkan. Namun, seringnya kita melupakan apa-apa saja yang sudah kita ucapkan dan katakan."

Lisan merupakan nikmat yang didatangkan oleh Alloh ﷻ. Dengan lisan, manusia bisa merasakan nikmatnya berbicara. Namun, ketika diberi nikmat berbicara, ada tanggung jawab yang juga harus dipikul oleh manusia. Setiap kata-kata yang diucapkan oleh manusia akan dicatat oleh malaikat.

Alloh ﷻ dalam QS. Qaaf ayat 16-18 berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya", '(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri.' 'Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir'."

Dalam surat itu disebut bahwa semua perkataan yang dikeluarkan oleh manusia dicatat oleh malaikat. 

Keluhan dan aduan pun dicatat. Inilah yang menjadi pertanggungjawaban dari ucapan yang telah diucapkan.

Kaum Muslimin hendaknya bisa berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. 

Apapun yang akan diucapkan harus diperhatikan apakah membawa manfaat dan baik atau tidak. 

Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Alloh ﷻ dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam." 

Berbicara yang baik berarti membicarakan hal yang benar dan membawa manfaat. Ada kata-kata yang benar tapi tidak bermanfaat. Contohnya ghibah, yang bisa jadi benar namun tidak membawa manfaat.

Ada pula kata-kata yang membawa manfaat tapi tidak benar. Contohnya orang yang berdusta atas nama Nabi ﷺ untuk menyemangati orang melakukan ibadah. Biasanya dibuat hadis-hadis palsu, seperti membaca ayat A akan membawa manfaat B, agar makin banyak orang membaca Al Qur'an, padahal Nabi ﷺ tidak pernah menyatakan demikian. "Hisabnya berat,"

Saat hari akhir nanti, semua anggota tubuh akan menuntut lisan atas perbuatannya di dunia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi, Uqbah bin Amir berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Ya Rasulullah apakah keselamatan itu?' Beliau menjawab, 'Selamat itu ada tiga perkara. Pertama jaga lisanmu, kedua tangisi kesalahanmu, dan ketiga hendaknya kamu betah di rumahmu'."

Nabi juga pernah ditanya oleh seseorang dari Arab Badui. Ia berkata, "Ya Rasul beri aku sebuah wasiat, tapi jangan panjang-panjang." Nabi pun menjawab, "Janganlah kamu berbicara de ngan satu perkataan yang membuat kamu nantinya harus me minta maaf. Jika kamu berdiri shalat maka lakukanlah seolah-olah itu shalat terakhirmu. Dan jangan berambisi atas apa yang ada di tangan orang lain."

Menarik ucapan yang telah dikeluarkan itu berat. Sama seperti menelan ludah atau muntah yang telah kita keluarkan. Banyak orang yang keseleo lidah, tapi ketika diminta untuk meminta maaf ia tidak mau, bahkan mengingkari jika pernah berkata demikian.

"Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji atau jorok, dan kotor.” (HR. Ahmad 1/416; shahih).

Hendaknya kita berhati-hati menjaga lisan kita di dunia nyata dan menjaga tulisan serta komentar kita di dunia maya. Karena tulisan ini kedudukannya sama dengan ucapan lisan. Sebagaimana kaidah:

“Tulisan (hukumnya) sebagaimana lisan.”

Ketika lisan suka mencaci, mencela, melaknat, ghibah dan berkata-kata kotor kepada orang lain, ini sama saja kita akan “bagi-bagi pahala gratis” kepada mereka kemudian kita akan bangkrut. Mengapa demikian? Karena dengan lisan dan tulisan kita, mereka yang kita cela dan caci-maki adalah pihak yang kita dzalimi. Jika kita tidak meminta maaf di dunia, maka urusan akan berlanjut di akhirat.

Di akhirat kita tidak bisa meminta maaf begitu saja, akan tetapi ada kompensasinya. Kompenasi tersebut bukan uang ataupun harta. Karena ini sudah tidak bermanfaat di hari kiamat.

Alloh ﷻ berfirman, “Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh ﷻ dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa`: 88-89).

Adapun kompensasi jika kita tidak bisa menjaga lisan di dunia nyata atau maya, adalah : 

★ Jika punya pahala kebaikan seperti pahala shalat dan puasa, maka akan dibagi-bagikan kepada mereka yang didzalimi di dunia dan belum selesai perkaranya artinya belum ada maaf dan memaafkan.

★ Jika yang mendzalimi (mencela dan memaki) sudah habis pahalanya, maka dosa orang yang di dzalimi akan ditimpakan dam diberikan kepada orang yang mendzalimi.

Inilah yang disebut dengan orang yang bangkrut atau “muflis” di hari kiamat berdasarkan hadits, “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Saudariku...
Seringkali lisan ini tergelincir mengucapkan kata-kata kotor, mencela orang lain, membicarakan orang lain padahal dia tidak senang untuk diceritakan, bahkan seringkali lisan ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kesyirikan dan kekufuran.

Harusnya setiap muslim mengoreksi diri dalam setiap tingkah lakunya, apalagi dalam perkara lisannya, yang begitu ringan mengucapkan sesuatu karena keluar dari lidah yang tidak bertulang.

Ingatlah saudariku, setiap yang kita ucapkan, mencakup perkataan yang baik, yang buruk juga yang sia-sia akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saat mengawasi kita. 

Seharusnya kita selalu merenungkan sebelum berucap agar tidak serampangan mengeluarkan kata-kata dari lisan ini.

Wallahu a'lam

Demikian dari saya malam ini, semoga jadi bahan renungan untuk kita semua. 

Majlis saya kembalikan ke Nduk Hanny yang sudah mendampingi saya malam ini.

