Minggu, 25 April 2021

BERSAMA ATAU BERPISAH


OLeH: Ustadz Awan Abdullah 

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•
           
⚫PENGANTAR TEMA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat-sahabat Bidadari Perindu Surga yang dirahmati Alloh ﷻ dicintai Allah subhanahu wa taala.

Malam hari ini di sisa waktu tinggal delapan menit. Karena tadi katanya sampai jam la berarti tinggal delapan menit. Banyak candanya biar tidak ngantuk ini soalnya bertahan ini melek. Tema kita adalah BERSAMA ATAU BERPISAH. Ya terserah ya. Jadi begini jawabannya nih jangan ngomong jawaban dulu nih, kasusnya apa dulu? 

Bersama atau berpisah. Begini saja ya, saya akan buat bingkai dulu ya, bingkai pembicaraan atas tema kita. Bersama atau berpisah ini bisa di dalam bersahabat, bisa dalam rekan kerja bisnis, bisa dalam taarufnya yang sedang proses atau macam-macamlah, tapi saya ingin mengkhususkan, saya ingin membuat mmm pagar, batas rimbanya. Ribet agama ini ribet tema kita ini, pembatasnya itu yaitu lebih kepada hubungan suami istri ketika pernikahannya sudah dalam kondisi sulit untuk dipertahankan. Ibarat kata seperti telur di ujung tanduk. Atau istilah lainnya, maju kena, mundur kena, atau ibarat juga disebut buah simalakama. 

Bingung ini. Nah, mau maju bersama rasanya sudah tidak kuat. Mau berpisah sepertinya kok tidak kuat juga. Kasihan, banyak pertimbangannya. Berat sama-sama beratnya. Lah kalau sudah pakai harus sudah begini, terus bagaimana solusinya? Nah, dengarin dulu audio seterusnya.

⚫HAKIKAT DAN NIAT

Baik. Baik, terus pokoknyalah. Teman-teman sini insyaallah baik-baik ya. Ini kenapa sih kok saya dimasukinnya yang grup yang kedua? Kenapa gitu? Bukan yang ada perindu surga satu, one, ada yang three begitu. Kenapa saya dua. Apa karena istri dua. Dikasihnya yang dua saja grupnya ini. Jangan-jangan di sini perindu surga yang dua ini yang khusus istri kedua semua ya. Astagfirullahalazim saya terjebak berarti. Enggak apa-apa ya. Tayib. Semangat ya. Yang penting bahagia begitu. 

Ya kita kembali ke hakikat dan niat. Maksudnya bagaimana? Dalam rumah tangga tuh kalau terjadi konflik, badai, ya, yang benar-benar membuat tadi itu seperti telur di ujung tanduk, maka di saat itu, kita harus kembali ke hakikat dan niat. Maksudnya hakikatnya tuh mas Wawan? Maksudnya begini. 

Kembalikan niat awalnya dulu, dulu nikah itu karena apa? Kau memilih dia itu karena apa? Kenapa kamu milih dia? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? 

Sekarang giliran dia begitu, kamu protes. Padahal dulu ketika sudah tahu kekurangannya, kenapa tidak protes? Kembali ke niatnya dong, dulu kalau niatnya kepingin ini pak ustadz, saya nikah tuh kepingin saling menyempurnakan yah, kalau dia ada kekurangan, saya juga sama pak Ustadz, saya mah juga ada kekurangan, terus bagaimana maksudnya teh, kok sekarang inginnya pisah? Teteh kenapa? Anu, Pak Ustadz. Teteh teh tidak kuat Pak Ustadz. Tidak kuat kenapa teh? Anu, Pak Ustadz, dulu memang teteh tuh kepinginnya eh saling menyempurnakan kekurangan. Tapi kenapa gitu teteh tuh yang harus berusaha, terus menyempurnakan diri tapi dia memang tidak mau Pak Ustadz. Suami saya yang tidak mau. Terus kumaha ieu? Begitu kan? Kata si teteh ini. 

Sebut saja namanya teh, teh siapa tuh ya, teh. Teh rini, gitu ya. Teh rini. Terus kita bilang begini, teh rini, teh rini teh bagaimana, dulu katanya mah niat nikah ikhlas karena Alloh ﷻ. Kalau teh Rini menikah karena Alloh ﷻ, kalau lihat suami belum ada perubahan, ya sudah mengikhlaskan. Kalau namanya ikhlas karena Alloh ﷻ, ya hijrah berubahnya bukan karena suami, benar tidak ini? Jadi kalau memang niatnya untuk ingin lurus karena Alloh ﷻ ya, berarti tidak peduli mau suaminya berubah, suami tidak berubah, tidak ada urusan, demi Allah urusan. Urusan kita hanya kepada Alloh ﷻ, ibadah, fokus memperbaiki diri. Begitu. Ini, benar tidak ini hadirin semua? 

Nah, jadi pertama kembali ke NIAT. Kalau dulu nikah. Niatnya itu ingin saling menyempurnakan ya sudah. Berarti kita harus siap terima kekurangannya dan berusaha menyempurnakan dia. Nah persoalannya orang itu untuk berubah ada yang cepat, ada yang lambat. Berarti kalau pasangan kita lambat berubahnya, itu nasib kita yang harus kita sabari begitu ceritanya ini. Ini masalah bab niat. Niat dulu ingin lebih taat. Lah lihat dia taat nih. Ya taat Pak Ustadz. Terus kenapa pingin pisah? Ada karakternya yang bikin saya tidak suka Pak Ustaz. Apa karakternya? Dia cuek, kurang perhatian. Hubungan pernikahan rasanya hambar, Pak Ustad. Lama-lama saya tidak cinta lagi sama dia. Benar-benar saya tidak ada rasa cinta. Bagaimana saya mau kan? Ingat dulu niatnya nikah karena apa? Karena ibadah. 

Niatnya ingin menyempurnakan separuh agama. Terus ternyata setelah nikah dia begitu, padahal separuh agama itu adanya lewat pernikahan, artinya apa? Karena memang pahala-pahala itu baik, setengahnya itu ada dalam pernikahan. Kan amal shaleh itu terbentang luas tuh banyak tuh. Nah, yang separuhnya itu adalah amal shaleh yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan suami istri atau orang yang sudah berkeluarga, berumah tangga. Nah, oleh karena itu kalau niatnya memang dulu karena Alloh ﷻ, niatnya nikah ini menyempurnakan agama, ya sudah, berarti bersabar, ajak berubah, berubah. Wong selama ingin lebih taat sama Alloh ﷻ, ya. Selama dia tidak ngajak maksiat, ya tidak masalah. Lanjut saja. Sebentar ya, kita dengarin lagi audio berikutnya nih.

⚫ALASAN KEBOLEHANNYA BERPISAH

Kalau kita memutuskan, jangan kitalah ya, kita mah tidak kepingin pisah sepertinya, tetap di grup ini. Teman-teman ukhti fillah sekiranya rumah tangga itu sudah tidak kuat. Dan rasanya ingin pisah. Coba dicek. Ada tidak kasus berikut? Atau poin-poin berikut dalam rumah tangga. Kalau tidak ada, berarti tidak boleh pisah. Kalau poin-poin yang mau saya sebutin ini ternyata ada, berarti layak dan boleh berpisah, kenapa? Karena dianggap sudah uzur syar'i. Tapi kalau tidak, tetaplah bersama. Dan harus bersama. Karena bisa jadi, dia itu bisa jadi, cuman masalah biasa, mungkin hanya kita saja yang kurang dewasa atau kita belum tahu ilmunya saja untuk nyelesaikan. Tapi kalau yang mau saya sebutkan ini, poin-poin ini, ah ini yang sudah menjadi alasan syar'i kebolehannya berpisah. Apa itu? 

🔹ALASAN PERTAMA (Ketika pasangan kita durhaka kepada Alloh ﷻ subhanahu wa taala)

Dalam arti sengaja menentang Alloh ﷻ lewat menantang syariatnya, membenci syariatnya, atau memerangi agamanya, menjadi musuh-musuh maka kita boleh, malah kata para ulama yang demikian ini wajib dia harus berpisah. 

Dengan siapa? Dengan pasangan yang telah berubah menjadi musuh-musuh Alloh ﷻ. Misalnya, dia sudah tidak mau shalat, alasannya bukan karena malas ya, Mi, capek entar deh, entar deh begitu. Kalau itu kan masih malas. Berarti masih tidak, tidak ada masalah itu masih, tidak, tidak problemlah. Tapi kalau sudah sampai alasannya itu karena misalnya dia enggak salat karena buat apa shalat, shalat itu kan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Berarti kan orang-orang yang suka berbuat keji dan mungkar. Ya kan? Mama lihat sendiri, papa apa pernah berbuat keji mungkar? Apa pernah? Coba lihat tetangga-tetangga, ada tidak yang benci sama papa? Ya berarti kan papa tuh tidak butuh salat dong, sudah tidak perlu shalat lagi. Shalat tuh hanya butuh bagi orang-orang yang memang bajingan-bajingan itu.

Nah ini kan pemahaman yang keliru ya, fatal ini. Nah dia meyakini begitu dan dikasih tahu tepatnya yang tidak berubah, diajak diskusi dengan ustadz, dia tidak mau. Pemahamannya seperti itu, berarti dia telah menyimpang, keluar dari Islam. Kalau yang seperti itu, itu berarti itu boleh. Jadi yang pertama, apabila pasangan itu menjadi musuhnya Alloh ﷻ, atau membenci syariatnya. Misalnya benci dengan poligami, termasuk syariatnya. Tidak ada Islam itu poligami, yang adanya monogami, misalnya gitu ya, poligami itu tidak ada, itu orang-orang yang bersyahwat saja itu. Cari akal-akalan. Padahal Islam itu turun untuk menghapus poligami. Tapi bertahap, bertahap, tapi tujuan utamanya adalah untuk monogami. Hal ini kan pemahaman keliru nih. Dari si itu tuh, dosen perempuan yang nauzubillah min dzalik. Justru ucapannya itu menjadi musuh bagi agamanya. Padahal dosen agama, tapi mulutnya itu menjadi musuh. Keji sekali. Nah, yang begitu itu kalau kita orang beriman, bertakwa, harus pisah dengan yang seperti itu. Tidak, jadi musuh lah.

🔹ALASAN KEDUA
Kalau yang pertama tadi menentang Alloh subhanahu wa taala. Karena maknanya begitu ya. Wanita yang shalihah itu adalah yang taat. Dan dia menjaga kehormatan. Nah, makanya masuk yang kedua. Apa nih? Yang kedua, bolehnya bercerai apabila pasangan kita sudah tidak mau lagi menjaga kehormatan dirinya. Itu sudah boleh. Apa nih contohnya? Dia tidak mau menjaga kehormatan. Dia berkali-kali selingkuh, sampai berzina, dan tidak bertobat dari perbuatannya. Terus lagi zina lagi, dikasih tahu, terus lagi dipergoki, tidak kapok. Terus dia seperti itu, dan sudah menjadi tabiat, paling minta maaf. Tidak lama kemudian kumat lagi, kumat lagi. kalau dia sudah tidak menjaga kehormatan dirinya, berarti dia termasuk sudah menjadi bolehnya alasan, kenapa? Karena orang itu termasuk orang yang kotor. Maka kata Alloh ﷻ kan mengatakan pezina hanya dengan pezina. Orang yang tayibin, tayib, orang yang baik itu tayibin, mutayibat, orang yang Laki-laki atau laki-laki yang baik dengan yang wanita-wanita yang baik pula. Nah begitu. Artinya mmm yang baik sama yang baik saja. Kalau berzina dengan berzina. Nah kalau dia berzina bolak-balik berzina maka dia layaknya menikah dengan Nah, bukan dengan wanita yang baik-baik suci atau laki-laki yang baik, yang suci. Nah ini, jadi alasan kedua karena dia tidak menjaga kehormatan. Ini berlaku ya laki-laki atau perempuan. Sama. Perempuan selingkuh, laki-laki selingkuh, banyak. Nah, itu kalau terjadi begitu, boleh berpisah. Karena khawatir membawa penyakit virus, kemudian bisa menyebar juga kepada kita orang yang misalnya taat, bisa terkena penyakit itu. Nauzubillahi minzalik.

🔹ALASAN KETIGA
Alasan ketiga yaitu apabila dalam rumah tangga salah satunya menjadi terancam jiwanya keselamatannya. Mungkin pasangannya itu kalau marah dia sering kalap menghajar, membabi buta seperti bukan manusia. Mungkin dia kadang-kadang sering ngancam bahkan sering menodongkan pisau golok, terancam dia. Bahkan dia tidak segan-segan mungkin melukai pasangannya begitu. Entah dengan batu, dipukul dengan sapu dengan pisaumaka kalau sudah sampai ke tahap membahayakan jiwa atau keselamatan dan diri maka itu boleh menjadi alasan syar'i. Kalau bahasa kitanya KDRT begitu.

