Minggu, 19 Februari 2017

Minhajul Muslim



OLeh : Ustadz Jayyad Al Faza

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi wakafa washolatu wassalamu ala Musthofa wa ala Alihi wa shahbihi wa man wafa.
*Minhajul Muslim artinya Pedoman Muslim.*
Minhajul Muslim merupakan sebuah judul buku yang sangat fenomenal. Karena buku ini dibuat untuk panduan seorang Muslim dalam menjalankan kehidupan dunia dan agama nya.
Buku tersebut sangat saya sarankan untuk dimiliki oleh setiap yang Muslim pada umumnya dan kepada group ini lebih khusus, sebagaimana yang dikatakan oleh Penulis nya buku ini sangat layak dimiliki oleh setiap Muslim di rumahnya.
Buku tersebut ada 5 Bab yang membahas Akidah, Adab, Akhlak, Ibadah dan Muamalat. Dan setiap babnya terdapat sub sub pembahasan.
Thoyyib, pada kesempatan malam ini saya ingin menyampaikan satu pembahasan pada bab kedua yaitu Adab kita mulai dengan Adab Niat.
*Adab-adab Niat*
====================
Seorang Muslim membenarkan pentingnya keberadaan niat dan urgensinya bagi seluruh amalan, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan maupun keduniaan, keseluruhan amal tersebut sangat tergantung bagi niatnya.
Niat inilah yang menjadi ukuran suatu amal itu dikatakan kuat atau lemah, sah atau rusak (batal), semua tergantung bagaimana niatnya.
Keyakinan seorang Muslim terhadap keharusan niat bagi setiap amal serta kewajiban untuk memperbaikinya bersandar pada:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
💜💜💜
Di dalam sebuah hadits, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
🔷Manusia ada empat macam, yaitu:
1. Orang yang diberi Allah ‘azza wajalla ilmu dan harta dia mengamalkan ilmunya terhadap hartanya,
2. Maka ada orang lain yang berkata, ‘Andaikan Allah Ta’ala memberikan kepadaku semisal yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan sebagaimana yang telah dia lakukan, maka kedua orang tersebut sama di dalam mendapatkan pahala.
3. Dan sesorang yang diberi oleh Allah harta dan dia tidak diberikan ilmu sehingga dia menghamburkan hartanya,
4. Maka ada orang lain yang berkata, ‘Andaikan Allah memberikan kepadaku semisal yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan seperti yang dia lakukan, ‘maka kedua orang tersebut sama di dalam mendapatkan siksa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 4228 dengan sanad yang bagus).
Oleh karena itu orang yang berniat dengan niat yang baik, maka ia diberi pahala amal shalih. Dan orang yang mempunyai niat buruk juga mendapatkan dosa sebagaimana orang yang berbuat buruk, semuanya ini semata-mata kembali kepada niat.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam pernah bersabda,
“Barangsiapa yang menjanjikan suatu mahar terhadap seorang perempuan (yang dinikahinya) dan Allah Mengetahui bahwa ia berniat tidak akan melunasinya terhadapnya, lalu dia membujuknya dengan Nama Allah hingga mendapatkan kemaluannya dengan cara yang batil, (maka) dia akan bertemu dengan Allah pada hari dia akan bertemu denganNya dalam keadaan sebagai seorang pezina.
Dan barangsiapa yang berhutang sesuatu dari seseorang dan Allah Mengetahui bahwa dia berniat tidak akan melunasinya kepada pemiliknya, lalu dia membujuknya dengan Nama Allah sehingga berhasil mendapatkan hartanya dengan cara yang batil, (maka) dia akan bertemu dengan Allah pada hari dia akan bertemu denganNya dalam keadaan sebagai seorang pencuri.” (Diriwayatkan oleh Ahmad: 18453).