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        💎TaNYa JaWaB💎

0️⃣1️⃣ Neng Ella ~ Bandung
Mam's Irna, bagaimana caranya mengkontrol lisan kita agar selalu bicara yang baik. Kadang lisan ini tidak bisa dikontrol. Kadang bisa dengan mama suka (Parea Omong) beradu komentar. 

Apakah ada amalan yang bisa dipakai agar lisan kita selalu terjaga? 

🌸Jawab:
Lisannya dihiasi dengan istighfar dan dzikir, serta sholawat. 

Belajar menahan diri untuk bicara sesuatu yang tidak penting, menahan diri dari bicara yang mengandung mudharat. Belajar bersabar. 

Racun lisan itu amat berbahaya. Jika diperturutkan akan membuat kita rugi dunia akhirat. Ingat saja ancaman bahwa jika berurusan dengan manusia, maka kita wajib minta maaf ke yang bersangkutan, jika tidak didunia maka akan dilakukan di akhirat. Amalan kita belum tahu seberapa yang diterima, jangan sampai habis dan malah menombok dengan amalan buruk orang yang kita dzalimi lewat lisan kita.

Maka hati-hatilah dengan lisan. 

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Dwie ~ Bondowoso
Maaf bunda Irna, profesi saya guru. Kembali sebelum pandemi kita masih mengajar tatap muka dengan siswa, terkadang sebenarnya kita ingin didik baik pada siswa. Karena saya orangnya agak keras meski hati ini kadang ingin yang terbaik untuk siswa terkadang lisan ini keluarnya seperti orang marah-marah, yang ada beberapa siswa sampai tidak berani pada saya. 

Namun sebenarnya niat saya baik, mungkin karena banyak kasus di sekolah selalu diserahkan pada saya oleh guru lain, sehingga saya harus keras pada beberapa siswa. Apa saya ini termasuk TIDAK bisa menjaga lisan njih bunda? 

🌸Jawab:
Seharusnya sebagai seorang pendidik, kita tahu yaa, adakalanya kita harus tegas, bukan keras, karena dengan keras tidak akan membuat sesuatu baik, bahkan akan ada yang tidak suka, bahkan dendam nantinya. Tapi yang diperlukan adalah ketegasan. Sehingga mereka paham, bahwa yang kita inginkan adalah kebaikkan untuk mereka. 

Apalagi niat yang baik semestinya dijalankan dengan cara yang baik dan ahsan. 

Sementara marah-marah bukanlah sesuatu yang ahsan, meski itu kepada anak-anak kita. 

Jadi sebaiknya caranya diubah. 

Wallahu a'lam

🔹Tapi biasanya setelah saya keras nada bicaranya, saya langsung minta maaf bunda.

🌸Semoga mereka memaafkan dengan ikhlas. Karena tersakiti oleh lisan itu tidak akan hilang begitu saja. 

🔹Aamiin, saya memang terus belajar untuk lebih sabar lagi bunda.

Saya ingin lepas dari Waka kesiswaan itu karena menghindari marah itu. Jadi mungkin dengan saya TIDAK menjabat saya bisa lebih sabar lagi menghadapi permasalahan siswa yang komplek. 

Apa yang harus saya lakukan untuk menebus semuanya bunda. Terus terang saya benar-benar ingin lebih baik lagi menjadi pendidik. 

🌸Mungkin bisa dengan merubah cara, lekukan pendekatan dari hati ke hati. Itu akan lebih mengena daripada berbicara dengan tampang sangar dan nada yang tidak mengenakkan. 

Meminta maaf kepada mereka yang pernah tersakiti. 

Urusan dengan manusia tidak bisa ditukar dengan meminta ampun kepada Alloh ﷻ.

🔹Waduh muridnya banyak bunda,saya juga TIDAK tahu siapa yang pernah tersakiti.

0️⃣3️⃣ iNdika ~ Semarang
1. Terkadang orang lebih suka mencaci maki daripada mencari tahu kebenaran, kita yang mendengar saja kadang sakit hati, apalagi yang dicaci. Apa yang harus kita lakukan buat menegur orang suka mencaci maki?

2. Ada orang yang bersumpah bahwa apa yang dikatakannya benar. Apabila yang terjadi sebaliknya, dia akan menerima hukuman. Nah, ternyata dia salah & tidak mau melaksanakan hukuman, dia mengganggap tidak terjadi apa-apa. Apakah dia tidak dihukum di dunia?

🌸Jawab:
1. Menegur dan menasihati seseorang harus dilakukan dengan ahsan, bukan ditempat yang ada orang lain di sana, dan jangan menjatuhkan harga dirinya.

2. Wallahu a'lam, jikapun dia tidak dihukum di dunia, hukuman di akhirat pasti menunggunya. Jadi tidak perlu risau, hukuman di akhirat lebih dahsyat daripada hukuman didunia. 

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ Fadhila ~ Padang
Bu, jika kita sedang bergurau bersama rekan-rekan sejawat, lalu kita melontarkan kata-kata candaan dan itu membuat salah satu teman kita tersinggung. Tapi kita tidak bermaksud untuk menyinggung teman tersebut bu. Apakah itu berdosa bu?

Syukron bu

🌸Jawab:
Iyaa, meski itu bercanda, tapi membuat seseorang tersinggung, maka itu sebuah dosa, kita wajib meminta maaf kepada yang bersangkutan. Jangan sampai luka tersebut dia bawa sampai ke akhirat. 

Islam telah mengatur hidup ummatnya. Termasuk dalam bersosialisasi, kita dilarang bercanda berlebihan, bercanda yang menyakitkan, bercanda dengan kebohongan. 

Wallahu a'lam

0️⃣5️⃣ Evi ~ Jaksel
Assalamualaikum umi, 

1. Ketika marah kita yang biasanya sukar menjaga lisan (mengoceh) tiba-tiba saat kita tau ilmunya harus menjaga lisan lalu kita mencoba diam saat marah apakah dibolehkan umi daripada berkata-kata kotor misalnya?

