Sabtu, 29 Mei 2021

RUQYAH SYAR'IYYAH

 


OLeH: Ustadz Tono Esfandiar, S.E., SHT

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎••┈•

❀ MaTeRi, TJ & CLoSSiNG ❀

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎••┈•


Silahkan lihat di Youtube Perindu Surga.


🌸RUQYAH SYAR'IYYAH


https://www.youtube.com/watch?v=1lDnCc7ronw


Wallahu a'lam

ANTIBIOTIK HATI


OLeH: Ustadzah Dra. Hj. Indra Asih

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎••┈•

❀ MaTeRi, TJ & CLoSSiNG ❀

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎••┈•


Silahkan lihat di Youtube Perindu Surga.


🌸ANTIBIOTIK HATI


http://www.youtube.com/watch?v=q70rV-b8kxQ


Wallahu a'lam

SYAHRUL QUR'AN

 


OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I.

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

💎SYAHRUL QUR'AN

Ramadhan merupakan bulan keberkahan. Keberkahan terbesar yang dimilikinya adalah peristiwa diturunkannya Al Quran. Alloh ﷻ berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). 

Alloh ﷻ juga berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3-4). 

Dalam ayat lain Alloh ﷻ berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Quran) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadar: 1). 

Maka, jelaslah bahwa peristiwa awal turunnya Al Quran adalah pada bulan Ramadhan sehingga dijuluki dengan Syahrul Quran (Bulan Al Quran). Selain itu, pada bulan Ramadhan Nabi ﷺ selalu bertadarus, ber-muraja’ah hafalan dan ber-talaqqi Alquran dengan Jibril as, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas ra."_ (HR. Bukhari).

Sebagai bulan Al Quran, Ramadhan mengingatkan kita untuk memperkokoh komitmen kepada Al Quran; meningkatkan interaksi kita dengan dengan membaca, menghafal dan memahami Al Quran. Maka, indikasi keberhasilan Ramadhan yang dilalui adalah dengan adanya komitmen kepada Al Quran yang semakin kuat. Sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk berteman dekat dan selalu berinteraksi dengan Al Quran, karena Al Quran berfungsi sebagai pedoman hidup dan petunjuk kepada yang hak dan yang bathil, yang petunjuk dan yang sesat.

Terlebih lagi bulan Ramadhan memiliki sederet kelebihan dan keutamaan. Bulan dimana disediakan mega  bonus pahala bagi orang yang mengisi hari-harinya dengan ibadah dan amal shalih, khususnya bagi orang yang memperbanyak baca dan mempelajari (tadarus) Al Quran. Makna ruhiah inilah yang dipahami oleh para ulama salafus shalih sehingga mereka meninggalkan sementara aktivitas pengajian mereka selama ini hanya untuk berinteraksi dengan Al Quran pada bulan yang mulia ini.

Wallahu a'lam

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Mila ~Makassar
Bismillah.. Assalamualaikum.

Ustadz, bagaimana bila kita mengaji tapi tajwid dan Makhorijul huruf belum sesuai? Syukron

🔷Jawab: 
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Afwan, bila ada usaha untuk belajar ilmu tajwid dengan sungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an akan berpahala.

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Al-Qur'an sangat agung dan mulia adanya bulan suci Ramadhan, maka raihlah kemuliaan dengan meraih Lailatul Qadar.

Wallahu a'lam

TAKWA YANG SEJATI


OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I.

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

Malam ini sangat luar biasa akan masuk Lailatul Qadar, maka meraih ke dalam ketakwaan yang sejati..., yuk kita kaji bersama.

TAKWA adalah seseorang yang taat kepada Alloh ﷻ Azz Wa Jalla atas cahaya (petunjuk) dari Alloh ﷻ karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan takwa kepada Alloh ﷻ jika dia belum menjalankan kewajiban yang Alloh ﷻ tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah seperti yang dicontohkan Nabi shalallahu alaiahi wasallam.