Dengan niat yang buruk, maka sesuatu yang mubah dapat berubah menjadi haram, yang tadinya boleh menjadi terlarang, apa yang tadinya tidak berdosa, maka akhirnya menjadi berdosa.
Kesemua ini menegaskan tentang kebenaran keyakinan seseorang Muslim akan pentingnya niaat, keagungan, dan urgensinya yang amat besar. Oleh karena itu dia membangun seluruh amalnya dengan niat yang baik dan benar, dan berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai beramal tanpa ada niat atau tujuan, dan janganlah sampai beramal namun dengan niat yang tidak baik.
Jadi niat adalah ruh dari amal dan merupakan tiang penyangganya, kebaikan amal tergantung dari kebaikan niat, dan buruknya amal juga tergantung kepada buruknya niat. Dan setiap amal yang tidak dilandasi dengan niat yang baik dari pelakunya, maka adalah riya’, memaksakan diri yang justru dimurkai Allah.
(Diringkas dari kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jaza`iri)
💜💜💜
Demikian yang dapat saya sampaikan. Jika ingin lebih lengkap nya silahkan miliki bukunya dan pelajari isinya.
Waktu dan kesempatan saya kembalikan ke momod 🎤🎤
Baik ustadz ,jazakalloh khoir materi na👍🏿maanttaap meski beli buku sendiri😁
💜💜💜🌸🌸🌸💜💜💜
💎TaNYa JaWaB💎
0⃣1⃣ Devi
Karena pentingnya sebuah niat ,, dan niat tersebut akan berpengaruh pada pahala dan hasilnya nanti, bagaimana kalau seseorang niat menikahnya lebih besar karena desakan keluarga dan ingin membahagiakan orangtua meskipunn itu berarti sedikit mengorbankan perasaan bagi yang menikah tersebut daripada niat menikah karena Allah tadz?
💜Jawab:
Menikah karena membahagiakan orang tua termasuk kategori menikah karena Allah.
Yakinlah bahwa pernikahan yang sudah terjadi merupakan ketentuan dari Nya.
0⃣2⃣ DewiK.
Ustadz, bagaimana kalau
Alau niat diawalnya kurang baik, bisakah kita memperbaiki niat kita?
Apakah niat diawal tadi menjadi dosa?
Apa yang harus dilakukan kalau kita ingin mengganti niat kita?
karena niat kan dihati.
💜Jawab:
Sangat bisa dan sangat dianjurkan.
Nabi bersabda :
_Jaddiidu imanakum wa niyatakum_
Perbaharuilah iman kalian dan niat kalian.
🌟Cara memperbarui niatnya gimana ustadz? Cukup mbatin aja?
💜Niat tempatnya di hati
Tidak harus dilafalkan.
🌟Iya ustadz. Niat yg diawal salah, berdosa?
💜Niat yang salah tetap salah, in syaaAllah akan diampuni jika kita sadar dan bertaubat.
🌟Iya ustadz. JazaakalLah.
💜💜💜🌸🌸🌸💜💜💜
💎PeNuTuP💎
Baik saya sebagai momod sangat pendiem dan kalem ana mohon maaf jika ada salah kata.
Marilah kita tutup dengan membaca:
Hamdalah
الْحمد لّله رب الْعالميْن
Istighfar
أسْتغْفر الّله الْعظيْم
Doa kafaratul majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
آمينَ.. آمينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ..

Orang Tua yang Lurus Dalam Akidah & Syariah



OLeh : Ustadz H. Dudi Kurniawan, L.c., M.Si

*Orangtua Yang Lurus Dalam Tauhid dan Kokoh Dalam Syariat*

_“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?” (HR. Bukhari & Muslim)_
Dari hadist di atas kita dapat menyerap suatu hikmah yang sangat luar biasa, yaitu betapa besar peran orangtua dalam menentukan keselamatan dunia akirat bagi anak-anaknya. Dimana di awal kelahiran seorang manusia, orangtualah yang dapat menentukan kemana seorang anak akan memeluk agama yang akan dia peluk. Kita patut bersyukur sebagai seorang anak yang dilahirkan dari orangtua yang beragama Islam. Karena dengan demikian kita telah memeluk satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Swt.