🔹ALASAN KE EMPAT
Nah, masuk ke alasan keempat, apakah dia layak berpisah? Atau tidak lihat ayat alasan yang keempat apa? Murtad. Kalau dia sudah murtad dari agama, dalam Islam pernikahannya fasakh. Fasakh itu artinya batal pernikahan kalau sudah batal wajib pisah, karena itu seperti orang shalat tahu-tahu maaf ya. Keluar anginnya. Ah berarti dia pas win. Automatically shalatnya batal. Pernikahan juga begitu salah. Satunya murtad. Automatically BATAL pernikahannya. Kalau beginilah harus berpisah. Dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

🔹ALASAN KE LIMA
Alasan kelima apabila pasangan kita, apa dia telah meninggalkan kewajibannya, dan tidak menunaikan hak pasangannya. Maka itulah menjadi alasan untuk berpisah. laki-laki harusnya dia memberi nafkah dari hartanya tapi si suaminya tidak mau kasih nafkah. Beda ya sama tidak mau, tidak mau dengan tidak mampu. Kalau tidak mampu itu suaminya sudah kerja, sudah berusaha berjuang sudah sana-sini keluar rumah Iya kan nemuin teman-temannya barangkali begitu ya, cari usaha nawar-nawarkan diri belum ada dapat-dapat. Sehingga dia tidak bisa menafkahi karena memang tidak dapat. Akhirnya keluarganya diajak berpuasa terus gitu. Ini tidak boleh dia minta cerai. Dosa. Dosa besar gitu. Padahal kata Alloh ﷻ kan suami itu memberi makan apa yang dia makan memberi minum apa yang dia minum, kalau dia tidak makan dia berarti sekeluarga tidak makan. Yang penting ikhlas rida. Ya. Yang tidak boleh nuzul itu kalau suaminya memang malas. Tidur-tidur, nyantai, tidak kerja begitu ya, tidak ada upaya, tidak ada ikhtiar, gitu. Akhirnya istri anak-anak kelaparan semua. Nah ini ya tidak boleh. Ya ini namanya nuzul. Perempuan. Disuruh dia nuzusnya apa ya? Dia taat sama suami. Tapi dia tidak mau taat lagi sama suami. Enggak mau bikinkan, tidak mau masakan, tidak mau ini, itu suaminya suruh cari sendirilah, apa segala macam. Sama sekali tidak mau melayani suaminya diajak berjimak saja, sering menolak begitu ya, alasannya mungkin karena suaminya miskin begitu. Nah, ini yang begini ini, maka boleh menjadi alasan untuk berpisah. Alasan berpisah itu boleh. Ya, jadi apa? Nuzuz. Tidak bisakewajiban dan tidak memenuhi atau tidak memberikan hak bagi pasangan kita.

🔹ALASAN KE ENAM
Terakhirnya sudah ngantuk sekali. Afwan ya para Perindu Surga semuanya insya Allah. Alasan keenam. Boleh bercerai atau tidak nih? Kasusnya apa nih? Anu mas Awan. Suamiku untuk nikah diam-diam, masak nangis nih sudah nikah. Enggak cerita hancur adikku masa mana kok remuk. Bagaimana coba. Sakit aku gitulah kira-kira si akting si ibu nih remuk di hatinya tuh. Tahu istrinya, suaminya tahu-tahu nikah diam-diam, malah sudah punya anak baru ngaku. Mau lanjut apa pisah mas Awan kalau begini mas Awan. Masih sama mas Awan saja ya. Hus, ngawur ibu nih. Kan gitu dong. Selesaikan dulu sama suami gitu toh untuk saya lagi. ngawur. 

Begini ceritanya nih, ini bercandanya biar tidak ngantuk nih, saya ngantuk sekali. Kalau terjadi suami kok tiba-tiba nikah tanpa sepengetahuan karena kurang ilmu, kurang adab, kurang syariat tadi. Apakah pisah tahu tidak nih mas awan. Sebaiknya bersama, tetap bisa. Bersama saya sudah tidak feel sama suami. Sudah tidak ada hasrat sama suami. Tapi kalau saya pisah. Kasihan sama anak-anak kasihan orang tua saya. Apa fitnahnya bisa jadi janda, berat mas Awan. Nah, pertama tanyakan ke suami apa, ini kayaknya sudah kita bahas ya, di minggu lalu, eh bulan dulu ya, kita bahas. Intinya apa? Muhasabah, nanya tentang suami tentang diri kita, habis itu habis itu lihat bagaimana suaminya Apakah dia tuh sebenarnya shaleh atau tidak. Tipenya dia nikahi. Kemarin nikahi dengan si dia itu pacaran apa taaruf. Terus si akhwatnya ini atau adik madu ini kira-kira sholehah atau tidak. Ya, berarti harus tahu itu. Kalau dia sholehah ya sudah ajak bersinergi insyaallah yang marah, kesal. Itu semua bisa hilang. Tapi kalau eh ternyata dia tidak sholehah, sifatnya seperti pelakor memang tukang goda laki orang. Nah ini yang, yang berat di situ. Perkara ini perlu dirembuk dengan keluarga besar, perlu istikharah terus. Nah, baru nanti putuskan. Begitu ya. 

Demikian yang bisa saya sampaikan ke teman-teman semua Perindu Surga. Semoga berkah bermanfaat disambung besok subuh. Tapi kalau mau yang nanya-nanya, monggo. Ditulis saja langsung di kolom komentar ya di kolom komentar. Nanti langsung saya jawab, insyaallah. Tapi jawabnya besok subuh, begitu ya. Ini gantian saya. Dalam kondisi kantor harus pindah ke grup lain. Ada grup satu lagi kajian belum, belum saya tunaikan ini. Afwan, ya.

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Yani ~ Bandung
Ustadz, mau dong kiat-kiat kita menjalani ikhlas dalam mengarungi bahtera rumah tangga?

🌸Jawab:
Kiat-kiat ikhlas menjalani rumah tangga. Ini pertanyaannya sebenarnya kiat-kiat ikhlas, apa kiat-kiat ridha ya. Kalau ikhlas tuh, ya ikhlas itu kan lurusnya niat karena Alloh ﷻ. Coba pegang mmm resep, apa resepnya? Sibuk saja kita memberi, jangan menuntut. Dalam rumah tangga itu kalau suami ataupun istri. Fokusnya itu adalah memberi bukan menuntut, maka insya Allah itu dia bisa harmoni rumah tangganya kokoh begitu. 

Tapi kalau masing-masing itu fokus dengan haknya ya, tidak bisa, tidak bisa rumah tangga tuh pasti macet. Karena akan menuntut, menuntut istrinya suami menuntut istri menuntut, kalau sudah menuntut, pasti akan mencari-cari kesalahan pasangan. ya kalau nikah itu berumah tangga. Jangan fokusnya adalah menuntun tapi fokusnya jangan mau menuntut atau meminta. Fokusnya itu adalah memberi itu. Perkara dia tidak membalas eeemmm dia tidak menunaikan haknya kita. Tidak ada urusan, itu kan urusan dia dengan Alloh ﷻ. Namanya ikhlas tuh begitu. Begitu ya mbak Yani.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Erni ~ Yogja
Assalamualaikum Ustadz, 

Di awal pernikahan kami sepakat ngepras generasi. Dari nenek kakeknya anak-anak yang sekuler. Ditengah perjalanan pernikahan, hidup tanpa ridho orang tua, tidak enak juga. Saya dan anak tetap siap dalam hijrah, tapi suami balik ke pemahaman keluarga. Bagaimana bisa mengetahui kenapa sampai saat ini suami mempertahankan pernikahan ini?  Bagaimana cara menghadapi sikap beliau yang cemburuan? 
Mohon pencerahannya ustadz. 

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Ini mbak Erni bahas masalah hijrahnya atau cemburunya. Dua-duanya ya. Saya juga tidak tahu kalau misalnya suami mempertahankan rumah tangga ya tidak lain pasti karena, satu, mungkin dia masih cinta, yang kedua karena faktor anak mungkin, jadi pertimbangan mau cerai kasihan anak. Belum lagi malu sama tetangga, keluarga, teman-teman, kan efek sosialnya itu kan berat. Konsekuensinya itu. Nah, jadi Mbak Erni, kalau Mbak Erni ingin hijrah dengan anak hijrah, hijrah tinggal hijrah, tapi jangan hijrah tidak ngajak-ngajak begitu ya, hijrahlah sambil mengajak-ngajak keluarga ngajak suami. Kenapa Mbak bisa dapat hidayah? Ya, tularkan itu ke suami. Perkataan apa yang bikin mba berubah? Nah, perkataan itu ucapkan ke suami. Kalau suami belum berubah, ya enggak apa-apa, memang bukan tugas kita ngerubah orang lain. Hidayah itu bukan kita yang bagi-bagiin. Tapi Alloh ﷻ yang bagi-bagiin, kita cuman menjadi wasilah saja. Sudah begitu saja. 

Nah kita berangsur-angsur hijrah membaik. Hijrah yang paling baik itu adalah hijrah akhlak. Artinya setelah hijrah iman pasti ya. Tapi terus kemudian kita hijrahnya hijrah akhlak, bukan pada penampilan. Penampilan itu nomor tigalah, fokus pertama itu hijrah keimanan dulu kan? Yang kedua, hijrah apa? Akhlak. Makanya Rasulullah ﷺ itu makaa rimal akhlak. Rasulullah ﷺ itu diutus karena untuk memang menyempurnakan akhlak yang mulia. 

Rasulullah ﷺ diutus itu kan dakwahnya lewat apa waktu itu? Lewat akhlak, waktu itu lebih banyak Rasul itu dakwahnya lewat akhlak dan semua orang-orang kafir Quraisy waktu itu mereka itu tidak ada yang membenci Nabi karena ucapannya, tidak ada yang membenci Nabi karena akhlaknya tuh tidak ada, semua mengakui akhlaknya berbudi pekerti. Mereka tuh tidak ada yang benci dengan Rasulullah ﷺ. Tapi yang mereka benci itu adalah apa yang dibawa oleh Nabi. Karena yang di bawah Nabi itu akan menghapus strata sosial, menghapus berhala-berhala mereka yang mereka sembah. Segala macamnya itu. Dan itu mengancam kedudukan mereka, orang-orang kafir, mengancam kekuasaan mereka, begitu loh. 

Jadi Rasul itu dibenci bukan karena akhlaknya, walaupun Rasul hijrah menjadi Nabi, akhlak tetap mulia tetap indah. Makanya orang hijrah itu perbaiki akhlak. Kalau yang cemburuan, bagaimana cara ngatasinya? Begini saja Mbak, bilang sama suami, Mas Mbak ya bilang sama suami Mas, Mas kalau mau selingkuh, selingkuh saja. Mas, kalau Mas kalau mau berzina, berzina saja, gituin saja. Nanti dia bilang, loh kok kamu nyuruh-nyuruh aku? Tidak, aku tidak nyuruh. Aku cuman ngasih kamu kebebasan, kalau kamu mau selingkuh, mau berzina, mau apa, silakan. Tapi ingat, ada yang menyaksikan ada Allah subhanahu wa ta'ala yang pasti akan menurunkan azabnya. Entah penyakit kelamin, entah apa. Jadi mas, aku tuh sudah titip kamu ke Alloh ﷻ, maka aku tidak pernah cemburu-cemburu sekali sama kamu. Masih standar lah biasa. Aku tidak cemburuan begitu sama kamu, tidak cemburu buta.

Kenapa? Karena aku sudah titipkan kamu ke Alloh ﷻ, kalau kamu berani macam-macam, khianat. Alloh ﷻ pasti akan turunkan azab ke kamu mas. Begitu pula aku mas, titipkan saja ke Alloh ﷻ. Aku tuh mikir seribu kali, berjuta-juta kali kalau aku mau selingkuh. Kenapa? Ya nanti kalau Alloh ﷻ turunkan aku azab, bagaimana?

Gitu, sampaikan ke dia. Maka titipkanlah saja mas, aku tuh ke Alloh ﷻ dalam pemeliharaan Alloh ﷻ penjagaan Alloh ﷻ, perlindungan Alloh ﷻ, pengawasan Alloh ﷻ, begitu. Biar mengawasi ku langsung.

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Cita ~ Rembang
Assalamualaikum Ustadz,

Semalam ketinggalan kajian, suami kan anak Ragil, masih ada ibu, di Semarang tinggal di rumah sendiri (tapi ada kakak kandung suami di rumah sebelah) lha saya dan anak-anak posisi di Rembang (saya PNS di Rembang), suami setahun terakhir ini wirausaha di Rembang, apakah itu salah? 