Takwa dalam Al Quran memiliki tiga makna yaitu:

1. Takut kepada Alloh ﷻ dan pengakuan superioritas Alloh ﷻ. Hal ini seperti kalam-Nya yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 41)

2. Bermakna taat dan beribadah, sebagaimana kalamnya yang berarti, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alloh ﷻ dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali-Imran: 102)

Ibnu Abbas berkata, “Taatlah kepada Alloh ﷻ dengan sebenar-benar ketaatan.”

Mujahid berkata, “Takwa kepada Alloh ﷻ artinya, Alloh ﷻ harus ditaati dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

3. Dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Maka inilah hakikat dari makna takwa, selain pertama dan kedua. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya; “Dan barangsapa yang mentaati Alloh ﷻ dan Rasul-Nya, takut kepada Alloh ﷻ dan bertakwa, maka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 52) 

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0⃣1⃣ Phity ~ Yogja
Ustadz, takwa itu bisa naik turun ya tadz? 
Bagaimana caranya agar kita istiqomah dalam ketakwaan?

🌀Jawab:
Takwa selalu stabil, yang naik dan turun ada dalam hawa nafsu.

Cara Istiqomah meraih ketakwaan dengan ikhlas dalam thalabul Ilmi, mengajak kepada kebaikan dan antusias beramal shalih.

Wallahu a'lam

0⃣2⃣ Safitri ~ Banten
Ustadz bedanya takwa sama keimanan apa?  Apa orang beriman itu semuanya sudah pasti bertakwa?

🌀Jawab:
Beriman sudah tentu bertakwa.

Iman ada dalam keyakinan.

Takwa ada dalam menjalankan roda keimanan dengan syari'at yang telah di tetapkan oleh Alloh ﷻ dan Rasul-Nya.

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Takwa akan terjadi dengan ikhlas beramal shalih dengan keimanan yang lurus.

Wallahu a'lam

MERAWAT ROMANTISME RAMADHAN DENGAN AL QUR'AN

 


OLeH: Ustadz H. Ishaq Munawwar, Lc., M.Pd., MCE.

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎••┈•

❀ MaTeRi, TJ & CLoSSiNG ❀

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎••┈•


Silahkan lihat di youtube Perindu Surga.


🌸MERAWAT ROMANTISME RAMADHAN DENGAN AL QUR'AN


http://www.youtube.com/watch?v=46R2fXs3CQU


‎وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


SIAPAKAH YANG AKAN MENDAPAT AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN?


OLeH: Ustadz Tri Satya Hadi

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌀Siapakah Yang Akan Mendapatkan Ampunan di Bulan Ramadhan?

Melalui firman Alloh ﷻ dalam hadis Qudsi, "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR  Muslim).

Bulan Ramadhan    adalah bulan ampunan.    Pada bulan ini dosa hamba-hamba Allah Ta’ala dipanaskan sehingga terbakar dan musnah. Riwayat dari Anas bin Malik menyebutkan tentang hal ini,
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya dinamakan (bulan) Ramadhan karena dia memanaskan dosa-dosa’, yaitu membakarnya dan memusnahkannya." [1]

Allah Ta’ala karena kasih sayangnya memang selalu menyediakan kesempatan bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu memperbaiki diri dan meraih maghfirah-Nya.
“Sholat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara waktu-waktu itu, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” [2]

Siapakah hamba-hamba Allah Ta’ala yang akan mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan?

★Pertama, orang-orang yang melaksanakan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa melaksanakan puasa Ramadhan karena keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Alloh ﷻ); akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [3]

Tentu saja bukan puasa yang sekedar menahan lapar dan dahaga; akan tetapi puasa yang sebenarnya yang dapat menghindarkan dari perilaku-perilaku yang tidak terpuji, bermaksiat, atau perbuatan bodoh.  