2. Apa yang harus kita lakukan jika dihadapkan dgn orang-orang yang suka menggunjing tetangga padahal belum tentu kebenarannya bahkan ada yang berucap sudah tidak usah ikut campur kan bukan urusan kamu?

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

1. Diam merupakan tips paling ampuh untuk menahan amarah dengan begitu kita akan terhindar dari dosa-dosa besar. Selain itu jaga ucapan baik-baik jangan sampai ucapan yang dilontarkan kita nantinya akan menjerumuskan ke neraka. Sebagian ulama berkata bahwa diam merupakan hikmah akan tetapi masih sangat sedikit yang melakukan diam.

2. Menghindarlah dari orang-oragn tersebut, menjauh, menjaga diri. Kalau mampu menasihati, maka nasihatilah, jika tidak, maka berpalinglah dari mereka. 

Wallahu a'lam

0️⃣6️⃣ Phity ~ Yogja
Assalamu'alaykum bun...

Kalau kita membicarakan kondisi negara kita, pemerintahnya dan perilaku para pejabat. Karena berbagi informasi dan sekaligus meluapkan unek-uneg apakah itu juga membuat kita bangkrut besok di akhirat? 

Jazzakillah bun.

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Jika membicarakannya  ada hikmah dibalik itu, ada wacana selepas itu, maka itu tidaklah menjadi  masalah. 

Dan Imam Nawawi pernah membahas ghibah yang dibolehkan. Salah satunya diperbolehkan menasihati penguasa yang tidak menjalankan kewajibannya dengan aturan. Entah karena pejabat tersebut berbuat zalim, lalai, atau tidak berkapasitas memegang amanah. Tujuan menyampaikan keburukan pejabat tersebut agar diganti oleh atasan yang bersangkutan.

Wallahu a'lam

0️⃣7️⃣ Sofie ~ Cinere
Ibu, bagaimana menyikapi orang yang gemar mencela makanan yang dimakan dan dimasak oleh orang lain, karena tidak sesuai dengan seleranya, membandingkan dengan yang biasa di makan.

Misal juga ketika makan di restoran A tidak cocok, tapi lanjut membicarakan ke orang lain, masakan restoran A tidak enak yang akhirnya didengarkan oleh orang lain. 

Apakah harus ditegur langsung? 

Jazakillah Khair ibu... 
Sehat-sehat selalu untuk ibu irna. 

🌸Jawab:
Jika ini merugikan dan mudharatnya untuk tempat usaha yang dibicarakan banyak, maka sebaiknya dibicarakan baik-baik Bund Sofie. 

Lebih baik diajak bicara dan diselesaikan agar tidak menjadi duri dalam daging. 

Wallahu a'lam

0️⃣8️⃣ Wulan ~ Karawang 
Jika kita pernah menyakiti seseorang dengan ucapan kita, dan akhirnya kita sadar lalu meminta maaf padanya, apakah bisa meringankan dosa lisan kita padanya?
Sedangkan kita tidak tahu apa dia sebenarnya sudah memaafkan kita atau belum didalam hati kecilnya?

🌸Jawab:
In syaa Allah jika kita menyesali perbuatan kita dengan sebenar-benar sesal dan meminta maaf kepada yang bersangkutan dengan tulus dan ikhlas benar-benar berharap maaf, in syaa Allah kewajiban kita sudah tertunaikan, apakah dia memaafkan atau tidak, itu urusan dia dengan Alloh ﷻ. Kita tidak akan dimintai lagi pertanggungjawaban diakhirat kelak, in syaa Allah. 

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
 💎CLoSSiNG STaTeMeNT💎

Saudariku yang dicintai Alloh ﷻ...

Hendaklah kita berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisan, kita akan dilempar ke neraka. 

Semoga kita dimudahkan oleh Alloh ﷻ untuk menjaga lisan ini dan mengarahkannya kepada hal-hal yang diridhoi oleh Alloh ﷻ. Aamiin Allahumma Aamiin. 

Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan malam ini. 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

THESE TOO, WILL PASS

 


OLeH: Ustadz Tri Satya Hadi

   🌀M a T e R i🌀

🌸THESE TOO, WILL PASS... OPTIMIS!


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Alloh ﷻ?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh ﷻ itu amat dekat. (QS. 2: 214)

Alkisah, ada seorang raja yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Pada suatu hari, Sang Raja meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua renta untuk menuliskan sesuatu di dalam cincinnya.
Raja berpesan, "Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman & perjalanan hidupmu, supaya itupun bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya."

Berbulan bulan si tukang emas yang tua itu membuat cincinnya, lalu lebih sulitnya menuliskan apa yang penting di cincin emas yang kecil itu. Akhirnya setelah berdoa & berpuasa, si tukang emas itupun menyerahkan cincinnya pada Sang Raja. Dan dengan tersenyum, Sang Raja membaca tulisan kecil di cincin itu. Bunyinya, "DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU" (These too, will pass)

Awalnya Sang Raja tidak terlalu paham dengan apa yang tertulis di sana. Tapi, suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan kerajaan yang pelik, akhirnya Ia membaca tulisan di cincin itu & ia pun menjadi lebih tenang, “Dan Inipun akan berlalu!”. Dan tatkala ia sedang bersenang-senang, Ia pun tidak sengaja membaca tulisan di cincin itu, lantas Ia menjadi rendah hati kembali.

Ketika Kita punya masalah besar ataupun sedang lagi kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat itu, "Dan inipun akan berlalu" (These too, will pass).