Disini karena baru, penghasilannya belum seberapa, lha karena itu suami merasa dihinakan sama Alloh ﷻ karena tidak bersama ibunya. Dan dia menjadi labil pemikirannya. Dia merasa orang lain aneh melihat dia. Yang sama mau tanyakan, yang harusnya menjadi skala prioritas siapa ya? Apa itu ada kaitannya sama sihir perceraian? 
Syukron

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Kalau sihir saya tidak tahu, semoga tidak ada sihir. Sebenarnya selama ibunya ridha, si suami itu kerja di Rembang, insya Allah enggak masalah. Tapi kalau melihat ibunya sudah seperti itu, misalnya sendirian, tua renta, tidak ada siapa-siapa. Sementara kakak kandung yang rumahnya sebelah, kurang perhatian sama ibu, ibu sering mengeluh. Berarti ibu ini butuh ditemani. Caranya, coba dirayu, ibunya diajak ke Rembang. Ya, ibu diajak ke Rembang. Kalaupun tidak bisa diajak ke Rembang, ibu tidak mau, si suami harusnya punya apa ya? Karena suami itu baru mulai merintis di Rembang, mungkin untuk saat ini, akhir-akhir pekan itu sering-sering pulang ke Sumatera, ke Semarang. Jadi pulang ke Semarang untuk tengok Ibu. Minimal hubungan dengan ibu, komunikasi yang bagus, bahasa kitanya sering jeda-jedul gitu ya. Sering setor muka ke ibu, ngasih perhatian ke ibu, insya Allah ibu akan sering mendoakan. Kalau ibu sudah sering mendoakan, insya Allah, kalau ibu sudah mendoakan, lancar semuanya begitu. Apalagi sering pulang tuh sambil minta doanya. Ibu minta doa restunya ya bu. Biar usahaku lancar, kalau lancar aku bisa buka cabang di Semarang. Aku jadi bisa sering ke sini. Kalau bagus, malah bisa pindah ke sini nemani ibu, misalnya begitu kan. Kalau mbak kan PNS bisa minta mutasi. Kepepetnya kalau usaha suami sudah jaya, sudah bagus, PNS-nya ditinggal saja tidak apa-apa gitu, kan mbak sudah jadi istri. Sudah karena yang kasih nafkah kan suami, begitu.

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, kepada sahabat-sahabat Perindu surga yang dirahmati Alloh ﷻ. 

Sebelum kita menentukan dengan pasangan kita, apakah berpisah atau bersama, betul baik buruk dari setiap keputusan. Melibatkan Alloh ﷻ itu hal paling penting. Karena kalau sudah melibatkan Alloh ﷻ, berarti insyaallah di situlah Alloh ﷻ memberikan petunjuk. Kalau sudah Alloh ﷻ berikan petunjuk, insyaAllah itu yang terbaik. Dan itu sudah pilihan terbaik kalau sudah pilihan terbaik. Jangan pernah disesali apa yang sudah dipilih. Karena kalau kita menyesal atas pilihan kita, kita selamanya tidak akan pernah bangkit. Kenapa? Kancil ataupun rusa, yang lari cepat lincah selalu bisa tertangkap oleh harimau. Padahal kecepatan mereka sama-sama cepat. Jawabannya karena harimau itu fokus ke depan sehingga dia bisa menangkap impiannya. Sementara kancil ataupun rusa, ia berlari sambil kali menoleh ke belakang. Sehingga ia akhirnya tertangkap. Begitulah hidup kita, kalau terlalu kebanyakan menoleh-menoleh ke belakang. Belum bisa menatap ke depan, dan belum bisa fokus, kita di terkam oleh harimau. Bahasa kitanya, kita tidak akan pernah bisa bangkit dan tidak akan pernah sampai pada puncak kesuksesan impian kita. Begitu teman-teman. 

Jangan lupa selalu libatkan Alloh ﷻ dalam setiap keputusan kita. Itu dari saya Awan Abdullah, kita berjumpa lagi di gelombang berikutnya. 

Assalamualaikum warohmatullah wabarakatuh.

BEKERJA UNTUK DUNIA DAN AKHIRAT




OLeH: Ibu Hj. Irnawati Syamsuir Koto

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Sahabat-sahabat ku, tiba kembali saatnya kita sharing. 

Segala puji hanya tertuju untuk Alloh ﷻ yang telah mengizinkan kita bersama di majelis ini. Sholawat dan salam kita haturkan untuk Rasulullah ﷺ, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

💎 BEKERJA UNTUK DUNIA DAN AKHIRAT

Sholehah...
Manusia diciptakan Alloh ﷻ sebagai khalifah yang memiliki hak dan kewajiban dalam menjalankan syariat Islam. 

Dengan bekerja dan beribadah manusia dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alloh ﷻ memerintahkan manusia selalu berdoa dan berusaha sehingga apa yang dilakukannya membuahkan hasil. 

Bagi manusia yang bekerja dan berusaha mengubah nasibnya jangan lupa tujuan terakhir kita adalah untuk akhirat. Meski demikian, setiap orang bisa terjebak dari salah satunya; dunia atau akhirat.

Orang yang terjerat pada dunia, ia akan selalu bekerja keras dan berusaha agar apa yang dilakukannya di dunia ini dapat membahagiakan dirinya, seakan-akan kehidupan di dunia ini abadi sehingga memunculkan sikap hidup materialisme dan hedonisme.

Sedangkan orang yang terjerat hanya pada kepentingan akhirat, maka ia akan selalu terus menerus beribadah tetapi melupakan kenikmatan di dunia, berusaha menjadikan dirinya agar dekat kepada Alloh ﷻ. Islam mencintai seorang muslim yang giat bekerja, mandiri, apalagi rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci manusia yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. 

Alloh ﷻ berfirman:

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ

“Maka carilah rezeki di sisi Alloh ﷻ...” (QS. Al ‘Ankabut: 17). 

Bekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajat-nya. Hingga Alloh ﷻ dalam Al Qur`an menggandengkannya dengan jihad memerangi orang-orang kafir.

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Alloh ﷻ; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Alloh ﷻ.” (QS. Al Muzzammil: 20). 

Rasulullah ﷺ bahkan menyebut aktifitas bekerja sebagai jihad di jalan Alloh ﷻ.

Diriwayatkan, beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari pemuda tersebut, 
“Andai saja ini (rajin dan giat) dilakukan untuk jihad di jalan Alloh ﷻ.”

Nabi ﷺ segera menyela mereka dengan sabdanya, 
“Janganlan kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Alloh ﷻ. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Alloh ﷻ. Dan jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Alloh ﷻ. Namun jika ia bekerja dalam rangka riya' atau berbangga diri, maka ia di jalan setan.” (HR. Thabrani, dinilai shahih oleh Al Albani)

Manusia paling mulia di muka bumi ini adalah para Nabi. Tugas yang mereka emban di dunia ini sangat mulia, yaitu berdakwah kepada agama Alloh ﷻ dan mengajarkan risalahnya kepada manusia yang lain. Alloh ﷻ sering mengisahkan kepada kita perjuangan dakwah mereka dalam Al Qur`an. Namun begitu, Alloh ﷻ dalam Al Qur`an juga menyebutkan sisi lain dari kehidupan mereka. 

Mereka juga seperti manusia yang lain pada umumnya, termasuk dalam hal bekerja dan mencari penghidupan. Alloh ﷻ berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al Furqan: 20). 

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya berkata, 
“Maksud-nya, mereka mencari penghidupan di dunia... ayat ini merupakan landasan disyariatkannya bekerja mencari penghasilan baik dengan berniaga, produksi atau yang lainnya.”

Nabi Adam bertani, Ibrahim menjual pakaian, Nuh dan Zakaria tukang kayu, Idris penjahit dan Musa penggembala. Alloh ﷻ mengisahkan dalam Al Qur`an bahwa Nabi Dawud membuat baju besi.

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ

"Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan mu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Alloh ﷻ).” (QS. Al Anbiya [21]: 80). 

"Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari kami. (kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba`: 10-11). 

Nabi kita yang mulia juga mengabarkan, bahwa beliau pernah bekerja sebagai penggembala kambing. 
“Tidaklah Alloh ﷻ mengutus seorang nabi melainkan pernah menjadi penggembala kambing.” Para sahabat berkata, “Begitu juga engkau?” beliau bersabda, “Ya, aku pernah menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah sejumlah uang.” (HR. Bukhari). 

Baginda Rasulullah ﷺ juga berdagang. Beliau pernah melakukan perjalanan bisnis ke negeri Syam untuk menjual barang-barang dagangan milik Khadijah radhiyallahu ‘anha. Oleh karena itu semua, Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja dan berusaha mencari penghidupan. Alloh ﷻ berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mukl: 15). 

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaran lah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Alloh ﷻ dan ingatlah Alloh ﷻ banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10). 

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, 
“Diriwayat-kan dari sebagian salaf bahwa ia berkata, “Barangsiapa yang membeli atau menjual sesuatu pada hari jumat setelah shalat, Alloh ﷻ akan memberkahi untuknya 70 kali.”

Nabi ﷺ bersabda, 
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). 

Semangat ini juga difahami oleh para sahabat yang mulia –semoga Alloh ﷻ meridhai mereka. Mereka juga para pekerja. 

Diriwayatkan Abu Bakar penjual pakaian, Umar bekerja mengurusi kulit, Utsman bin Affan pedagang, Ali bin Abi Thalib bekerja sebagai pegawai lebih dari satu kali untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Begitu juga para sahabat yang lain seperti Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Az Zubai bin Al Awwam, Amr bin al Ash dan yang lainnya memiliki pekerjaan masing-masing dalam rangka mencari penghidupan di dunia ini.

Sholehah, di atas telah dijelaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk bekerja, hidup dalam kemuliaan dan tidak menjadi beban orang lain. Islam juga memberi kebebasan dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan setiap orang. 

Namun demikian, Islam mengatur batasan-batasan, meletakkan prinsip-prinsip dan menetapkan nilai-nilai yang harus dijaga oleh seorang muslim, agar kemudian aktifitas bekerjanya benar-benar dipandang oleh Alloh ﷻ sebagai kegiatan ibadah yang memberi keuntungan berlipat di dunia dan di akhirat. 

Berikut ini adalah batasan-batasan tersebut:

★ Pertama, Pekerjaan yang dijalani harus halal dan baik. 

Alloh ﷻ berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh ﷻ, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah: 172). 

Setiap muslim diperintahkan untuk makan yang halal-halal saja serta hanya memberi dari hasil usahanya yang halal, agar pekerjaan itu mendatangkan kemaslahatan dan bukan justru menimbulkan kerusakan. 

Itu semua tidak dapat diwujudkan, kecuali jika pekerjaan yang dilakukannya termasuk kategori pekerjaan yang dihalalkan oleh Islam. 
Maka tidak boleh bagi seorang muslim bekerja dalam bidang-bidang yang dianggap oleh Islam sebagai kemaksiatan dan akan menimbulkan kerusakan. 

Diantara bentuk pekerjaan yang diharamkan oleh Islam adalah membuat patung, memproduksi khamr dan jenis barang yang memabukkan lainnya, berjudi atau bekerja dalam pekerjaan yang mengandung unsur judi, riba, suap-menyuap, sihir, ternak babi, mencuri, merampok, menipu dan memanipulasi dan begitu pula seluruh pekerjaan yang termasuk membantu perbuatan haram seperti menjual anggur kepada produsen arak, menjual senjata kepada orang-orang yang memerangi kaum muslimin, bekerja ditempat-tempat maksiat yang melalaikan dan merusak moral manusia dan lain sebagainya.

★ Kedua, Bekerja dengan profesional dan penuh tanggungjawab.

Islam tidak memerintahkan umatnya untuk sekedar bekerja, akan tetapi mendorong umatnya agar senantiasa bekerja dengan baik dan bertanggungjawab. 

Nabi ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya Alloh ﷻ mencintai seorang di antara kalian yang jika bekerja, maka ia bekerja dengan baik.” (HR. Baihaqi, dinilai shahih oleh Al Albani dalam “Silsilah As Shahihah”). 

Beliau juga bersabda, 
“Sesungguhnya Alloh ﷻ mewajibkan perbuatan ihsan atas segala sesuatu.” (HR Muslim). 

Yang dimaksud dengan profesional dalam bekerja adalah, merasa memiliki tanggungjawab atas pekerjaan tersebut, memperhatikan dengan baik urusannya dan berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan.

★ Ketiga, Ikhlas dalam bekerja. 

Yaitu meniatkan aktifitas bekerjanya tersebut untuk mencari ridho Alloh ﷻ dan beribadah kepada-Nya. 

Nabi ﷺ bersabda, 
“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari Muslim). 

Niat sangat penting dalam bekerja. Jika kita ingin pekerjaan kita dinilai ibadah, maka niat ibadah itu harus hadir dalam sanubari kita. Segala lelah dan setiap tetesan keringat karena bekerja akan dipandang oleh Alloh ﷻ sebagai ketundukan dan amal shaleh disebabkan karena niat. Untuk itulah, jangan sampai kita melupakan niat tersebut saat kita bekerja, sehingga kita kehilangan pahala ibadah yang sangat besar dari pekerjaan yang kita jalani itu.