Apa itu perbuatan Bodoh? Dalam Kitab 'Uyuunu Al-Akhbaar karya Ibnu Qutaibah, sahabat Abu Darda' radhiyallahu anhu (RA) berkata: "Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:"
1. Bangga diri.
2. Banyak bicara dalam hal yang tidak bermanfaat.
3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya. 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya, atau perbuatan bodoh, maka Alloh ﷻ tidak butuh atas usahanya dalam menahan lapar dan dahaga” [4] 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja.” [5]

Begitu pula orang yang tidak melaksanakan puasa di bulan Ramadhan padahal tidak ada uzur dan tidak sakit, maka dia tercela. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diriwayatkan secara marfu’:
“Barang siapa yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan tanpa adanya uzur, tidak pula sakit, maka tidaklah dia bisa menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun, jika dia melakukannya.” [6]

Orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa udzur, walapupun jumhur ulama menyatakan tidak sampai kafir namun telah melakukan dosa besar. Terlebih lagi terdapat ancaman mengerikan bagi orang yang meninggalkan puasa. 
Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku. Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku: “naiklah!.” Aku menjawab: “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu.” Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, sehingga aku bertanya: “suara apa itu?” Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka.” Kemudian aku dibawa ke tempat lain, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Ujung-ujung mulut mereka sobek dan mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya.” (HR. Ibnu Hibban no.7491, dishahihkan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban.

★Kedua, orang-orang yang melaksanakan shalat qiyamu Ramadhan (tarawih).
“Barangsiapa melaksanakan sholat (malam) di bulan Ramadhan karena keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Alloh ﷻ); akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [7]

Ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Taála (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4:115)

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Alloh ﷻ dan mencari pahala dari Alloh ﷻ, bukan karena riya’ atau alasan lainnya.
Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir.
Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (dalam Alminhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (qiyamu Ramadhan) di masjid, lalu manusia mengikutinya, keesokannya shalat lagi dan manusia semakin banyak, lalu pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar bersama mereka, ketika pagi hari beliau bersabda, 
“Aku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang mencegahku keluar menuju kalian melainkan aku khawatir hal itu kalian anggap kewajiban.” Itu terjadi pada bulan Ramadhan.[8]

Tarawih pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 8 raka'at dan witir 3 raka'at,
sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, 
“Bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah lebih dari sebelas raka’at sholat malam, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya.” [9]

Sedangkan pada masa   sahabat, khususnya   sejak masa khalifah   Umar bin Al Khathab radhilallahu ‘anhu dan seterusnya, manusia saat itu melaksanakan sholat tarawih 20 raka’at dan witir 3 raka’at serta ada pula yang melaksanakan tarawih 36 raka’at dan witir 3 raka’at.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyebutkan,
“Dari Yazid bin Ruman, dia berkata: “Dahulu manusia pada zaman Umar melakukan 23 rakaat.” Dan Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Atha’, dia berkata: “Aku berjumpa dengan mereka pada bulan Ramadhan, mereka sholat 20 raka'at dan tiga raka'at witir.” [10] Beliau melanjutkan:

Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari jalur Daud bin Qais, dia berkata: “Aku menjumpai manusia pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz –yakni di Madinah- mereka sholat 36 rakaat dan ditambah witir tiga raka’at.” Imam Malik berkata, “Menurut saya itu adalah perkara yang sudah lama.” Dari Az Za’farani, dari Asy Syafi’i: “Aku melihat manusia shalat di Madinah 39 rakaat, dan 23 di Mekkah, dan ini adalah masalah yang lapang.” [11]
 
Disamping mendapat ampunan juga memperoleh pahala satu malam.

“Barang siapa sholat malam bersama imam sampai ia selesai (witir), maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi)

Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,
“Jika engkau sholat tarawih bersama imam maka lebih afdal jika engkau sholat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54)

★Ketiga, orang yang melaksanakan shalat di malam lailatul qadar, yakni orang-orang yang
beri’tikaf di sepuluh malam terakhir dan memburunya.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bukan," (QS. Al Qadr 1-3).