Lantas bagaimana sikap kita sebagai orang tua dapat meluruskan tauhid an mengokohkan syariat supaya dapat mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah serta memegang erat agama Islam disertai selalu menjalankan syariatnya.
Sebelum kita menjalankan dan mengajarkan akidah dan syariah yang lurus, maka seyogyanya kita mengetahui apa dan bagaimana hubungan antara keduanya, lalu setelah itu kita lanjutkan untuk menerapkannya dalam pendidikan kita terhadap anak-anak kita.
*A. Akidah dan Syariah Islam*
Islam tidak bisa terlepas dari akidah dan syari’ah. Akidah sendiri merupakan suatu pandangan yang menuntut keimanan semenjak awal, sebelum segala sesuatu, keimanan tanpa keraguan dan juga tanpa kecurigaan. Sementara istilah syariah dalam konteks kajian hukum Islam lebih menggambarkan kumpulan norma-norma hukum yang merupakan hasil dari proses tasyri’.
Adapun dalam segi istilah, Syeikh Mahmud Syaltut mendefiniskan syari’ah sebagai “Ketentuan – ketentuan yang ditetapkan oleh Alah SWT atau hasil pemahaman atas dasar ketentuan tersebut, untuk dijadikan pegangan oleh umat manusia baik dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan umat manusia lainnya, muslim dengan non muslim, dengan alam, maupun hubungannya dengan kehidupan.”
Dari definisi diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwansannya ada dua sisi amal yaitu sisi ibadah (amal untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt) dan mu’amalah (amal bersama sesama manusia untuk saling memberikan manfaat dan menolak kemadharatan).
Pengertian dari Syeikh Mahmud Syaltut ini dapat mewakili tiga dimensi aspek hukum dalam syari’ah, yaitu ketentuan – ketentuan yang diturunkan dan ditetapkan oleh Allah Swt., dan Rasul-Nya, serta norma-norma hukum hasil kajian para ulama mujtahid dengan metodologi istinbathnya, serta aspek hukum yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sosial.
Al-Qur’an mengibaratkan akidah sebagai iman dan syari’ah sebagai amal shaleh. Tidak mungkin Islam itu hanya akidah saja, begitu juga sebaliknya Islam tidak mungkin hanya syari’ah saja, keduanya tidak bisa berdiri sendiri satu sama lain. Akidah bagaikan pondasi yang mana syari’ah dibangun diatasnya, syari’ah merupakan konsekuensi dari mengikuti akidah.
Syeikh Mahmud Syaltut mengatakan “Orang yang beriman dengan persoalan-persoalan akidah tapi mencampakkan syariat, atau mengambil syariat tapi menyia-nyiakan akidah; bukan seorang Muslim di sisi Allah, tidak pula dihukumi sebagai Islam yang menyelamatkan”
Namun kita juga jangan sampai melupakan satu aspek ajaran Islam yang lain, yaitu Akhlak. Karena nabi Muhammad saw., sendiri diutus kepada seluruh umat manusia adalah untuk menanamkan nilai akhlak budi pekerti yang luhur.
Apabila kita analogikan secara sederhana mungkin kita akan membuat tahapan ajaran Islam yaitu pertama kali beriman, lalu beramal sesuai syari’ah, lalu kita akan memiliki akhlak yang mulia atau ihsan. Jadi akhlak merupakan cerminan dari akidah dan syari’ah seorang muslim.