★ Keempat, Tidak melalaikan kewajiban kepada Alloh ﷻ.

Bekerja juga akan bernilai ibadah jika pekerjaan apapun yang kita jalani tidak sampai melalaikan dan melupakan kita dari kewajiban-kewajiban kepada Alloh ﷻ. 

Sibuk bekerja tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban.
Shalat misalnya. Ia adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. 

Maka, jangan sampai kesibukan bekerja mencari karunia Alloh ﷻ mengakibatkan ia meninggalkan shalat walaupun hanya satu kali. Begitu pula dengan kewajiban yang lainnya, seperti zakat, puasa, haji, bersilaturahmi dan ibadah-ibadah wajib lainnya.

Itulah beberapa prinsip dan etika penting yang harus dijaga oleh siapa saja yang tengah bekerja untuk mencukup diri dan keluarga yang berada dalam tanggungannya. Bekerja adalah tindakan mulia. Keuntungan dunia dapat diraih dengannya. 

Namun bagi seorang muslim, hendaknya bekerja menjadi memiliki keuntungan ganda, keuntungan di dunia dengan terkumpulnya pundi-pundi kekayaan, dan di akhirat dengan pahala melimpah dan kenikmatan surga karena nilai ibadah yang dikandungnya. 

Wallahu a’lam.

Demikian dulu dari saya. Semoga bermanfaat.

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0⃣1⃣ Safitri ~ Banten 
Assalamualaikum bun,

Kalau diterima kita bekerja terus dan tidak memperdulikan diri sendiri bukan tidak memperdulikan sih lebih ke kita merasa capek dan lelah mungkin badan dan pikiran juga butuh istirahat tapi kita memaksa bekerja terus dan menganggap enteng sudahlah biasa saja nanti kalau diam di rumah malah sakitnya berkepanjangan dibawa kerja saja. 

Apa ketika kita seperti ini itu artinya kita mendzolimi diri sendiri, Bun?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Islam itu sangat peduli dengan ummatnya. Tidak membiarkan ummatnya teraniaya, termasuk menganiaya diri sendiri dengan bekerja tanpa menghiraukan kebutuhan tubuh yaitu istirahat yang cukup.

"Sesungguhnya Tubuhmu Punya Hak atas Dirimu." (HR. Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya dari riwayat Abdullah ibnu Amru ibnu Ash. Hadits "senada juga diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Abi Juhaifah Wahab ibnu Abdullah. Dengan redaksi hadits. (Sesungguhnya Jiwamu Punya Hak atas Dirimu). 

Karenanya berikan hak hak tubuh, baik hak secara fisik maupun secara ruh. 
Jangan egois pada diri sendiri hanya karena ingin menuju pencapaian demi pencapaian. 

Tubuh ini hanyalah pinjaman, jika kita mengembalikannya dalam keadaan rusak kepada pemiliknya, bagaimana kita harus mempertanggungjawabkan jika kita tak berusaha untuk menjaganya? 

Wallahu a'lam. 

0⃣2⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum,

Bu, bagaimana jika bekerjanya mengharapkan yang lebih tapi tidak sadar akan kemapuan diri?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Hampir sama dengan pertanyaan pertama. Berikan tubuh itu haknya, jika sudah silakan bekerja sekuat kemampuan. 

Jangan paksakan tubuh untuk terus bergulat dengan kehidupan sementara kita abai dengan apa yang dia butuhkan!

Wallahu a'lam. 

🌷Maksudnya itu kemampuan tidak seberapa, tapi minta gaji lebih atau minta fasilitas lebih begitu, Bu?

🌀Yaa itu sama saja tidak sadar kemampuan namanya. 
Ada pepatah, Bayang bayang itu sepanjang badan.

Tunjukkan saja kemampuan sebaik baiknya, maka kita akan menerima sesuai dengan apa yang kita usahakan. Kecuali di tempat yang memang gajinya telah ditentukan sesuai ketentuan yang ada. 

Wallahu a'lam. 

0⃣3⃣ Oom Sri ~ Bandung
Bu, apa ada kaitannya antara doa yang tercantum pada Surah Al Baqarah ayat 201 dengan kasus seseorang yang bisa terjebak di dunia dan di akhirat?

🌀Jawab:
Justru sebaliknya Bund, di dalam tafsiran ayat tersebut, doa itu mengajarkan kepada orang-orang beriman untuk menyeimbangkan kehidupan hingga mendapatkan dunia dan akhirat. Mereka yang  berdoa agar meminta kebahagiaan dunia dan akhirat adalah orang beruntung. 

Wallahu a'lam. 

0⃣4⃣ Dwi ~ Bondowoso
Assalamualaikum Bun...

Bekerja adalah kenikmatan luar biasa jika kita menjalaninya dengan ikhlas. Dulu kita sebagai guru mampu bekerja sambil beribadah untuk akhirat, mengajak anak didik kita untuk lebih mengenal Islam dengan ajaran dan kebiasaan yang sesuai dengan ajaran Islam, bahkan kita sering keras dalam hal siswa TIDAK sholat. 

Namun saat ini setiap kita berbicara tentang agama maka yang berhak memberi adalah guru agama. Kita guru lain TIDAK boleh terlalu ekstrem dalam memberikan materi keagamaan. Ini seakan mengikat kami untuk tidak bisa mengajarkan perilaku sesuai ajaran islam. Nikmat sebagai guru sedikit terganggu, Bun. 

Menurut bunda apa yang harus kita lakukan agar kita yang peduli terhadap agama TIDAK dianggap ekstrem, padahal menurut saya biasalah kita bekerja sebagai guru bukan hanya mengajar bidangnya tapi membenarkan juga akidah mereka?

Maaf kalau terlalu panjang bunda, ini baru-baru saja karena saya terima infonya.

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Saya juga baru dengar ini kasus seperti ini. 
Seorang guru adalah pendidik bagi murid-muridnya. Sebagai orang tua, sudah sepantasnya guru mendidik anak-anak dengan baik, selama apa yang dia berikan itu benar, tidak menyalahi kaidah kaidah ilmu yang berlaku. Kenapa harus membatasi? 

Silakan pengawasan tetap berada di bawah guru bidang studi, tapi untuk mengingatkan, membetulkan yang salah, mengajarkan dilakukan oleh siapa saja dengan syarat dia mengetahui ilmu tersebut. itu sih menurut saya. Begitu Islam mengajarkan kita, lihat apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan. Kenapa kita malah membatasi penyampaian ilmu? Siapakah kita? 

Wallahu a'lam. 

0⃣5⃣ Yulia ~ Bekasi 
Assalamualaikum, 

Bu, bagaimana jika seorang pembantu yang bekerja di tempat majikan yang mencari rezekinya dengan cara yang tidak halal? Apakah harus keluar dari pekerjaannya?

🌀Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Iyaa, cari kerjaan lain yang uangnya didapat dengan cara halal. 

Meski kita bekerja dengan cara yang benar, tapi dihulunya tidak benar, akan tidak benar sampai ke hilir. 
In syaa Allah, Alloh ﷻ telah menjamin rezeki kita kok, tidak perlu takut. 

Wallahu a'lam.

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Sahabat-sahabatku...

Kita harus berusaha dan berdoa semaksimal mungkin agar hidup yang  menjalani menjadi lebih baik. 

Seorang yang mempunyai ilmu akan lebih mudah dalam meraih kesuksesan apabila ilmu itu digunakan sebaik mungkin dan bermanfaat bagi orang lain.
Manusia bekerja di dunia harus dibarengi dengan mengingat akan kehidupannya di akhirat.

Dunia ini sebagai tempat untuk bercocok tanam, dan buahnya akan dipetik di akhirat kelak.

Bahwa keberhasilan seseorang dalam kerja dunianya, tidak bisa dilepaskan dari semangat dan kemauan untuk mengapai akhirat. 
Dengan demikian, Seseorang tidak dikatakan sukses meraih dunia jika di dalam benaknya tidak memunculkan semangat menggapai akhirat.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya, dan beribadah lah untuk akhiratmu seakan esok kamu tiada.” (Abdullah Amr bin Ash). Ungkapan ini bukan hadist ya, banyak di antara kita yang menganggap ini hadist.

Ungkapan ini menegaskan bahwa bekerja adalah aktivitas yang tidak boleh dipisahkan, sebab keduanya merupakan perintah Alloh ﷻ kepada manusia.

Mohon maaf lahir batin. Semoga Alloh ﷻ rahmati kita yang hadir dimajlis ilmu malam ini. 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.







MENJAGA KEHORMATAN DIRI & CERDAS DI ERA MILENIAL


OLeH: Ummi Yulianti

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

بِسْــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمن الرَّحِيْمُ
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
الحمد لله 
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ...
ام بعد

Segalanya milik Alloh ﷻ apa yang ada di langit dan bumi, kenikmatan dan kesusahan asalnya dari Alloh ﷻ sudah selayaknya kita panjatkan puji dan syukur hanya kepada Alloh ﷻ. 

🌸MENJAGA KEHORMATAN DIRI & CERDAS DI ERA MILENIAL

Agama Islam adalah agama yang mengangkat dan membebaskan manusia dari jaman jahiliyah zaman kegelapan menuju ke zaman yang terang benderang, sudah selayaknya kita sebagai umatnya senantiasa menghaturkan sholawat dan salam hanya kepada Nabi Muhammad ﷺ. 

Era milenial dengan berbagai kemajuan teknologi informasi, di era kecanggihan teknologi dan zaman ini, seorang muslimah dituntut untuk tegas pada diri sendiri dan lingkungannya. Begitu banyak tantangan yang dihadapi muslimah seiring perkembangan zaman. Potret buram kehidupan akibat dari penyimpangan pergaulan yang tidak terkendali. 

Siapakah yang ingin kita salahkan? Tidak ada yang perlu kita salahkan baik lingkungan maupun diri kita sendiri, jadi yang harus kita lakukan adalah menguatkan iman dengan ilmu yang sesuai dengan syariat Alloh ﷻ untuk menghindari ancaman di era milenial ini.

Muslimah masa kini harus mempunyai komitmen yang kuat terhadap syariat Alloh ﷻ, sehingga apapun yang dilakukan para muslimah tidak menyimpang dari aturan Alloh ﷻ. Muslimah adalah pondasi kejayaan umat yang melahirkan generasi bangsa yang bermatabat dan berkarakter.

Di era milenial ini, khususnya para muslimah harus bersungguh-sungguh membangun kararakter yang baik secara lahir dan batin. Dengan menyiapkan ilmu spiritual dalam era milenial bukan lagi melawan musuh dengan kekerasan tapi melawan pikiran yang tidak sesuai dengan kehidupan dan menyimpang dari masyarakat Islam, baik yang tersirat maupun tidak tersirat.

Begitu banyak tantangan muslimah seiring dengan perkembangan sistem teknologi canggih masa kini, khususnya media sosial, lingkungan dan gaya hidup. Kita sebagai muslimah harus cerdas bagaimana menata kehidupan di era melenial ini agar selamat di dunia maupun akhirat nanti.

Muslimah harus mempunyai landasan ilmu keIslaman yang cukup, karena jika terjadi perbedaan persepsi maka tidak menyimpang dari syariat. Muslimah yang tangguh adalah muslimah yang cerdas dalam bertindak sesuatu dengan norma kemanusiaan, selalu menjaga adab, kehormatan, persaudaraan dan ibadah serta ketaatan.

Kita sebagai seorang muslim teladanilah istri-istri Nabi, Ummu khadijah seorang wanita yang cerdas, wanita yang ulet, mandiri, wanita yang sholihah dan teguh pendirian. Menjadi seorang wanita yang cerdas di era milenial menggenggam visi dan misi dengan berbekal ilmu dan wawasan, khususnya di bidang teknologi, semakin hari teknologi semakin canggih maka kita para muslimah harus menekuni pengetahuan berbasis teknologi untuk menyampaikan informasi dan mencari pengetahuan.

Muslimah harus mempunyai pendidikan, baik pengetahuan keIslaman maupun pengetahuan umum, menekuni pengetahuan umum bagi muslimah merupakan bagian dari fardu kifayah. Disiplin dalam menuntut ilmu dimulai dari diri kita sendiri dan melakukan perubahan melalui berkarya, sehingga membawa perubahan bagi keluarga masyarakat dan lingkungan, semoga kita termasuk muslimah tangguh di era milenial.

Bagaimana peran muslimah di era milenial? Wanita memiliki peran yang penting di tiap era peradaban, apalagi jika dihadapkan pada era modern seperti sekarang ini. Karena wanita bisa merubah suatu peradaban hanya dengan tanggannya. Alloh ﷻ telah menciptakan wanita dengan segala kesempurnaannya, dengan keindahan akhlak dan tutur katanya.