“Barangsiapa melaksanakan shalat (malam) di bulan malam lailatul qadar karena keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Alloh ﷻ); akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [12]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk memburu malam lailatur qadar yang ada pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ‘Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan’.” [13]

Dalam kitab Al Muhalla, Ibnu Hazm Al Andalusi berkata: Andaikata Ramadan itu 30 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Salah satu upaya agar bisa memperoleh lailatul qadar dengan berdoa. 

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang waktu turunnya malam Lailatul Qadar. Rasulullah ﷺ kemudian menyebutkan bahwa malam yang lebih baik dari seribu bulan itu datang pada 10 hari terakhir Ramadan. 

Aisyah RA sang Ummul Mukminin kemudian bertanya, doa apa yang bisa dipanjatkan saat melihat malam Lailatul Qadar.
 “Beliau berkata: Wahai Rasulullah ﷺ, seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, doa apa yang aku katakan?” Beliau (Rasulullah ﷺ) menjawab, “Katakan: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu ‘anni”
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau menyukai maaf, maka maafkan aku.”  (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membiasakan dirinya melaksanakan i’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan itu hingga akhir hayatnya. Riwayat dari ‘Aisyah radiallahu ‘anha,
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Alloh ﷻ, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.”[14]

Itulah diantaranya, orang-orang yang akan mendapatkan ampunan Allah Ta’ala di bulan Ramadhan. Prinsipnya siapa saja yang melakukan amal shalih di bulan Ramadhan, maka ia berkesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah ta’ala.

Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:
[1] Al Hawi Al Kabir, 3/854. Darul Fikr.
[2] HR. Muslim No. 233
[3] HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802.
[4] HR. Bukhari No.1903
[5] HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720
[6] HR. Bukhari No. 1934 
[7] HR. Bukhari No. 37 1904, 1905
[8] HR. Bukhari No. 1129, Muslim No. 761
[9] HR. Bukhari No. 2013, 3569, Muslim No. 738
[10] Fathul Bari, 4/253
[11] Ibid.
[12] HR. Bukhari No. 35, 38, 1802
[13] HR. Bukhari No. 1913
[14] HR. Bukhari No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya.

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Phity ~ Jogja 
Ustadz, apa ciri-ciri orang yang dosanya sudah diampuni? Misalnya kita pernah melakukan suatu kesalahan, sering kali masih terbayang-bayang kesalahan itu dan menyesalinya, padahal sudah berdoa dan minta maaf selama beberapa tahun, apakah terbayang-bayang itu karena dosa belum diampuni?

🔷Jawab:
Cirinya, kita mudah untuk melakukan kebaikan dan terhindar melakukan keburukan, akan ada warning di hati ketika mendekati kemaksiatan, lisan kita mudah untuk beristighfar.

Tentunya syarat minta ampunnya juga harus diIkuti:
1. Menyadari atas kesalahan yang diperbuat.
2. Menyesali kesalahan. 
3. Perbanyak istighfar. 
4. Berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan tidak berbuat kesalahan lain.

Kedepankan prasangka baik bahwa Alloh ﷻ pasti mengampuni semua dosa, kecuali Syirik (lewat Taubatan Nasuha).

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Phity ~Jogja
1. Ustadz, tadi disebutkan ada fatwa, kalau kita sholat tarawih bersama imam, kemudian kita sholat witir bersamanya maka kita akan mendapatkan pahala sholat semalam suntuk. Nah, bagaimana kalau kita sholat tarawihnya sendiri (karena dirumah sendirian) berarti tidak mendapatkan pahala semalam suntuk ya?

2. Pahala melaksanakan sholat tahajud kan besar ya tadz... Kalau kita bangun sholat malam, lebih awal, kemudian memaksa diri sholat sebanyak mungkin dilanjut dzikir, tapi siangnya ngantuk dan tidak produktif apakah pemaksaan beribadah ini termasuk dzolim pada diri sendiri tadz? Atau kita lakukan sesuai kemampuan kita saja?