Kalimat ini, kalau Kita renungkan dengan bijak akan mengantarkan diri kita pada keseimbangan hidup. Tidak ada satupun yang langgeng. Jadi, ketika Kita punya masalah, janganlah terlalu bersedih. Tatkala Kita lagi senang, jangan terlalu kelewat senang.
Ingatlah, apapun yang Kita hadapi saat ini, musibah, bencana, wabah, kesenangan, kenikmatan, dan lain lain semuanya akan berlalu.

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡہَا فَانٍ۬ (٢٦) وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَـٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ (٢٧)

“Semua yang ada di bumi itu akan sirna. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27)

Alloh ﷻ juga telah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬ (٢٢) لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَٮٰڪُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ (٢٣

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh ﷻ.”

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh ﷻ tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-hadid: 22-23)

Alloh ﷻ telah menetapkan empat perkara atas diri kita:
~ Menetapkan rizki kita;
~ Ajal kita;
~ Amal kita;
~ dan celaka atau bahagia kah kita.

Alloh ﷻ senantiasa akan memberikan yang terbaik meskipun yang baik itu seringkali kita Kita anggap buruk. Alloh ﷻ sajalah yang mengetahui kebaikan dan keburukan yang sejati sementara penglihatan, penilaian, dan pengetahuan kita bersifat semu dan terbatas.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ شَرٌّ۬ لَّكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

… boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh ﷻ mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 216)

🌀🌷🌀
Terkadang karena sesuatu yang tidak kita suka kita benci, marah, bahkan hampir putus asa atas suatu ujian besar, dan kita baru tersadar bahwa itu baik untuk kita setelah terjadi. Marah akan sesuatu hal yang tidak kita suka manusiawi, namun kita harus bisa mengontrolnya, dan segera sadar bahwa apapun itu pasti Alloh ﷻ punya rencana terhadap kita. Janganlah berputus asa hingga muncul berprasangka buruk kepada Alloh ﷻ karena bisa jadi sangkaan kita itu menjadi doa yang terkabul. Naudzubillah.

Nabi bersabda dalam hadits Qudsi:
"Sesungguhnya Alloh ﷻ berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku." (HR. Turmudzi)

Ketika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh manusia ingatlah Alloh ﷻ, karena dengan keyakinan, ucapan dan amal kita, bisa jadi merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, sehingga memberi ketegaran jiwa dan ketenangan.

Sebagaimana firman Alloh ﷻ,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Alloh ﷻ. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ro'd:28)

Jadikan sholat sebagai kebutuhan, tilawatil Qur'an sebagai kebiasaan, dan dzikir sebagi kekuatan ruhiyah untuk bisa menghadapi segala persoalan. Dan yakinlah bahwa semua itu akan berlalu manakala kita telah berikhtiar dan bertawakal .

Betapa Alloh ﷻ senantiasa memberikan yang terbaik kepada kita sebagai hamba sampai Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa tidaklah seorang hamba ditimpa musibah meskipun kecil kecuali Alloh ﷻ pasti akan menghapuskan satu dosa darinya.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhuatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Alloh ﷻ akan menghapus kesalahan-kesalahannya (Dosa) kerenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Bahkan Alloh ﷻ seringkali menimpakan sakit kepada seorang mukmin sebagai kaffarah (penghapus dosa) baginya. Adapun terhadap orang yang ingkar kepada-Nya, justru Alloh ﷻ seringkali memberikan istidraj (penundaan siksa) kepadanya sampai akhir hayatnya agar Alloh ﷻ bisa menyempurnakan adzab-Nya di Hari Perhitungan kelak.

Balasan minimal bagi seorang Muslim yang tertimpa musibah, sekecil apapun musibah tersebut, maka Alloh ﷻ akan menghapuskan kesalahannya.
Namun, apabila seorang muslim mampu bersabar & mengharapkan pahala atas musibah tersebut, maka Allah Ta 'ala memberikannya tambahan kebaikan-kebaikan:

◼️1) Mengangkat Derajat Dan Menghapus Dosa.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak dan hartanya hingga ia bertemu Alloh ﷻ dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya." (HR. Tirmizi)

◼️2) Tanda Kebaikan Dari Allah Ta'ala.

"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Alloh ﷻ cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Alloh ﷻ, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Alloh ﷻ." (HR. Tirmizi)

◼️3) Mati Syahid.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi kabar gembira bagi yang wafat karena bala dan musibah.  "(mati) karena menderita thoun adalah syahid bagi setiap Muslim."  (HR. Al-Bukhari Muslim)

"(meninggal) karena sakit perut adalah syahid, dan (meninggal) karena Thoun juga syahid." (HR. Al-Bukhari)
"...Tidaklah seseorang yang berada di wilayah yang terjangkit Thoun, kemudian ia tetap tinggal di negerinya dan selalu bersabar, ia mengetahui bahwa penyakit tersebut tidak akan menjangkitinya kecuali apa yang Alloh ﷻ tetapkan kepadanya, maka baginya seperti pahalanya orang yang mati syahid." (HR. Bukhari)

◼️4) Pahala Yang Tidak Terbatas.

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:  "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Kebanyakan manusia lalai mengharapkan pahala ketika mereka tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri, teriiris pisau, tersandung batu, terkena sakit ringan, bahkan terkena sakit berat seperti Covid19 saat ini, ataupun ketika mereka lelahnya karena bekerja untuk mencari nafkah buat keluarga dan juga hal-hal lainnya.
Padahal dalam semua hal tersebut, mereka memiliki peluang untuk mendapatkan kebaikan selain kepastian dihapuskannya kesalahan-kesalahan mereka.

Maka sudah selayaknya bagi seorang Muslim agar selalu menghadirkan niat & mengharapkan pahala di Setiap musibah yang ia alami.

Jikalau mendapatkan kesenangan atau kenikmatan, syukurilah kenikmatan itu dengan semakin mendekatkan diri kita kepada Alloh ﷻ dan sabarlah atas ujian itu karena Alloh ﷻ bersama orang-orang yang sabar.

لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ وَلَٮِٕن ڪَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ۬

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)

والله أعلم

https://pijarpunbenderang.blogspot.com/2014/11/these-too-will-passnanda.html

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
        🌀TaNYa JaWaB🌀
        
0⃣1⃣ Anjar ~ Sidoarjo
Ustadz, saat kita ada masalah, dada terasa berat. Sudah terus beristighfar tapi terasa susah menghilangkan rasa berat tersebut. 

Ada tips lain kah ustadz?

🌀Jawab:
1) Ambil air wudhu, sholat.
 
2) Lakukan ibadah ringan, dzikir, atau aktivitas yang positif seperti membaca, olahraga, mengobrol dengan teman dekat kita. 

3) Keluarkan dengan menceritakan kepada orang yang kita percayai, teman yang sholih, ustadz.

4) Berdoa dan meyakini these too will pass.

Wallahu a'lam

0⃣2⃣ Avit ~ Grobogan 
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Ustadz, bagaimana caranya agar kita ikhlas akan sakit yang tidak kunjung sembuh?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Masyaa Allah... Syafakillah
Semoga sakitnya sebagai kaffarah pelebur dosa dan penambah pahala. In syaa Allah.

Tetap sabar ukhty, karena sabar merupakan salah satu amalan yang terbaik yang ujungnya surga.
Cukuplah kisah Nabi Ayub sebagai pelajaran terbaik. Tetaplah berprasangka baik kepada Alloh ﷻ. 
Jangan lupakan sholat dengan doa-doa penuh harap, mintakan doa ibu kita, mintakan doa ustadz dan teman-teman yang sholih.

Lakukan amalan-amalan ringan niatkan sebagai wasilah kesembuhan sakit ukhty.

Wallahu a'lam

0⃣3⃣ Fadhila ~ Padang
Ustadz, bagaimana caranya agar kita ikhlas terhadap musibah yang sedang kita jalani ustadz? Rasanya hal itu berat sekali bagi kita ustadz. Sedangkan kita hanyalah seorang makhluk yang lemah ustadz.

🌀Jawab:
1) Kuatkan niat di dalam hati dengan selalu berprasangka baik kepada Alloh ﷻ. Perbanyak dzikir. 

2) Selalu berpikiran positif bahwa segala musibah adalah ujian dan pasti berakhir.

3) Bergaul dengan orang-orang baik yang selalu mengingatkan dan menguatkan.

4) Ambil hikmah dari setiap kejadian. 

5) Mendekatkan diri pada Alloh ﷻ. Di Sepertiga malam, berdoa dalam sujud terbaik kita.

Wallahu a'lam

0⃣4⃣ Fitri ~ Banten
Ustadz kalau kita masih jomblo apa optimis terus dalam kejombloannya, optimis sampai waktu yang tepat Alloh ﷻ mempertemukan aku dan si dia?

🌀Jawab:
Bersabar iya, optimis pasti, ikhtiar wajib, jangan dikira wanita tidak boleh mencari. Tentunya tetap dalam koridor yang syar'i. Pentingnya kita bergaul dengan teman-teman yang sholihah, ikut kajian-kajian yang menguatkan minta tolong ustadz atau ustadzah yang kita percayai untuk mencari kan.
Dan tentunya jadikan sholat dan sabar sebagai penolong.

Wallahu a'lam.

0⃣5⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum tadz, 

Alloh ﷻ pasti punya rencana dan tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya. Tapi kitanya ini selalu banyaknya berprasangka buruk daripada baiknya. Bagaimana ustadz untuk menumbuhkan rasa Optimis dari musibah atau kejadian buruk yang menimpa?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Iya, tetap dan latihlah prasangka baik untuk ada kejadian yang menimpa, ambil hikmah setiap musibah, sering melihat kebawah ke saudara kita yang lebih hebat ujiannya.  

Yakin, bahwa Alloh ﷻ tidak menimpakan ujian ke hambanya kecuali si hamba mampu melaluinya, tetaplah dalam amal kebaikan sebagai wasilah dimudahkan akan menghadapi musibah. Perbanyak doa.

Wallahu a'lam

0⃣6⃣ Yulia ~ Bekasi 
Assalamualaikum ustadz, 

Apakah musibah yang menimpa seseorang karena bagian dari dosa besar yang dilakukan orang tersebut?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Iya ukhty, musibah itu bisa ujian bagi orang beriman atau azab bagi orang yang jauh dari islam. Sehingga pastikan diri kita selalu dalam kebaikan, disetiap aktifitas dan aspek kehidupan. Tapi, jangan kita juga berperilaku seperti tuhan yang menjugje di A sering maksiat pasti neraka, atau si B ahli ibadah pasti surga, karena kita tidak tahu ending nya kita atau mereka husnul khotimah atau su'ul khotimah. 

Wallahu a'lam

🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
🌀CLoSSiNG STaTeMeNT🌀

Bukan kesabaran jika mempunyai batas, dan bukan keikhlasan jika masih merasakan sakit. Latihlah terus sabar dan ikhlas. #optimis 

Wallahu a'lam


PENTINGNYA IMUNISASI PADA ANAK

 




OLeH: dr. Barry Army Bakry, Sp.A

      💎M a T e R i💎

💎IMUNISASI PADA ANAK


Agar anak terlindungi secara optimal, pastikan anak kita sudah memenuhi semua jadwal imunisasi anak. 

🔹KENAPA ANAK HARUS DIVAKSIN?

Semua anak diharuskan menjalani vaksin, karena setelah dilahirkan, imunitas yang diturunkan ibu ke anak sudah putus sehingga diperlukan perlindungan tambahan dari penyakit-penyakit berbahaya.