Peran yang akan menyelamatkan Islam dan generasi Islam. Salah satunya, muslimah yang menghambakan diri kepada Alloh ﷻ adalah muslimah yang berpengetahuan, berakhlak mulia, paham melayani suami serta mengasihi dan mendidik anak-anak ke jalan hidup yang dikehendaki oleh Alloh ﷻ dan mentauladani sunnah Rasulullah ﷺ dan selalu menjaga kehormatan dirinya.

Seperti sabda Nabi ﷺ: 
”Sebaik-baik wanita ialah perempuan yang apabila engkau memandangnya menyukakan hati dan mentaati apabila engkau memerintahkan dan apabila engkau tidak ada ia menjaga harta engkau dan memelihara dirinya.”

Jadi, muslimah di era saat ini harus tangguh di semua sisi, baik sebagai pribadi, istri dari suaminya, ibu dari anak-anak dan tentu sebagai anggota masyarakat. Apalagi sebagai seorang muslimah yang istiqomah dalam mengembangkan dakwah Islam.

Karena itu kita harus mempersiapkan diri kita untuk menjadi muslimah yang tangguh untuk menghadapi semua itu.

Untuk itu perlu bekal dan persiapan menjadi seorang muslimah yang tangguh sebagai berikut:

🔹1. Menangis karena takut dan ingat kepada Alloh ﷻ.

Dari Abu Raihannah,ia berkata; kami keluar bersama Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan. Kami mendengar beliau bersabda:
”Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Alloh ﷻ. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Alloh ﷻ.”

🔹2. Mengharapkan rahmat Alloh ﷻ dan tidak putus asa dari rahmat-Nya.

Suatu keharusan bagi seorang muslim untuk selalu berbaik sangka kepada Alloh ﷻ. Diantara tanda seorang muslim berbaik sangka kepada Alloh ﷻ adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan Alloh ﷻ dalam setiap menemui ujian.

🔹3. Sabar menghadapi cobaan dan ridha terhadap ketentuan Alloh ﷻ.

Sabar yang sebenarnya adalah ketika senantiasa menyuarakan kebenaran dan istiqomah meniti jalan kebenaran. Seorang muslimah yang menetapi kesabaran siap menanggung resiko penderitaan di jalan Alloh ﷻ karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran tanpa berpaling.

Dengan mengamalkan ketiganya, insyaAllah kita dapat membentuk diri kita menjadi muslimah yang tangguh di jalan-Nya, serta siap melahirkan generasi Islam yang tangguh dalam membela dan memperjuangkan tegaknya hukum Alloh ﷻ di dunia.

Demikian Paparan kali ini. Yang benar datangnya dari Alloh ﷻ, yang salah dari ketidatahuan ana yang masih fakir ilmu agama. 

Mohon maaf jika ada salah-salah kata dalam penulisan. 

 العلم بلاعمل كا لشجر بلا ثمر

Ilmu itu apabila tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. 

 جزاكم الله خير جزاء شكرا وعفوا منكم...
فا استبقوا الخيرات...
والسلام عليكم ورحمة الله و بر كاته

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum,

Umm, bagaimana dengan perempuan yang merasa tidak perlu menutup aurat yang penting bisa menjaga diri sehingga tetap menganggap dirinya perempuan terhormat?

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Biasanya yang berprinsip begini cara berpakaiannya cenderung sopan ya, pakai baju panjang celana gombrong, tinggal menutup rambutnya saja, jadi kita yang lihat greget. 

Terus dekati jangan tinggalkan dia. Tetap jadi teman yang asik buat dia. Ajak diskusi, ajak ngaji bareng baik offline ataupun nobar kajian online, dan yang terpenting adalah berdoa agar dia diberikan hidayah.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Safitri ~ Banten
Umm, banyak sekarang wanita di zaman ini mereka ingin menjadi wanita tangguh, menjaga harga diri dan tidak mau direndahkan bahwa tidak mau dianggap lemah mereka keluar dari zona nyamannya keluar dari kodratnya wanita sehingga mereka malah ingin kedudukannya setara dengan laki-laki. 

Mereka seolah berkata kita wanita juga bisa ini, bisa itu kita mampu dan pada akhirnya malah merendahkan seorang laki-laki dan tidak mau di bawah seorang laki-laki atau suami begitu. Dalam kasus seperti ini umm apa kurangnya iman dalam diri mereka apa tidak adanya ilmu dalam dirinya?

🌸Jawab:
Kalau melihat fenomena sekarang lebih banyak yang berpendidikan tinggi yang punya prinsip seperti ini meski tidak bisa juga menggeneralisasi. 

Paham feminist ini sudah mendunia, bahkan untuk yang sangat fanatik pada paham ini, dibukakan pintu atau dipersilahkan duduk oleh pria merupakan penghinaan. Begitulah kalau yang sudah terwarnai oleh pemikiran ini. 
Tapi dengan iman yang kuat meski ilmu atau pendidikan tinggi tidak akan bersikap seperti itu. 

Jadi, intinya sebenarnya ada pada iman.

Wallahu a'lam

0️⃣3️⃣ Rahmi ~ Bandung
Assalamu'alaikum,

Ustadzah, bagaimana dengan perempuan yang mengatakan: 
“Ah, yang berkerudung juga banyak yang kelakuannya parah, mendingan begini, tidak berkerudung tapi punya prinsip?"

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Ini sebagai lecutan bagi kita yang berkerudung bagaimana bersikap. 
Buktikan bahwa kita berkerudung rapih berkelakuan baik, sopan, ramah. 

Kepada orang yang seperti ini kita harus berikan contoh, aplikasikan langsung hal-hal yang baik dari wanita berkerudung.

Wallahu a'lam

0️⃣4️⃣ Oom Sri ~ Bandung
Ustadzah, bagaimana menyiasati faktor lingkungan? 
Seperti yang telah kita ketahui saat ini sedang trending tentang aplikasi joget.

Anak saya usia 3 tahun, laki-laki. Anak saya saat ini sedang menjadi peniru yang unggul. Bagaimana cara menyiasati agar anak saya tidak terkontaminasi oleh lingkungan meskipun dia bersentuhan langsung dengan lingkungan sosial. 

Afwan kalau pertanyaannya tidak sesuai dengan tema.

🌸Jawab:
Usia batita masih harus didampingi ketika bersosialisasi, terutama di luar rumah. Sehingga kita bisa mengontrol apa-apa yang akan ditangkap oleh anak. 

Ketika misalnya tetangga memainkan aplikasi tersebut, kita alihkan perhatiannya. Di rumah siapkan mainan edukatif yang menarik perhatiannya. Sekarang sudah banyak dijual.

Wallahu a'lam

0️⃣5️⃣ Han ~ Gresik
Assalamu'alaikum,

Umm, bagaimana dengan perempuan yang berkerudung menutup auratnya tapi tidak menjaga akhlaknya, bebas pacaran, bermesraan dan banyak disentuh, apalagi sudah tidak perawan?

🌸Jawab:
Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Ini adalah ladang dakwah, mungkin dia tidak paham bagaimana seharusnya seorang muslimah bersikap, jangan dijauhi tapi justru dekati dengan hati, sentuh hati, ajak dia menjadi muslimah yang sesungguhnya.

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Wanita adalah makhluk mulia yang akan selalu menjadi panutan bagi anak-anaknya kelak, bahkan bagi orang lain.

Dengan begitu, menjaga kepribadian dan sikap dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang perlu dilakukan setiap saat. Mengenakan hijab dan menutup aurat menjadi satu diantaranya.

Alloh ﷻ telah menjanjikan surga-Nya, bagi para wanita muslimah yang selalu beribadah dan mengamalkan segala amalan baik kepada orang lain.

Semoga kita menjadi pribadi yang sholihah dan qonitat serta istiqomah di jalan-Nya. 

Aamiin yaa mujiibassaa'iliin.

SU'UDZON MU MELEMAHKAN IMAN MU

 


OLeH: Ustadzah Chichi Mulyaningsih

•┈•◎❀★❀◎•┈•
❀ M a T e R i❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

Bismillahirrohmanirrohiim...

Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ 

"(Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thoha: 25-28)

Semoga Allah ﷻ senantiasa mengkaruniakan ridho dan barokah-Nya kepada kita. Agar amal sederhana kita malam ini menjadi bekal mendapatkan  Rahmat-Nya.Aamiin

Yang terhormat, Founder komunitas Majlis Perindu Surga Mba Hanny DW, Para Admin Perindu Surga dan Sahabat saya pejuang Al Quran komunitas Perindu Surga yang dirahmati Alloh ﷻ...

Sudah selesai menunaikan sholat Isya dan urusan keluarga?

Mohon tunaikan dulu ya... Selesai semua baru kita belajar bersama.

Salam sayang dari Bogor, untuk pencinta Sunnah Rasulullah ﷺ karena menebar salam kita menebar cinta pada Risalah ini SUUZHONMU MELEMAHKAN IMANMU.

Ukhtifillah sekalian yang saya cintai karena Allah ﷻ.

Taukah antum apa dosa-dosa hati yang sering melalaikan kita? ‘Ujub, riya’, sum’ah (sombong, ingin dilihat, ingin dipuji)? 

Memang 3 dosa ini amat berbahaya, bahkan tercatat termasuk jenis dosa yang dikhawatirkan oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam karena bisa meniadakan ikhlas dalam beramal. Tapi ada satu dosa lagi yang benar-benar melalaikan, dosa yang sering membuat orang terpedaya dan melakukan pembenaran untuk mendukung perbuatannya Suudzon.

Ya, banyak di antara kita yang terpedaya untuk ber-suudzon sampai-sampai membuat berbagai alasan untuk membenarkannya.

Sebagai contoh suudzon terhadap makhluk Rasulullah ﷺ, melihat karyawan yang kalem klemak-klemek, langsung suudzon bahwa dia orang yang lelet, tidak kreatif dan tidak pintar cari duit, apalagi ngomongnya nggah-nggih, njih-njih, padahal memang dia orang solo-yogya, dibesarkan dalam keluarga kraton, bahasa keluarganya pun kromo inggil (Jawa halus )maka wajar kalau dia seperti itu. Jelas beda dengan orang yang besar di tengah keluarga pekerja kasar alias serba otot, seperti hidup di lingkungan pekerja tambang atau offshore. 

Atau kita suudzon dengan Allahﷻ Rabb kita, seperti semisal kita sudah kerja keras tapi hasilnya belum memuaskan, belum bisa sekaya yang lainnya, padahal kita juga berdoa dengan rajin kepada Allahﷻ agar kita menjadi orang yang beruntung dengan memiliki kekayaan. Atau banyak suudzon kita yang lainnya.

Janganlah kita suuzhon dengan Allahﷻ Karena Allahﷻ sebaik-baik pengatur urusan kita.

Suudzon kepada Allah ﷻ selain berdosa juga akan membuat kita cepat berputus asa dari Rahmat Allah ﷻ atau pun akhirnya berujung lemahnya iman kita.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang membangkitkan semangat kita untuk tetap husnuzhon pada Allahﷻ.

"Katakanlah hai hamba-hambaku yang melampaui batas pada diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allahﷻ. Sesungguhnya Allohﷻ mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."_ ( QS. Az - Zumar: 53 )

Bersyukur ala Rasulullah ﷺ ya dengan banyak ibadah, akhirnya ada atsar (bekas) ibadah kita  berupa akhlak baik.

Maka bisakah sabar, syukur, tawadhu, qonaah, iffah menjadi akhlak dalam diri kita. Akhlak itu sesuatu yang melekat, ciri yang ada pada kita. Bahkan kalau para ulama mengatakan jika ingin rejeki mengalir deras sederas sungai maka peliharalah hati yang bersih atau qolbun salim.

Percayalah, ibadah yang banyak akan merubah kita menjadi orang orang yang hanif atau lurus.

Maka ingin sakinah terhadap ujian ini lakukanlah ibadah wajib tepat waktu dan lakukan terus ibadah sunnah yang Istiqomah. Akhirnya tumbuhlah sikap baik, lurus qolbun Salim karena semua hidayah dari Allahﷻ.

Ketahuilah saudaraku, Alloh ﷻ telah mewanti-wanti kita bahwa secara umum suudzon adalah perkara yang harus dihindari, Alloh ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujuraat 12)

Kenapa kok harus dihindari? Karena suudzon dapat mengantarkan pada dosa, bahkan dapat menjadi pintu masuk bagi dosa-dosa lainnya; Tajassus dan Ghibah.

Alloh ﷻ berfirman dalam kelanjutan ayat di atas,

إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

"Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh ﷻ. Sejatinya Alloh ﷻ Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 12)

Perhatikanlah ayat ini, orang yang memiliki sifat suka buruk sangka alias mudah suudzon kepada orang lain tanpa dasar akan mudah untuk mencari-cari kesalahan dan keburukan saudaranya demi membuktikan prasangkanya. Inilah yang disebut dengan Tajassus. 