Syukron 

🔷Jawab:
1. Hadits tersebut menyatakan demikian, dan memang sholat jamaah di masjid diutamakan bagi laki-laki, dan wanitapun dibolehkan untuk bertarawih di masjid sepanjang ada mahram, atau telah mendapat ijin suaminya, namun jangan merasa hilang pahala sholat semalam penuh, Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘shalat seorang wanita lebih utama di rumahnya’. Maka ia mendapatkan keutamaan yang besar yang bisa menyamai keutamaan shalat di masjid, bahkan terkadang bisa lebih dari itu, atau bisa juga kurang dari itu. Intinya, shalat di rumah lebih utama di masjid bagi wanita. Jika shalat di rumah lebih utama dari pada di masjid, maknanya wanita tersebut mendapatkan pahala semisal pahala shalat di masjid atau bahkan lebih. Karena Rasul bersabda: ‘shalat seorang wanita lebih utama di rumahnya’. Hadits ini menunjukkan bahwa pahala yang didapatkan oleh seorang lelaki yang shalat berjama’ah di masjid juga didapatkan wanita. Semakin taat seorang wanita kepada Alloh ﷻ dan Rasul-Nya, semakin ia tunduk pada aturan Alloh ﷻ dan Rasul-Nya, maka ia semakin mendapatkan kebaikan yang besar. 

2. Kurang tepat juga jika demikian, bahwa puasa itu idealnya tidak membuat kita malas atau tidak produktif, kalaupun ngantuk itu manusiawi fitrah bahwa perlu istirahat siang, dan Rasulullah ﷺ pun beristirahat siang juga namun tidak lama, istirahatnya (tidur) Rasulullah ﷺ itu sedikit namun  berkualitas. Perlu juga di jaga waktu istirahat kita dan makan kita di malam hari sebelum tidur, bahwa Rasulullah ﷺ itu tidak banyak makan ketika buka, dan selalu tidur lebih awal, dan kalau kita ikuti pola ini, akan membuat kita bisa maksimal di sepertiga malam sebelum sahur. Tidak terlalu kenyang di malam hari, dan istirahat cukup sebelum bangun di sepertiga malam, In syaaAllah kita lebih segar dan dapat beraktifitas seperti biasa. 

Wallahi a’lam

0️⃣3️⃣ Dwi ~ Bondowoso
Assalamualaikum Ustadz. 

1. Soal sholat taraweh ustadz. Jika di masjid saya taraweh yang 23 tapi jika di rumah taraweh 11 ustadz. Itu apa diperbolehkan ya, ataukah harus sama?

2. Jika kita lagi datang bulan, ibadah apa selain dzikir yang baik di bulan Ramadhan ustadz? 

🔷Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

1. Tidak harus sama, boleh tarawih+witir, mau 11 atau 23. Semua ada contohnya dan dilakukan Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan salafushalih. Usahakan untuk qiam kita berkualitas, hati selalu berharap kepada Alloh ﷻ,  tidak terburu-buru, dan khusyu.

2. Banyak ukhty, Perbanyak doa, bershalawat, mendengarkan lantunan al Quran, baca tafsir al Quran, mendengarkan ceramah agama, baca buku agama, menuntut ilmu, bersedekah, atau bersilaturahim. InsyaaAllah pahala dan keberkahan akan datang terus walau dalam keadaan berhalangan.

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Dari Nawwas bin Sam'an RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia." (HR. Muslim). 

Wabishah bin Ma'bad ra. berkata pula, saya mendatangi Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Engkau datang untuk menanyakan kebaikan?". Saya menjawab, "Ya, benar". Beliau bersabda, "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." (HR. Imam Ahmad bin Hanbal dan ad-Darimi dengan sanad hasan).