*Ihsan* merupakan puncak kesempurnaan dari Iman dan Islam. Orang yang telah sempurna keimanan dan keislamannya akan mencapai suatu keadaan dimana ia dapat melakukan ibadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan apabila dia tidak dapat melihat Allah, dia yakin bahwasannya Allah selalu melihatnya. Ihsan dapat menimbulkan amal saleh dan menjauhkan orang dari perbuatan-perbuatan buruk. Imam al-Nawawi menegaskan bahwa ihsan itu merupakan jawami’ul kalim, yaitu suatu ungkapan yang mencakup tujuan dari hakikat Iman dan Islam.
*B. Orangtua yang Lurus dalam Tauhid dan Kokoh dalam Syariah*
Tauhid dan syariah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Lalu bagaimana kita bisa mencontoh suatu sikap pendidikan tauhid dan syariah kepada anak kita? Kita dapat mencontoh langkah-langkah mengajarkannya sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an pada surah Luqman, yaitu sebagai berikut:
🔹Pertama: Ajarilah anak-anak untuk tidak mempersekutukan Allah.
Peran orangtua yang pertama kali dan paling utama adalah mengajari anaknya untuk percaya bahwa satu-satunya Tuhan di alam semesta adalah Allah Swt. Lalu mengajarkan mereka supaya tidak sekali-kali mempersekutukan Allah Swt.
Hal ini dapat diajarkan semenjak dia kecil hingga dewasa, bahkan dijadikan sebagai wasiat sebelum kematian sebagaimana wasiat Nabi Ayub kepada anak-anaknya:
_"Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah: 133)_
🔹Kedua: Ajarilah anak-anak untuk berbakti kepada orangtua
orangtua merupakan sosok yan banyak berkorban demi kebahagiaan anak-anaknya. Maka seyogyanya anak diajarkan untuk bisa menghormati dan menyayangi orangtua.
Bagaimana caranya? Caranya adalah kita harus menjadi contoh untuk anak-anak kita dengan selalu berbakti pada orangtua kita. Contoh, apabila kita ingin disayang oleh anak-anak kita kelak maka kita harus bisa sayang pada orangtua kita, merawat mereka apabila sudah tua dan selalu menghormati mereka kapanpun serta senantiasa mendoakan mereka apabila mereka telah tiada. Hal tersebut akan menjadi contoh yang nyata bagi anak-anak kita.
🔹Ketiga: Ajarilah anak-anak bahwa Allah Swt., Maha Mengetahui.
Ajarilah anakmu dengan baik dan lembut dan ajarilah merka bahwa setiap perbuatan meskipun seberat biji sawi dan disembunyikan didalam batu atu di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. Maka ajarkanlah dia akhlakul karimah, berperilaku yang baik, tutur kata yang baik, menebarkan kasih sayang kepada sesama disertai penjelasan bahwa Allah Swt., Maha mengetahui akan setiap perbautan yang ia lakukan sekecil apapun itu. Sehingga apa yang dia lihat, rasakan dan dengarkan adalah kebaikan karena dia tahu bahwa perbuatan baik atau buruk sekecil apapun, niscaya Allah Swt., mengetahuinya.
🔹Keempat: Ajarilah anak-anak untuk Shalat
Mengajarkan anak shalat merupakan kewajiban bagi orangtua. Lalu bagaimana cara mengajarkannya? Ajarkanlah dengan menjadi contoh baginya. Kerjakanlah shalat di depan anak-anak kita atau malah mengajak mereka untuk shalat berjamaah bersama kita. Secara perlahan mereka akan tersadar bahwa shalat merupakan rutinitas yang tidak boleh dilewatkan bagi setiap muslim dan muslimah. Lalu ajarkanlah mereka gerakan-gerakan shalat dari semenjak kecil secara perlahan dengan baik dan lemah lembut. Sehingga apa yang mereka kerjakan didasari atas keinginan mereka sendiri. Saat usia mereka telah menginjak 7 tahun, maka wajib bagi orang tua memerintahkan anaknya untuk selalu mengerjakan shalat.