Selain itu, imunisasi terbukti telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia tiap tahunnya. Vaksin melindungi semua orang dari segala usia dari berbagai penyakit mematikan. Dan vaksin ini merupakan salah satu terobosan di bidang kesehatan yang paling berhasil dan cost-effective.
Sayangnya, masih ada 20 juta anak di seluruh dunia yang belum divaksin, serta berada dalam kategori unvaccinated dan under-vaccinated. 

Apa saja vaksin yang perlu diberikan ke anak?

Semua vaksin sebenarnya penting untuk diberikan pada anak, demi mencegah si buah hati terkena penyakit mematikan. Pemerintah sudah membaginya ke dalam kelompok vaksin bersubsidi dan vaksin non subsidi. Perbedaannya terletak pada tingkat urgensi si vaksin itu sendiri, dan bukan karena penting ataupun tidak penting. juga tingkat penularan serta rasio kematian yang bisa terjadi jika penyakit tersebut tidak dicegah.
lalu apa pertimbangan sebuah vaksin disubsidi oleh pemerintah?

Penentuan jenis vaksin yang disubsidi pemerintah berdasarkan pertimbangan berbahayanya penyakit. Beberapa penyakit dapat menyebabkan kematian dan cacat total yang akhirnya membuat vaksin penyakit tersebut disubsidi pemerintah, selain juga pertimbangan dari sisi ekonomi.

◼️Adapun vaksin yang disubsidi oleh pemerintah tersebut ialah:
~ Hepatitis B.

~ BCG (diberikan saat bayi berusia 1 bulan).

~ DPT-HB-Hib (diberikan saat bayi berusia 2 bulan).

~ Vaksin polio (diberikan saat bayi berumur 2-4 bulan, dan vaksin ulang saat anak usia 5-6 tahun).

~ Campak (diberikan saat bayi usia 9 bulan, dan vaksin ulang saat anak usia 5-6 tahun). 
                                                                                                                     ◼️Adapun vaksin tambahan yang tidak disubsidi dan perlu diberikan pada anak ialah:
~ Japanese encephalitis (Tidak diwajibkan bagi mereka yang bukan berada di wilayah endemik).
~ Dengue
~ Hepatitis A.
~ Gondongan.
~ Rubella.
~ Cacar air.
~ Tuberkulosis.
~ Meningitis.
~ Pneumonia.
~ Tifoid.
~ Kanker serviks.
~ Influenza.

Bagaimana jika anak belum pernah vaksin sejak lahir?
tidak usah ragu untuk vaksin, imunisasi bisa dimulai di umur berapa saja. Tidak ada kata terlambat untuk vaksin. silahkan berkonsultasi di pusat kesehatan masyarakat terdekat.

🔹BENARKAH VAKSIN MMR BISA MENYEBABKAN AUTISME?

Ada yang menghubungkan vaksin MR atau MMR dengan autisme. Dalam hal ini mesti ditegaskan, hal ini tidak benar.

“Isu ini bersumber dari sebuah tulisan dari seorang dokter bedah di Inggris bernama Andrew Whitefield di tahun 1997  yang mempublikasikan penelitiannya di jurnal bergengsi. Dalam tulisan itu menyatakan ada hubungan vaksin MMR dengan autisme. Penelitian ini terlanjur menyebar ke seluruh dunia, begitu penelitian ini tersebar maka langsung dilakukan penelitian lanjutan melibatkan ratusan anak dari berbagai tempat untuk membuktikan hal tersebut.”

Hasilnya, terbukti bahwa vaksin campak seperti MMR dan MR sama sekali tidak berhubungan dengan autisme. Bahkan, penelitian Andrew Whitefield tersebut terbukti memiliki kesalahan bahkan terindikasi adanya kebohongan yang dilakukan oleh peneliti, sehingga ditarik oleh editor jurnal yang menerbitkan penelitiannya dan dianggap tidak layak pakai.

“Sayangnya, tulisan Andrew yang menyatakan adanya hubungan vaksin MMR dengan autisme terlanjur menyebar sehingga masih sering menimbulkan keresahan. Hal ini juga membuat praktisi kesehatan kesulitan untuk menepis berita bohong tersebut satu persatu. Padahal, sudah sangat jelas dari banyak penelitian yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara vaksin MMR dengan autisme.”

Benarkah vaksin berkaitan dengan konspirasi barat dan yahudi?

Ada beberapa pihak yang menyebarkan isu bahwa vaksin merupakan konspirasi dari Barat atau Yahudi yang bermaksud melemahkan umat manusia, bisa menyebabkan kecacatan dan sebagainya.
hal ini jelas tidak benar,
“Vaksin sudah ada sejak abad ke-18 di Inggris, bahkan ada yang mengatakan bahwa sejak tahun SM pun sudah ada sebagian masyarakat di China yang melakukan praktek mirip vaksin. Artinya, ini suatu hal yang secara alami sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dengan kemajuan teknologi, akhirnya vaksin bisa diproduksi secara sistematis dan lebih aman, serta minim efek samping dibanding dengan vaksin-vaksin yang ada di zaman dahulu.”

🔹SIAPA SAJA YANG BISA MENUNDA TIDAK VAKSIN?

Kondisi tertentu yang diperbolehkan menunda vaksin, misalnya si anak punya alergi akut terhadap kandungan vaksin yang bisa mengancam nyawa seperti sesak nafas. Lalu, kondisi tertentu seperti anak yang sedang panas tinggi juga disarankan menunda terlebih dahulu pemberian vaksin. 

Konsultasikan ke dokter Anda terkait alergi dan kondisi kesehatan si kecil sebelum diberikan vaksin.
Selain alergi, apabila anak sedang dalam perawatan medis tertentu yang membuat sistem kekebalan tubuhnya menurun, seperti kemoterapi kanker, maka ia diperbolehkan tidak melakukan vaksin atau menunda sampai kondisi tubuhnya sehat kembali.