Wallahu a'lam

TARAWIH DAN BID'AH YANG NIKMAT

 


OLeH: Ustadz Syahirul Alim

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

🌸SHOLAT TARAWIH DAN BID’AH YANG NIKMAT

Tidak pernah ada rasanya sholat tathowwu’ (suka rela) yang disebut sebagai perbuatan bid’ah yang nikmat selain sholat tarawih di malam bulan Ramadhan. Adalah sahabat Umar bin Khattab yang mempopulerkan istilah “sholat tarawih”, seraya menyebut bahwa inilah senikmat-nikmatnya bid’ah (ni’matil bid’atu hadzihi) dalam suatu ibadah sholat. Umar-lah yang berinisiatif mengumpulkan kelompok-kelompok jamaah dalam suatu masjid agar bersatu melaksanakan satu sholat, dengan satu bacaan dan satu imam di setiap malam di bulan Ramadhan.

Istilah “tarawih” yang terambil dari kata “irtiyaah” (kepuasaan, kelegaan) juga mengandung pengertian “istirohah” dimana ketika terjadi pergantian udara ada saat-saat dimana angin jeda beristirahat. Maka, umumnya sholat tarawih dilakukan dengan gembira, santai, dan banyak jeda istirahatnya. Namun, merujuk pada asal katanya “riih” yang berarti “angin”, ada saja yang mengartikan tarawih sebagai sholat cepat, ibarat angin bertiup kencang, wush!.
Perbedaan pemahaman soal istilah “tarawih” ini bukanlah sesuatu hal yang perlu diperdebatkan, karena apapun istilahnya, sholat tarawih merupakan bagian dari “qaama ramadlaana” yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu riwayat yang teramat populer agar menjalankan ibadah di malam-malam bulan Ramadhan:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang beribadah (sholat) pada malam bulan Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi menjelaskan, "bahwa tidak ada yang dimaksud secara khusus dalam kata “qaama romadloona” kecuali sholat tarawih dan itu pula yang kemudian menjadi kesepakatan para ulama lainnya, bahwa salat tarawih adalah “qiyamu romadlona” (sholat di malam bulan Ramadhan). Ada prasyarat, dimana sholat tarawih dapat “menghapus” dosa-dosa seseorang yang telah dilakukannya dimasa lalu, yaitu pelaksanaannya harus didasari oleh keimanan dan keikhlasan. Kalimat “imaanan” yang dimaksud menurut an-Nawawi adalah “yakin dan membenarkan (tashdiiqan)”, sedangkan “ihtisaaban” adalah “hanya kehendak Alloh ﷻ yang tidak ada kaitannya dengan cara pandang manusia, sehingga tidak mungkin didalamnya bertentangan dengan keikhlasan.”

Menarik ketika para ulama berbeda pendapat soal dosa yang diampuni ketika seseorang menjalankan salat tarawih, apakah dosa masa lalu ataukah termasuk yang akan datang? Apakah hanya dosa-dosa kecil saja yang diampuni apakah termasuk juga dosa besar? Dalam riwayat An-Nasai ditambahkan kalimat “wa maa takhkhara” (dosa-dosa yang akan datang) setelah “ma taqaddama”. Ini artinya, bahwa hadis ini berbicara secara umum, dimana ampunan Alloh ﷻ akan berlaku baik bagi dosa yang telah lalu maupun yang akan datang. Hal ini dibantah oleh Ibnu al-Mundzir, bahwa yang dimaksud sebenarnya hanyalah dosa kecil tidak termasuk dosa besar. Imam Nawawi sendiri beranggapan bahwa para ahli fiqh sepakat bahwa ampunan, logikanya berlaku untuk dosa yang telah dilakukan, bukan dosa yang belum atau akan diperbuat.

Keistimewaan dan luasnya ampunan Alloh ﷻ yang ada dalam kegiatan sholat tarawih, dipertegas oleh serangkaian kebiasaan yang dijalankan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya. Awal mula sholat tarawih dilakukan, terekam dalam sebuah hadis riwayat Aisyah RA:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ، ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ ، فَكَثُرَ النَّاسُ ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ : ( قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ)

"Dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah  ﷺ melakukan sholat di masjid pada suatu malam di bulan Ramadhan, lalu orang-orang mengikutinya dan bertambah banyak yang mengikuti setelahnya. Lalu orang-orang berkumpul pada hari ketiga atau keempat, namun Rasulullah ﷺ tidak kunjung keluar menemui mereka di masjid. Rasulullah ﷺ kemudian datang ke masjid di waktu sholat Subuh dan bersabda: “saya menyaksikan apa yang kalian perbuat (pada malam itu), tetapi saya menahan diri untuk tidak keluar dan bergabung bersama kalian, karena saya khawatir ibadah ini (sholat tarawih) justru menjadi wajib bagi kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sholat tarawih sejak zaman Rasulullah ﷺ dilakukan di masjid dan berjamaah, hanya saja Rasulullah ﷺ pada hari keempat tidak kembali ke masjid dengan alasan khawatir bahwa salat tarawih justru dianggap “wajib” oleh umatnya, padahal ia hanyalah ibadah sunnah. Namun, bukan juga berarti bahwa Rasulullah ﷺ kemudian tidak pernah kembali ke masjid, karena dalam beberapa riwayat lainnya, Rasulullah ﷺ tetap menjalankan tarawih pada malam-malam tertentu sepanjang bulan Ramadhan. Dalam sebuah riwayat Ahmad disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepada Aisyah agar di setiap malam di akhir waktu sholat Isya, mengetuk pintu mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ akan keluar ke masjid, melaksanakan salat tarawih berjamaah di sepertiga malam bersama masyarakat.

Namun demikian, terkadang jika Rasulullah ﷺ tidak hadir di masjid, jamaah sholat tarawih terpecah menjadi beberapa kelompok dengan bacaan dan imam tersendiri atau yang terbanyak setiap orang melakukan sholat tarawih sendiri-sendiri (munfarid). Hal ini terus berlangsung hingga masa Khalifah Abu Bakar dan mulai dikumpulkan dalam satu imam dan bacaan ketika masa kekhalifahan Umar. Salah satu atsar yang berasal dari riwayat Bukhari dan dimuat juga dalam kitab al-Muwatho:

عن عبد الرحمن بن عبد القاري أنه قال خرجت مع عمر بن الخطاب في رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط فقال عمر والله إني لأراني لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل فجمعهم على أبي بن كعب قال ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم فقال عمر نعمت البدعة هذه والتي تنامون عنها أفضل من التي تقومون يعني آخر الليل وكان الناس يقومون أوله

"Dari Abdurrahman bin al-Qari, bahwa suatu malam di bulan Ramadhan, dirinya keluar bersama Umar bin Khattab menuju masjid. Maka, tampak setiap orang sibuk dengan diri dan kelompoknya, mereka terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang menjalankan sholat bahkan ada juga yang melakukannya secara sendiri-sendiri. Lalu Umar berkata, “saya membayangkan, seandainya saya kumpulkan mereka dalam satu bacaan (imam) yang sama. Umar kemudian menunjuk Ubay bin Ka’ab untuk menjadi imam bagi sholat mereka, lalu orang-orangpun berhimpun dalam satu jamaah salat tarawih dengan dipimpin satu orang imam. Umar kemudian berkata, “senikmat-nikmatnya bid’ah adalah hal ini (mengumpulkan orang-orang salat tarawih berjamaah dengan satu bacaan atau imam). Mereka yang tidur dahulu sebelum tarawih atau di akhir sepertiga malam lebih utama, walaupun kebanyakan melaksanakannya di awal malam (ba’da Isya)."

Inilah salah satu dari bid’ah hasanah, sebagaimana ungkapan Umar. Hal inipun sekaligus menepis anggapan bahwa bid’ah itu segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Kalimat Umar yang menyatakan “ni’matil bid’atu hadzihi” 
(senikmat-nikmatnya bid’ah) dijelaskan oleh Asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar, bahwa bid’ah pada asalnya dengan demikian merupakan “sesuatu hal yang baru yang tidak dicontohkan oleh generasi sebelumnya.” Lalu, secara umum syariat akan menjelaskan makna bid’ah sebagai hal yang bertentangan dengan sunnah sehingga wajar jika bid’ah  kemudian disebut hanya perkara buruk yang madzmumah atau  sayyiah, tidak ada yang  hasanah. Padahal—menurut asy-Syaukani—yang benar adalah ketika perbuatan itu secara umum baik atau dipandang secara syariat baik, maka ia menjadi hasanah tidak lagi bid’ah. Kecuali, jika secara syariat dipandang buruk atau bertentangan dengan sunnah, maka jelas itulah bid’ah yang dimaksud. Selama tidak bertentangan dengan akal dan syariah, maka segala sesuatu dihukumi “mubah” (boleh).