🔹Kelima: Ajarkan anak-anakmu untuk mencegah kemungkaran
Ajarkan anak-anak kita untuk bisa menjaga diri dari kemungkaran semenjak kecil. Apabila dia sudah dewasa dan dirasa mampu untuk mencegah kemungkaran, maka perintahkalah ia untuk bisa mencegah kemungkaran dan mengajak orang lain menuju kebaikan. Mencegah kemungkaran tidaklah perlu dengan kekerasan, tapi cegahlah kemungkaran dengan kebaikan tanpa mencela apalagi mencaci orang lain. Apabila ia belum mampu mencegah kemungkaran, maka cukuplah dikuatkan dalam hati untuk tidak melakukan kemungkaran tersebut.
🔹Keenam: Ajarkanlah anak-anakmu untuk selalu bersabar.
Sabar mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan. Oleh sebab itulah Allah Swt., berfirman berkali-kali dalam Al-Qur’an bahwa _“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)._
Ajarilah anak-anak untuk bersabar dengan mencontohkan mereka bagaimana cara kita bersabar. Jangan sampai kita marah apalagi mencaci maki orang di depan anak-anak kita. Tunjukanlah bahwa kita sebagai orangtua dapat mengajarkan kepada mereka arti sabar yang sesungguhnya.
🔹Ketujuh: Ajarilah anakmu untuk tidak berlaku sombong.
Ajarilah anak-anak kita untuk tidak memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan tidak berjalan di muka bumi dengan angkuh serta menyederhanakan diri dalam berjalan dan selalu melunakan suara di depan manusia. Rendah hati itu penting dan boleh, yang tidak boleh adalah rendah diri. Rendah hati bukan berarti tidak PD. Tidak PD adalah rendah diri. Rendah hati itu bagus dan indah. Rendah diri itu yang membawa musibah.
Dari penjelasan di atas kita harus menjadi orang tua yang dapat menjadikan iman dan syariah menjadi satu kesatuan yang selalu mengiringi langkah anak-anak kita sehingga ia bisa mencapai derajat ihsan. Semoga kita semua dapat menjadi orangtua yang dapat menjadi taudalan yang baik dalam penerapan tauhid dan syariah yang baik bagi anak-anak kita, sehingga kita dan anak-anak kita dapat merasakan tingkatan yang dinamakan ihsan. Amin ya rabbal’alamin.
Wallahu’alam bishawab.
🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
💎TaNYa JaWaB💎
0⃣1⃣ Phity
Bagaimana meluruskan orangtua yg dekat dengan hal-hal klenik, kejawen dan selalu mengkaitkan sesuatu dengan hal-hal ghoib???
🌺Jawab:
Berikanlah beliau keyakinan bahwa sesungguhnya segala kekuatan itu berasal dari Allah.
Berikanlah contoh dengan selalu beribadah dan berdoa pada Allah serta yakin seuruhnya hanya pada pertolongan Allah serta selalu mendoakan mereka supaya diberikan bimbingan oleh Allah Swt.
0⃣2⃣ Aniek
Apakah orang tua boleh mendaftarkan anaknya asuransi syariah?
Apakah asuransi syariah dibolehkan dalam islam?
jazzakallaah khayrran
🌺Jawab:
Boleh.
Asuransi syariah dibolehkan sesuai fatwa Dewan Syariah Nasional MUI karena memakai akad" syariah seperti akad saling tolong menolong.
Percaya kepada hal gaib merupakan iman juga. Selama kita tidak meminta tolong pada jin dan melakukan hal2 yang syirik maka itu tidak dilarang.
0⃣3⃣ Siti Aisyah
Assalamualaikum ustadz
Bagaimana cara mengajarkan anak / siswa yang suka mengeluh?
🌺Jawab:
Didiklah ia untuk berdisiplin. berikan dia semangat, keberanian dan motivasi sehingga dia bisa bersemangat dalam menjalani hari" nya.