Padahal tajassus itu sendiri juga wasilah menuju dosa berikutnya, yaitu ghibah. Karena orang yang tajassus itu akan berusaha untuk menampakkan dan menyebarkan aib saudaranya yang berhasil ia dapatkan.

Syeikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh berkata,

فإن بقاء ظن السوء بالقلب، لا يقتصر صاحبه على مجرد ذلك، بل لا يزال به، حتى يقول ما لا ينبغي، ويفعل ما لا ينبغي

“Sejatinya adanya suudzon di dalam hati tidak akan menyebabkan pelakunya tersebut akan berhenti di situ saja. Akan tetapi, suudzon tersebut akan terus-menerus ada sampai pelakunya berkata dan berbuat yang tidak sepatutnya.” (Taisiir Karimirrahman, 801)

Maksud berkata dan berbuat yang tidak sepatutnya adalah ghibah dan tajassus. Sehingga bisa dikatakan; ‘suudzon adalah bibitnya, tajassus dan ghibah adalah buahnya’. Bermula dari dosa suudzon akan melahirkan dosa-dosa lainnya.

Begitu pula dengan suuzhon akan melemahkan mental ataupun keimanan seorang muslim, Karena kita tidak percaya pada Alloh ﷻ yang sudah mengatur setiap keadaan atau kejadian yang terjadi saat ini.

Sungguh benar kata pepatah: “husnudzon itu mudah, keruh dan kotornya hatilah yang membuatnya susah.”

Bentuk hati kita menjadi pribadi yang tulus, ikhlas dalam berteman, rapatkan barisan dengan kuatnya hati kita semua karena takwa kepada Allahﷻ. Jadilah hamba hamba Alloh ﷻ yang pemaaf karena ciri penghuni syurga adalah Waafina'aninnaas.

Jadi sabar, sabar dan sabar ya dalam bermuamalah kepada Alloh ﷻ juga kepada makhluk Allahﷻ.

Yang kita harus pegang dalam muamalah kepada sesama kita adalah jangan pernah ingin menyakiti siapapun walaupun dalam bentuk tausyiah sekalipun

Ada hamba Allahﷻ yang tersakiti maka kata Allahﷻ dimana ada hamba-Ku yang tersakiti disitu ada aku.

Jadi, jangan pernah menyelesaikan masalah dengan mengghibah ataupun tajasus. Walaupun kedua penyakit itu dari zaman Rasulullah ﷺ sampai zaman kita masih ngetrend dan in terus karena Setan suka sekali sama hamba yang bermusuhan.

Bagaimana mencegah agar kita tidak terjebak dalam Suudzon?

Islam memberikan kecaman yang keras kepada mereka yang berperilaku berdasarkan prasangka. Kita tahu istilah bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Tentu saja, karena fitnah sangat mungkin lahir dari prasangka yang ada di dalam pikiran kita. Lebih jelas lagi, Allah ﷻ menegaskan terkait dengan prasangka yang sangat mungkin memunculkan pergunjingan dengan kecaman yang keras, masih di dalam QS. Al Hujuraat: 12.

"Dan janganlah kalian saling menggunjingkan yang lain. Apakah kalian suka menjadi orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa benci atau jijik untuk memakannya. Dan bertakwalah kepada Allahﷻ. Sesungguhnya Allahﷻ Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12).

Landasan moral dari ayat di atas, tentunya dapat menjadi motivasi bagi Muslim untuk menjauhi prasangka yang negatif terhadap orang lain. Pertanyaannya kemudian, bagaimana psikologi dapat membantu proses individu untuk menjauhkan diri dari kecenderungan suudzon terhadap yang lain? 

Beberapa poin yang kita bangun berdasarkan level pikiran dan perasaan kita di bawah ini insya Allah ﷻ bermanfaat bagi kita semua.

★ Pertama, 

Tekankan bahwa pikiran kita atau apa yang kita pikirkan, really matters. Ia bisa menjadi akar dari banyak persoalan, baik yang sifatnya individual maupun sosial. Kita perlu mengelola pikiran kita agar senantiasa objektif dan hati-hati. Kalaupun ia mengandung bias, usahakan agar output-nya bernilai positif. Bahasa kerennya, positive thinking. Tetapi tetap saja, poin utamanya adalah objektifitas dan kejujuran dalam memberikan penilaian atau menarik kesimpulan.

★ Kedua, 

Fokus pada apa yang kita rasakan, maka kita perlu berusaha untuk menumbuhkan perasaan positif di dalam diri kita. Perasaan positif ini dapat dimunculkan dengan mengelola pikiran maupun perilaku kita. Pikiran positif akan memberikan dampak emosi yang positif. Perilaku positif pun demikian. Misalnya apa yang kita rasakan setelah kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Orang lain tersebut bisa jadi merasa bahagia, karena menerima apa yang dia butuhkan. Dan kita pun boleh jadi merasa lebih bahagia, karena membahagiakan orang lain. Begitulah, energi negatif yang muncul dalam prasangka, ibarat kotoran yang masuk di dalam air. Ia dapat dibersihkan dengan terus menerus menambahkan air yang jernih ke dalamnya. Cara “menambahkan air” adalah dengan yang pertama memahami terlebih dahulu Suudzon itu muncul karena map (peta) pikiran kita yang sangat sempit. Kita tidak memiliki cukup banyak alternatif informasi untuk memberikan penilaian terhadap situasi eksternal yang kita hadapi. 

★ Ketiga, 

Perluas map pikiran kita. Semakin lengkap dan detail peta yang kita miliki maka semakin kecil peluang untuk tersesat. Demikian juga ketika kita memberikan penilaian terhadap orang, kelompok atau situasi, semakin detail informasi, semakin lengkap gambarannya maka semakin kecil peluang kita melakukan kesalahan judgment. Cara memperluas peta pikiran adalah dengan bertanya, melakukan klarifikasi  dan dalam Islam dikenal konsep bertanya yang keren yaitu tabayyun.

Semoga Allah ﷻ memberikan Taufik hidayah pada kita semua.

Wallahu'alam bisshowab

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

❀ TaNYa JaWaB ❀

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ iiN ~ Boyolali

Ummi begini, bagian kedua yang terakhir membahas tentang berpikir positif, apakah itu juga memungkinkan untuk "asal percaya" saja?

Mohon pencerahannya.

🔷Jawab:

Iya Afwan, untuk menjadi orang baik memang susah-susah gampang, maka libatkan Allahﷻ dalam setiap keputusan yang akan kita  ambil, Sunnah Rasulullah ﷺ jika ada hal yang misal meragukan dari tawaran atau cerita atau masalah rejeki yang meragukan, maka Sholat Istikharah ya, terus saja minta petunjuk Allahﷻ Semisal kita punya niat baik InSyaaAllah disertai doa “ya Allahﷻ apakah ini rejeki yang baik yang datang pada saya?“ Dalam masa istikhoroh jauhi maksiat jaga hati kita tetap bening dan minta waktu istikhoroh jangan sebentar minimal 3 sampai 7 hari, agar Alloh ﷻ memberikan petunjuk kebaikan tentunya semisal hati yang tenang memutuskan perkara rejeki yang datang.

Jadi, percaya berdasarkan ikhtiar manusiawi kita juga hasil mendekatkan diri dulu kepada Allah ﷻ

Terus saja berdoa selesai tahajud, istikhoroh minta kepada Allahﷻ dengan kerendahan hati: “ya Allah apakah ini rejeki terbaik dari-Mu? Jika iya maka dekatkan dan mudahkan, serta hamba minta rejeki terbaik dari-Mu.” InSyaaAllah kalau kita tulus ibadahnya Allahﷻ akan bantu dengan jawaban terbaik. 

Wallahu'alam

0️⃣2️⃣ Safitri ~ Banten

1. Ketika kita sedang asik ngobrol sama teman dan mungkin dalam obrolan itu ada ghibah yang keluar dari mulut kita tanpa kita sadari, bagaimana cara kita menyadari bahwa ini ghibah dan kita dapat mengerem dalam pembicaraan agar tidak berlarut kemana-mana?

2. Ketika kita berusaha tidak suudzon sama Alloh ﷻ dan berusah selalu berfikir positif dalam menyikapi semuanya tapi kadang ketika kita di titik terendah terbesit “ya Allah kenapa sih? Alloh ﷻ kenapa gitu?” Bagaimana um?

3. Teman-teman dekat fitri yang sudah mengenal fitri, dan mereka sudah tahu fitri seperti apa,   mereka kadang suka ngomong fitri tuhh diem orangnya tapi sekali ngomong langsung ke hati tapi mereka ngomong begitu sambil bercanda, tapi fitri kadang mikir bun apa iya? Padahal fitri tidak ngomong kasar,  tidak ngomong macam macam katanya “kamu sekali ngomong celetukan kamu itu ngena ke hati” bagaimana yah um kalau begini, tapi emang iya sih fitri kalau bilang jelek yah jelek, kalau bilang tidak suka yah tidak suka apa adanya gitu, apa kita berbicara apa adanya sesuai fakta itu tidak boleh um?

🔷Jawab:

1. Disinilah mudhorotnya kalau ngobrol dengan dosis yang tidak terkontrol bisa jatuh pada ghibah, berat ya dosa ghibah dari kita harus minta maaf sama yang kita ghibahin, yang kita ghibahin juga harus mau memaafkannya, dan yang lebih penting kita minta maaf sama Alloh ﷻ, maka cara kita mengerem membicarakan satu masalah, bikin kesepakatan, misal kita mau ambil hikmah atau ibroh ya, jadi jangan mengghibah, kita bicarakan seperlunya untuk mengambil solusi saja dan setiap bicara atau berketik baca basmallah serta perbanyak istighfar, kalau perlu berdoa dalam hati, “ya Rabb jauhkan hamba membicarakan hal yang sia-sia,” maka para ulama salaf memberitahu kita setiap pagi dan sore baca dzikir pagi dan petang ada bacaan, Laillahailallah wahdahula syarikalahu Lahulmulku walahul Hamdi wahuwa 'ala qulli syaiinn Qodir baca dzikir ini 100 kali dalam sehari InSyaaAllah dijaga Alloh ﷻ dari perbuatan atau pembicaraan sia-sia. 

Wallahu'alam

2. Makanya usahakan jangan ada di titik terendah, kita pasrahkan tawakal saja ke Alloh ﷻ dengan berdoa saat sholat, nangis ya baca doa Nabi Yunus atau doa Nabi Adam, kalau perlu sholat taubat minta ampun karena masalah atau ujian yang datang bisa jadi buah dari dosa dosa kita dan proses penumbuhan keyakinan itu ada dalam sholat yang banyak dan sabar.

Fadzkurunii adzkurqum wadzkurulii walaa takfuruu yaayyuhalladzinastainuu bishobri wa Sholah, 

Ikut ayat ini sholat dan sabar, Alloh ﷻ yang akan menumbuhkan keyakinan kita bisa menyelesaikan masalah itu dan pertolongan Alloh ﷻ tidak akan terlambat, maka mulai taubat kita dengan banyaknya ibadah hingga kita tidak meragukan Alloh ﷻ.

Coba mba Fitri kalau bicara sama saya tentang suatu yang penting lalu saya ragukan kebenarannya mba Fitri kesal tidak? Kalau Alloh ﷻ tidak kesal, hanya Alloh ﷻ diamkan dulu kita hingga kita bisa yakin hanya Alloh ﷻ yang bisa menolong kita. Maka proses sabar dalam menyelesaikan masalah kita harus ada ya, misal kita bisnis rugi terus harus dicari penyebabnya dan sholat berdoa nanti Alloh ﷻ tunjukkan kesalahan kita, semisal ternyata terlibat pinjaman rentenir yang melilit itu berat taubatnya harus janji tidak mengulang kesalahan yang sama.

Maka jangan ragukan Alloh ﷻ sama sekali, mau tahu caranya jaminkan diri kita dalam bentuk ibadah wajib tepat waktu dan ibadah sunnah sampai kita istiqomah melakukannya semua. 

Wallahu'alam

3. Iya kuncinya tadi hadits qudsi yang Alloh ﷻ bilang dimana ada hamba-Ku yang tersakiti ada Aku kata Alloh ﷻ. Memang menyaring kalimat yang kita bicarakan tidak mudah, bahkan maaf ya mba fit beda orang terpelajar faham nilai Islam akan lebih hati hati ngomongnya ketimbang mempertaruhkan syahwat lisan kita. Jadi, pelan pelan dan sabar dalam bicara tak semua keterusterangan itu baik apalagi menyakiti sampai keluar isi lisan kita dan puas itu jangan. Ukur saja dalam diri kita ya say, kalau yang keluar kalimat yang menyakiti kita senang tidak digituin? Yang ada orang akan menjauh karena lisan kita juga.