Sholat Tarawih merupakan sholat Tathawwu’ yang tidak ada patokan secara pasti berapa jumlah raka’at yang ditetapkan. Tarawih Umar menurut Imam Malik sebagaimana dikutip dalam al-Muwatho’ raka’atnya berjumlah 23 termasuk witir. Namun demikian, dalam kitab inipun dikutip berbagai jalur periwayatan yang berbeda-beda soal jumlah raka’at tarawih. Ada yang menyebut 11 raka’at (riwayat Muhammad Ibnu Yusuf bin dari Saib bin Yazid), ada juga yang menyebut 21 raka’at (riwayat Muhammad bin Nashr dari Muhammad bin Yusuf), ada juga yang 20 raka’at (riwayat Yazid bin Khashifah dari Saib bin Yazid). Riwayat paling masyhur sebagaimana dikutip Atha’ dari jalur Muhammad bin Nashr, bahwa raka’at tarawih adalah 23, termasuk tiga raka’at witir. Walaupun Ibnu Hajar tetap membolehkan menggabung diantara raka’at-raka’at tersebut dengan alasan, bahwa jika bacaannya panjang maka bisa dilakukan dengan rakaat yang pendek, namun sebaliknya jika bacaannya pendek, dapat dilakukan dengan sholat tarawih lebih banyak raka’atnya.

Wallahu a'lam

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Kiki ~ Dumai
Ustadz, jikalau saat sedang tarawih ada rasa sedikit berat dikarenakan kekenyangan, apakah itu termasuk tidak ikhlas kah ustadz?

🌸Jawab:
Wah, untuk menghindari kekenyangan, sebaiknya berbuka sekadarnya, nanti bisa dilanjut setelah tarawih. Urusan ikhlas dan tidak, biarlah Alloh ﷻ menilainya, selagi kita beribadah hanya karena mengharap ridha Alloh ﷻ, insya Alloh ﷻ ikhlas.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Safitri ~ Banten 
1. Ustadz kalau selama bulan ramadhan tidak bisa ikut sholat tarawih karena tuntutan pekerjaan, mau sholat tarawih sendiri merasa kurang yakin ustadz, tidak bisa ikut sholat tarawih tapi insya allah malam sebelum sahur menjalankan tahhajud plus witir apa itu tidak apa-apa ustadz?

2. Ketika kita tidak bisa mengikuti sholat tarawih selama bulan ramadhan apa ibadah puasa kita kurang sempurna?

🌸Jawab:
1. Tarawih itu sama dengan qiyamullail bisa berfungsi menggantikan tahajud di hari-hari biasa, tetap harus diperhatikan tarawih itu sunah, sehingga ketika tidak dikerjakan ya tidak apa-apa tetapi kita rugi kehilangan pahala yang besar di bulan Ramadhan.

2) Ibadah puasa hanya Alloh ﷻ yang akan membalas, sejauh apa kualitas puasa kita, Alloh ﷻ langsung yang membalasnya. Ya bisa jadi tidak sempurna ibadah puasanya, karena dalam redaksi hadis tidak hanya "man shoma romadhona.. " tapi juga "man qaama romadhona" (mereka yang mendirikan sholat di malam ramadhan).

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Ya selamat menjalankan ibadah puasa, hidupkan malamnya dengan sholat tarawih, sebab tarawih hanya ada di bulan Ramadhan.

Wallahu a'lam