◼️Kondisi penyakit yang membuat anak tidak boleh diimunisasi:
✓ Leukimia, penderita menjalani kemoterapi, hal ini bisa berbahaya jika diberikan vaksin.

✓ HIV yang membuat daya tahan tubuh penderita rendah, sehingga tidak boleh diberikan vaksin.

◼️Kondisi sementara yang membuat anak boleh menunda vaksin:
✓ Pneumonia hingga sesak napas.
✓ Demam tinggi.

Bagaimana menghadapi kondisi anak demam setelah menerima vaksin?

◼️Ada yang perlu perhatikan hal berikut bila anak mengalami demam setelah divaksin:
✓ Orang tua tidak boleh panik. 

✓ Buat anak menjadi lebih nyaman. 

✓ Pakaian anak dilonggarkan. 

✓ Beri minum banyak untuk mencegah dehidrasi. 

✓ Dikompres dengan air hangat. 

✓ Tidak harus diberikan obat penurun panas.
“Demam pasca imunisasi biasanya tidak lama, hanya sekitar 24-48 jam." Namun bila demamnya lebih dari 48 jam, maka harus cek ke dokter. Karena bisa jadi si anak mengalami demam karena sebab lain yang bukan dari vaksin, hal lain ini kebetulan bertepatan dengan pemberian vaksin.

Demikian
wallahualam bishawab.

#Dari beberapa sumber

🌷🌷🌷🔹🔹🔹🌷🌷🌷
        💎TaNYa JaWaB💎

0️⃣1️⃣ Esa ~ Bogor
Dok, sepengetahuan saya wajibkah anak diberi vaksin IPV? 
Padahal vaksin polio tetes atau drop nya sudah lengkap diberikan sebelum usia 9 bulan.

💊Jawab:
Sebaiknya dari 4 kali pemberian polio, salah satunya dalam bentuk suntikan. Suntikan mengandung antibodi sedangkan vaksin oral berupa virus yang dilemahkan. Jadi lengkap jadinya.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Annisa ~ Tangerang
Dok, anak saya imunisasi cuma sampai DPT 1 saja. Kalau mau imunisasi sesuai usianya masih boleh tidak ya dok? Usianya saat ini 2 tahun.

💊Jawab:
Seperti dikatakan di atas, tidak ada kata terlambat untuk vaksin, silahkan hubungi dokter terdekat ya.

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Tia ~ Boyolali
Mohon petunjuknya dok, anak saya sudah berusia 9 bulan, tidak imunisasi selain hbo, apakah masih bisa mengejar imunisasi lengkap? Atau sekalian tidak usah saja ya dok?

💊Jawab:
Sama juga, silahkan ibu lengkapi vaksin ya, agar anak ibu dapat mendapat proteksi dari penyakit berbahaya.

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ iNdika ~ Semarang
Dok, anak umur 21 bulan apakah masih ada imunisasi? Posyandu dinonaktifkan karena Corona

💊Jawab:
Ada ibu, bahkan sampai 10 tahun pun ada, dan bisa vaksin di puskesmas. Sementara tidak di posyandu untuk menghindari kerumunan.

Wallahu a'lam

0️⃣5️⃣ iDa ~ Tanjungpinang
Dok, apa sebenarnya isi atau kandungan atau komposisi vaksin, sejauh mana kehalalan dan kethayyibannya, jika dinyatakan dalam kondisi darurat bisa menjadikan "halal" sedarurat apa sebenarnya dan apakah tidak ada bahan alam yang bisa dijadikan bahan vaksin? 

💊Jawab:
Isi vaksin adalah biasanya, vaksin itu sendiri yang dilemahkan jadi tidak bahaya, bisa juga komponen dari virus, atau antigen dari virus tersebut. Semua ini tidak ada yang haram.
Komponen yang kadang-kadang merupakan komponen yang haram (hanya beberapa saja ya, bukan semua vaksin) adalah bagian yang dipergunakan dalam pembuatan vaksin. 

Ambil contoh misalnya. Kalau kita mau masak daging, maka pisau yang dipakai untuk memotong adalah sesuatu yang haram (kenapa tidak pakai yang halal, karena belum ada cara lain). Nah begitu daging sudah terpotong dan siap dimasak, kita cuci bersih-bersih. Demikian pula vaksin, saat selesai, vaksin dibersihkan sehingga tidak ada lagi kandungan haram yang masih ada. Demikian.

Wallahu a'lam

0️⃣6️⃣ Tia ~ Boyolali
Dok, saya dapat banyak cerita, anaknya ada banyak, nah yang paling sehat (tidak mudah pilek batuk) malah anak bungsunya yang tidak imunisasi, padahal kakak-kakaknya imunisasi, 
bagaimana ya dok?

💊Jawab:
Sebenarnya mudah saja jawabnya, untuk kali ini saya jawab dengan cerita ya, mungkin yang penanya akan paham.

Begini...
Ada 3 orang namanya A, B dan C. Ketiganya sama-sama naik motor dan melewati jalan yang sama. Si A dan B keduanya bawa SIM tapi tidak pakai helm. Sedangkan si C bawa helm tapi tidak bawa SIM. Saat diperjalanan ada razia polisi dan ternyata si A dan B kena tilang sedangkan si C selamat tidak kena tilang. 
Nah dari
Cerita di atas, bisa tidak kita simpulkan kita tidak perlu punya SIM karena pasti akan selalu aman tidak akan pernah ditilang?

💎 Tidak, dok. Perlu untuk punya SIM.

🌷🌷🌷🔹🔹🔹🌷🌷🌷
 💎CLoSSiNG STaTeMeNT💎

Imunisasi adalah upaya untuk pencegahan dari beberapa penyakit tertentu dan bukan pencegahan dari seluruh penyakit. Tetap saja kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan diri agar tidak tertular penyakit lain. 

Namun bedanya, kalau kita vaksin, maka kalaupun kita kena penyakit, maka efeknya akan ringan dibanding yang tidak vaksin sama sekali.

Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada ada kata-kata yang salah.

Wassalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh.

SIMPANGAN JALAN


 

OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I.

   💘M a T e R i💘

🌷SIMPANGAN JALAN 

Umat lslam di dunia seolah tak pernah sepi didera ujian. Ujian yang bertubi-tubi itu datang silih berganti. Namun seperti biasa, dunia internasional hanya bisa terbungkam melihat kezaliman ini.

Jika diibaratkan, umat Islam saat ini bagaikan makanan yang diperebutkan dan memang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Kita tahu bahwa tidak ada makanan yang bisa balas menggigit yang memakannya.

Maka sangat benar sabda Rasulullah ﷺ berabad-abad silam. Umat Islam akhir zaman akan seperti buih di lautan. Meski terlihat banyak, namun tidak berarti.

Rasulullah ﷺ bersabda, 

“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh ﷻ mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Ketika membaca Al Qur’an dari depan, doa yang pertama kali dijumpai adalah: "Tunjukilah kami jalan yang lurus," (QS. Al Fatihah: 6).*

Kata shiratal mustaqim (jalan yang lurus) ini, paling tidak tersebar dalam 50 ayat di dalam Al Qur’an. Sesuatu yang perlu diperhatikan, apalagi setiap melaksanakan shalat kata shiratal mustaqim ini selalu dibaca. Bahkan sering didengar tentang cerita shiratal mustaqim ini sebuah jembatan menuju surga yang melewati neraka. Tetapi bukan jembatan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan shiratal mustaqim yang terkait dengan agama.

Ini penting diketahui mengingat banyaknya agama yang berlalu lalang tiap hari yang didaku sebagai agama langit atau berasal dari Tuhan dan bukan budaya manusia. Lalu dari berbagai agama tersebut, manakah yang termasuk agama yang lurus sebagai jawaban dari doa yang diajarkan lewat Al Qur’an itu.

Beberapa ayat-ayat yang terkait dengan shiratal mustaqim ini menunjukkan bahwa agama yang lurus adalah agama Ibrahim. Salah satu ayat yang menunjukkan hal ini adalah surat Al An’am ayat 161. Kemudian pada ayat berikutnya diterangkan sejumlah ciri-ciri agama Ibrahim yang lurus itu (QS. Al An’am ayat 162-163). 

Katakanlah : 

“Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (161). 

Katakanlah : 

“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam," (162). Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama (muslimin) menyerahkan diri (kepada Allah).” (163). (QS. Al An’am 161-163). 

★ Gambaran Singkat :
Simpangan jalan juga dapat berarti tidak sesuai jalan, seperti puasa untuk mencari jodoh, sebab tidak ada ketentuan secara syar'i puasa untuk mencari jodoh. 

Wallahu a'lam

🔷🔷🔷🌟🌟🌟🔷🔷🔷
         💘TaNYa JaWaB💘

0️⃣1️⃣ Rustia ~ Bekasi
Assalamu'alaikum, Ustadz. 

Bagaimana caranya supaya tetap berpegang teguh pada tali Alloh ﷻ?

💎Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Dengan istiqamah mengkaji Islam dan istiqamah mengamalkan setiap yang dikaji. 

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Kiki ~ Dumai
Ustadz, bagaimanakah tipsnya agar kita tidak salah jalan, atau selalu kembali ke jalan yang benar, terutama di zaman sekarang ini, Ustadz? 

💎Jawab:
Selalu berada di jalan yang lurus dengan mengkaji Islam dan pusatkan pada isi yang tersampaikan, berada dalam majlis yang mulia. 

🌷Ooh, maksudnya kita puasanya diniatkan untuk cari jodoh begitu ya, Ustadz?

💎Na'am.
Contoh yang lain seperti  jampi-jampi dengan bahasa yang sulit dimengerti untuk menyembuhkan seseorang. 

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Yulya ~ Jambi
Bagaimana menyikapi orang yang mengeluh ketika menerima ujian dari Alloh ﷻ? Seakan-akan ujiannyalah yang paling berat. 

💎Jawab:
Bila datang ujian dibawa rileks dan optimist sebab akan lulus ujian bila hamba-Nya senantiasa tawakal kepada Rabb-Nya. 

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ Safitri ~ Banten 
Namanya ya persimpangan yah Ustadz. 

Ketika kita memilih entah di ujung itu terdapat jurang atau pemandagan indah itu pilihan kita sendiri, makanya dalam memilih jalan kita harus benar-benar yakin dan minta petunjuk sama Alloh ﷻ. 

Iya tidak sih Ustadz? 

💎Jawab: 
Jalan lurus telah ada rambu-rambunya di dalam Al-Qur'an dan hadist. Ini yang diikuti maupun dijalankan. Maka berada di persimpangan jalan, kembali kepada sumber petunjuk jalan yang lurus. 

Wallahu a'lam

0️⃣5️⃣ Yayang ~ Padang
Ustadz, setelah kita yakin untuk hijrah, bagaimana caranya agar kita tetap istiqomah dalam menjalankan syari'at-syariat agama, Ustadz? 

Syukron, Ustadz. 

💎Jawab:
Bila telah yakin dengan hijrahnya, maka memulai dengan mendalami ilmu keislaman agar hijrahnya makin kokoh. 

Wallahu a'lam

🔷🔷🔷🌟🌟🌟🔷🔷🔷
 💘CLoSSiNG STaTeMeNT💘

Persimpangan jalan berada dalam jalan yang lurus akan sampai ke dalam jalan yang mulia. 

Wallahu a'lam