Jalan keluarnya tilawah Al-Qur'an yang banyak minimal 1 juz dan biasakan shoum InSyaaAllah Allah kasih hidayah. 

Wallahu'alam

0️⃣3️⃣ Han ~ Gresik

Assalamu'alaikum,

Umm, apakah benar ada suudzon yang diperbolehkan? Bagaimana penjelasannya umm.

Dan kapan suudzon itu dianggap boleh um?

🔷Jawab:

Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Mba Han yang namanya suudzon itu dosa, mungkin bukan suudzon ya redaksi kalimat atau sikap kita lebih kepada kehati-hatian ya... Kalau kehati-hatian sangat dibolehkan, bahkan jika kita bohong untuk sesuatu yang benar dengan tujuan menyelamatkan nyawa saudara muslim kita boleh. 

Wallahu'alam

0️⃣4️⃣ Han ~ Gresik

Assalamu'alaikum,

Umm, bagaimana jika seseorang terjatuh dalam prasangka buruk kepada Alloh ﷻ dan manusia (muslim & non muslim)?

Apakah berbeda hukumnya?

🔷Jawab:

Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Ya, berprasangka buruk kepada Alloh ﷻ ya intinya. Kalau seorang muslim itu apa? Kalau orang kafir, apapun sangkaan dia sama Allah ﷻ. Eh, ini prasangka buruk untuk sama orang kafir dulu, orang kafir ke Allah ﷻ ya. Apapun amal orang kafir saja sudah tidak diterima sama Allahﷻ ya kalau dia berprasangka buruk ya sudah memang tempat mereka di neraka begitu ya. Biarkan mereka mencari siapa Allahﷻ. Jadi, apa namanya kalau misalnya mereka berprasangka buruk, amal mereka saja tidak. Bagaimana dengan prasangka-prasangka mereka kepada Alloh ﷻ karena mereka tidak kenal sama Allah ﷻ kan? Mereka tidak kenal asmaul husna sifat-sifat Allah ﷻ begitu jadi bahasanya tinggal menunggu waktu yang tepat bagaimana Allah  ﷻ mengahzab mereka, kan kalau ahzab di dunia. Wallahualam.

Itu ketentuan Allahﷻ ahzab di akhirat pasti masuk neraka. Itu kalau orang kafir ya. Kalau muslim yang terus kita pahami itu yang pertama Allahﷻ itu menjadikan dunia itu sebagai tempat ujian, ujian untuk menyaring mana yang sejati. Mana yang muslim munafik atau mukmin? Ya, mukmin ya. Mana mukmin sejati mana ghairu mukmin. Jadi, orang-orang muslim sejati hendaknya dia hobi belajar. Jadi tahu begitu. Kalau misalnya number one Alloh ﷻ menjadikan dunia ini sebagai tempat ujian maka kalau misalnya sering kali kita kecebur dalam masalah dan tidak kelar-kelar berarti kan memang ada yang salah. Dalam diri kita yang harus diperbaiki. Tentunya perbaikinya yang terbaik adalah banyak ibadah, terus yang kedua, banyak belajar, banyak ilmu, menuntut ilmu seperti ikut kajian di sini. Itu jangan ada yang pergi. 

Kita pelan-pelan, kalau memang banyak masalah yang ruwet begitu. Insyaallah kalau kita nambah ilmu akan nambah mudah untuk menyelesaikan masalah. Yang pertama kenali dulu medan ini judulnya ini Medan Ujian. Jadi, semua tidak akan unik ya. Kita percaya tidak percaya sama ujian Alloh ﷻ tetap akan Alloh ﷻ uji. Jadi, apakah kita bisa menjadi mukmin sejati atau orang munafik? Dia tidak mau belajar dia ingin tahu Islam kulit-kulitnya saja. Jadi, susah dia untuk memahami Islam dengan baik. Makanya mudah dia berprasangka buruk sama Alloh ﷻ. Kalau seorang mukmin, yang kedua, harus belajar tentang sifat Allahﷻ : Allahﷻ Maha Adil, Allahﷻ Bijaksana, Allah ﷻ Maha Pengasih, Penyayang. Dan Allahﷻ Maha, Allah ﷻ Maha Penerima Taubat. Allah ﷻ Maha Allahﷻ Maha  apa? Pengampun dosa kita, Allah ﷻ Maha Penerima doa kita. Kalau kita kenal sifat Allahﷻ dengan baik, maka kita akan menjadi muslim atau mukmin yang taat, jadi setiap kali diuji kita terus tambah ketaatan kita dan caranya adalah salah satunya banyak muhasabah introspeksi diri. Oh dulu banyak kali ya cobaan buat saya makanya Allahﷻ menyegerakannya di dunia mungkin saya bukan orang yang kuat dengan panasnya api neraka. Makanya Allah ﷻ menguji saya di dunia untuk menghisap dosa-dosa saya agar insyaallah kalau saya sabar maka Allah ﷻ  akan memberikan pahala surga untuk kita begitu. 

Jadi, apa modal kita sabar terus saja dengan ibadah ibadah kita yang lain nanti Allahﷻ menghapus dosa-dosa kita. Apalagi sekarang Ramadhan itu masyaAllah, maksudnya pahala puasa dapat, terus Alloh ﷻ menghapus dosa-dosa kita yang lalu. Ya, jadi diusahakan terus memperbaiki taubat kita. Dan kita harus berpikir positif. Kalau Alloh ﷻ kan dalam ayatnya selalu bilang : hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas. Kata Allahﷻ kita kan sering berbuat zalim sama diri kita sendiri ya. Kita tidak sadar saja kata Allah ﷻ jangan berputus asa dari rahmat-Ku, jangan pernah berputus asa, jadi ketika kita berbuat zalim lalu kita taubat, kita jangan putus asa terus saja ibadah, terus ibadah yang banyak, kalau misalnya belum juga ditolong Alloh ﷻ, apalagi nih, ibadah apalagi yang membuat murka Allahﷻ itu berkurang sama kita atau apa yang dapat menambah Alloh ﷻ sayang kepada kita. Jadi, bikin Allahﷻ jatuh cinta dengan ibadah-ibadah kita dengan ketaatan-ketaatan kita kepada Allahﷻ, insya Allah jika kita menjadi orang baik, rezeki itu akan baik insya Allah ﷻ. 

Jadi, yang harus diperhatikan adalah seiring dengan rezeki kita yang akan datang. Jadi, kalau orang yang sering maksiat memang rezekinya akan susah. Apalagi kalau tidak taubat. Jadi, makanya prasangka buruk itu termasuk suudzan kepada Allahﷻ jatuhnya dosa. Makanya jadi dosa dan jatuhnya maksiat kan? Makanya harus pelan-pelan kurangin, pelan-pelan. Kita banyak ibadah. Terus bagaimana? Banyak-banyak apa? Istighfar. Sebagai bentuk taubat kita. Terus yang ketiga, jangan berputus asa.

Wallahualam bissawab.

0️⃣5️⃣ Phity ~ Yogja

Assalamu'alaykum...

Umm, kalau kita sudah melihat beberapa kejadian janggal yang membuat kita mencurigai seseorang, tapi bukan kapasitas kami mengusut dan memperjelasnya, hanya jadi perbincangan antar teman saja, apakah itu juga termasuk su'udzon dan ghibah?

Berkali-kali pikiran ini menepis biar tidak mikir aneh-aneh, tapi kok susah. akhirnya kepancing lagi ketika ada suatu kejadian. Terus nyambung-nyambung dengan kejadian sebelum-sebelumnya. Normal kah? 

🔷Jawab:

Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Mbak phity memang  itu ujian kita ya, ujian kita kepada sesama manusia. Yang harus kita pahami dulu adalah bahasa Al Quran itu, bahkan sifat-sifat penghuni surga itu adalah saling memaafkan ya jadi manusia itu tempatnya salah. Bisa jadi yang harus kita pahami adalah apa nilai islamiah dulu. Di ukhuwah itu saudara kita punya hak, punya hak di husnuzonin, di baik sangkain oleh kita. Itu Cinta, cinta yang namanya apa kalau hak-hak ukhuwah itu taaruf ya, proses taarufnya. Terus tafahum, saling memahamin, bisa jadi orang ini bikin salah melulu karena memang orangnya ceroboh begitu ya. Jadi, memang  bisa atau tidak kita, perangkat itu adalah iman. Jadi, iman kita harus diperbaiki. Jangan berburuk sangka bersama saudara kita.  Bagian dari ukhuwah itu kita mau tabayun. Tabayun itu saling apa, ngobrol, gitu. Tegur, baik-baik, sesuai kapasitas kapasitas kita. 

Dalam Al-Qur'an diajarkan  saling menasihati lah kamu dalam keadaan sabar untuk bersabar dan saling menasihati, menasihatilah kamu untuk kebaikan. Nilai ukhuwah begitu, jadi kalau saudara kita salah jangan di diemin. Akhirnya kan suudzon. Nih orang tidak tahu ya. Memang dia tidak tahu aslinya. Kalau dia sudah bikin salah dia merasa tidak salah, tidak tahu, atau dia tidak paham Islam sama sekali begitu. Jadi, pekerjaan yang bikin salah, yang dia paham shalat terus begini.  MasyaAllah kalau saudara kita masih shalat, saudara kita masih bayar zakat, itu jangan disuudzonin kalau bisa kita tetap temanin, oh dia tidak paham kita ajak kajian begitu, jadi ditabayunin, tabayun itu saling membicarakan ya, jangan dibicarakan di belakang. Kalau misalnya kita bicara di belakang, jatuhnya sudah suudzon. 

Jadi, langsung seperti bagaimana menghilangkan itu? Kita tabayun, tabayun. Itu memang menimbulkan keimanan yang tinggi, Iman sama Alloh ﷻ. Kenapa? Supaya kita menumbuhkan sifat berani untuk menasihati saudara kita, kalau kita menumpuk-numpuk kesalahan dengan suudzan, suudzan, suudzan akhirnya apa? Kita maksiat sama Allahﷻ kan? Maksudnya itu dosa. Ya mendingan kita ini, jadi mulailah negor dengan basa-basi misalnya baca bismillah, bismillah bagaimana? Apa kabar? “Mbak-Mbak, tahu tidak kemarin yang Mbak buat.” Misalnya kalau dia lebih tua dari kita ya, dia bukan hak kita begitu ya. Terus bagaimana. Tapi walaupun dia bos kita kan dia manusia, yang boleh kita takutin hanya Alloh ﷻ. Makanya jangan mandang manusia itu berdasarkan tahta dan perangkat-perangkat jabatan. Jadi tersekat. Jadi, bagaimana kita baiknya? Ya sudah. Pelan-pelan saja tausiyah sama teman atau bos kita. 

Kalau perlu akhlak kita, persembahkan untuk dia yang baik, lama-lama dia berbuat buruk, tapi kita baik, kita tetap jadi orang baik, dia akan tersentuh. Mudah-mudahan itu bagian dari nilai dakwah. Terus, haknya di husnudzonin itu hak ukhuwah. Kita ta’aruf. Berproses. Ternyata saudara kita benar ya, tidak tahu syariat Islam yang bagaimana, akhirnya dia ceroboh. Dia menyakitin kita, dia tidak tahu kalau misalnya ada Allah ﷻ di setiap orang yang di sakitin sama Dia.  wallahualam  

Sekarang kita berpangka baik dulu sama orang itu. Terus yang kedua, tabayun. Ayo ditegur. Pelan-pelan. Ketiga didoain, doain nih. Orang biar dilurusin hatinya sama Allahﷻ. Terus ya Allahﷻ bagaimana aku menegur orang ini supaya jadi baik? Kalaupun tidak harus lewat tanganku maka bagaimana caranya? Minta-minta petunjuk sama Allahﷻ doain. Jadi baca doa cinta ya. Jadi terus titik-titik panjang tuh ya, itu bacain ketika kita baca doa Robithah bayangin itu Robithah Cinta supaya apa? Kita Sama-sama saling mencintai karena Allahﷻ. ya bersama-sama sama teman kita ini. 

Jadi, sayangin kalau orang salah, jangan dilecehkan. Karena bisa jadi nanti kalau Allahﷻ tidak ridha malah kita berbuat kesalahan yang sama, tidak mau kan? Pertama husnuzon, punya hak di baik sangkain terus kuncinya hak kasih sayang jadinya di kasih sayangin kepada siapa pun, karena Rasulullah ﷺ, kita ikutin dakwahnya Rosul, Rosul tuh sangat berkasih sayang kepada siapapun termasuk sama musuh-musuhnya. Jadi, memang kita sebal, gedek melihat teman kita kok orang ini salah, terus nih orang ini cari masalah nih, orang gerakannya mencurigakan, bisa jadi dia tidak paham apa yang dia lakukan, coba husnudzon tanya, terus yang kedua tabayun beegitu, itu memiliki keimanan, memang akan mengandung risiko bisa jadi kalau dia tidak terima, wah kamu bla, bla, bla, bla. Tapi yakin setiap yang diomongin sama kita kalau mengandung kebaikan insya Allah. Nanti pahalanya banyak buat kita juga, begitu. Terus yang ketiga, nasihatin terus banyak doain. Insyaallah kalau kita doanya tulus sama Alloh ﷻ diijabah ya.

Wallahu alam.

0️⃣6️⃣ Ami ~ Serpong

Assalamu'alaikum wa rahmatullah

Bagaimana caranya menghilangkan suudzon kita kepada ketentuan Alloh ﷻ yang belum bisa kita terima dengan ikhlas. 

Padahal kita sudah berusaha untuk meyakini bahwa pasti setiap kejadian yang terjadi pada diri kita, semestinya semua atas kehendak-Nya.

🔷Jawab:

Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh

Harus dikoreksi dulu sikap kita. Kalau memang bu Ami paham kalau semua yang terjadi atas kehendak Allahﷻ,  ya kita harus belajar lapang dada. Jadi, kalau kita tidak terima namanya kita tidak paham. Kalau paham itu harus ada amalnya. Jadi buat kita apa? Kita tenang, kita paham benar-benar itu hidayah. Jadi, hidayah kan paham kita jadi dapat hidayah dari Allahﷻ. Kalau misalnya belum terima artinya tidak dapat hidayah. Terus bagaimana caranya? Banyakin ibadah Bu, banyakin ibadah sunah. Shalat rawatib. qobla bakda itu jangan ditinggalin, terus shaumnya jangan ditinggalin. Itu kalau kita belum bisa memaafkan Alloh ﷻ atas takdir yang terjadi kepada kita, mohon maaf ya, berarti kita kan sudah  menyalahkan rukun iman, percaya sama takdir Allahﷻ pasti akan ada yang terbaik. 

Kalau Alloh ﷻ memberikan masalah kepada kita. Masalah takdirnya sudah terjadi hal takdir yang buruk. Kenapa begini? Coba Ibu punya sikap yang positif, terima dulu, Bu. Menerima masalah yang diberikan Allahﷻ. Menerima diri yang diberikan Alloh ﷻ, sama Alloh ﷻ sudah dikasih setengah jalan keluar. Kenapa? Hati kita akan dibikin tenang sama Allahﷻ. Terus yang kedua, coba Ibu banyak ibadah. Mungkin ada yang salah sama Ibu. Mungkin banyak yang kurang dari ibadah, Ibu. Mungkin banyak yang kurang atau selalu sama Ibu. Jadi, biasanya orang yang tidak terima itu karena tidak sabar dan harus banyak shaum. Kalau perlu shaum Daud. Kita banyak salah, tapi Allah ﷻ tidak musnahin hidup kita. Allah ﷻ tidak bikin mati, bisa jadi, kita lebih dzalim. Dzalim sama diri kita sendiri maupun dzalim sama orang, tapi kita tidak sadar. Tapi Allahﷻ kan menguji kita buat apa? Buat mengingetkan kita ada Aku loh, kata Allahﷻ. Kamu jangan berbuat dzalim sama yang lain. Kamu jangan minta. Jadi, sekali lagi masalah ini membuat kita introspeksi diri dosa apa yang sudah kita perbuat sebelumnya. Misalnya, kita sudah paham, misalnya kebanyakan makan riba itu kan haram, kalau riba itu kan umumkan berperang melawan Aku kata surah Al-Baqarah itu ya, perang melawan Allahﷻ manusia mana ada yang menang begitu. Jadi, ujian demi ujian itu kita pahami dulu ada apa dengan perbuatan maksiat kita begitu ya, misalnya kita curang. Terus kita makan barang haram dan lain sebagainya dan banyak deh bu yang kita nyakitin, nyakitin orang tua, nyakitin teman kita itu secara enggak sadar kita tuh sudah bikin dosa. 

Jadi, apa Allah ﷻ pelan-pelan begitu nyakitin anak kita juga begitu pelan-pelan cabut nikmat, supaya apa? Supaya kita kembali taubat kepada Allahﷻ. Jadi, kenali dulu masalah ujian, terus jangan putus asa. Dari ujian itu Allah ﷻ akan nolong kalau kita bertaubat, taubatnya dengan memperbanyak ibadah. Jadi, banyakin ibadahnya terus tilawah. Kalau saya alhamdulillah tilawah sehari tuh empat sampai lima juz itu bukan cuman menenangkan hati, tapi Allahﷻ tarik masalah saya ketika punya masalah yang berat sama Allah ﷻ dibantu pelan-pelan. Tapi Allahﷻ pahami dulu, ini tidak boleh, ini seperti begini tidak boleh, tidak pernah terjebak riba, tidak boleh, ini haram, bahkan dosa riba itu adalah seperti kita menzinai ibu kandung kita, saya sambil berdoa sama Allahﷻ, “ya Allahﷻ, dosa saya apa lagi?” Pelan-pelan nanti Allah ﷻ kasih tahu apa lagi dosa kita. Perbanyak ibadah sampai apa hati kita insya Allah dilapangkan, terus nanti ketika kita makin banyak ibadahnya, misalnya istighfarnya sehari lima belas ribu, seharinya sepuluh ribu, kita tidak tahu. Dosa apa yang pernah kita buat. Atau minimal lima ribu satu hari istighfarnya itu insya Allah akan dibantu. Jadi, perbanyak ibadah-ibadah kita supaya kita sanggup berhusnuzon, berbaik sangka sama Allah ﷻ,  makanya kata Allahﷻ  “Jadi semua yang terjadi  di dunia ini adalah atas kehendak-Ku.”

Jadi, sepertinya kita sudah teliti ya Bu. Ternyata kita ketipu juga. Itu tetap kehendak Allahﷻ. Jadi, supaya kita muamalahnya bersih, supaya kita ingat bayar zakat, supaya kita ingat banyak macam-macam yang kadang manusia itu lupa. Tapi Alloh ﷻ Maha Melihat Maha Cermat. Allahﷻ tidak ingin kita menjadi muslim yang lama-lama di neraka. Allah ﷻ tidak ingin kita lalai terus. Sampai akhirnya dari lalainya sikap kita beribadah sampai akhirnya akhlak kita jadi minus. Lantaran apa? Kita tidak terikat lagi hati kita sama Allahﷻ. Kita tidak takut lagi berbuat maksiat. Itu sudah banyak tumpukan-tumpukan kesalahan kita yang akhirnya ketika kita bertaubat, kok taubat kita lama ya dijawabnya ?, padahal kita tidak lupa ya dosa-dosa kita zaman dulu tuh apa saja, coba di-list begitu. 

Saya sampai kalau ngelist dosa sendiri, saya nangisnya tuh sampai bermalam-malam begitu ya Allah ya Rabbi, untung saja tidak di ambil nyawa saya dalam keadaan berdosa. Saya sering ngomong sendiri. “Ya Allah dosa saya banyak sekali ya pantas, yang ini belum diijabah, yang ini belum dikabulin. Yang ini…”. Terus kita banyak-banyak istighfar. Lima belas ribu. Ternyata saya dikasih hikmah Bu sama Allahﷻ. Oh, kalau kamu misalnya dulu berjodoh sama dia. Oh, kamu cepat cerainya Kenapa dia ternyata orangnya keras ya, gini, gini, gini, gitu. Jadi, saya dulu pernah misalnya suka sama ikhwan. Tapi tidak dijodohin sama Alloh ﷻ, kan kalau tidak dijodohin rasanya sepertinya bagaimana ya sama, sama suka, sempat tidak terima begitu ya. Tapi ketika kita lapang dada, ya sudah, saya mohon jodoh, yang menurut-Mu ya Allahﷻ dikasih yang terbaik. Dan pas kita pelajarin terus banyak sikap kita dan sikap dia yang memang saling bertabrakan. Kalau di jodohin wallahualam. 

Allahﷻ lebih tahu, makanya Allahﷻ Maha Tahu, Allahﷻ lebih tahu dan Allahﷻ tahu yang terbaik buat kita. Itu yang harus kita husnuzon. Caranya dengan apa banyakin ibadah ya Bu. Tahajudnya jangan pernah dijawab delapan rakaat. Tiga rakaat. itu witir. Terus shalat sebelum tidur, biasakan shalat dhuha sama shalat taubat dua rakaat, shalat hajat dua rakaat. Jadi, berhajat supaya kita ingin memperbaiki masalah, ingin berdamai sama orang yang bermasalah, itu shalat hajat terus saja bu, shalat taubat, kitanya taubat sama Alloh ﷻ, ternyata punya salah juga. Ya maaf ya bu, kalau tidak berkenan, saya kalau ngomong suka begini, suka blak-blakan begini, karena kan mudah-mudahan omongan buat belajar saya sendiri, untuk introspeksi diri saya sendiri ya. 

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Waktu Allohﷻ selalu sempurna dalam hal apapun. Kita tidak bisa selalu memahami ada hikmah apa di baliknya. Tapi kita harus belajar untuk meyakininya.

Wallahu a'lam

OVER DOSIS

 


OLeH: Ustadz Mukhtar Azizi, S.Pd.I.

❀ M a T e R i ❀
•┈•◎❀★❀◎•┈•

💎OVER DOSIS

Seperti hal ya over dosis. Ketika kita mengkonsumsi apapun dengan kandungan yang mempunyai pengaruh terhadap tubuh, dibutuhkan sebuah ukuran atau standar untuk menentukan berapa banyak yang boleh kita konsumsi tiap harinya. Jika kita melebihi standar tersebut, maka pengaruh tersebut akan menjadi terlalu besar dan mengacaukan sistem tubuh kita. Dalam dunia medis, ini disebut overdosis.

Overdosis memiliki gejala yang bisa diperhatikan oleh orang awam, beberapa di antaranya adalah penurunan kesadaran dan frekuensi pernapasan kurang dari 12 kali per menit. Perilaku bermasalah menggunakan obat-obatan hingga overdosis ini telah merenggut nyawa dari berbagai lapisan masyarakat.

Setiap orang yang meninggal sebagai pecandu khamar, Allah Azza wa Jalla akan memberikannya minum dari sungai al-Ghuthah. Hal tersebut disampaikan dalam Al-Musnad dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu, ia mengatakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ مُدْ مِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللّٰهُ مِنْ نَهْرِ الْغُوْطَةِ. قِيْلَ: وَمَا نَهْرُ الْغُوْطَةِ؟ قَالَ: نَهَرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوْجِ الْمُوْمِسَاتِ، يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيْحُ فُرُوْجِهِنَّ

"Barang siapa yang meninggal dunia sebagai seorang pecandu khamar, kelak Alloh ﷻ akan memberikannya minum dari sungai al-Ghuthah". Ada yang bertanya, "Apa yang dimaksud dengan sungai al-Ghuthah?" Beliau menjawab, "Sungai yang mengalir dari kemaluan wanita pezina, yang bau kemaluan mereka itu menyiksa penghuni neraka."

Dikutip dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, di dalam al-Musnad juga dari Abdullah bin Amr secara marfu, Nabi bersabda,

"Barang siapa yang meminum khamar sekali maka Alloh ﷻ tidak akan menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia bertaubat, pasti Alloh ﷻ akan menerima taubatnya. Jika ia kembali minum khamar, maka Alloh ﷻ kembali tidak menerima shalatnya selama empat puluh hari. Jika ia bertaubat, niscaya Alloh ﷻ akan menerima taubatnya."

Wallahu a'lam

•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•
❀ TaNYa JaWaB ❀
•┈••◎◎❀★❀◎◎••┈•

0️⃣1️⃣ Mila ~ Tegal

Ustadz, misal jika ayah atau saudara kita meninggal karena kecanduan miras atau narkoba. Dan kita sebagai anak atau saudaranya mendoakan serta beramal sholih ditujukan untuk mereka. Apakah bisa membebaskan mereka dari azab Alloh ﷻ?

🍓Jawab:

Dapat mengangkat derajat dan terhapus dosa, dengan amal shalih yang masih hidup untuk membantunya.

Wallahu a'lam

0️⃣2️⃣ Yulia ~ Bekasi 

Assalamualaikum ustadz,

Apakah alkohol termasuk khamar, bagaimana hukumnya jika kita tidak tahu masakan yang di masak di restauran menggunakan campuran alkohol lalu kita memakannya?

🍓Jawab:

Waalaikummussalam warahmatullah wabarakatuh,

Alkohol masuk ke dalam mubah, tetapi bila berlebihan akan jatuh makruh. Bila tidak sesuai porsi, tetapi untuk makanan sebaiknya dihindari agar kesehatan terjaga.

Wallahu a'lam

•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•
❀CLoSSiNG STaTeMeNT❀
•┈•◎❀★❀◎•★•◎❀★❀◎•┈•

Hidup sederhana sehat pun hadir dengan kebahagiaan.

Wallahu a'lam