0⃣4⃣ Iffah
Izin tanya ustadz,
Gini ustadz saya punya teman, dia di tinggal ibunya kerja ke LN dari waktu masih baby, sampai usia sekolah baru pulang ibunya, sampai sekarang dia cenderung lebih dekat dengan adik ibunya(bibi) yang merawat dia dulu, sama ibunya malah sering berantem (melawan) usia temen ku 20an.
Miris lihat begitu ustadz, kakaknya udah sering nasihatin tapi masih begitu, gimana cara ngelurusin ya ustadz?
🌺 Jawab:
Berilah ia penjelasan bahwa berbakti pada orangtua khususnya ibu merupakan keharusan. Kemarahan Allah ada pada kemarahan orangtua begitu juga kasih sayang Allah ada pada kasih sayang orangtua.
Jelaskan itu secara perlahan. Selain itu Ibunya juga diharapkan untuk bisa memberikan perhatian lebih.
0⃣5⃣ Mona
Ada orangtua yang percaya dengan dukun/kyai yg mau membaca atau memecahkan masalah gitu ustadz.
Itu dikarenakan ajaran dari orangtua nya juga ustadz. Itu bagaimana ustadz?
🌺Jawab:
Dengan dukun jelas dilarang.
Apabila dengan Kiai yang baik dan memberikan jalan dengan cara berdoa kepada Allah jelas diperbolehkan.
0⃣6⃣Rafika...
Ustadz menyekolahkan anak kita di pondok apa menjamin anak kita bagus akhlak dan pendidikan agamanya?
Jika saya sbg ibu ingin mendidik anak saya sendiri agar akhlaknya bagus dan kuat tauhidnya serta bagus pendidikan agamanya apakah saya mampu? Sedangkan saya sendiri banyak kekurangan,,
🌺Jawab:
Dimasukan pondok tidak menjamin seseorang akan baik seutuhnya. Tapi paling tidak senakal" nya anak pondok tidak akan senakal anak" yang tidak mondok. Selain itu mereka diajarkan untuk berpegang teguh pada agama islam.
Sebagai orangtua jelas dan pasti memiliki kekurangan, namun dengan segala kekurangan kita. Kita bergerak mendidikan anak" kita.
Jadi bagaimana pun asalkan anak diajarkan pendidikan islami dimana pun insya Allah baik.
0⃣7⃣Helmy...
Saya mau bertanya ustadz, pengaruh lingkungan sudah melekat pada anak saya, akhirnya saya pindahkan sekolahnya ke sekolah islam. Alhamdulillah ada beberapa perilaku yang berubah. Hanya saja nada" suara yang tinggi bila sedang marah ke kakak atau ke saya masih suka ada. Saya dan suami sudah memberikan nasihat, dan tentunya minta petunjuk dari Allah, belum berhasil juga. Mohon arahannya ustadz apakah ada cara yg lebih efektif untuk anak saya ini.
🌺Jawab:
Anak lebih melihat kepada lingkungannya, khususnya keluarga. Apakah Ibu dan ayah suka mengangkat suara saat bertengkar atau malah bertengkar di depan anak?
Kalau tidak pernah, maka kemungkinan saat dia bermain atau sebagainya.
Berilah ia nasihat dan berikanlah ia perhatian serta kasih sayang. Dan yang paling penting, berikanlah contoh yang baik kepada anak".
🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
💎CLoSiNG STaTeMeNT💎
Marilah selalu menjadi uswah hasanah baik dalam keluarga dan masyarakat.
Karena dakwah dengan menjadi uswah hasanah merupakah dakwah paling ampuh baik bagi keluarga maupun bagi masyarakat.
Syukron.
🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
💎PeNuTuP💎
Marilah kita tutup denga membaca
Hamdalah
الْحمد لّله رب الْعالميْن
Istighfar
أسْتغْفر الّله الْعظيْم
Doa kafaratul majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
آمينَ.. آمينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ..